home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pilihan Obat Medis dan Alami untuk Mengatasi Gastritis

Pilihan Obat Medis dan Alami untuk Mengatasi Gastritis

Gastritis (radang lambung) bisa menyebabkan sakit perut, perut kembung, hingga perubahan warna feses menjadi hitam. Jika berbagai gejalanya sudah muncul, konsumsi obat gastritis biasanya menjadi pilihan utama untuk mengatasinya. Apa saja?

Obat gastritis (radang lambung) yang diresepkan dokter

Obat penyubur kandungan

Gejala gastritis muncul ketika lapisan lambung mengalami peradangan. Peradangan dapat terjadi akibat infeksi pada lambung, konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang, konsumsi alkohol berlebihan, dan kebiasaan merokok.

Apabila perawatan rumahan tidak mempan, dokter biasanya meresepkan obat-obatan sesuai sesuai dengan penyebab yang mendasari. Berikut daftar obat gastritis yang biasanya diresepkan dokter.

1. Obat antibiotik

Bakteri Helicobacter pylori adalah penyebab gastritis yang paling umum. Bakteri ini sebenarnya secara alamiah terdapat dalam saluran pencernaan Anda. Keberadaan bakteri tidak akan menimbulkan masalah bila jumlahnya terkendali.

Akan tetapi, infeksi dapat terjadi bila bakteri berkembang biak hingga melewati jumlah normal. Hal ini umumnya dialami oleh lansia atau orang dengan sistem imun yang lemah. Infeksi akhirnya memicu peradangan yang bisa berujung membentuk luka.

Gastritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti ini biasanya diobati dengan obat antibiotik. Antibiotik yang diresepkan dapat berupa satu jenis obat saja atau gabungan dari beberapa antibiotik yang berbeda.

Penderita radang lambung umumnya diresepkan antibiotik berupa clarithromycin dan amoxicillin. Kombinasi dua obat gastritis ini dapat mematikan bakteri H. pylori yang ada di lambung.

Penggunaan antibiotik untuk gastritis sering kali menimbulkan efek samping berupa mual dan muntah. Pastikan untuk menghabiskan dosis obat sesuai dengan anjuran dokter. Jangan minum obat antibiotik lebih cepat atau lebih lama dari yang diresepkan.

Konsumsi antibiotik secara sembarangan dapat membuat bakteri kebal terhadap obat. Akibatnya, antibiotik tidak lagi mempan untuk membunuh bakteri sehingga Anda perlu mencari antibiotik yang lebih kuat.

2. Penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI)

obat maag ppi penghambat pompa proton

Selain infeksi, gastritis bisa terjadi karena asam lambung yang tinggi. Asam lambung memang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Akan tetapi, produksi asam lambung yang berlebihan secara terus-menerus bisa menyebabkan iritasi pada lambung.

Obat yang cocok untuk mengobati radang lambung jenis ini adalah obat PPI (pompa penghambat proton). Obat PPI bekerja dengan mengurangi produksi asam di dalam lambung sehingga dinding lambung terhindar dari pengikisan.

Selain radang lambung, PPI juga dapat mengobati kondisi terkait gastritis seperti tukak lambung. Tukak lambung merupakan pembentukan luka pada lambung akibat berbagai faktor, termasuk infeksi bakteri dan pemakaian obat NSAID yang berlebihan.

Contoh obat PPI yang biasa diresepkan oleh dokter untuk gejala gastritis adalah:

Terkadang, salah satu jenis obat PPI juga bisa dikombinasikan dengan amoxicillin dan clarithromycin sebagai cara mengobati infeksi bakteri H. pylori. Kombinasi obat PPI dan antibiotik terbukti 80% bekerja lebih efektif ketimbang dua kombinasi obat saja.

Meski demikian, obat PPI tidak boleh digunakan dalam jangka panjang. Penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi dapat menyebabkan peningkatan risiko patah tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan.

Selain itu, obat gastritis ini diduga dapat menyebabkan peningkatan risiko gagal ginjal bila tidak digunakan dengan tepat. Tanyakan kepada dokter mengenai aturan dosis, cara pakai, dan seberapa lama harus minum obat ini.

3. Histamine H2-blocker

Produksi asam lambung yang berlebihan pada gastritis tidak hanya diobati dengan obat PPI saja. Obat lainnya yang dikenal sebagai histamine H2-blocker (H2-blocker) juga bisa dijadikan pilihan untuk mengobati penyakit ini.

Tubuh Anda menghasilkan histamin dari sel enterochromaffin yang ada pada lapisan lambung. Histamin dapat merangsang produksi asam lambung. Namun, H2-blocker bekerja dengan menghambat fungsi histamin sehingga mengurangi produksi asam.

Efek ini pada akhirnya mengurangi nyeri pada perut akibat gastritis dan mempercepat penyembuhan radang. Umumnya, obat histamine H2-blocker yang diresepkan dokter untuk mengatasi gejala gastritis adalah ranitidine, famotidine, dan cimetidine.

Meskipun langka, obat ini tetap dapat menimbulkan efek samping seperti diare, sakit kepala, pusing, dan ruam kulit. Konsultasikan kepada dokter apabila Anda mengalami keluhan tersebut selama menjalani pengobatan.

4. Antasida

Antasida membantu meredakan gejala gastritis dengan menetralisasi asam lambung dan menghambat kerja enzim pepsin yang merupakan pemecah protein. Manfaat ini berasal dari bahan aktif antasida berupa magnesium, kalsium, atau aluminium.

Pada kondisi tertentu, dokter mungkin akan memberikan Anda kombinasi antasida dengan obat antibiotik atau obat-obatan lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengatasi faktor lain yang mungkin menjadi penyebab gastritis.

Obat antasida dapat menyebabkan efek samping sembelit atau diare, tergantung pada bahan utamanya. Maka dari itu, diskusikan lebih dulu dengan dokter mengenai dosis dan jenis obat antasida terbaik untuk Anda guna menghindari risikonya.

Selalu gunakan obat gastritis di bawah pengawasan dokter

Methylcobal

Penggunaan obat medis memang lebih efektif, tapi tak bisa dipungkiri, ada risiko efek samping yang Anda hadapi. Oleh sebab itu, semua obat gastritis yang disebutkan di atas boleh digunakan hanya bila dokter meresepkannya.

Jika obat yang Anda gunakan saat ini menimbulkan efek samping yang mengganggu, cobalah mendiskusikannya dengan dokter. Dokter akan membantu Anda mengganti obat lain yang lebih aman dengan khasiat yang sama.

Selain izin dokter, pastikan Anda minum obat radang lambung sesuai dengan anjuran, baik dalam dosis, waktu minum, maupun masa penggunaan. Tidak hanya obat medis, Anda juga perlu berkonsultasi lebih dulu bila ingin menggunakan obat alami.

Pilihan obat alami untuk mengatasi gastritis

bawang putih untuk flu

Di samping konsumsi obat gastritis medis, dokter mungkin juga akan menganjurkan Anda untuk mencoba berbagai perawatan di rumah. Perawatan rumahan bertujuan untuk mengatasi dan mencegah timbulnya gejala.

Berikut beberapa pilihan obat alami yang bisa membantu mengatasi radang lambung.

1. Minum air bawang putih

Jika radang lambung disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori, Anda dapat mencoba mengonsumsi bawang putih. Ini karena zat antibakteri dalam bawang putih diyakini membantu membunuh bakteri H. pylori pada lambung.

Untuk mendapat manfaat tersebut, cukup haluskan bawang putih mentah dan larutkan dalam segelas air hangat. Saring, lalu Anda bisa meminum ekstraknya. Selain itu, Anda juga dapat mengonsumsi bawang putih dalam bentuk suplemen.

2. Minum suplemen probiotik

Probiotik adalah bakteri yang membantu memelihara kesehatan sistem pencernaan. Bakteri baik ini dipercaya dapat mempercepat penyembuhan radang lambung dengan melawan bakteri H. pylori yang menyebabkan gastritis.

Selain dari suplemen, Anda juga bisa mendapatkan asupan probiotik dari makanan yang difermentasi. Makanan tersebut di antaranya kimchi, tempe, yogurt, dan kefir.

4. Minum teh hijau dan teh hitam

Sebuah penelitian dalam jurnal Diagnostic Microbiology and Infectious Disease pada 2015 menunjukkan bahwa teh hijau atau hitam dapat menjadi obat gastritis alami yang disebabkan infeksi bakteri.

Menurut penelitian tersebut, konsumsi teh hijau atau teh hitam setidaknya seminggu sekali dapat mengurangi jumlah bakteri H. pylori dalam saluran pencernaan. Ini tentu berperan besar bagi orang-orang dengan sistem imun yang lemah.

Ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi radang pada lambung. Pengobatan alami biasanya bisa menjadi solusi sementara untuk meringankan gejala yang mengganggu.

Namun, bila gejala tidak juga membaik, Anda tentu memerlukan obat medis yang bekerja langsung pada penyebab gastritis. Pastikan Anda mengonsumsi obat sesuai anjuran untuk memperoleh manfaatnya secara optimal.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Gastritis – DIagnosis & treatment. (2020). Retrieved 23 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gastritis/diagnosis-treatment/drc-20355813

Proton Pump Inhibitors. (2020). Retrieved 23 December 2020, from https://www.aboutgerd.org/medications/proton-pump-inhibitors-ppis.html

H2 Blockers. (2020). Retrieved 23 December 2020, from https://patient.info/digestive-health/indigestion-medication/h2-blockers

Salisbury BH, Terrell JM. Antacids. [Updated 2020 Sep 1]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-.

Boyanova, L., Ilieva, J., Gergova, G., Vladimirov, B., Nikolov, R. and Mitov, I. (2015). Honey and green/black tea consumption may reduce the risk of Helicobacter pylori infection. Diagnostic Microbiology and Infectious Disease, 82(1), pp.85-86.

Zardast, M., Namakin, K., Esmaelian Kaho, J., & Hashemi, S. S. (2016). Assessment of antibacterial effect of garlic in patients infected with Helicobacter pylori using urease breath test. Avicenna journal of phytomedicine, 6(5), 495–501.

Homan, M., & Orel, R. (2015). Are probiotics useful in Helicobacter pylori eradication?. World journal of gastroenterology, 21(37), 10644–10653.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 29/12/2020
x