home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Feses Berwarna Hitam, Apakah Tanda Penyakit Berbahaya?

Feses Berwarna Hitam, Apakah Tanda Penyakit Berbahaya?

Variasi dalam warna dan bentuk feses tidak melulu menandakan kondisi serius. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan warna feses menjadi hitam sering kali menimbulkan kekhawatiran. Terlebih lagi karena warna feses yang gelap bisa menjadi gejala dari gangguan pencernaan.

Tinja yang berwarna hitam bisa disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari perubahan pola makan, konsumsi zat tertentu, hingga perdarahan pada sistem pencernaan. Apa yang menjadi pembedanya dan kapan Anda harus pergi ke dokter? Simak ulasan berikut untuk mengetahui jawabannya.

Penyebab warna hitam pada feses

efek minum kopi buang air besar

Warna feses pada dasarnya dipengaruhi oleh makanan dan seberapa banyak empedu yang terkandung di dalamnya. Selain itu, satu lagi komponen yang menentukan warna feses adalah bilirubin, yaitu pigmen (zat pemberi warna) yang dihasilkan oleh hati.

Bilirubin terbentuk dari perombakan sel darah merah yang sudah tua. Pigmen ini lalu bermuara di dalam usus dan berinteraksi dengan berbagai zat. Ketika bilirubin dalam darah berinteraksi dengan zat besi, warnanya berubah menjadi kecokelatan.

Namun, warna cokelat ini dapat berubah menghitam ketika Anda mengonsumsi suatu zat dalam jumlah banyak atau mengalami penyakit pada sistem pencernaan. Mekanismenya adalah sebagai berikut.

1. Konsumsi makanan atau suplemen

Pada orang yang sehat, buang air besar (BAB) berwarna hitam biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan, obat tertentu, atau suplemen zat besi. Inilah mengapa penderita anemia yang rutin mengonsumsi suplemen zat besi kerap mengalaminya.

Selain itu, makanan dan obat-obatan yang kerap membuat tinja berwarna hitam antara lain:

  • blueberry dan blackberry,
  • anggur,
  • buah bit,
  • licorice hitam,
  • cokelat, dan
  • obat mengandung bismut.

Jika feses Anda berwarna hitam dan Anda dapat mengingat makanan, suplemen, atau obat yang menjadi penyebabnya, hal ini bukanlah masalah besar. Warna hitam akan menghilang begitu Anda berhenti mengonsumsi zat tersebut.

Namun, bila feses Anda menghitam tanpa penyebab yang jelas, Anda perlu melihat apakah terdapat darah pada feses Anda. Ciri lain yang menandakan masalah pada sistem pencernaan adalah bau feses yang lebih menyengat dari biasanya.

2. Gangguan pencernaan

feses hitam

Jika warna hitam pada tinja tidak berkaitan dengan makanan, obat, atau suplemen zat besi, kemungkinan penyebabnya adalah perdarahan pada saluran pencernaan atas seperti lambung dan kerongkongan. Kondisi ini dikenal sebagai melena.

Perdarahan umumnya berawal dari pembentukan luka pada dinding kerongkongan, lambung, atau usus halus. Pada kasus tertentu, perdarahan juga dapat disebabkan karena pembuluh darah membengkak dan tergerus oleh makanan yang dicerna.

Perlu diketahui bahwa melena berbeda dengan BAB berdarah alias hematochezia. Hematochezia adalah kondisi ketika feses keluar bersama darah segar. Ini menandakan bahwa perdarahan terjadi pada saluran pencernaan bawah seperti usus besar, rektum, atau anus.

Sementara itu, melena terjadi akibat perdarahan yang lokasinya jauh dari anus. Darah dari saluran pencernaan atas berinteraksi dengan enzim pencernaan dan mengalami oksidasi. Proses tersebut akhirnya mengubah warna darah menjadi hitam.

Berikut beberapa masalah kesehatan yang kerap menjadi penyebab melena.

  • Tukak pada lambung atau usus yang mengakibatkan pembentukan luka.
  • Gastritis atau peradangan pada dinding lambung.
  • Esofagitis atau peradangan pada kerongkongan.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung.
  • Penyakit yang menyebabkan peradangan pada usus, seperti penyakit celiac dan penyakit Crohn.
  • Tumor pada saluran pencernaan atas.
  • Pembengkakan pembuluh darah pada saluran pencernaan atas.
  • Sirosis hati.
  • Peningkatan tekanan pembuluh hati.
  • Penyakit yang menyebabkan perdarahan berlebih seperti hemofilia, trombositopenia, dan sebagainya.

Kapan Anda harus mengunjungi dokter?

tes untuk dermatitis kontak

Perubahan warna feses menjadi hitam pada dasarnya merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis. Saat mengalami melena, kemungkinan Anda juga akan mengalami gejala lain akibat kehilangan darah seperti:

  • anemia,
  • syok,
  • kulit pucat,
  • tubuh lemas,
  • sesak napas,
  • sakit perut,
  • pusing dan berkunang-kunang, dan
  • peningkatan denyut jantung.

Melena yang disertai syok juga harus ditangani dengan segera karena ini menandakan bahwa perdarahan masih terjadi. Jika Anda mengalami kondisi ini, segera cari bantuan darurat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara mengatasi feses yang berwarna hitam

endoskopi kanker esofagus

Dokter pertama-tama perlu mendiagnosis penyebab melena untuk dapat menentukan penanganannya. Proses diagnosis diawali dengan mempelajari riwayat medis Anda, termasuk apakah Anda mengonsumsi obat nyeri nonsteroid yang dapat mengiritasi lambung.

Setelah itu, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan, di antaranya nasogastric lavage untuk mengukur banyaknya darah yang hilang. Prosedur ini juga sekaligus mempersiapkan pasien untuk menjalani endoskopi saluran cerna atas.

Selain endoskopi, pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan yakni tes darah lengkap, pemeriksaan sinar-x seperti barium enema, dan kolonoskopi. Dokter sering kali juga melakukan pemeriksaan feses untuk memastikan diagnosis.

Begitu penyebabnya diketahui, dokter baru dapat menyarankan pilihan pengobatan. Berikut pilihan pengobatan yang mungkin ditawarkan.

  • Penyuntikan obat untuk merangsang penggumpalan darah pada saluran cerna saat endoskopi.
  • Kauterisasi, yaitu teknik menutup luka dengan membakarnya menggunakan listrik bertegangan rendah. Prosedur ini juga dilakukan saat endoskopi.
  • Penutupan luka memakai penjepit atau pengikat. Metode ini bertujuan untuk menghilangkan pembuluh darah yang membengkak.
  • Pemasangan kateter khusus untuk menyumbat aliran darah pada jaringan yang mengalami perdarahan.
  • Konsumsi obat proton pump inhibitor untuk merangsang penyembuhan tukak lambung dan menghentikan perdarahan.
  • Antibiotik untuk mengatasi perdarahan akibat infeksi bakteri H. pylori.
  • Transfusi darah bila perdarahan sangat parah atau tidak kunjung berhenti.

Melena dapat berlangsung hingga lima hari setelah perdarahan selesai, tergantung seberapa parah perdarahan dan seberapa cepat gerak saluran pencernaan Anda. Penanganan yang tepat akan membantu pemulihan dengan lebih cepat.

Perubahan warna feses menjadi hitam dapat disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari konsumsi makanan dan suplemen hingga gangguan pencernaan. Bila perubahan warna feses disebabkan oleh perdarahan saluran cerna, kondisi ini disebut melena.

Warna feses akan kembali normal setelah Anda berhenti mengonsumsi zat yang menjadi penyebabnya. Namun, perubahan warna feses akibat gangguan pencernaan perlu mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Black or tarry stools. (2018). Retrieved 7 December 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/003130.htm

Melena. (2020). Retrieved 7 December 2020, from https://www.osmosis.org/answers/melena

Gastrointestinal (GI) Bleeding. (2020). Retrieved 7 December 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/gastrointestinal-bleeding

Kim B. S., Li B. T., Engel A., et al. (2014). Diagnosis of gastrointestinal bleeding: A practical guide for clinicians. World J Gastrointest Pathophysiol, 5(4), pp.467-78.

Foto Penulis
Ditulis oleh Ajeng Quamila pada 10/01/2017
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x