backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

4

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS)

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Nanda Saputri · Tanggal diperbarui 17/03/2024

Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS)

Jika mengalami sakit perut berulang disertai dengan perubahan pola buang air besar (diare atau sembelit), ini bisa menandakan Anda mengalami sindrom iritasi usus besar. Ketahui penyebab serta cara pengobatannya dalam ulasan berikut ini.

Apa itu sindrom iritasi usus besar?

Sindrom iritasi usus besar adalah sekelompok gejala yang memengaruhi kerja usus besar. Penyakit ini juga dikenal dengan irritable bowel syndrome (IBS).

IBS terjadi akibat kerusakan pada cara kerja usus, tapi tidak menunjukkan adanya kerusakan jaringan.

Sindrom ini umumnya ditandai dengan serangan sakit perut yang berulang. Sakit perut mulanya diawali oleh otot-otot usus yang terus berkontraksi, seperti ketika Anda ingin buang air besar.

Umumnya kontraksi seperti ini terjadi hingga beberapa kali dalam sehari. Namun, kontraksi akan lebih sering terasa sehabis mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, misalnya sayuran atau kopi.

Tidak seperti orang dengan sistem pencernaan yang sehat, perut pengidap IBS lebih sensitif. Mereka lebih rentan mengalami sakit perut, kembung, dan gangguan pencernaan seperti diare atau kadang sembelit setelah mengonsumsinya.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Sindrom iritasi usus besar (IBS) merupakan kondisi yang umum. Sekitar 10 – 15 orang per setiap 100 orang di dunia memiliki kondisi ini.

Wanita yang berusia kurang dari 45 tahun berisiko dua kali lipat lebih sering terkena IBS daripada pria.

Tanda dan gejala sindrom iritasi usus besar

Misoprostol adalah

Gejala IBS dapat bervariasi dengan waktu kambuh yang berbeda. Mengutip situs Mayo Clinic, beberapa gejala IBS yang umum terjadi adalah sebagai berikut.

  • Nyeri perut, kram, kejang, atau rasa tidak nyaman yang baru hilang setelah buang air besar.
  • Diare berair yang bisa terjadi lebih dari sekali dalam sehari.
  • Setelah buang air besar, ada perasaan belum tuntas.
  • Konstipasi  alias susah buang air besar, keras, feses kering.
  • Kentut berlebihan.
  • Kembung.
  • Bentuk feses berubah-ubah; kadang keras, kadang lembek.
  • Ada lendir pada feses Anda.
  • Kemungkinan masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan suatu gejala, konsultasikan lebih lanjut kepada dokter.

    Kapan harus periksa ke dokter?

    IBS merupakan kondisi dengan banyak gejala. Anda perlu mengunjungi dokter jika jadwal buang air besar terus terganggu atau jika terdapat tanda dan gejala lain.

    Ini mungkin mengindikasikan kondisi yang lebih serius, misalnya kanker usus besar (kolorektal).

    Dokter mungkin dapat membantu menemukan cara meredakan gejala sekaligus mencegah gejala tidak mudah kambuh. Dokter bisa juga membantu Anda menghindari kemungkinan komplikasi dari masalah seperti diare kronis.

    Penyebab sindrom iritasi usus besar

    Penyebab irritable bowel syndrome yaitu masalah kontraksi pada otot usus besar.

    Otot usus besar normalnya berkontraksi untuk menyerap air dan melunakkan tekstur feses. Selain itu, kontraksi usus akan mendorong kotoran keluar.

    Pada orang dengan sindrom iritasi usus besar, kontraksi usus menjadi terlalu banyak dan sering, terlalu cepat, atau terlalu lambat.

    Kontraksi yang terlalu sering bisa memicu diare, sedangkan kontraksi yang terlalu sedikit menyebabkan sembelit.

    Selain itu, kontraksi otot yang tidak teratur mungkin menyebabkan perut kedutan, kram, mulas, atau membuat Anda ingin buang air besar.

    Sampai saat ini, penyebab kontraksi yang tidak norma ini belum diketahui secara pasti. Namun, dugaan terkuatnya yaitu masalah sistem saraf usus besar yang terlalu sensitif sehingga bereaksi terlalu kuat terhadap sinyal di otak.

    Faktor risiko sindrom iritasi usus besar

    Irritable bowel syndrome merupakan kondisi yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.

    • Masalah psikologis. Beberapa orang bisa mengalami IBS selama mereka mengalami stres. Nah, stres dapat memperburuk kondisi otak sehingga berdampak pada sistem pencernaan.
    • Infeksi saluran pencernaan. Orang dengan IBS mungkin memiliki perbedaan dalam motilitas (cepat gerak) usus atau bermasalah dengan hipersensitivitas visceral, peradangan, dan bakteri usus. Akibatnya, risiko terkena IBS pun meningkat.
    • Riwayat genetik. Apabila ada anggota keluarga dekat yang memiliki IBS, peluang Anda lebih besar untuk mengalami penyakit yang sama.
    • Jenis kelamin. Wanita dua kali lipat lebih berisiko terkena IBS dibandingkan pria. Hal ini tampaknya dipicu oleh hormon yang berkaitan dengan siklus menstruasi.
    • Makanan pemicu gejala. Makanan tertentu dapat memicu gejala diare, kembung, atau nyeri. Makanan pemicu iritasi usus di antaranya pemanis buatan, lemak tiruan, makanan bersantan, hingga gorengan.

    Diagnosis irritable bowel syndrome

    Diagnosis IBS baru dapat dilakukan setelah dokter memastikan gangguan pencernaan Anda tidak disebabkan oleh penyakit atau infeksi lain.

    Dokter akan menggunakan Kriteria Roma (Rome Criteria) untuk mendiagnosis IBS. Pasien mengalami IBS jika memenuhi dua kriteria.

    • Memiliki gejala yang muncul selama seminggu sekali dalam 3 bulan terakhir.
    • Gejala IBS sudah mulai terasa setidaknya 6 bulan sebelum periksa ke dokter

    Selain menggunakan Kriteria Roma, dokter bisa melakukan tes untuk memastikan bahwa tidak ada peradangan, infeksi, atau penyakit lain.

    Pemeriksaan lain yang dapat membantu diagnosis IBS biasanya termasuk tes darah dan pemeriksaan darah samar pada feses.

    Tes lain yang mungkin dilakukan termasuk kultur feses, barium enema, sigmoidoskopi, dan kolonoskopi.

    Pasien biasanya didiagnosis dengan satu dari tiga jenis IBS, yakni:

    • diare-dominan (IBS-D),
    • konstipasi-dominan (IBS-C), serta
    • kebiasaan buang air besar campuran (IBS-M) seperti sembelit dan diare bergantian.

    Pengobatan sindrom iritasi usus besar

    diabetes minum obat seumur hidup

    IBS merupakan kondisi yang bisa dikendalikan perubahan gaya hidup. Dokter akan menyarankan kebiasaan makan dalam porsi kecil, minum cukup air, berolahraga secara teratur, dan mengurangi stres.

    Ada juga beberapa obat yang akan diresepkan dokter sesuai dengan jenis sindrom iritasi usus besar mana yang paling dominan.

    Berikut obat-obatan untuk mengatasi IBS yang kerap diberikan.

    • Obat antidiare. Dokter mungkin menyarankan mencoba obat diare seperti bismuth subsalicylate dan loperamide. Obat ini dapat membantu memperlambat diare, tapi tidak membantu mengatasi gejala IBS lainnya seperti sakit perut atau pembengkakan.
    • Antidepresan. Obat-obatan antidepresan diresepkan untuk membantu mengatasi sakit perut yang mungkin dipicu stres, seperti amitriptyline atau nortriptyline.
    • Antispasmodik. Obat ini bekerja dengan mengendurkan otot pencernaan. Beberapa obat yang umum diresepkan yakni dicyclomine dan hyoscyamine.
    • Suplemen serat. Suplemen seperti Metamucil bekerja dengan menambah jumlah feses, sehingga kotoran buang air besar tidak terlalu cair saat diare.
    • Obat pencahar untuk sembelit. Obat pencahar merangsang gerak usus besar agar cepat mendorong feses ke rektum. Dengan begitu, frekuensi BAB menjadi lebih lancar.

    Makanan yang perlu dihindari oleh pasien sindrom iritasi usus besar

    • Susu.
    • Makanan tinggi gula.
    • Minuman berkafein.
    • Minuman bersoda.
    • Permen karet.

    Perawatan rumahan sindrom iritasi usus besar

    Berikut berbagai hal yang bisa Anda lakukan untuk mengendalikan peluang kumatnya IBS.

    • Buat catatan jurnal makanan. Pengidap IBS umumnya perlu menjauhi makanan dan minuman yang memperparah kondisinya. Maka dari itu, Anda disarankan membuat jurnal guna mencari tahu makanan apa yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak.
    • Kelola stres. Stres dapat menyebabkan gejala IBS memburuk. Coba kelola stres misalnya dengan teknik relaksasi, yoga, atau meditasi untuk membantu mengurangi gejala sindrom iritasi usus besar.
    • Minum obat sesuai arahan dokter. Obat IBS tidak disarankan untuk diminum saat gejala tidak kambuh atau dengan dosis berlebih. Ini bisa meningkatkan risiko resistensi obat.

    Irritable bowel syndrome merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan akibat masalah fungsi usus besar.

    Gejalanya memang amat mengganggu, tapi Anda dapat mengatasinya dengan menjalani pengobatan dan gaya hidup sehat.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Patricia Lukas Goentoro

    General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


    Ditulis oleh Nanda Saputri · Tanggal diperbarui 17/03/2024

    ad iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    ad iconIklan
    ad iconIklan