Benarkah Vaksin Rubella Menimbulkan Efek Samping yang Berbahaya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/05/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Rubella, atau biasa disebut campak jerman, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella. Gejala rubella yang paling utama adalah demam (<39 C), pembesaran kelenjar getah bening di belakang telinga dan bintik-bintik merah di kulit. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, ada sekitar 3143 kasus campak Jerman di Indonesia pada tahun 2017. Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin campak-rubella, alias vaksin MR. Apakah ada efek samping dari pemberian vaksin rubella?

Apa itu vaksin MR atau campak dan rubella?

vaksin tbc imunisasi tbc vaksin BCG

Vaksin MR adalah jenis imunisasi yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari dua penyakit sekaligus — campak (Measles) dan campak Jerman (Rubella).

Sejatinya, vaksin MR merupakan bagian dari vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), tapi di Indonesia vaksin Mumps sengaja dipisahkan dari keduanya. Hal ini dilakukan karena penyakit Mumps alias gondongan pada anak sudah jarang ditemui di Indonesia.

Sementara itu, campak (baik itu campak “biasa” maupun rubella campak Jerman) masih sangat sering terjadi pada anak-anak. Campak Jerman juga membutuhkan perhatian ekstra apabila penderitanya adalah ibu hamil.

 Pada wanita yang masih hamil muda, rubella dapat menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan, hingga kelainan bawaan pada bayi.

Maka, vaksin campak dan rubella (MR) perlu diberikan pada anak untuk mencegah kedua penyakit ini. Selain itu vaksin juga bisa mencegah penyebaran pada anak-anak lain.

Efek samping vaksin rubella dan campak (vaksin MR)

vaksinasi dan imunisasi dan vaksinasi

Seperti obat pada umumnya, pasti ada efek samping dari pemberian obat, tidak terkecuali vaksin campak dan rubella. Namun, umumnya vaksin campak dan rubella tidak memiliki efek samping yang berarti.

Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti:

Mengutip dari Immunize, Biasanya reaksi ini dimulai dua minggu setelah pemberian vaksin dan akan hilang dalam waktu 2-3 hari.

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seseorang anak juga bisa mengalami reaksi alergi sebagai efek samping vaksin rubella dan campak, yaitu:

  • Kejang disertai dengan demam
  • Nyeri dan kaku pada sendi (biasanya dialami anak remaja dan wanita dewasa)
  • Lebam atau perdarahan karena jumlah trombosit yang rendah
  • Ruam di seluruh tubuh
  • Kerusakan otak

Ini termasuk efek samping vaksin campak dan rubella yang sangat jarang terjadi. Pada beberapa anak yang lebih sensitif, mungkin mereka akan menampakkan reaksi alergi berat dari cairan yang terkandung dalam vaksin tersebut.

Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan anafilaksis. Namun, jika kondisi ini segera ditangani, anak akan segera membaik.

Anda lebih baik berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter seputar kemungkinan anak memiliki alergi terhadap bahan di dalam vaksin. Ini untuk menghindari risiko reaksi alergi sebagai efek samping vaksin rubella dan campak.

Imunisasi atau vaksinasi adalah suatu tindakan pemberian zat yang berasal dari kuman, baik yang sudah mati ataupun yang dilemahkan.

Diharapkan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mengenali kuman tersebut, sehingga tubuh bisa mengatasinya apabila suatu saat terinfeksi.

Vaksin campak dan rubella (MR) tidak menimbulkan efek samping autisme

Banyak informasi yang mengatakan bahwa autisme adalah efek samping dari pemberian vaksin campak dan rubella. Apakah ini benar?

Tidak benar bahwa kelumpuhan dan/atau autisme bisa muncul sebagai efek samping vaksin rubella-campak (vaksin MR), maupun jenis imunisasi lainnya. Dugaan imunisasi menyebabkan autisme dan kelumpuhan sudah dipatahkan oleh begitu banyak pakar kesehatan dunia.

Berdasarkan penelitian berjudul The MMR Vaccine and Autisme dijelaskan bahwa kabar ini dipicu dari jurnal yang diterbitkan pada 1998 tentang hubungan vaksin dengan risiko autisme.

Padahal keduanya tidak memiliki hubungan. Menurut penelitian tersebut, autisme adalah kondisi gangguan perkembangan saraf berhubungan dengan genetik sebelum bayi berusia satu tahun. Sebelum usia anak satu tahun adalah waktu anak diberikan vaksin MMR. Studi epidemiologi belum memenukan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

Perlu diluruskan, sampai saat ini belum ada bukti medis nyata yang mampu membuktikan jika imunisasi bisa menyebabkan kedua kondisi tersebut.

Dalam segelintir kasus, munculnya kelumpuhan atau autisme setelah imunisasi hanyalah kebetulan semata. Kalau benar ini yang terjadi, dokter mampu menemukan penyebab asli penyakit yang diderita pasien lewat berbagai tes laboratorium.

Berdasarkan keterangan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui situs resminya, vaksin campak dan rubella aman digunakan pada anak. Vaksin campak dan rubella yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu, vaksin campak dan rubella sudah digunakan lebih dari 141 negara di dunia. Efek samping ringan yang ditimbulkan dari vaksin rubella dan campak sangat wajar terjadi.

Tidak semua orang bisa menerima vaksin campak dan rubella

vaksin untuk flu

Untuk mewaspadai terjadinya komplikasi efek samping vaksin campak dan rubella (vaksin MR) yang tidak diinginkan, sebaiknya jangan dulu memberikan suntik MR pada kelompok orang-orang berikut ini.

  • Anak atau orang dewasa yang sedang melakukan radioterapi atau mengonsumsi obat tertentu seperti kortikosteroid dan imunosupresan
  • Ibu hamil (tapi wanita yang berencana hamil sangat disarankan untuk imunisasi MR)
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Setelah transfusi darah
  • Riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn)

Selain itu, pemberian vaksin campak dan rubella harus ditunda jika pasien sedang mengalami demam, batuk-pilek, atau diare (dalam kondisi yang tidak sehat).

Siapa saja yang perlu menerima vaksin campak dan rubella?

Vaksin MR diberikan pada semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye vaksinasi MR. Nantinya, tenaga kesehatan akan menyuntikan vaksin pada bagian otot lengan atas atau paha anak. Pemberian imunisasi MR adalah pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 18 bulan (jika belum diberikan imunisasi MMR pada usia 15 bulan) dan 6-7 tahun. 

Bagi anak yang sebelumnya sudah melakukan vaksinasi campak, vaksinasi MR ini tetap perlu diberikan. Fungsinya agar si kecil juga mendapatkan kekebalan terhadap rubella. Selain untuk anak, vaksin ini juga direkomendasikan pada wanita yang ingin merencanakan kehamilan. 

Ikuti kampanye vaksin MR dari pemerintah Indonesia demi mencegah campak rubella

Untuk menekan angka kejadian campak Jerman di Indonesia, pemerintah saat ini tengah menjalankan program imunisasi vaksin MR sepanjang bulan Agustus hingga September. Terlebih untuk bayi, balita, anak-anak, dan ibu hamil yang paling rentan terinfeksi penyakit ini. Jangan lagi takut membayangkan risiko efek samping rubella dan campak, karena sudah terbukti tidak benar.

Yuk, jangan ragu untuk mendaftarkan anak maupun diri sendiri untuk ikut imunisasi di puskesmas atau klinik kesehatan terdekat. Manfaatnya tetap jauh lebih besar dibandingkan kemungkinan efek samping yang belum tentu akan terjadi. Pemberian vaksin pada dasarnya merupakan salah satu cara untuk melindungi kesehatan diri untuk ke depannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Vaksin mRNA dengan Vaksin Biasa?

Vaksin konvensional tak cukup efektif mencegah penularan berbagai penyakit baru. Vaksinasi modern kini mengandalkan teknologi vaksin terbaru, yakni mRNA.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Hidup Sehat, Fakta Unik 07/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping Imunisasi DPT pada Anak

Imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) termasuk ke dalam vaksin yang wajib diberikan pada anak. Ini penjelasan lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Kesehatan Anak, Parenting 05/05/2020 . Waktu baca 11 menit

Aturan Imunisasi untuk Bayi Prematur Ini Penting Diketahui

Bayi prematur cenderung lemah dengan berat badan rendah. Apakah bayi prematur perlu mendapat imunisasi? Kapan imunisasi tersebut dapat dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Anak, Parenting 02/05/2020 . Waktu baca 8 menit

Mengapa Pasien Ginjal Perlu Diberikan Vaksin Tertentu? Ini Penjelasannya

Mengobati pasien ginjal tidak bisa sembarangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti vaksin. Ini penjelasan vaksin untuk pasien ginjal.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih, Health Centers 01/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vaksin rotavirus

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . Waktu baca 7 menit
tinggi anak, tumbuh kembang anak pandemi

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/06/2020 . Waktu baca 4 menit
jenis imunisasi

Jenis Imunisasi yang Perlu Diberikan pada Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . Waktu baca 11 menit
Vaksin cacar air

Vaksin Cacar Air (Varisela), Ketahui Manfaat dan Jadwal Pemberiannya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020 . Waktu baca 8 menit