Tahapan Perkembangan Bahasa Bayi Sampai Umur 11 Bulan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 November 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tangisan menjadi satu-satunya cara bayi berkomunikasi di awal kehidupannya. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan bahasa bayi sudah mulai mengalami kemajuan. Tangisannya pun beragam dan mulai bisa dibedakan kapan ia lapar atau merasa bosan. Untuk lebih jelasnya, berikut perkembangan bahasa pada bayi yang perlu diketahui di tahun pertamanya.

Apa itu perkembangan kemampuan bahasa pada bayi?

perkembangan bahasa bayi

Dikutip dari Pregnancy Birth & Baby, kemampuan bahasa bayi adalah keterampilan yang dimiliki bayi untuk berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini sejalan dengan perkembangan bayi sesuai usianya.

Sama seperti perkembangan motorik bayi, kemampuan sensorik, kecerdasan emosional, dan perkembangan kognitif bayi, perkembangan bahasa bayi juga berlangsung secara bertahap.

Usia awal ini memungkinkan otak bayi untuk menyerap bahasa sekaligus melatih kemampuan berkomunikasinya. Namun, perlu diketahui pula bahwa setiap anak ada kemungkinan akan berkembang dengan waktu yang berbeda-beda.

Itu sebabnya, perhatikan dan latih perkembangan kemampuan bahasa bayi guna memudahkannya dalam berkomunikasi.

Umur berapa bayi bisa mulai bicara?

bahasa bayi

Pada waktu bayi baru lahir biasanya ia lebih banyak menangis sebagai cara mengekspresikan emosi yang ia rasakan.

Seiring perkembangan serta pertumbuhan bayi, ia akan mulai mengeluarkan ocehan-ocehan seperti ingin menyampaikan sesuatu setelah berusia 2-3 bulan pertama.

Perkembangan bahasa bayi akan terus berlanjut hingga bayi bisa bicara kata pertamanya, misalnya “mama” atau “papa” yakni sekitar usia 9-12 bulan.

Mulai sejak itulah bayi akan lebih sering mengoceh guna menggambarkan apa yang ia lihat, dengar, rasakan, pikirkan, dan inginkan.

Tahap perkembangan kemampuan bicara bayi

Berikut beberapa tahapan atau fase bicara pada bayi:

Tahapan 1: Tangisan

Bayi telah menangis bahkan sejak lahir. Ketika baru lahir, tangisan bayi menandakan bahwa paru-parunya terisi oleh udara. Ternyata, tangisan merupakan salah satu respon dari bayi terhadap lingkungan luarnya. Ada berbagai macam pula jenis tangisan bayi, yaitu:

Menangis biasa

Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa tangisan merupakan cara bayi untuk memberitahukan pengasuhnya bahwa ia lapar.

Ciri tangisan ini adalah ada pola yang biasanya terdiri dari suara tangis itu sendiri, jeda beberapa saat, dan bunyi siulan pendek. Tangisan biasa juga biasanya terdengar lebih nyaring daripada tangisan lainnya.

Menangis karena marah

Saat bayi menangis karena marah, suara tangisan akan terdengar seperti saat ada udara yang dipaksa masuk ke tenggorokan.

Menangis karena sakit

Biasanya suara tangisan bayi terdengar sangat keras dan ada kalanya bayi menahan napas. Untuk itu, jangan dibiarkan jika si kecil mengalami tangisan yang satu ini.

Tahapan 2: Ocehan

Bayi biasanya mulai mengoceh pada usia sekitar 1-2 bulan. Tahap perkembangan bahasa bayi yang satu ini memperlihatkan bahwa suara dari ocehannya terbentuk dari suara udara yang diolah di tenggorokan.

Perlu diketahui apabila bayi biasanya mengoceh ketika merasa senang saat berada di sisi pengasuhnya. Menariknya, di masa ini bayi sudah mulai belajar bahasa melalui mengenali kata-kata yang ia dengar dari orang sekitarnya

Tahapan 3: Celotehan (babbling)

Celoteh merupakan hasil penyempurnaan dari ocehan. Celoteh sendiri adalah hasil penggabungan huruf mati dan huruf hidup, seperti “da”, “ma”, “uh”, dan “na” (Pujaningsih, 2010). Bayi bisa mulai berceloteh ketika berada pada usia pertengahan satu tahun.

Seperti di perkembangan usia 4 bulan ke atas bayi mulai bicara dengan meniru apa yang didengarnya. Di usia ini juga, si kecil belajar untuk mengucapkan kata-kata dengan vokal yang sama, seperti “bababa”, atau “yayaya”.

Pada bayi tunarungu yang dilahirkan dari keluarga tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat, bayi akan cenderung melakukan celotehan dengan tangan dan jarinya (Bloom, 1998).

Perkembangan bahasa bayi ini juga akan muncul dalam waktu yang sama dengan bayi lainnya yang menggunakan suara dalam berceloteh, yaitu pada usia pertengahan satu tahun.

Upaya bayi untuk bicara terdengar masih asal dan belum masuk akal, tapi ia akan tetap mengulanginya berkali-kali. Hal ini karena ia sedang bereksperimen menggunakan lidah, langit-langit mulut, serta pita suaranya.

Tahapan 4: Munculnya kata pertama

Sebelum bisa berbicara lancar, bayi sebenarnya telah memahami kata-kata yang belum bisa mereka ucapkan (Pan & Uccelli, 2009). Seperti halnya ketika bayi sudah mampu mengetahui namanya sendiri pada perkembangan bayi usia 5 bulan.

Memasuki usia 7 bulan, ucapan bayi mulai terdengar masuk akal. Pasalnya, ia sedang berusaha mencoba nada dan pola bicara seperti apa yang diucapkan orang-orang terdekatnya, walaupun masih belum tepat.

Selain itu, ada kemungkinan bayi pun mulai mengerti namanya sendiri dan merespon panggilan orang lain.

Kemampuan bicaranya juga akan semakin baik karena si kecil tidak hanya sekadar bicara saja. Melainkan berusaha mengaitkan suatu makna dengan dirinya secara bertahap.

Contohnya, Anda akan mendengar kata pertamanya yang mudah diucapkan tapi mengandung makna, yakni “mama” atau “papa”. Perkembangan bahasa bayi ini kemungkinan akan terjadi pada usia 8 bulan hingga usia 11 bulan.

Selanjutnya, akan terus muncul kata-kata menarik dengan pengucapan yang mudah dari si kecil. Proses ini akan berlanjut seterusnya seiring dengan bantuan orang di sekitarnya yang mengajaknya bicara.

Pentingnya orangtua bicara dengan bahasa bayi

Selama satu tahun sejak si kecil lahir, pasti ada banyak sekali hal-hal baru yang ia coba pelajari, salah satunya adalah cara berkomunikasi.

Saat sang buah hati tersenyum, tertawa, atau sekedar berceracau memanggil Anda dengan sebutan ‘mama’ atau ‘bubu’, itu adalah caranya sendiri untuk mengajak Anda mengobrol.

Melalui baby talk atau bahasa bayi tersebut, si kecil berharap Anda akan menjawab ceracauannya kembali dengan tersenyum, bernyanyi, atau membacakan buku. Berkomunikasi dengan sang buah hati adalah fase penting pada masa-masa awal ia lahir.

Anda sebaiknya memusatkan perhatian pada perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa si kecil karena hal tersebut berhubungan dengan banyak hal.

Beberapa manfaat cara melatih bayi bicara mulai dari perkembangan kemampuan membaca, menulis, serta ikatan batin dengan si kecil kelak di kemudian hari.

Bagaimana cara melatih perkembangan bahasa bayi?

bahasa bayi

Asah  kemampuan bahasa bayi sejak dini agar perkembangan yang terbentuk bisa semakin optimal. Tak perlu bingung, beberapa tips berikut ini bisa Anda terapkan:

Usia 0-6 bulan

Begini tips melatih perkembangan kemampuan bahasa bayi usia 0-6 bulan:

1. Bicara dengan bayi

Selama Anda melatih kemampuan bahasa bayi, selama itu pula Anda harus rajin mengajaknya berbicara banyak hal. Meski mungkin si kecil belum sepenuhnya mengerti, tapi cara ini membuatnya paham bahwa Anda sedang mengajaknya berkomunikasi.

2. Jelaskan hal yang dilakukan dengan bayi

Cobalah dengan lebih sering menjelaskan padanya apa yang sedang Anda berdua lakukan. Saat akan mengajak mandi, Anda dapat mengatakan, “Sudah jam segini, kita mandi dulu ya sayang. Enak nih pakai air hangat.”

Cara lain yang termasuk sebagai tahap perkembangan bahasa adalah dengan melanjutkannya dengan, “Sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik (atau ganteng) sekarang kita minum susu ya, Nak.”

Usia 7-11 bulan

Begini tips melatih kemampuan perkembangan bahasa bayi usia 7-11 bulan:

1. Bacakan cerita untuk bayi

Tidak ada kata terlalu cepat untuk mulai membacakan cerita pada bayi, sebagai upaya melatih perkembangan kemampuan bahasa bayi. Oleh karena si kecil belum mampu membaca,

Anda bisa menggunakan buku cerita yang lebih didominasi oleh beraneka macam gambar-gambar menarik. Sembari membacakan cerita, jelaskan satu per satu pada si kecil nama dari setiap gambar di dalam buku ceritanya.

2. Lebih sering menyebut “dada” dan “mama”

Salah satu upaya si kecil mengenal panggilan orangtuanya, sekaligus melatih kemampuan bahasa bayi, sebutlah diri Anda dan pasangan dengan panggilan tertentu.

Setiap kali Anda mengajaknya bicara, Anda bisa mengatakan “Yuk, kakak ganti popok dulu sama Mama.”

Mulai biasakan juga untuk memanggil sebutan tersebut pada pasangan Anda saat sedang bersama si kecil. Perlahan-lahan, bayi secara refleks akan menyebut “dada” atau “mama” saat melihat Anda dari kejauhan.

Bahkan, dari yang tadinya belum cukup lancar, lama-kelamaan si kecil dapat mengucapkannya dengan sangat fasih.

3. Mengulang kata tertentu

Sering-seringlah tersenyum dan melihat muka bayi saat mengajarkan si kecil suatu kosa kata. Misalnya, Anda hendak mengajarinya untuk mengenal kata ‘makan’, maka Anda harus mengulangi kata tersebut sepanjang hari agar cepat diserap oleh otak si kecil.

Meskipun perkembangan bahasa pada bayi atau anak berbeda-beda, tapi memeriksakan anak ke dokter sedini mungkin adalah pencegahan terbaik untuk mengetahui apakah si kecil mengalami kesulitan berbicara.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Cari tahu apa itu introvert, apa tanda-tandanya jika si kecil memiliki kepribadian introvert, dan apa yang perlu Anda lakukan sebagai orangtua.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Growth Spurt, Peningkatan Perkembangan Bayi yang Cukup Pesat

Melihat perubahan pada tumbuh kembang bayi tidak melulu harus dikhawatirkan. Agar tidak cemas, yuk cari tahu ciri growth spurt pada bayi!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 19 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

10 Cara Seru Mengajarkan Anak Belajar Membaca

Hobi membaca buku wajib ditanamkan sejak kecil agar terus berlanjut sampai dewasa. Bagaimana cara mengajarkan anak mulai belajar membaca?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 16 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

TBC Pada Anak: Ketahui Gejala, Perbedaan dengan Orang Dewasa, dan Pengobatannya

Banyak kasus TBC atau TB pada anak terlambat ditangani karena gejalanya sering kali bukan batuk-batuk. Apa saja gejala yang biasanya muncul pada anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Gangguan Pernapasan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 14 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Sayur untuk mpasi

8 Sayur untuk MPASI Terbaik dan Bergizi yang Perlu Diberikan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
gaya pengasuhan

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
kasur tempat tidur bayi

4 Tips Mudah Memilih Kasur Bayi yang Aman dan Nyaman

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 27 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit