Tahapan Perkembangan Bahasa Bayi Sampai Umur 11 Bulan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/07/2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tangisan menjadi satu-satunya cara bayi berkomunikasi di awal kehidupannya. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan bahasa bayi sudah mulai mengalami kemajuan. Tangisannya pun beragam dan mulai bisa dibedakan kapan ia lapar atau merasa bosan. Untuk lebih jelasnya, berikut perkembangan bahasa pada bayi yang perlu diketahui di tahun pertamanya.

Apa itu perkembangan kemampuan bahasa pada bayi?

perkembangan bahasa bayi

Dikutip dari Pregnancy Birth & Baby, kemampuan bahasa bayi adalah keterampilan yang dimiliki bayi untuk berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini sejalan dengan perkembangan bayi sesuai usianya.

Sama seperti perkembangan motorik bayi, kemampuan sensorik, kecerdasan emosional, dan perkembangan kognitif bayi, perkembangan bahasa bayi juga berlangsung secara bertahap.

Usia awal ini memungkinkan otak bayi untuk menyerap bahasa sekaligus melatih kemampuan berkomunikasinya. Namun, perlu diketahui pula bahwa setiap anak ada kemungkinan akan berkembang dengan waktu yang berbeda-beda.

Itu sebabnya, perhatikan dan latih perkembangan kemampuan bahasa bayi guna memudahkannya dalam berkomunikasi.

Umur berapa bayi bisa mulai bicara?

bahasa bayi

Pada waktu bayi baru lahir biasanya ia lebih banyak menangis sebagai cara mengekspresikan emosi yang ia rasakan.

Seiring perkembangan serta pertumbuhan bayi, ia akan mulai mengeluarkan ocehan-ocehan seperti ingin menyampaikan sesuatu setelah berusia 2-3 bulan pertama.

Perkembangan bahasa bayi akan terus berlanjut hingga bayi bisa bicara kata pertamanya, misalnya “mama” atau “papa” yakni sekitar usia 9-12 bulan.

Mulai sejak itulah bayi akan lebih sering mengoceh guna menggambarkan apa yang ia lihat, dengar, rasakan, pikirkan, dan inginkan.

Tahap perkembangan kemampuan bicara bayi

Berikut beberapa tahapan atau fase bicara pada bayi:

Tahapan 1: Tangisan

Bayi telah menangis bahkan sejak lahir. Ketika baru lahir, tangisan bayi menandakan bahwa paru-parunya terisi oleh udara. Ternyata, tangisan merupakan salah satu respon dari bayi terhadap lingkungan luarnya. Ada berbagai macam pula jenis tangisan bayi, yaitu:

Menangis biasa

Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa tangisan merupakan cara bayi untuk memberitahukan pengasuhnya bahwa ia lapar.

Ciri tangisan ini adalah ada pola yang biasanya terdiri dari suara tangis itu sendiri, jeda beberapa saat, dan bunyi siulan pendek. Tangisan biasa juga biasanya terdengar lebih nyaring daripada tangisan lainnya.

Menangis karena marah

Saat bayi menangis karena marah, suara tangisan akan terdengar seperti saat ada udara yang dipaksa masuk ke tenggorokan.

Menangis karena sakit

Biasanya suara tangisan bayi terdengar sangat keras dan ada kalanya bayi menahan napas. Untuk itu, jangan dibiarkan jika si kecil mengalami tangisan yang satu ini.

Tahapan 2: Ocehan

Bayi biasanya mulai mengoceh pada usia sekitar 1-2 bulan. Tahap perkembangan bahasa bayi yang satu ini memperlihatkan bahwa suara dari ocehannya terbentuk dari suara udara yang diolah di tenggorokan.

Perlu diketahui apabila bayi biasanya mengoceh ketika merasa senang saat berada di sisi pengasuhnya. Menariknya, di masa ini bayi sudah mulai belajar bahasa melalui mengenali kata-kata yang ia dengar dari orang sekitarnya

Tahapan 3: Celotehan (babbling)

Celoteh merupakan hasil penyempurnaan dari ocehan. Celoteh sendiri adalah hasil penggabungan huruf mati dan huruf hidup, seperti “da”, “ma”, “uh”, dan “na” (Pujaningsih, 2010). Bayi bisa mulai berceloteh ketika berada pada usia pertengahan satu tahun.

Seperti di perkembangan usia 4 bulan ke atas bayi mulai bicara dengan meniru apa yang didengarnya. Di usia ini juga, si kecil belajar untuk mengucapkan kata-kata dengan vokal yang sama, seperti “bababa”, atau “yayaya”.

Pada bayi tunarungu yang dilahirkan dari keluarga tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat, bayi akan cenderung melakukan celotehan dengan tangan dan jarinya (Bloom, 1998).

Perkembangan bahasa bayi ini juga akan muncul dalam waktu yang sama dengan bayi lainnya yang menggunakan suara dalam berceloteh, yaitu pada usia pertengahan satu tahun.

Upaya bayi untuk bicara terdengar masih asal dan belum masuk akal, tapi ia akan tetap mengulanginya berkali-kali. Hal ini karena ia sedang bereksperimen menggunakan lidah, langit-langit mulut, serta pita suaranya.

Tahapan 4: Munculnya kata pertama

Sebelum bisa berbicara lancar, bayi sebenarnya telah memahami kata-kata yang belum bisa mereka ucapkan (Pan & Uccelli, 2009). Seperti halnya ketika bayi sudah mampu mengetahui namanya sendiri pada perkembangan bayi usia 5 bulan.

Memasuki usia 7 bulan, ucapan bayi mulai terdengar masuk akal. Pasalnya, ia sedang berusaha mencoba nada dan pola bicara seperti apa yang diucapkan orang-orang terdekatnya, walaupun masih belum tepat.

Selain itu, ada kemungkinan bayi pun mulai mengerti namanya sendiri dan merespon panggilan orang lain.

Kemampuan bicaranya juga akan semakin baik karena si kecil tidak hanya sekadar bicara saja. Melainkan berusaha mengaitkan suatu makna dengan dirinya secara bertahap.

Contohnya, Anda akan mendengar kata pertamanya yang mudah diucapkan tapi mengandung makna, yakni “mama” atau “papa”. Perkembangan bahasa bayi ini kemungkinan akan terjadi pada usia 8 bulan hingga usia 11 bulan.

Selanjutnya, akan terus muncul kata-kata menarik dengan pengucapan yang mudah dari si kecil. Proses ini akan berlanjut seterusnya seiring dengan bantuan orang di sekitarnya yang mengajaknya bicara.

Pentingnya orangtua bicara dengan bahasa bayi

Selama satu tahun sejak si kecil lahir, pasti ada banyak sekali hal-hal baru yang ia coba pelajari, salah satunya adalah cara berkomunikasi.

Saat sang buah hati tersenyum, tertawa, atau sekedar berceracau memanggil Anda dengan sebutan ‘mama’ atau ‘bubu’, itu adalah caranya sendiri untuk mengajak Anda mengobrol.

Melalui baby talk atau bahasa bayi tersebut, si kecil berharap Anda akan menjawab ceracauannya kembali dengan tersenyum, bernyanyi, atau membacakan buku. Berkomunikasi dengan sang buah hati adalah fase penting pada masa-masa awal ia lahir.

Anda sebaiknya memusatkan perhatian pada perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa si kecil karena hal tersebut berhubungan dengan banyak hal.

Beberapa manfaat cara melatih bayi bicara mulai dari perkembangan kemampuan membaca, menulis, serta ikatan batin dengan si kecil kelak di kemudian hari.

Bagaimana cara melatih perkembangan bahasa bayi?

bahasa bayi

Asah  kemampuan bahasa bayi sejak dini agar perkembangan yang terbentuk bisa semakin optimal. Tak perlu bingung, beberapa tips berikut ini bisa Anda terapkan:

Usia 0-6 bulan

Begini tips melatih perkembangan kemampuan bahasa bayi usia 0-6 bulan:

1. Bicara dengan bayi

Selama Anda melatih kemampuan bahasa bayi, selama itu pula Anda harus rajin mengajaknya berbicara banyak hal. Meski mungkin si kecil belum sepenuhnya mengerti, tapi cara ini membuatnya paham bahwa Anda sedang mengajaknya berkomunikasi.

2. Jelaskan hal yang dilakukan dengan bayi

Cobalah dengan lebih sering menjelaskan padanya apa yang sedang Anda berdua lakukan. Saat akan mengajak mandi, Anda dapat mengatakan, “Sudah jam segini, kita mandi dulu ya sayang. Enak nih pakai air hangat.”

Cara lain yang termasuk sebagai tahap perkembangan bahasa adalah dengan melanjutkannya dengan, “Sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik (atau ganteng) sekarang kita minum susu ya, Nak.”

Usia 7-11 bulan

Begini tips melatih kemampuan perkembangan bahasa bayi usia 7-11 bulan:

1. Bacakan cerita untuk bayi

Tidak ada kata terlalu cepat untuk mulai membacakan cerita pada bayi, sebagai upaya melatih perkembangan kemampuan bahasa bayi. Oleh karena si kecil belum mampu membaca,

Anda bisa menggunakan buku cerita yang lebih didominasi oleh beraneka macam gambar-gambar menarik. Sembari membacakan cerita, jelaskan satu per satu pada si kecil nama dari setiap gambar di dalam buku ceritanya.

2. Lebih sering menyebut “dada” dan “mama”

Salah satu upaya si kecil mengenal panggilan orangtuanya, sekaligus melatih kemampuan bahasa bayi, sebutlah diri Anda dan pasangan dengan panggilan tertentu.

Setiap kali Anda mengajaknya bicara, Anda bisa mengatakan “Yuk, kakak ganti popok dulu sama Mama.”

Mulai biasakan juga untuk memanggil sebutan tersebut pada pasangan Anda saat sedang bersama si kecil. Perlahan-lahan, bayi secara refleks akan menyebut “dada” atau “mama” saat melihat Anda dari kejauhan.

Bahkan, dari yang tadinya belum cukup lancar, lama-kelamaan si kecil dapat mengucapkannya dengan sangat fasih.

3. Mengulang kata tertentu

Sering-seringlah tersenyum dan melihat muka bayi saat mengajarkan si kecil suatu kosa kata. Misalnya, Anda hendak mengajarinya untuk mengenal kata ‘makan’, maka Anda harus mengulangi kata tersebut sepanjang hari agar cepat diserap oleh otak si kecil.

Meskipun perkembangan bahasa pada bayi atau anak berbeda-beda, tapi memeriksakan anak ke dokter sedini mungkin adalah pencegahan terbaik untuk mengetahui apakah si kecil mengalami kesulitan berbicara.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Rasisme bukanlah topik yang sederhana. Namun, penting bagi orangtua untuk menjelaskan rasisme kepada anak sejak dini untuk mencegahnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Parenting, Tips Parenting 12/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Bayi 6 Bulan Ternyata Suka Saat Gerak-geriknya Ditiru Orang Dewasa

Sebuah penelitian menemukan bahwa bayi ternyata mengerti dan suka bila gerakannya ditiru. Mengapa begitu dan adakah pengaruhnya dalam perkembangan sosial?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 10/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab bayi kejang

Berbagai Hal yang Dapat Menyebabkan Bayi Kejang, Plus Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 4 menit
mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

Apa yang Harus Diakukan Jika Anak Step (Kejang Demam)

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit