Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cara Tepat Berkomunikasi dengan Bayi Baru Lahir

Cara Tepat Berkomunikasi dengan Bayi Baru Lahir

Tahukah ibu, tangisan pertama bayi baru lahir adalah cara si kecil berkomunikasi dengan orang dewasa? Bayi belum bisa bicara, sehingga ia menggunakan tangis untuk memberitahu ibu tentang apa yang ia rasakan. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan seputar berkomunikasi dengan bayi.

Bagaimana cara bayi berkomunikasi?

Saat baru selesai melalui proses melahirkan, mungkin awalnya ibu merasa asing dengan suara si kecil hingga lama-lama mulai belajar dan mengenal bahasa bayi.

Berikut beberapa cara bayi berkomunikasi dengan orangtuanya.

Menangis

Mengutip dari Kids Health, saat bayi lahir, ia memiliki satu kemampuan komunikasi, yaitu menangis.

Tangisan akan memberi tahu bahwa terjadi sesuatu pada bayi, seperti:

  • rasa lapar,
  • popok yang basah,
  • kaki yang dingin,
  • merasa lelah, atau
  • ingin memeluk ibu.

Tinggi rendah suara tangisan juga menggambarkan kebutuhan bayi, misalnya:

  • bayi menangis sebentar dengan nada rendah: tandanya ia lapar,
  • suara tangisan bayi terputus-putus: ia sedang sedih, atau
  • bayi menangis tanpa alasan, seperti mendengar suara terlalu keras.

Menangis adalah cara utama bagi bayi untuk berkomunikasi, tapi mereka juga dapat menggunakan cara lain.

Gestur tubuh

Selain dengan tangis, bayi juga bisa berkomunikasi dengan sentuhan. Ambil contoh, saat ia menarik baju dan menyentuh payudara ibu. Itu tandanya ia lapar dan ingin segera menyusu.

Selain itu, bayi juga menunjukan cara berkomunikasinya dengan gerakan tubuh lain.

Sebut saja, menggerakkan kaki saat sedang senang atau mengepalkan tangan saat tidak nyaman.

Ini adalah cara bayi mengatakan pada orangtua dan orang dewasa tentang apa yang ia rasakan.

Ekspresi wajah

Bayi berkomunikasi dengan cara menunjukkan ekspresi wajah, seperti kontak mata, tersenyum saat ibu tersenyum, dan tertawa kecil.

Lihat bagaimana cara bayi mendengar ketika ibu berbicara dengan suara penuh kasih sayang.

Bayi mungkin belum dapat menyelaraskan antara melihat dan mendengar. Namun, saat ia melihat ke arah lain, bayi dapat mendengar dengan seksama suara ibu ketika berbicara.

Bayi dapat menyesuaikan posisi tubuh, ekspresi wajah, atau menggerakkan lengan dan kaki ketika ibu bicara.

Terkadang di bulan pertama kelahiran bayi, ibu akan melihat senyum pertamanya. Ini sebuah cara bayi untuk berkomunikasi.

Cara berkomunikasi dengan bayi

Walau si kecil belum bisa berkomunikasi dengan ucapan, ibu bisa melatih kemampuan komunikasi bayi dengan beberapa cara.

Mengutip dari National Association for the Education of Young Children (NAEYC), berikut beberapa cara berkomunikasi dengan bayi yang bisa ibu lakukan di rumah.

Sering mengajak bayi bicara

Bayi baru lahir memang belum bisa menjawab kata yang ibu ucapkan. Namun, mengajak bayi bicara setiap hari adalah salah satu cara mudah untuk berkomunikasi dengan bayi.

Ibu bisa ajak bayi bicara saat melakukan sesuatu bersama, misalnya, mengganti popok, memandikan, atau menyusui si kecil.

Tidak lupa untuk memberi isyarat tentang perasaan ibu. Ambil contoh, saat sedang memandikan si kecil ibu bisa mengatakan,

“Sekarang, ibu mau bilas samponya di kepala. Hati-hati kena mata, coba kedip matanya kalau kena ya,” sambil mencontohkan kedipan mata.

Menyimak setiap bayi bicara

Ucapan bayi memang masih belum jelas, ia hanya bisa menggumam atau mengoceh sekenanya. Meski begitu, setiap hal yang bayi ucapkan adalah bahasa yang mengandung arti.

Ambil contoh, saat bayi sedang bermain dengan mainan kerincing, ia mengoceh baa-baa-baa.

Ibu bisa menjawab, “ba-ba-ba? Kamu senang ya sama mainannya? Ini bunyinya memang kencang, ya” sambil tersenyum.

Hindari menjawab dengan bahasa bayi, seperti mengganti minum dengan mimik atau makan dengan mamam.

Ini akan membuat bayi terbiasa dan justru tidak mengetahui bahasa yang sebenarnya.

Membacakan cerita

Cara yang satu ini juga bisa ibu gunakan untuk berkomunikasi dengan bayi sejak ia baru lahir.

Pilih buku yang memiliki warna terang, bertekstur, bergambar, dan memiliki irama.

Ibu bisa menjelaskan warna dan gambar yang ada di dalam buku. Biarkan bayi merasakan tekstur bukunya, apakah kasar atau lembut.

Ibu bisa membacakan buku dengan ekspresi setiap kata per kata. Saat menggambarkan rasa senang, ibu bisa tersenyum dan menggunakan nada riang.

Sementara itu, kalau sedih bisa memelankan suara dengan wajah cemberut. Ini membuat bayi belajar mengenal ekspresi dan menambah kosakatanya.

Bernyanyi

Bayi senang dengan musik, ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi melalui nyanyian di setiap kegiatan.

Sebut saja, saat bayi sedang berjemur di pagi hari, memandikan, mengganti popok, atau menjelang tidur.

Jangan lupa untuk menggunakan ekspresi saat sedang bernyanyi, ini akan menjadi bekal untuk si kecil mengenal rasa.

Hal yang perlu ibu perhatikan

Bayi rewel dan menangis adalah hal yang sangat wajar. Meski begitu, ibu perlu waspada bila bayi menangis:

  • lebih dari 3 jam sehari,
  • lebih dari 3 hari per minggu, atau
  • terus menerus selama 3 minggu.

Bila mengalami hal di atas, kemungkinan bayi sedang kolik yang bisa membuat ibu stres.

Namun, tidak perlu khawatir, tangisan ini hanya berlangsung sementara. Kebanyakan bayi akan melewati masa ini saat umur 3-4 bulan.

Ibu bisa coba menenangkan bayi dengan beberapa gerakan, seperti menggendong dengan menggoyangkan tubuhnya atau berjalan maju mundur mengelilingi ruangan.

Ibu juga bisa merespon dengan suara, seperti musik yang lembut atau suara berdengung vacuum cleaner atau white noise.

Konsultasikan ke dokter bila bayi mengalami hal ini:

  • menangis tidak wajar,
  • suara tangisan melengking dan terasa aneh,
  • demam lebih dari 38 derajat Celcius,
  • iritasi mata,
  • bayi kesakitan,
  • berkurang nafsu makan, dan
  • napasnya tidak teratur.

Saat bayi mengalami hal-hal yang tidak biasa, tidak ada salahnya untuk ibu merekam dengan ponsel. Ini untuk memudahkan dokter mengidentifikasi masalah pada si kecil.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Learning to talk and communication with your baby | NCT. (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://www.nct.org.uk/baby-toddler/learning-talk-and-communication-your-baby

Communicating with Baby: Tips and Milestones from Birth to Age 5 | NAEYC. (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://www.naeyc.org/our-work/families/communicating-with-baby

THREE, Z. (2021). How to Support Your Child’s Communication Skills. Retrieved 27 April 2021, from https://www.zerotothree.org/resources/302-how-to-support-your-child-s-communication-skills#:~:text=Babies%20communicate%20from%20birth%2C%20through,later%2C%20gestures%20like%20pointing.)

Communication and Your Newborn (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/cnewborn.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 15/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x