Suplemen klorofil sempat populer beberapa waktu lalu karena diklaim memiliki sangat manfaat bagi kesehatan. Sebenarnya, apa itu klorofil? Ketahui khasiat, cara konsumsi, dan efek sampingnya dalam ulasan berikut.
Suplemen klorofil sempat populer beberapa waktu lalu karena diklaim memiliki sangat manfaat bagi kesehatan. Sebenarnya, apa itu klorofil? Ketahui khasiat, cara konsumsi, dan efek sampingnya dalam ulasan berikut.

Klorofil adalah zat fitonutrien yang berupa pigmen memberi warna hijau pada tumbuhan.
Tumbuhan menggunakan zat hijau ini bersama dengan sinar matahari untuk memproduksi energi.
Klorofil terletak di kloroplas tanaman, yakni struktur kecil dalam sel tanaman. Di sinilah proses fotosintesis berlangsung.
Tugas zat hijau ini pada tumbuhan adalah menyerap cahaya. Energi yang diserap dari cahaya akan ditransfer ke dua jenis molekul penyimpan energi.
Melalui fotosintesis, tanaman menggunakan energi yang tersimpan untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi glukosa.
Proses fotosintesis juga menghasilkan oksigen yang dilepaskan ke udara.

Sampai saat ini, sudah ada beberapa studi dan penelitian tentang manfaat suplemen zat hijau tanaman untuk kesehatan.
Berikut adalah beberapa manfaat suplemen klorofil menurut riset.
Salah satu klaim yang populer mengenai manfaat dari zat hijau tanaman ini adalah berpotensi menurunkan berat badan.
Sebuah studi dari Journal of Functional Foods melakukan penelitian pada tikus untuk mengetahui khasiat pill ekstrak bayam kaya zat hijau dalam menurunkan risiko obesitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bayam kaya zat hijau dapat mencegah kenaikkan berat badan pada tikus dan membantu tubuh mengelola kadar gula darah dengan baik, serta mengubah komposisi bakteri di usus.
Hal ini membuat suplemen klorofil berpotensi untuk membantu mengelola berat badan dan mencegah obesitas.
Beberapa penelitian lama menyebut klorofil berpotensi mengurangi bau badan, terutama pada orang dengan kelainan trimethylaminuria.
Trimethylaminuria adalah kondisi ketidakmampuan tubuh untuk mencerna dan mengoksidasi trimetilamin, suatu zat organik di dalam tanaman.
Kondisi ini bisa memicu bau badan atau sindrom bau ikan. Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikkan manfaat klorofil satu ini.
Beberapa penelitian lama menduga bahwa zat hijau dari tumbuhan ini bersifat antiradang dan antibakteri sehingga dapat mengatasi infeksi pada luka.
Sebuah studi dalam jurnal Pharmaceutics melakukan penelitian dengan menggabungkan antara Spirulina (sumber klorofil tanaman), minyak Copaifera reticulata, dan campuran polimer.
Bahan aktif tersebut kemudian dibuat menjadi gel untuk menguji efektivitasnya dalam mendukung penyembuhan luka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gabungan bahan aktif tersebut diketahui mampu membunuh bakteri Staphylococcus aureus yang sering menjadi penyebab infeksi.
Tak hanya itu, pemberian gel ini pada hewan juga diketahui mampu mengurangi ukuran luka dan mempercepat penyembuhan luka.

Studi dalam Pharmacognosy Journal melakukan penelitian pada tikus yang diberikan zat klorofil dari daun katuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat hijau dari daun katuk dapat meningkatkan kadar hemoglobin, yakni protein di dalam sel darah merah yang berperan penting untuk mengangkut oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
Tak hanya itu, tikus yang diberi klorofil daun katuk juga mengalami peningkatan ferritin, yakni meningkatkan penyimpanan zat besi dalam tubuh yang baik untuk mendukung produksi sel darah merah sehat.
Namun, penelitian ini baru dilakukan pada hewan sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan manfaatnya pada manusia.
Selain mampu mencegah kekurangan sel darah merah, khasiat klorofil atau zat hijau tumbuhan selanjutnya adalah berpotensi mencegah pertumbuhan kanker.
Sebuah riset yang dipublikasikan dalam Oxidative Medicine and Celullar Longevity menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak klorofil dapat meningkatkan perlindungan terhadap kanker pankreas.
Zat hijau ini juga berpotensi melawan radikal bebas yang dapat menyebabkan mutasi genetik dalam tubuh dan memicu penyakit kanker.
Meski begitu, masih diperlukan studi dan uji lebih lanjut seputar manfaat zat hijau tanaman ini untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Obat topikal (oles) yang mengandung klorofil juga berpotensi sebagai obat penghilang jerawat.
Satu studi kecil pada Journal of Drugs in Dermatology menemukan bahwa gel yang mengandung klorofil membantu mengurangi jerawat dan pori-pori besar.
Penelitian tersebut dilakukan pada 10 peserta yang memiliki jerawat ringan hingga sedang dengan pemakaian gel selama 3 minggu.
Penelitian lain membandingkan penggunaan kombinasi obat topikal klorofil dan fototerapi dengan fototerapi saja untuk pengobatan jerawat.
Pengobatan kombinasi dapat mengurangi keparahan jerawat dan minyak wajah.
Obat topikal klorofil juga dapat bekerja sebagai obat antipenuaan akibat paparan sinar matahari.
Studi kecil dari Clinical, Cosmetic, and Investigational Dermatology menemukan bahwa mengoleskan gel yang mengandung klorofil ke kulit mengurangi tanda-tanda penuaan dini.
Penelitian ini menggunakan sampel kulit dari empat wanita sehat yang berlangsung selama 12 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit yang dioleskan dengan klorofil menunjukkan perbaikan, mirip dengan kulit yang diobati dengan tretinoin, sejenis krim kulit yang membantu mengatasi penuaan kulit.
Sebagian besar sayuran hijau alami mengandung klorofil. Makanan yang sangat kaya zat hijau tanaman meliputi:
Selain zat hijau, sayuran-sayuran ini menyediakan berbagai vitamin dan mineral yang menyehatkan.
Meski pada dasarnya klorofil bukanlah zat yang beracun, tapi penggunaan yang sembarang dapat menimbulkan efek samping.
Beberapa efek samping konsumsi suplemen zat hijau tanaman ini antara lain sebagai berikut.
Selain efek samping di atas, reaksi alergi akibat suplemen zat hijau ini bisa terjadi.
Gejala yang dapat timbul antara lain adalah gatal-gatal, munculnya ruam, bengkak pada wajah, tangan dan leher, tenggorokan sakit, sulit bernapas, dan sensasi gatal pada mulut.
Jika reaksi alergi ini terjadi, berhentilah mengonsumsi suplemen tersebut. Agar lebih aman, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen herbal.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
McCook, J. P., Stephens, T. J., Jiang, L. I., Law, R. M., & Gotz, V. (2016). Ability of sodium copper chlorophyllin complex to repair photoaged skin by stimulation of biomarkers in human extracellular matrix. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, 9, 167–174.
Stephens, T. J., McCook, J. P., & Herndon, J. H., Jr (2015). Pilot Study of Topical Copper Chlorophyllin Complex in Subjects With Facial Acne and Large Pores. Journal of Drugs in Dermatology : JDD, 14(6), 589–592.
Li, Y., Cui, Y., Lu, F., Wang, X., Liao, X., Hu, X., & Zhang, Y. (2019). Beneficial effects of a chlorophyll-rich spinach extract supplementation on prevention of obesity and modulation of gut microbiota in high-fat diet-fed mice. Journal of Functional Foods, 60, 103436.
Vaňková, K., Marková, I., Jašprová, J., Dvořák, A., Subhanová, I., Zelenka, J., … & Vítek, L. (2018). Chlorophyll‐mediated changes in the redox status of pancreatic cancer cells are associated with its anticancer effects. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, (1), 4069167.
Campanholi, K. D. S. S., da Silva Junior, R. C., Gonçalves, R. S., de Oliveira, M. C., Pozza, M. S. D. S., Leite, A. T., … & Caetano, W. (2022). Photo-phytotherapeutic gel composed of Copaifera reticulata, chlorophylls, and k-carrageenan: a new perspective for topical healing. Pharmaceutics, 14(12), 2580.
Suparmi, S., Sampurna, S., Anna, N., Ednisari, A. M., Urfani, G. D., Laila, I., & Saintika, H. R. (2016). Anti-anemia effect of chlorophyll from katuk (Sauropus androgynus) leaves on female mice induced sodium nitrite. Pharmacognosy Journal, 8(4).
Versi Terbaru
28/03/2025
Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala