home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Fitonutrien, Zat Kimia Alami pada Buah dan Sayur

Mengenal Fitonutrien, Zat Kimia Alami pada Buah dan Sayur

Anda dianjurkan untuk makan sayur dan buah beraneka warna untuk mendapatkan zat gizi yang beragam. Akan tetapi, pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana asalnya warna-warni buah dan sayuran? Warna-warni ini berasal dari fitonutrien.

Apa itu fitonutrien?

buah-buahan dan sayuran yang termasuk makanan untuk menghilangkan jerawat

Fitonutrien adalah bahan kimia atau senyawa alami yang dihasilkan oleh tumbuhan. Bahan yang dikenal juga dengan fitokimia ini menjaga kesehatan tumbuhan serta melindunginya dari paparan panas matahari dan serangga.

Istilah “fitonutrien” (phytonutrient) berasal dari bahasa Yunani “phyto” yang berarti tumbuhan. Ini karena zat fitokimia hanya ditemukan pada makanan yang berasal dari tumbuhan seperti buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan rempah-rempah.

Berbeda dengan karbohidrat, protein, atau vitamin, fitonutrien bukanlah zat gizi esensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun, zat kimia ini dapat membantu mengurangi risiko penyakit dan membantu tubuh bekerja secara maksimal.

Ada lebih dari 25.000 zat fitokimia yang terkandung dalam bahan makanan. Beberapa zat yang paling sering ditemukan yakni:

  • karotenoid,
  • flavonoid,
  • fitoestrogen,
  • ellagic acid (asam elagik),
  • glukosinolat, dan
  • resveratrol.

Zat fitokimia berperan dalam memberikan warna, rasa, dan aroma bahan makanan. Jadi, bahan makanan dengan zat ini biasanya berwarna-warni. Meski begitu, ada pula bahan makanan berwarna putih yang mengandung fitokimia, seperti bawang.

Manfaat fitonutrien menurut jenisnya

buah pantangan untuk penderita diabetes

Di bawah ini beberapa senyawa kimia pada tumbuhan yang paling umum dan manfaatnya bagi kesehatan.

1. Karotenoid

Karotenoid merupakan zat yang memberikan warna kuning, oranye, dan merah pada buah dan sayur. Ada lebih dari 600 jenis senyawa alami pada tumbuhan yang tergolong karotenoid, di antaranya alfa-karoten, beta-karoten, likopen, dan zeaxanthin.

Karotenoid berfungsi sebagai antioksidan yang menangkal efek radikal bebas. Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh sehingga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Selain itu, karotenoid seperti alfa dan beta-karoten juga merupakan prekursor (bahan baku) vitamin A. Anda bisa mendapatkan semua manfaat ini dengan mengonsumsi wortel, labu, tomat, jeruk, ubi merah, dan beberapa sayuran hijau.

2. Flavonoid

Flavonoid yaitu fitonutrien yang tidak memberikan pigmen warna. Senyawa alami ini berguna untuk mengurangi peradangan dalam tubuh, menghambat pertumbuhan tumor, dan meningkatkan produksi enzim detoksifikasi.

Ada banyak subkelompok flavonoid, misalnya antosianin, quercetin, flavanon, isoflavon, katekin, dan flavonol. Beberapa subkelompok ini terbagi lagi menjadi senyawa-senyawa lain, misalnya isoflavon terdiri atas genistein, daidzein, dan fitoestrogen.

Makanan yang mengandung flavonoid biasanya merupakan makanan kaya antioksidan. Anda dapat menemukannya dalam apel, bawang bombai, kacang-kacangan, dan jahe. Ada pula sumber berupa minuman seperti kopi dan teh hijau.

3. Glukosinolat

Glukosinolat yaitu fitonutrien yang banyak ditemukan pada sayuran berbonggol (cruciferous) seperti kol, pakcoy, kubis, dan brokoli. Senyawa ini dapat mengurangi peradangan serta membantu proses metabolisme dan respons stres pada tubuh Anda.

Menurut sejumlah penelitian pada hewan, glukosinolat juga berpotensi untuk mencegah kanker. Ketika sel tumbuhan terluka (baik karena dimasak atau dikunyah), enzim yang disebut myrosinase akan memecah glukosinolat menjadi isotiosianat.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa isotiosianat memiliki sifat antitumor dengan cara menghambat pertumbuhan sel tumor. Tidak hanya itu, isotiosianat juga mematikan karsinogen dan melindungi DNA sel dari kerusakan.

4. Asam elagik

Asam elagik merupakan fitonutrien dari kelompok yang sama dengan flavonoid. Seperti antioksidan lainnya, asam elagik banyak ditemukan pada buah, sayuran, dan kacang. Uniknya, zat ini juga terkandung dalam beberapa jenis jamur.

Sebagai antioksidan, asam elagik berperan penting menangkal efek radikal bebas pada sel tubuh. Menurut sebuah studi dalam jurnal Cancer Biology & Medicine, senyawa ini dapat berikatan dengan sel kanker dan menghambat pertumbuhannya.

Sementara itu, studi lainnya terhadap hewan menunjukkan khasiat asam elagik dalam mengurangi peradangan. Asam elagik diduga dapat mencegah kerusakan kulit akibat sinar UV, tapi manfaatnya pada tubuh manusia masih perlu dikaji lebih lanjut.

5. Resveratrol

Resveratrol terkandung dalam beberapa jenis buah, tapi zat fitokimia ini paling banyak ditemukan dalam berbagai bagian buah anggur dan anggur merah. Berkat manfaatnya yang beragam, resveratrol kini juga banyak diproduksi dalam bentuk suplemen.

Sifat antioksidan pada resveratrol terbukti bisa menurunkan tekanan darah. Resveratrol bekerja dengan memproduksi nitrat oksida, yakni senyawa yang membuat pembuluh darah Anda menjadi lebih rileks.

Tak hanya itu, konsumsi makanan mengandung resveratrol juga membantu mengurangi lemak serta menurunkan risiko pikun dan penyakit diabetes. Semua manfaat ini berasal dari sifat-sifat antiradang yang ada pada resveratrol.

6. Fitoestrogen

Fitoestrogen mempunyai cara kerja yang mirip dengan hormon estrogen. Pada wanita, hormon estrogen dapat meredakan keluhan terkait menopause seperti munculnya ruam merah pada kulit (hot flashes), rasa menggigil, jerawat, dan sebagainya.

Anda bisa menemukan fitonutrien ini dalam berbagai bahan makanan, terutama wortel, kacang kedelai, jeruk, kopi, dan kacang-kacangan. Produk-produk dari kacang kedelai seperti tempe, tahu, dan susu kedelai juga banyak mengandung fitoestrogen.

Kendati bermanfaat, penggunaan fitoestrogen hingga kini masih menuai kontroversi. Pasalnya, beberapa studi menunjukkan bahwa zat ini mungkin bisa mengganggu fungsi hormon alami tubuh dan meningkatkan risiko kanker payudara.

Fitonutrien merupakan bahan kimia yang dihasilkan secara alami oleh tumbuhan. Zat ini memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Oleh sebab itu, jangan lupa warnai menu harian Anda dengan berbagai bahan nabati yang menjadi sumber senyawa ini.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Are Phytonutrients?. (n.d.). Retrieved 25 May 2021, from https://fruitsandveggies.org/stories/what-are-phytochemicals/

Cruciferous Vegetables and Cancer Prevention. (2012). Retrieved 25 May 2021, from https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/cruciferous-vegetables-fact-sheet

Gupta, C., & Prakash, D. (2014). Phytonutrients as therapeutic agents. Journal of complementary & integrative medicine, 11(3), 151–169. https://doi.org/10.1515/jcim-2013-0021

Patisaul, H., & Jefferson, W. (2010). The pros and cons of phytoestrogens. Frontiers In Neuroendocrinology, 31(4), 400-419. https://doi.org/10.1016/j.yfrne.2010.03.003

Zhang, H. M., Zhao, L., Li, H., Xu, H., Chen, W. W., & Tao, L. (2014). Research progress on the anticarcinogenic actions and mechanisms of ellagic acid. Cancer biology & medicine, 11(2), 92–100. https://doi.org/10.7497/j.issn.2095-3941.2014.02.004

Liu, Y., Ma, W., Zhang, P., He, S., & Huang, D. (2015). Effect of resveratrol on blood pressure: a meta-analysis of randomized controlled trials. Clinical nutrition (Edinburgh, Scotland), 34(1), 27–34. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2014.03.009

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Monika Nanda Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x