home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

8 Tips Penting untuk Atasi Bau Badan Tidak Sedap

8 Tips Penting untuk Atasi Bau Badan Tidak Sedap

Bau badan bisa menjadi mimpi buruk bagi banyak orang. Kondisi ini dapat dialami oleh pria dan wanita. Tak hanya mengganggu kenyamanan beraktivitas, bau badan juga bisa menurunkan kepercayaan diri Anda. Kabar baiknya, ada berbagai cara menghilangkan bau badan dengan mudah. Simak terus ulasan lengkapnya di bawah ini untuk tahu cara-caranya.

Penyebab timbulnya bau badan yang tidak sedap

cara menghilangkan bau badan

Sebelum mencari tahu cara menghilangkan bau badan, ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu kenapa seseorang bisa mengalami bau badan.

Keringat dan bau badan dapat terjadi ketika Anda melakukan aktivitas fisik, saat udara panas, atau saat Anda merasa gugup dan stres.

Tubuh memiliki dua jenis kelenjar keringat utama, yaitu kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin. Kelenjar ekrin paling banyak terdapat dalam tubuh dan letaknya dekat dengan permukaan kulit.

Sementara itu, kelenjar apokrin banyak terdapat pada bagian folikel rambut, misalnya di area ketiak dan selangkangan.

Ketika suhu tubuh Anda meningkat, kelenjar ekrin akan mengeluarkan cairan yang kita kenal sebagai keringat ke permukaan kulit yang bertugas untuk mendinginkan suhu tubuh.

Keringat yang dikeluarkan kelenjar ekrin terdiri dari air dan garam.

Di sisi lain, kelenjar apokrin menghasilkan keringat yang bertekstur lebih berat jika dibandingkan dengan keringat yang dihasilkan kelenjar ekrin.

Keringat yang dihasilkan biasanya lebih banyak, terutama ketika Anda mengalami stres emosional.

Meskipun keringat tidak memiliki bau, tetapi ketika bercampur dengan bakteri yang terdapat di kulit (terutama bagian ketiak, kaki, dan selangkangan), keringat bisa menimbulkan aroma tubuh yang tidak sedap.

Cara menghilangkan bau badan

Jamur kulit Penyebab Panu yang Perlu Diketahui

Kondisi tubuh setiap orang pasti berbeda-beda. Ya, ada orang yang menghasilkan lebih banyak keringat, ada juga orang yang produksi keringatnya sangat sedikit sampai tidak memerlukan deodoran dan antiperspiran.

Bagi Anda yang sering mengalami masalah bau badan, coba terapkan beberapa cara berikut untuk menghilangkan aromanya.

1. Jaga kebersihan diri dengan mandi

Cara paling utama dalam mengatasi bau badan adalah dengan rajin mandi.

Sebagai salah satu penyebab bau badan, bakteri sebenarnya dapat dicegah dengan cara rajin menjaga kebersihan diri serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Mandi minimal satu kali sehari merupakan salah satu cara ampuh mencegah serta mengatasi munculnya bau badan karena dapat mengurangi jumlah bakteri dalam tubuh.

Pastikan tubuh Anda bersih dari bakteri, terutama di bagian yang rentan terhadap keringat dan bakteri, misalnya ketiak atau selangkangan.

Jika bau badan muncul tiba-tiba, Anda bisa mencuci bagian yang berkeringat dengan air dan sabun antibakteri. Ini dapat mengurangi bakteri yang terdapat pada kulit.

Setelah membersihkan bagian yang berkeringat, segeralah memakai deodoran atau antiperspiran untuk mencegah munculnya bau badan kembali.

2. Jaga badan Anda tetap kering

Setelah mandi, keringkan badan Anda sampai benar-benar kering. Cara ini dapat membantu menghilangkan bau badan yang mengganggu.

Pastikan bagian tubuh yang rentan berkeringat kering sepenuhnya. Ini karena bakteri cenderung berkembang biak di tempat yang basah atau lembap.

Saat Anda berkeringat, cobalah untuk mengeringkan bagian yang berkeringat agar bakteri tidak bereaksi dengan keringat dan kemudian menimbulkan bau badan.

cara menjaga kebersihan pakaian

3. Mengganti baju

Jika Anda sering berkeringat, Anda mungkin ingin membawa baju ganti ketika bepergian.

Baju yang bersih dapat membantu meminimalkan efek buruk dari reaksi antara keringat dan bakteri.

Agar mencegah bau badan muncul tiba-tiba, segeralah ganti baju Anda dengan baju bersih dan kering saat tubuh berkeringat.

4. Kenakan deodoran atau antiperspiran

Cara yang tak kalah penting untuk menghilangkan bau badan adalah selalu menggunakan deodoran atau antiperspiran.

Meskipun sering dikira sama, sebenarnya kedua jenis produk ini berbeda. Deodoran bekerja dengan cara menyerang bakteri yang bisa menghasilkan bau badan.

Tak jarang deodoran mengandung alkohol atau komponen antibakteri seperti triclosan. Zat ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang membuat bakteri tidak bisa hidup atau berkembang biak.

Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, deodoran diklasifikasikan ke dalam kosmetik, berbeda dengan antiperspiran yang diklasifikasikan sebagai obat-obatan.

Fungsi utama antiperspiran adalah mencegah timbulnya ketiak basah dengan cara membentuk gel dan menyumbat kelenjar keringat.

5. Perhatikan apa yang Anda makan

Tips selanjutnya untuk menghilangkan bau badan adalah dengan mengontrol makanan Anda.

Salah satu penyebab bau badan adalah makanan. Makanan juga bisa menyebabkan Anda berkeringat berlebih, misalnya makanan pedas, kafein, dan alkohol.

Selain keringat berlebih, ada pula beberapa jenis makanan penyebab aroma tubuh jadi tak sedap. Makanan seperti bawang bombay dan bawang putih merupakan beberapa di antaranya.

Tak hanya bawang, beberapa jenis sayuran seperti brokoli juga dapat menimbulkan aroma tidak sedap.

Ini terjadi karena komponen sulfur pada sayuran tersebut diproses oleh tubuh dan dikeluarkan melalui napas, urine, dan keringat.

Jika Anda sering berkeringat, cobalah menghindari makanan tersebut untuk mengurangi kemungkinan munculnya bau badan.

cara mencukur bulu kemaluan

6. Mencukur bulu ketiak

Salah satu cara yang bisa Anda tempuh untuk menghilangkan bau badan adalah dengan mencukur bulu ketiak.

Menurut sebuah studi dari Journal of Cosmetic Dermatology, mencukur rambut di ketiak dapat membantu mengurangi bau tak sedap.

Hal ini karena kulit yang dicukur lebih mudah untuk dibersihkan jika dibandingkan dengan kulit yang berambut.

7. Mencoba teknik relaksasi

Stres dan beban pikiran merupakan salah satu pemicu keringat berlebih. Akibatnya, stres membuat Anda lebih rentan mengalami bau badan.

Oleh karena itu, Anda dapat menjajal teknik relaksasi sebagai cara menghilangkan bau badan.

Beberapa contoh kegiatan relaksasi yang bisa Anda lakukan adalah yoga, meditasi, atau bahkan sekadar menghirup lilin aromaterapi.

8. Periksakan diri ke dokter

Apabila Anda sudah mencoba berbagai cara menghilangkan bau badan di atas dan tak kunjung berhasil, pilihan terakhir adalah berkonsultasi ke dokter.

Pada beberapa kasus, dokter akan merekomendasikan suntik botulinum toxin atau Botox ke area ketiak untuk mencegah keringat berlebih.

Alternatif lainnya, dokter mungkin akan meresepkan obat antikolinergik untuk mengurangi produksi keringat pada tubuh.

Nah, demikian berbagai tips yang bisa Anda ikuti untuk menghilangkan bau badan.

Dengan mencoba cara-cara di atas, niscaya Anda akan terhindar dari aroma tubuh yang tak sedap serta semakin percaya diri dan nyaman saat beraktivitas.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sweating and body odor – Mayo Clinic. (2019). Retrieved March 1, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sweating-and-body-odor/diagnosis-treatment/drc-20353898 

Cosmetics Safety Q&A: Personal Care Products – FDA. (2020). Retrieved March 1, 2021, from https://www.fda.gov/cosmetics/resources-consumers-cosmetics/cosmetics-safety-qa-personal-care-products 

What can I do about excessive sweating? – Harvard Health Publishing. (2014). Retrieved March 1, 2021, from https://www.health.harvard.edu/womens-health/ask-the-doctor-what-can-i-do-about-excessive-sweating 

Hyperhidrosis: Diagnosis and Treatment – American Academy of Dermatology Association. (n.d.). Retrieved March 1, 2021, from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/hyperhidrosis-treatment 

Sweating and Body Odor – Cleveland Clinic. (2018). Retrieved March 1, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/17865-sweating-and-body-odor#care-and-treatment 

Hyperhidrosis – Cleveland Clinic. (2020). Retrieved March 1, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17113-hyperhidrosis 

Body odour (BO) – NHS. (2019). Retrieved March 1, 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/body-odour-bo/ 

Understanding Sweating – International Hyperhidrosis Society. (n.d.). Retrieved March 1, 2021, from https://www.sweathelp.org/home/understanding-hyperhidrosis.html 

Lanzalaco, A., Vanoosthuyze, K., Stark, C., Swaile, D., Rocchetta, H., & Spruell, R. (2015). A comparative clinical study of different hair removal procedures and their impact on axillary odor reduction in men. Journal Of Cosmetic Dermatology, 15(1), 58-65. https://dx.doi.org/10.1111%2Fjocd.12197

Hodge, BD., Sanvictores, T., Brodell, RT. (2021). Anatomy. Skin Sweat Glands. StatPearls Publishing.

Mogilnicka, I., Bogucki, P., & Ufnal, M. (2020). Microbiota and Malodor—Etiology and Management. International Journal Of Molecular Sciences, 21(8), 2886. https://dx.doi.org/10.3390%2Fijms21082886

Hamada, K., Haruyama, S., Yamaguchi, T., Yamamoto, K., Hiromasa, K., & Yoshioka, M. et al. (2014). What determines human body odour?. Experimental Dermatology, 23(5), 316-317. https://doi.org/10.1111/exd.12380

Pastor, D. K., & Harper, D. S. (2012). Treating body odor in primary care. The Nurse practitioner, 37(3), 15–18. https://doi.org/10.1097/01.NPR.0000409913.95393.28

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Monika Nanda Diperbarui 23/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x