Awas, Kelebihan Protein Bisa Sebabkan Keracunan!

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Protein adalah satu dari tiga jenis zat gizi makro yang berguna untuk menjalankan fungsi tubuh secara optimal. Namun, jika kelebihan protein, terutama tanpa asupan lemak atau karbohidrat, ini malah bisa membahayakan tubuh. Terlalu banyak protein dapat berubah menjadi racun dalam tubuh, terutama bagi orang-orang yang menjalani diet tinggi protein yang perlu mendapatkan pengawasan khusus. Lalu apa bahayanya? Pelajari lebih jauh soal keracunan protein di bawah ini.

Apa itu keracunan protein?

Keracunan protein adalah kondisi di mana tubuh kelebihan protein, tapi tidak ada cukup lemak dan karbohidrat untuk jangka waktu yang lama. Kondisi ini disebut juga dengan “kelaparan kelinci” atau mal de caribou.

Istilah ini bermula saat penjelajah asal Amerika harus bertahan hidup hanya dengan memakan daging tanpa lemak seperti daging kelinci. Walaupun mendapatkan cukup kalori dari protein, tubuh tetap saja mengalami kekurangan gizi, khususnya lemak dan karbohidrat. Akibatnya, kebutuhan nutrisi menjadi tidak seimbang.

Protein terdiri dari asam amino yang akan dimetabolisme oleh hati dan ginjal. Proses metabolisme protein adalah proses pemecahan protein yang digunakan untuk menggantikan protein yang ada dalam tubuh. Bila protein berlebihan, tubuh akan mengalami peningkatan kadar amonia, urea, dan asam amino yang kemudian menjadi racun dalam darah. Meski tergolong jarang, keracunan protein ini bisa berakibat fatal.

Penyebab kelebihan protein

Tanda dan gejala tubuh Anda mengalami kelebihan protein adalah sebagai berikut:

  • Mual
  • Sakit kepala
  • Perubahan suasana hati
  • Kelelahan
  • Tekanan darah rendah
  • Kelaparan dan ngidam berbagai makanan
  • Diare
  • Denyut jantung melambat
  • Dehidrasi

Gejala-gejala ini akan mereda ketika Anda mengurangi kandungan protein dalam makanan dan menggantinya dengan asupan lemak atau karbohidrat. Namun, apabila terus dibiarkan selama berminggu-minggu, keracunan protein dapat mengancam nyawa.

Agar dapat berfungsi secara optimal, tubuh membutuhkan asupan zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro adalah nutrisi yang menghasilkan kalori pada tubuh, yaitu protein, karbohidrat, dan lemak. Sedangkan zat gizi mikro adalah nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh tetapi tidak akan memasok kalori, yaitu vitamin dan mineral.

Jika kedua komponen tersebut terlalu sedikit atau terlalu banyak, maka fungsi tubuh akan terganggu. Walaupun tubuh mendapatkan asupan kalori yang cukup dari satu jenis zat gizi makro saja, tubuh tetap membutuhkan zat gizi lainnya agar fungsi tubuh berjalan dengan seimbang.

Kelebihan protein diartikan sebagai asupan protein yang lebih dari 35 persen dari total kalori atau sama dengan 175 gram protein untuk setiap 2.000 kalori. Angka ini termasuk dalam distribusi zat gizi makro yang dapat diterima (AMDR), yaitu acuan kebutuhan nutrisi tubuh yang digunakan untuk mengurangi risiko terkena penyakit kronis.

Asupan protein yang melebihi angka tersebut (lebih dari 35 persen kalori) tidak akan memberikan manfaat yang sama untuk tubuh, justru menyebabkan keracunan protein. Namun, hal ini juga tergantung pada tinggi dan berat badan, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan seseorang.

Berapa jumlah asupan protein harian yang dianjurkan?

Kebutuhan protein per hari bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Ini disesuaikan dengan berat dan tinggi badan, usia, kondisi kesehatan, serta aktivitas fisik Anda setiap harinya. Akan tetapi, sederhananya kebutuhan protein harian berada pada rentang 0,8-1 gram per kilogram (kg) berat badan. Jadi, bila berat badan Anda 60 kg, maka kebutuhan protein harian Anda sekitar 48-60 gram.

Menurut Angka Kecukupan Gizi yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan, wanita dewasa dengan status gizi normal membutuhkan 56-59 gram protein per hari. Sedangkan pria dewasa dengan status gizi normal membutuhkan 62-66 gram protein dalam sehari.

Untuk mengetahui berapa persisnya kebutuhan protein Anda dalam sehari, konsultasikan langsung dengan dokter atau ahli gizi. Sedangkan untuk memastikan kebutuhan protein anak, diskusikan dengan dokter anak atau ahli gizi anak Anda.

Bagaimana cara menangani keracunan protein?

Prinsipnya, keracunan protein terjadi karena tubuh kelebihan protein dan di saat yang sama kekurangan lemak dan karbohidrat. Oleh karena itu, kurangi asupan protein tidak lebih dari 2 gram per kilogram berat badan dan tambahkan asupan lemak serta karbohidrat dari menu makanan Anda. Dengan demikian, Anda bisa mengobati keracunan protein dalam tubuh sekaligus meningkatkan kebutuhan serat.

Bagi Anda yang sedang menjalankan diet tinggi protein, sebetulnya tidak perlu cemas. Sebagian besar diet tinggi protein seperti diet Atkins, ketogenik, dan paleo sama-sama mendorong asupan lemak yang tinggi dan beberapa asupan karbohidrat. Hal ini tidak memungkinkan terjadinya keracunan protein karena sudah ada asupan lemak dan karbohidrat. Namun, karena banyaknya diet yang menawarkan tinggi protein, ini tetap menjadi hal yang harus diperhatikan.

Jadi, Anda sangat tidak disarankan untuk menghilangkan lemak dan karbohidrat dalam menu makanan Anda demi mengunggulkan protein. Karena itulah, temukan diet yang sesuai dengan kondisi tubuh Anda dengan mengonsultasikannya pada dokter atau ahli gizi terlebih dahulu.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Fakta Tentang Hati (Liver) Manusia yang Ternyata Menakjubkan

Sebagai organ vital manusia, hati (liver) berperan penting dalam menjaga kesehatan. Cari tahu fakta tentang hati manusia berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Trik Jitu Agar Tak Mudah Tergoda Makan Junk Food

Anda tidak bisa berhenti makan junk food? Tenang, ada siasat khusus untuk menghindari godaan makan makanan tak sehat. Intip caranya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Tips Makan Sehat, Nutrisi 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Lemas habis makan mungkin masih wajar. Tapi kalau Anda gemetaran atau berkeringat, bisa jadi tanda gula darah turun. Hal ini disebut hipoglikemia reaktif.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Jenis-Jenis Parasit dan Penyakit Infeksi yang Disebabkannya

Cacingan, toksoplasmosis, dan malaria adalah contoh penyakit infeksi parasit yang cukup umum di Indonesia. Bagaimana cara mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Penyakit Infeksi, Infeksi Jamur dan Parasit 26 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat kuat alami

11 Pilihan Obat Kuat Alami yang Bikin Pria Lebih Tahan Lama di Ranjang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
menelan sperma

Apakah Bisa Hamil Jika Kita Menelan Sperma?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
radiasi wi-fi

Benarkah Radiasi dari Wi-Fi Bisa Memicu Kanker Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
tremor bisa sembuh

Apakah Tremor Bisa Disembuhkan? Apa Saja Pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit