Mi instan mungkin menjadi makanan favorit sebagian besar masyarakat Indonesia karena rasanya yang lezat dan gurih. Makanan ini juga praktis dibuat. Namun, makan mi instan terlalu sering sangat berisiko bagi kesehatan tubuh. Simak bahaya makan mi instan yang perlu Anda hindari berikut ini.
Bahaya mi instan secara umum bagi kesehatan
Mi instan merupakan makanan olahan ultraproses yang mengandung pengawet, lemak jenuh, dan natrium yang tinggi.
Jika dikonsumsi terlalu sering, bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, peradangan, hingga obesitas.
Oleh karena itu, sebaiknya hindari makan mi instan terlalu sering atau mengonsumsi mi setiap hari.
Untuk lebih lengkapnya, berikut ini beberapa bahaya makan mi instan bagi kesehatan tubuh.
1. Sindrom metabolik
Sebuah penelitian dalam jurnal Nutrition Reserach and Practice menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi mi instan berkaitan erat dengan risiko sindrom metabolik.
Sindrom metabolik adalah kondisi kesehatan yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Penelitian ini dilakukan terhadap lebih dari 3.000 mahasiswa berusia 18 – 29 tahun.
Hasilnya, peserta yang makan mi instan sebanyak tiga kali atau lebih dalam seminggu memiliki tekanan darah dan gula darah lebih tinggi dibandingkan peserta yang hanya makan mi instan sekali dalam sebulan.
Kemungkinannya, sindrom metabolik ini terjadi karena tingginya kandungan sodium dan lemak jenuh tidak sehat yang terdapat pada mi instan.
2. Penyakit jantung
Makan mi instan terlalu sering juga dapat meningkatkan bahaya risiko penyakit jantung. Hal ini karena mi instan biasanya mengandung natrium yang tinggi.
Mengonsumsi makanan dengan kadar natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah (hipertensi) yang menjadi salah satu faktor pemicu penyakit jantung.
Selain itu, mi instan mengandung lemak jenuh yang tinggi dan dapat berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol dalah darah.
Jika terus berlanjut, kolesterol dapat menumpuk dan menyumbat pembuluh darah. Hal ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke.
3. Diabetes
Mi instan terbuat dari maida, yakni olahan tepung terigu yang telah mengalami proses penggilingan, penghalusan, dan pemutihan.
Maida yang terkandung pada mi instan minim kandungan gizi bermanfaat dan justru tinggi akan gula sederhana. Jadi, konsumsinya bisa cepat meningkatkan kadar gula darah.
Saat mengonsumsi maida, pankreas akan melepaskan insulin dengan cepat untuk mencernanya.
Jika terjadi dalam jangka panjang, akibat konsumsi mi terlalu sering atau setiap hari, kondisi ini bisa mengarah pada resistensi insulin yang merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.
4. Meningkatnya risiko penyakit liver
Bahaya makan mi instan lainnya bagi kesehatan adalah meningkatkan risiko penyakit liver.
Makanan yang melalui proses pengolahan panjang seperti mi instan mengandung pengawet dan zat aditif yang sulit dicerna oleh organ hati (liver).
Bila dikonsumsi terlalu banyak, bahan pengawet dan zat aditif dalam mi instan dapat menekan kerja liver. Pada akhirnya, organ hati bisa kewalahan lalu menimbun lemak berlebih dalam selnya sendiri.
Lemak yang menumpuk akan menimbulkan kerusakan pada liver. Fungsi hati yang terganggu juga dapat menyebabkan retensi air serta pembengkakan.
5. Obesitas
Tak hanya penyakit sindrom metabolik, akibat terlalu sering makan mi instan juga dapat berujung pada kondisi obesitas.
Perlu Anda ketahui, satu bungkus mi instan rata-rata mengandung 14 gram lemak jenuh. Jumlah ini sangat tinggi, mencakup sekitar 40% dari kebutuhan lemak harian Anda.
Selain itu, mi instan memiliki kalori yang tinggi. Meski mengenyangkan, zat gizi yang diserap dan digunakan tubuh dari mi instan hanya sedikit. Nilai gizi mi instan tidak sebanding dengan jumlah kalorinya.
Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kalori terlalu sering tentunya akan meningkatkan risiko obesitas.
6. Berisiko menimbulkan gangguan pencernaan
Pada saat proses pengawetan, mi instan ditambahkan dengan zat bernama tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ). Pengawet ini berbahan dasar minyak yang juga terdapat dalam produk pestisida.
Nah, tubuh memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencerna pengawet ini. Bahkan, setelah dua jam, perut belum mampu mengurai TBHQ sehingga hal ini dapat mengganggu jalannya pencernaan.
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencerna TBHQ juga membuat perut terpapar oleh zat ini lebih lama. Akibatnya, kemampuan perut untuk menyerap zat gizi dari makanan lain akan menjadi lebih sulit.
7. Meningkatkan risiko kanker lambung
Selain dapat menimbulkan gangguan pencernaan, bahaya konsumsi mi instan yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko kanker lambung. Hal ini disebutkan oleh sebuah studi dalam jurnal Nutrients.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa konsumsi makanan dengan kadar natrium yang tinggi, seperti mi instan dapat meningkatkan risiko terkena kanker lambung, terutama pada orang yang minum alkohol.
Kadar natrium yang tinggi dapat meningkatkan produksi bakteri Helicobacter pylori, merusakkan lapisan mukosa lambung, serta meningkatkan produksi zat yang memicu peradangan.
Faktor-faktor tersebut diketahui dapat mempercepat perkembangan sel kanker dan memicu kanker lambung.
8. Malnutrisi
Makan mi instan terlalu sering, terutama tanpa dimbangi dengan asupan makanan lainnya yang kaya nutrisi, seperti sayur dan buah-buahan, dapat meningkatkan risiko malnutrisi.
Hal ini karena mi instan cenderung tidak mengandung zat gizi penting, seperti vitamin, mineral, serat, dan protein yang penting bagi tubuh.
Jadi, konsumsi mi instan yang berlebihan dalam jangka panjang bisa menyebabkan malnutrisi atau kekurangan gizi.
Anda boleh saja makan mi instan sesekali, tetapi tidak terlalu sering, apalagi sampai setiap hari. Pastikan juga memperhatikan porsinya, jangan terlalu banyak.
Agar lebih bergizi, Anda bisa memasak mi instan dengan sehat, caranya menambahkan sayur-sayuran dan telur, lalu kurangi sedikit bumbunya.
Kesimpulan
Makan mi instan terlalu sering tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan berikut.
- Sindrom metabolik.
- Penyakit jantung.
- Diabetes.
- Penyakit liver.
- Obesitas.
- Gangguan pencernaan.
- Meningkatkan risiko kanker lambung.
- Malnutrisi.
[embed-health-tool-bmi]