home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Eating Disorder (Gangguan Makan)

Definisi eating disorder (gangguan makan)|Tanda & gejala eating disorder (gangguan makan)|Penyebab eating disorder (gangguan makan)|Faktor risiko eating disorder (gangguan makan)|Komplikasi eating disorder (gangguan makan)|Diagnosis & pengobatan eating disorder (gangguan makan)|Pengobatan eating disorder (gangguan makan) di rumah|Pencegahan eating disorder (gangguan makan)
Eating Disorder (Gangguan Makan)

Definisi eating disorder (gangguan makan)

Apa itu eating disorder (gangguan makan)?

Eating disorder atau gangguan makan adalah kondisi serius terkait dengan perilaku makan yang memberikan dampak negatif pada kesehatan, emosi, dan kemampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini termasuk dalam penyakit mental dapat memengaruhi kemampuan tubuh Anda untuk mendapatkan nutrisi yang sesuai. Akibatnya, bisa membahayakan jantung, sistem pencernaan, tulang, gigi dan mulut, serta memicu penyakit lainnya.

Gangguan ini sering terjadi pada remaja dan orang dewasa muda, meskipun dapat berkembang pada usia lain. Dengan pengobatan, pasien dapat kembali ke kebiasaan makan yang lebih sehat dan terkadang mengobati komplikasi serius yang disebabkan oleh kondisi ini.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Eating disorder atau gangguan makan adalah kondisi yang cukup umum terjadi. Meski dapat menyerang semua usia, kasusnya paling sering ditemukan pada remaja dan orang dewasa usia muda.

Tanda & gejala eating disorder (gangguan makan)

Eating disorder dapat menimbulkan berbagai gejala, tergantung dengan jenis kondisi yang diderita. Dilansir dari laman Mayo Clinic, berikut ini adalah penjelasan jenis gangguan makan dan gejala yang ditimbulkannya.

Anoreksia nervosa

Anoreksia nervosa adalah kondisi yang berpotensi mengancam jiwa karena membuat penderitanya memiliki berat badan sangat rendah. Ini karena penderitanya enggan untuk makan karena takut berat badannya naik.

Persepsi yang salah ini membuat penderitanya berupaya untuk mengontrol berat badan dengan cara ekstrem, contohnya makan sedikit tapi olahraga berlebihan, menggunakan obat pencahar untuk membantu diet, atau muntah setelah makan.

Upaya untuk mengurangi berat badan dan mencegah kenaikannya ini dapat menyebabkan masalah kesehatan parah, seperti kelaparan yang bisa berujung dengan kematian.

Bulimia nervosa

Bulimia nervosa adalah jenis eating disorder yang membuat penderitanya makan dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat, tapi diikuti usaha untuk memuntahkan makan, minum obat pencahar, atau obat penekan nafsu makan.

Ini karena mereka merasa bersalah, malu, dan takut akan kenaikan berat badan karena makan berlebihan. Orang dengan kondisi ini juga akan merasakan stres karena terus memikirkan berat badan dan bentuk tubuh.

Binge-eating disorder

Gangguan binge-eating adalah kondisi makan berlebihan dan kurang kendali atas perilaku tersebut. Penderitanya mungkin akan makan dengan cepat atau makan lebih banyak dari yang diinginkan, bahkan saat Anda tidak lapar sekalipun.

Setelah makan berlebihan, orang dengan kondisi ini akan merasa bersalah dan malu dengan perilaku tersebut. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat penderitanya berusaha keras untuk menurunkan berat badannya.

Kondisi ini membuat pasien memiliki berat badan berlebihan atau bahkan sudah obesitas.

Gangguan ruminasi (rumination disorder)

Gangguan ruminasi adalah perilaku memuntahkan makanan yang kadang dikunyah kembali dan ditelan atau bisa juga dikunyah lalu dimuntahkan kembali.

Kondisi ini dapat menyebabkan malnutrisi jika makanan yang ditelan lebih sedikit dari porsi seharusnya. Biasanya, gangguan ruminasi terjadi pada anak, bayi, atau orang yang lahir dengan cacat intelektual.

Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)

Gangguan ini ditandai dengan gagal memenuhi kebutuhan nutrisi harian minimum karena tidak memiliki nafsu makan atau menghindari makanan dengan karakteristik sensorik tertentu, seperti warna, tekstur, bau atau rasa. Bisa juga disebabkan oleh rasa khawatir dan takut akan tersedak.

Kondisi ini menyebabkan penurunan berat badan drastis yang akhirnya bisa mengganggu kesehatan.

Pica

Pica adalah jenis eating disorder yang ditandai dengan seseorang yang makan sesuatu yang tidak layak makan. Kondisi ini seperti anak yang memasukkan benda-benda ke mulut karena penasaran.

Orang dengan kondisi ini bisa saja makan sesuatu yang bisa mengganggu kesehatan. Contoh benda yang dimakan adalah tanah, batu, kertas, krayon, rambut, atau kapur.

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda atau kerabat menunjukkan tanda-tanda bermasalah dengan perilaku makan, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan. Terlebih jika menunjukkan tanda-tanda berikut ini:

  • Menerapkan pola makan vegetarian yang terlalu ketat.
  • Melewatkan jam makan dan membuat alasan untuk tidak makan.
  • Mengeluh badan gendut dan khawatir terus-menerus, serta terlalu sering mengecek bentuk tubuh di depan cermin.
  • Mengonsumsi makanan secara berlebihan.
  • Minum pil diet atau obat pencahar untuk menurunkan berat badan secara berlebihan.

Penyebab eating disorder (gangguan makan)

Penyebab eating disorder tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, seperti penyakit mental lainnya, kondisi ini mungkin disebabkan oleh:

  • Genetik dan biologis

Orang-orang tertentu mungkin memiliki gen tertentu yang meningkatkan risiko terkena gangguan makan. Ditambah dengan adanya faktor biologis, seperti perubahan bahan kimia otak, juga bisa meningkatkan risiko penyakit.

  • Kesehatan psikologis dan emosional

Masalah psikologis dan emosional, seperti rendah diri, perfeksionisme, perilaku impulsif, dan bermasalah dalam berhubungan juga bisa menjadi penyebab gangguan makan.

Faktor risiko eating disorder (gangguan makan)

Meskipun penyebabnya tidak diketahui secara pasti, ilmuwan sudah menemukan berbagi faktor yang bisa meningkatkan risiko eating disorder, seperti:

  • Jenis kelamin dan usia tertentu

Remaja putri dan wanita lebih cenderung menderita anoreksia atau bulimia dibandingkan remaja laki-laki dan pria. Akan tetapi, anak laki-laki dan pria juga dapat mengalami gangguan ini.

Kondisi ini bisa terjadi rentang usia yang luas, namun paling sering ditemukan pada anak remaja awal 20-an.

  • Riwayat kesehatan keluarga

Kondisi ini lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki orang tua atau saudara kandung yang pernah mengalamim kondisi serupa.

  • Penyakit mental lain

Orang dengan kondisi ini sering kali memiliki riwayat gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

  • Diet ketat

Diet ketat merupakan faktor risiko terjadinya eating disoderder. Ini karena rasa lapar memengaruhi otak dan memengaruhi perubahan suasana hati, kemampuan dalam berpikir, kecemasan, dan penurunan nafsu makan.

  • Tekanan berlebih

Entah itu masuk perguruan tinggi, pindah rumah dan sekolah, dipecat dari pekerjaan, atau masalah keluarga atau dengan pasangan, kesemuanya dapat membawa stres, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada pola makan.

Komplikasi eating disorder (gangguan makan)

Eating disorder dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi jika tidak segera diatasi, di antaranya:

  • Masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung, masalah lambung, atau penyakit kronis lainnya yang bisa berujung dengan kematian.
  • Depresi dan gangguan kecemasan.
  • Terbesit pikiran untuk bunuh diri dan perilaku menyakiti diri sendiri.
  • Kecanduan, seperti alkoholisme atau menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba).
  • Kehidupan sosial, pekerjaan, dan prestasi di sekolah memburuk.

Diagnosis & pengobatan eating disorder (gangguan makan)

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Diagnosis eating disorder akan ditegakkan berdasarkan gejala dan kebiasaan makan. Di samping itu, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menjalani serangkaian tes kesehatan untuk gangguan makan, seperti:

  • Tes fisik. Dokter akan memeriksa pasien untuk menyingkirkan penyebab medis lain yang menyebabkan masalah pada perilaku makan.
  • Evaluasi psikologis. Dokter atau ahli kejiwaan kemungkinan besar akan bertanya tentang pikiran, perasaan, dan kebiasaan makan pasien. Dokter juga akan meminta pasien untuk mengisi kuesioner penilaian diri psikologis.

Dokter kejiwaan juga dapat menggunakan kriteria diagnostik dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).

Bagaimana cara mengobati eating disorder (gangguan makan)?

Gangguan makan dapat diatasi dengan perawatan dari dokter spesialis penyakit kejiwaan, psikolog, dan ahli gizi. Berikut ini beberapa cara untuk mengobati eating disorder yang mungkin dilakukan:

  • Menerapkan pola makan sehat

Dokter dan ahli gizi akan mengecek berat badan pasien. Kemudian, ahli gizi akan mengarahkan pola makan sehat yang sesuai untuk membantu menaikkan atau mengurangi berat badan sesuai dengan usia Anda.

  • Melakukan psikoterapi

Psikoterapi yakni terapi yang bertujuan untuk membantu klien melalui masa-masa sulit dan mempelajari berbagai cara untuk menyelesaikan masalah dalam hidup. Pada terapi ini, terapis akan membantu pasien berhenti dari perilaku makan yang buruk.

Ada jenis psikoterapi yang biasanya dijalani, yaitu:

  • Terapi berbasis keluarga (FBT). Terapi ini biasanya diperuntukkan bagi anak dan remaja yang mengalami masalah perilaku makan. Keluarga akan terlibat dalam memastikan bahwa anak atau anggota keluarganya mengikuti pola makan sehat dan menjaga berat badan yang sehat.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi perilaku kognitif umumnya diperuntukkan bagi pasien bulimia dan binge-eating disorder. Pasien akan belajar bagaimana memantau kebiasaan makan dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, serta mengeksplorasi cara-cara sehat untuk mengatasi stres.
  • Minum obat

Obat-obatan memang tidak bisa menyembuhkan eating disorder. Namun, obat-obatan tertentu dapat membantu pasien mengendalikan dorongan untuk makan berlebihan, buang air, atau untuk mengelola keasyikan berlebihan dengan makanan dan diet.

Obat yang digunakan merupakan golongan antidepresan dan obat anti-kecemasan.

  • Menjalani rawat inap

Jika Anda memiliki masalah kesehatan yang serius, seperti anoreksia yang mengakibatkan kekurangan gizi parah, dokter Anda mungkin merekomendasikan rawat inap.

Program penyembuhan untuk kasus ini mungkin membutuhkan perawatan yang lebih intensif dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pengobatan eating disorder (gangguan makan) di rumah

Selain menjalani pengobatan dari dokter, perawatan di rumah juga perlu dilakukan yang meliputi:

  • Terapkan pola makan sehat yang telah diarahkan dokter.
  • Kurangi stres dengan menjalani olahraga, meditasi, atau aktivitas lain yang disukai.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, untuk mengecek adanya masalah kesehatan lain yang mungkin timbul akibat gangguan makan.
  • Hentikan penggunaan pil diet atau obat pencahar agar tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan.

Pencegahan eating disorder (gangguan makan)

Tidak ada cara pasti untuk mencegah eating disorder. Akan tetapi, ada beberapa tips yang bisa Anda terapkan agar memiliki perilaku makan yang sehat, di antaranya:

  • Tingkatkan rasa percaya diri dan kesadaran untuk mencintai diri sendiri, terlepas berat badan dan bentuk tubuh.
  • Anda yang ingin menjalani diet, sebaiknya minta saran dari ahli gizi agar diet yang Anda jalani tidak menimbulkan masalah.
  • Terapkan pola makan yang sehat sehingga Anda tetap makan tepat waktu dan sesuai porsi.
  • Jika sedang mengalami tekanan atau stres, jangan lampiaskan emosi Anda lewat makan, tapi cara sehat lainnya yang bisa membantu mengatasi stres. Jika perlu lakukan konsultasi ke psikolog.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Eating disorders – Symptoms and causes. (2018, February 22). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/symptoms-causes/syc-20353603 [Accessed on January 14th, 2021]

Stice, E., Marti, C. and Rohde, P., 2013. Prevalence, incidence, impairment, and course of the proposed DSM-5 eating disorder diagnoses in an 8-year prospective community study of young womenJournal of Abnormal Psychology, 122(2), pp.445-457. [Accessed on January 14th, 2021]

Keel, P. and Klump, K., 2003. Are eating disorders culture-bound syndromes? Implications for conceptualizing their etiologyPsychological Bulletin, 129(5), pp.747-769. [Accessed on January 14th, 2021]

Culbert, K., Racine, S. and Klump, K., 2015. Research Review: What we have learned about the causes of eating disorders – a synthesis of sociocultural, psychological, and biological researchJournal of Child Psychology and Psychiatry, 56(11), pp.1141-1164. [Accessed on January 14th, 2021]

King, J., Geisler, D., Ritschel, F., Boehm, I., Seidel, M., Roschinski, B., Soltwedel, L., Zwipp, J., Pfuhl, G., Marxen, M., Roessner, V. and Ehrlich, S., 2015. Global Cortical Thinning in Acute Anorexia Nervosa Normalizes Following Long-Term Weight RestorationBiological Psychiatry, 77(7), pp.624-632. [Accessed on January 14th, 2021]

Pica. (2018, February 21). National Eating Disorders Association. https://www.nationaleatingdisorders.org/learn/by-eating-disorder/other/pica [Accessed on January 14th, 2021]

Pica. Nemours KidsHealth – the Web’s most visited site about children’s health. https://kidshealth.org/en/parents/pica.html [Accessed on January 14th, 2021]

What Can You Do to Help Prevent Eating Disorders?. University Health Services. https://uhs.berkeley.edu/sites/default/files/bewell_whtcnudo.pdf [Accessed on January 14th, 2021]

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 13/01/2021
x