Bagaimana Dokter Mendiagnosis Gangguan Makan?

    Bagaimana Dokter Mendiagnosis Gangguan Makan?

    Gangguan makan yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi serius. Jadi, pengidapnya perlu segera mendapatkan bantuan untuk menangani kondisi ini. Karena perawatan harus diberikan sesuai dengan jenis gangguan makan yang dialami, dokter harus melakukan diagnosis terlebih dahulu.

    Kapan seseorang bisa didiagnosis dengan gangguan makan?

    beda psikolog dan psikiater

    Sering kali, orang-orang yang mengidap gangguan makan menyangkal kondisinya. Namun, perubahan perilaku makan atau kebiasaan makan yang tidak biasa dapat menunjukkan bahwa ada masalah dengan pola makannya.

    Selain itu, harus dipastikan apakah gejala-gejala yang terlihat sudah memenuhi kriteria diagnostik. Kriteria ini ditentukan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

    Setiap jenis gangguan makan memiliki kriterianya masing-masing. Berikut merupakan kriteria diagnosis dari beberapa jenis gangguan makan yang umum, seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge-eating disorder.

    1. Kriteria anoreksia nervosa

    Seseorang dapat dikatakan memiliki gangguan makan anoreksia nervosa bila memenuhi sejumlah kriteria diagnosis berikut.

    • Membatasi asupan makanan untuk mencapai berat badan yang kurang dari angka normal.
    • Memiliki ketakutan yang intens akan naik berat badan atau menjadi gemuk dan terus melakukan diet meski berat badannya sudah sangat rendah.
    • Terganggunya pandangan atas bentuk tubuh sendiri (gangguan citra tubuh). Dengan kata lain, pengidap anoreksia selalu merasa gemuk dan menyangkal bahwa berat badannya di bawah normal.

    Tingkat keparahan anoreksia bisa ditentukan dari indeks massa tubuh (IMT). Anoreksia sudah tergolong serius bila indeks massa tubuh seseorang hanya mencapai 15 kg/m2 atau kurang dari itu.

    2. Kriteria bulimia nervosa

    Pengidap gangguan makan bulimia nervosa sejatinya memiliki kriteria berikut ini.

    • Mengalami episode binge-eating yang berulang. Episode ini bisa berlangsung dalam dua jam dengan porsi makanan yang sangat besar. Pada saat ini, pengidap bulimia tidak dapat berhenti makan meski sudah kenyang.
    • Merasa bersalah setelah melakukan binge-eating. Sebagai kompensasi, makanan yang sudah dikonsumsi dikeluarkan kembali, baik dengan muntah yang dipicu sendiri atau minum obat pencahar.
    • Memiliki pandangan yang buruk terhadap diri sendiri karena bentuk tubuh dan berat badannya tidak ideal.
    • Mengalami episode anoreksia. Ketika episode ini berlangsung, pengidap bulimia berhenti melakukan binge-eating.

    Untuk menentukan keparahan bulimia, dokter biasanya akan menanyakan seberapa sering episode binge-eating dan tindakan kompensasinya dilakukan.

    Pengidap bulimia yang parah melakukan tindakan tersebut minimal sebanyak delapan kali dalam seminggu.

    3. Binge-eating disorder

    binge eating disorder adalah

    Tak sekadar makan berlebihan, pengidap binge-eating disorder akan terus makan meski sedang tidak ingin.

    Sebelum menentukan diagnosis gangguan makan yang satu ini, berikut beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.

    • Mengalami episode binge-eating berulang, dapat berlangsung sampai dua jam dan selama itu pasien tidak bisa mengontrol kapan harus berhenti dan apa saja yang ia makan.
    • Makan jauh lebih cepat dari biasanya.
    • Makan dalam porsi yang sangat besar walau sedang tidak lapar. Pasien akan terus makan sampai perut terasa tidak nyaman.
    • Makan sendirian karena merasa malu dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi.
    • Merasa jijik dengan diri sendiri, depresi, atau sangat bersalah setelah episode binge-eating.
    • Tidak disertai dengan tindakan memuntahkan atau mengeluarkan makanan seperti pada bulimia atau anoreksia.

    Seseorang memiliki kemungkinan mengidap binge-eating disorder bila sudah mengalami episode binge-eating atau makan berlebihan setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan.

    Cara mendiagnosis gangguan makan

    tes bernstein

    Dengan mengacu pada kriteria dari DSM-5, dokter atau spesialis kejiwaan akan melakukan berbagai langkah berikut ini untuk menegakkan diagnosis gangguan makan.

    1. Pemeriksaan fisik

    Ada sejumlah tes untuk mendiagnosis gangguan makan (eating disorder test), salah satunya pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa tinggi badan dan berat badan.

    Pengukuran berat badan yang akurat penting dalam diagnosis gangguan makan, sebab dari sini bisa terlihat bila ada kurva pertumbuhan atau perubahan yang tidak normal.

    Dokter juga akan memeriksa tanda-tanda vital, termasuk denyut nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan laju pernapasan.

    Hal ini penting diketahui, mengingat gangguan makan juga dapat mengganggu beberapa fungsi tubuh yang terkait dengan tanda vital tersebut.

    Kemudian, dokter akan memeriksa perut, kondisi kulit, serta rambut Anda. Orang-orang yang memiliki gangguan makan sering kali memiliki tanda-tanda seperti:

    • kulit kering,
    • hilangnya lemak di bawah kulit,
    • lanugo (tumbuhnya rambut halus dan tipis),
    • kuku yang rapuh, atau
    • warna kulit yang tampak kekuningan.

    2. Evaluasi psikologis

    Selanjutnya, dokter spesialis akan melakukan evaluasi psikologis. Evaluasi ini utamanya bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan pasien.

    Pemeriksaan ini juga menunjukkan frekuensi penggunaan obat laksatif, kepribadian pasien sendiri, serta mengetahui bila pasien memiliki gangguan mental yang dapat menjadi dasar dari munculnya gangguan makan.

    Dokter bisa melakukan evaluasi ini dengan mewawancarai pasien atau skrining melalui pengisian kuesioner dengan penilaian khusus untuk menilai gejala pasien.

    Beberapa jenis kuesionernya meliputi Eating Disorder Inventory, kuesioner SCOFF, Eating Attitudes Test, atau Eating Disorder Examination Questionnaire (EDE-Q).

    Nantinya, hasil evaluasi ini akan disesuaikan dengan kriteria diagnosis gangguan makan dari DSM-5. Terkadang bila pasien menyangkal gejalanya, dokter juga dapat bertanya pada keluarga pasien.

    3. Tes laboratorium

    tes darah samar feses

    Memang, terkadang ada pasien gangguan makan yang hasil tes laboratoriumnya normal. Meski demikian, tes laboratorium tetap diperlukan untuk bantu mencegah risiko atau kemungkinan akan munculnya penyakit fisik.

    Sebagai contoh, tes darah lengkap pasien bisa saja menunjukkan hasil yang normal. Namun, masih ada risiko terjadinya leukopenia (penurunan sel darah putih).

    Tes darah rutin dapat membantu mengetahui risiko Anda dan mendeteksi kondisi ini dari awal kemunculannya.

    Pemeriksaan penunjang lainnya termasuk pemeriksaan fungsi hati, fungsi ginjal, tiroid, gigi, EKG (elektrokardiogram jantung), dan tes urine.

    Ada kalanya dokter juga menyarankan pemeriksaan dengan sinar-X untuk mengetahui masalah tulang yang bisa jadi tanda anoreksia atau bulimia.

    Tidak dapat dipungkiri, sulit untuk mengakui adanya kondisi ini. Meski demikian, bila Anda sudah mengalami beberapa gejalanya, jangan takut dan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter.

    Pemeriksaan lengkap dapat menegakkan diagnosis gangguan makan dengan tepat. Tentu akan lebih baik untuk mendapatkan perawatan segera demi membantu Anda pulih.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Eating Disorder. (2018). Mayo Clinic. Retrieved June 30, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/diagnosis-treatment/drc-20353609 

    Eating Disorder. (2021). National Health Service. Retrieved June 30, 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/eating-disorders/ 

    DSM-5 Diagnostic Criteria for Eating Disorder. (n.d.). Inside Out Institute for Eating Disorder. Retrieved June 30, 2022, from https://insideoutinstitute.org.au/assets/dsm-5%20criteria.pdf

    Diagnosis of Eating Disorders for Primary Care. (2003). American Family Physician. Retrieved June 30, 2022, from https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2003/0115/p297.html#afp20030115p297-t1

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Jul 22
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa