OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Pengertian OCD (obsessive compulsive disorder)

Apa itu OCD (obsessive compulsive disorder)?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif kompulsif adalah salah satu jenis gangguan kecemasan kronis atau jangka panjang yang umum terjadi. Gangguan mental ini menyebabkan seseorang memiliki pikiran (obsesif) yang tidak terkendali, sehingga mendorongnya untuk melakukan perilaku (kompulsif) berulang.

Lebih lanjut, arti dari penyakit OCD dapat dijabarkan ke dalam penjelasan berikut: 

  • Apa itu obsesif?

Obsesif adalah pikiran, ide, atau impuls yang terus menerus muncul dan tidak terkendali dalam benak seseorang. Pikiran yang muncul ini tidak diinginkan oleh penderita OCD. Bahkan, terkadang, mereka pun menyadari bahwa pemikiran tersebut tidak masuk akal dan sangat mengganggu.

Meski demikian, pikiran yang mengganggu ini tidak dapat dikontrol, dan mungkin saja akan ada di benak penderitanya sepanjang waktu. Adapun pikiran atau obsesif yang khas pada penderita OCD diantaranya takut terkontaminasi oleh kuman dari orang lain atau lingkungan, berpikir bahwa segala sesuatu harus teratur atau rapi dan simetri, dan sebagainya.

  • Apa itu kompulsif?

Kompulsif adalah perilaku, tindakan, atau ritual yang dilakukan secara berulang. Umumnya, perilaku ini dilakukan sebagai respons terhadap obsesif. Penderita OCD mencoba menyingkirkan pikiran yang mengganggu dengan melakukan perilaku tertentu sesuai dengan aturan atau langkah yang mereka buat sendiri.

Perilaku atau kompulsif yang khas pada penderita gangguan ini bisa berkaitan dengan pikiran yang muncul, tetapi juga mungkin tidak terkait sama sekali. Sebagai contoh, mandi atau mencuci tangan berkali-kali karena takut terkontaminasi, mengurutkan atau mengatur sesuatu hal dengan cara tertentu, dan sebagainya.

Bagi penderita OCD, melakukan tindakan tersebut dapat membuat pikiran dan rasa cemasnya hilang. Namun, sayangnya, kelegaan ini tidak pernah bertahan lama. Pada suatu waktu, pikiran obsesif akan kembali lebih kuat dan tindakan kompulsif akan kembali terulang.

Bahkan, dalam kasus yang parah, lingkaran obsesif kompulsif ini bisa terjadi terus menerus hingga mengganggu aktivitas normal Anda.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Berdasarkan studi yang dipublikasikan The Journal of clinical psychiatry pada 2020, sekitar satu persen orang di dunia mengalami obsessive compulsive disorder. Adapun wanita 1,6 kali lebih mungkin mengalami OCD dibandingkan pria.

Penyakit ini pun sering dimulai pada masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa muda. Umumnya, gejala mulai muncul saat usia di bawah 20 tahun. Gejala tersebut seringkali dapat diatasi, tetapi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Untuk informasi lebih lanjut harap hubungi dokter.

Tanda & gejala OCD (obsessive compulsive disorder)

Apa saja tanda dan gejala seseorang mengidap penyakit OCD?

Tanda dan gejala penyakit OCD biasanya berupa munculnya perilaku obsesif dan kompulsif yang bukan disebabkan oleh penggunaan obat atau kondisi lainnya. Namun, seseorang juga mungkin hanya mengalami gejala obsesif atau kompulsif. 

Gejala obsesif

Pikiran atau obsesif pada penderita OCD terus muncul secara berulang. Hal ini dapat mengganggu dan menyebabkan tekanan atau cemas berlebihan pada penderitanya. 

Beberapa pikiran obsesif yang sering muncul, seperti: 

  • Takut terkontaminasi kotoran atau kuman
  • Segala sesuatu harus teratur dan simetri. 
  • Pikiran agresif atau mengerikan tentang melukai diri sendiri atau orang lain. 
  • Gambar atau pemikiran seksual yang mengganggu.
  • Hal berulang mengenai suara, gambar, kata-kata, atau angka tertentu.
  • Berlebihan tentang benar/salah, agama, dan moral.
  • Pikiran takut akan kehilangan atau membuang sesuatu yang penting. 

Dari pikiran tersebut, beberapa tanda dan gejala obsesif yang umum terjadi biasanya berupa: 

  • Tidak mau menyentuh benda yang telah disentuh orang lain. 
  • Jijik dengan kotoran atau cairan tubuh.
  • Keraguan bahwa Anda telah mengunci pintu atau mematikan kompor. 
  • Stres intens ketika benda tidak rapi atau menghadap ke arah tertentu. B
  • Bayangan menyakiti diri sendiri atau orang lain. 
  • Sering menghindari situasi yang dapat memicu obsesif, seperti berjabatan tangan. 
  • Terganggu dengan gambar-gambar seksual yang tidak menyenangkan dan terus berulang dalam pikiran Anda.
  • Khawatir bahwa suatu tugas telah dilakukan dengan buruk.
  • Takut melontarkan kata-kata kotor atau hinaan.

Gejala kompulsif

Perilaku kompulsif pada penderita OCD umumnya dilakukan secara berulang. Tindakan berulang ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecemasan akibat obsesif Anda. 

Tindakan kompulsif biasanya terkait dengan kegiatan mencuci dan membersihkan, memeriksa, menghitung, ketertiban, mengikuti rutinitas yang ketat, atau menuntut jaminan. Berikut adalah contoh tanda dan gejala kompulsif pada penderita obsessive compulsive disorder:

  • Mencuci tangan secara berlebihan sampai kulit Anda menjadi lecet. 
  • Menggosok gigi, mandi, atau buang air berulang kali.
  • Membersihkan peralatan rumah tangga berulang kali.
  • Memeriksa pintu berulang kali untuk memastikannya sudah terkunci. 
  • Mengecek kompor sudah mati atau belum berulang kali. 
  • Menghitung dalam pola tertentu. 
  • Mengulang doa, kata, atau frasa. 
  • Mengatur atau menata barang dengan cara tertentu. 
  • Menyimpan koran, surat, atau wadah tertentu meski tidak lagi dibutuhkan.
  • Memastikan keamanan orang yang dicintai, seperti pasangan, anak, anggota keluarga lain, atau teman, secara berulang-ulang.

Obsessive compulsive disorder adalah kondisi yang biasanya dimulai pada usia remaja. Gejala biasanya dimulai secara bertahap, datang dan pergi, serta cenderung bervariasi di sepanjang hidup Anda. Tingkat keparahan gejalanya pun bisa ringan, sedang, hingga parah, dan cenderung memburuk ketika mengalami stres yang berat

Kapan harus ke dokter?

Gangguan obsesif kompulsif berbeda dengan perfeksionisme yang menuntut hasil dengan sempurna. Pikiran penderita penyakit OCD lebih dari sekadar kekhawatiran, dan bahkan kerap memengaruhi kehidupan Anda.

Oleh karena itu, jika Anda memiliki gejala atau tanda-tanda seperti yang disebutkan di atas, terutama bila sudah mengganggu aktivitas harian dan memengaruhi kehidupan Anda, sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter atau ahli kesehatan mental, baik psikolog maupun psikiater. Anda pun perlu segera berkonsultasi ke ahlinya jika memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri.

Penyebab OCD (obsessive compulsive disorder)

Sejauh ini, para ilmuwan masih belum dapat menemukan penyebab pasti dari gangguan obsesif kompulsif. Namun, beberapa faktor mungkin berpengaruh terhadap timbulnya penyakit ini, diantaranya:

  • Faktor biologis

Beberapa studi menemukan bahwa OCD mungkin terjadi karena perubahan bahan kimia alami di otak, seperti serotonin, atau fungsi otak Anda. Seseorang dengan penyakit ini mungkin memiliki serotonin yang tidak cukup sehingga ia cenderung mengulangi perilaku yang sama berulang kali.

  • Faktor genetik

Penyakit ini mungkin terjadi karena faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga. Meski demikian, gen yang mungkin memengaruhi kondisi ini belum teridentifikasi.

  • Faktor lingkungan

Lingkungan pun mungkin bisa menjadi penyebab dari penyakit OCD. Ini termasuk trauma masa kecil, infeksi streptococcus atau yang disebut Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal Infections (PANDAS), atau perilaku obsesif kompulsif yang dipelajari dari mengamati anggota keluarga dari waktu ke waktu.

Faktor risiko OCD (obsessive compulsive disorder)

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko atau memicu Anda mengidap penyakit OCD diantaranya:

  • Memiliki orangtua atau anggota keluarga yang mengidap gangguan obsesif kompulsif. 
  • Mengalami kejadian traumatis yang membuat Anda merasa tertekan secara emosional dapat meningkatkan risiko berkembangnya penyakit OCD serta memicu gejala kembali muncul. 
  • Mengalami gangguan kesehatan mental lainnya. Obsessive compulsive disorder adalah kondisi yang mungkin berhubungan dengan kondisi mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan  penyalahgunaan zat tertentu. 

Diagnosis & pengobatan OCD (obsessive compulsive disorder)

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes umum yang biasa dilakukan untuk mendeteksi gangguan obsesif kompulsif (OCD)?

Dokter atau ahli kesehatan mental akan mendiagnosis penyakit OCD berdasarkan gejala yang Anda alami. Kemudian, mereka akan melakukan pemeriksaan klinis untuk memastikan penyebab dari gejala tersebut.

Adapun tes pemeriksaan yang umum dilakukan, yaitu evaluasi psikologis. Tes ini dilakukan dengan mendiskusikan pikiran, perasaan, dan pola perilaku untuk memastikan apakah gejala tersebut merupakan obsesif dan kompulsif pada penderita OCD. Pada tes ini, ahli kesehatan mental juga akan menanyakan kondisi Anda melalui keluarga atau kerabat Anda.

Selain itu, dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan berbagai tes diagnostik lainnya. Tes ini dapat membantu dokter untuk melihat kemungkinan kondisi medis lain yang menjadi penyebab gejala atau memeriksa komplikasi yang mungkin terjadi.

Perlu dipahami pula, gejala OCD terkadang mirip dengan gangguan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, dan obsessive compulsive personality disorder (OCPD). Padahal, OCD dan OCPD berbeda, begitupun dengan penyakit mental lainnya. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memberitahu semua gejala yang dialami agar mendapat diagnosis dan perawatan yang tepat.

Bagaimana cara mengatasi gangguan obsesif kompulsif?

OCD adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, pengobatan dari dokter atau ahli kesehatan mental dapat membantu mengontrol gejala, sehingga Anda dapat beraktivitas normal. Berikut adalah bentuk pengobatan yang umum diberikan untuk obsessive compulsive disorder

1. Obat-obatan

Dokter mungkin akan memberi resep obat untuk mengontrol obsesif dan kompulsif pada penderita OCD. Umumnya, obat antidepresan, yang biasa diberikan untuk mengatasi depresi, adalah pilihan pertama para dokter. Beberapa obat antidepresan yang sering diberikan, yaitu:

Agar efektif, dokter biasanya merekomendasikan lebih dari satu jenis obat. Seringkali, dokter juga meresepkan obat antipsikotik untuk membantu mengontrol gejala. Namun, perlu dipahami pula, keefektifan obat-obat ini mungkin tak langsung terlihat. Paling tidak, dibutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk melihat perbaikan gejala.

 2. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) adalah metode efektif untuk mengobati gangguan obsesif kompulsif. Terapi ini adalah jenis psikoterapi yang bertujuan untuk membantu individu mengubah cara mereka berpikir, merasa, dan berperilaku. Jenis terapi ini mengacu pada dua bentuk perawatan, yaitu: 

  • Exposure and response prevention (ERP)

Exposure yang dimaksud di sini adalah paparan situasi dan objek yang memicu ketakutan dan kecemasan Anda, seperti kotoran. Pada terapi ini, Anda akan dipaparkan secara bertahap pada objek tersebut agar terbiasa. 

Sementara itu, response prevention atau pencegahan respon mengacu pada perilaku atau ritual yang dilakukan oleh penderita OCD untuk mengurangi kecemasan. Perawatan ini membantu Anda belajar dalam melawan dorongan untuk melakukan perilaku kompulsif setelah diberikan paparan yang membuat Anda cemas. 

  • Terapi kognitif

Jenis terapi ini bertujuan untuk menghilangkan perilaku kompulsif. Dalam terapi ini, Anda akan diajari cara-cara yang sehat dan efektif untuk menanggapi pikiran obsesif Anda. 

Pengobatan di rumah untuk OCD (obsessive compulsive disorder)

Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda untuk mengatasi gangguan obsesif kompulsif diantaranya:

  • Minum obat dari dokter sesuai dengan yang direkomendasikan. Jangan berhenti mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan dokter, meski Anda sudah merasa lebih baik, karena dapat mengembalikan gejala obsesif kompulsif.
  • Pelajari serta praktikkan teknik dan keterampilan tertentu untuk membantu mengontrol gejala seperti yang telah diajarkan oleh terapis Anda.
  • Perhatikan jika ada perubahan tertentu pada diri Anda yang menjadi tanda bahwa gejala akan segera muncul. Tanyakan pada dokter apa yang harus Anda lakukan jika tanda-tanda tersebut terjadi. 
  • Ikut support group yang dapat membantu mengatasi OCD Anda.
  • Lakukan aktivitas yang Anda sukai dan menyehatkan, seperti rekreasi.
  • Rutin berolahraga, mengonsumsi makan makanan yang sehat, serta tidur yang cukup.
  • Hindari merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Cari cara menghilangkan stres yang efektif untuk Anda, seperti meditasi, pijat, yoga, tai chi, atau yang lainnya.
  • Tetap lakukan aktivitas normal, seperti bekerja, sekolah, dan bersosialisasi dengan keluarga dan teman.

Jika Anda memiliki pertanyaan lain, konsultasikan dengan dokter untuk menemukan solusi terbaik bagi penyakit Anda

Komplikasi OCD (obsessive compulsive disorder)

Apa komplikasi dari penyakit OCD yang mungkin terjadi?

Gangguan obsesif kompulsif dapat menimbulkan berbagai masalah baru pada kesehatan Anda. Dilansir dari Mayo Clinic, berikut adalah beberapa komplikasi penyakit OCD yang mungkin terjadi:

  • Kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas lain karena perilaku atau ritual berlebihan yang Anda lakukan.
  • Kesulitan melakukan pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sosial.
  • Masalah kesehatan kulit, seperti dermatitis kontak akibat sering mencuci tangan.
  • masalah hubungan dengan orang lain.
  • Kualitas hidup yang buruk secara keseluruhan.
  • Pikiran dan perilaku ingin bunuh diri.

Pencegahan OCD (obsessive compulsive disorder)

Adakah cara tertentu yang bisa mencegah gangguan obsesif kompulsif?

Penyebab dari gangguan obsesif kompulsif tidak diketahui. Oleh karena itu, tidak ada cara pasti yang dapat mencegah penyakit ini.

Begitu Anda sudah terkena OCD pun, Anda akan memiliki penyakit ini seumur hidup. Meski demikian, dengan diagnosis dan perawatan lebih dini, Anda dapat mencegah gejala datang kembali serta menurunkan risiko terjadinya komplikasi yang dapat semakin mengganggu kehidupan Anda. Tanyakan pada dokter atau ahli kesehatan mental untuk informasi lebih lanjut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Agoraphobia

Takut berada di ruangan yang luas, di keramaian, atau tempat yang sempit adalah tanda dari agoraphobia. Yuk, pelajari lebih dalam fobia ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Kecemasan 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Narcissistic Personality Disorder (Narsistik)

Narcissistic personality disorder adalah gangguan mental yang membuat penderitanya menganggap dirinya lebih penting dari orang lain.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Mental Lainnya 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Self esteem adalah nilai seseorang terhadap dirinya sendiri secara menyeluruh. Secara singkat, disebut juga harga diri. Yuk, ketahui self esteem secara lengkap.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Mental Lainnya 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kesal Menghadapai Orangtua yang Memojokkan Anda? Hadapi dengan 3 Langkah Bijak Ini

Punya orangtua yang sulit diajak kompromi memang bikin pusing. Jangan emosi! Begini cara bijaknya menghadapi orangtua yang suka memojokkan anak sendiri.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

langkah yang perlu dilakukan ketika ingin bunuh diri

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Timbul Keinginan Bunuh Diri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
toxic people

Kenali 5 Ciri Utama “Toxic People”, Racun Dalam Persahabatan Anda

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kaki bagian atas

Punggung Kaki Tiba-tiba Nyeri? Ini 4 Hal yang Mungkin Jadi Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
patah hati menyebabkan kematian

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit