Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

4 Penyebab Gangguan Makan (Eating Disorder) yang Mesti Anda Kenali

4 Penyebab Gangguan Makan (Eating Disorder) yang Mesti Anda Kenali

Perilaku makan yang menyimpang bisa membuat tubuh Anda jadi terlalu kurus atau bahkan terlalu gemuk. Lantas, apa penyebab gangguan makan sebenarnya? Yuk, cari tahu selengkapnya pada pembahasan berikut ini.

Penyebab gangguan makan yang umum terjadi

Gangguan makan atau eating disorder ialah suatu kondisi terkait gangguan makan, di mana hal ini harus ditangani hingga tuntas agar tidak menimbulkan komplikasi yang parah.

Berbagai gangguan yang umum terjadi, misalnya binge eating, anoreksia nervosa, dan bulimia.

Penyebab dari gangguan makan sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Pasalnya, kondisi ini tergolong rumit akibat banyak faktor yang memengaruhinya.

Secara umum, para ahli menyakini bahwa faktor genetik, biologis, psikologis, dan lingkungan bisa menyebabkan Anda mengalami gangguan makan.

1. Faktor genetik

genetik menyebabkan eating disorder

Gangguan makan mungkin bisa diwariskan dalam keluarga. Dikutip dari Mayo Clinic, seseorang lebih berisiko bila memiliki orang tua atau saudara kandung yang mengalami eating disorder.

Hubungan genetik dan perilaku makan menyimpang masih terus diteliti. Para ahli mempercayai bila pengidap gangguan makan memiliki genetik yang sedikit berbeda.

Sebuah studi dalam American Journal of Psychiatry (2017) menemukan kelainan genetik yang spesifik pada kromosom 12 pada orang dengan anoreksia nervosa.

Hal inilah yang lalu berkontribusi menjadi penyebab dan meningkatkan risiko gangguan makan.

2. Faktor biologis

hormon adalah

Kondisi dari dalam tubuh, seperti kondisi hormon, neurotransmitter (zat kimia otak), kurangnya energi atau zat gizi juga bisa menjadi penyebab gangguan makan.

Studi dalam jurnal Neuropharmacology (2012) menemukan adanya perbedaan kadar serotonin pada orang yang mengalami anoreksia dengan yang tidak. Perbedaan inilah yang diduga membuat orang yang anoreksia mampu menekan nafsu makannya secara ekstrem.

Sementara itu, ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh juga bisa memicu gangguan makan, seperti gangguan hormon estrogen dan ovarium pada perempuan.

Gangguan pada kedua hormon tersebut diketahui meningkatkan risiko binge eating serta rasa emosional untuk makan. Oleh sebab itu, kadar hormon ini harus terjaga keseimbangannya.

Orang yang kurang gizi juga berdampak pada kondisi keseimbangan hormon di dalamnya. Hal ini jugalah yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan makan.

3. Faktor psikologis

Selain berkatian dengan kondisi fisik, penyebab gangguan makan juga berasal dari kondisi psikologis yang sedang dialami. Hal ini tentu akan sangat menentukan kepuasan Anda terhadap tubuh sendiri.

  • Perfeksionis

Orang yang memiliki sifat terlalu perfeksionis dan selalu berorientasi pada diri sendiri memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gangguan makan.

Apabila Anda mengalami hal ini, besar kemungkinan untuk punya harapan yang selalu tinggi untuk dirinya sendiri, termasuk pada keadaan dan bentuk tubuhnya.

  • Tidak puas dengan citra tubuh

Citra tubuh alias body image mencakup bagaimana perasaan seseorang terhadap bentuk tubuh sendiri. Orang dengan citra tubuh negatif cenderung tidak puas dengan penampilan mereka.

Adapun, gangguan makan lebih umum terjadi pada orang dengan tingkat ketidakpuasan pada citra tubuh yang sangat tinggi dibandingkan dengan orang biasanya.

  • Mengalami gangguan kecemasan

Sebagian besar orang dengan gangguan makan memiliki riwayat pernah mengalami gangguan kecemasan. Tanda-tanda gangguan kecemasan yang biasa menyertai orang dengan eating disorder, seperti kecemasan sosial, kecemasan umum, dan gangguan obsesif kompulsif.

4. Faktor lingkungan sosial

penyebab gangguan makan bullying

Jangan pernah menyepelekan kondisi lingkungan sosial di sekitar Anda. Faktor yang paling sederhana ini ialah penyebab gangguan makan yang sering muncul sebagai pemicu awal.

  • Stigma tentang berat badan

Pesan bahwa memiliki badan kurus, langsing, atau tinggi lebih baik sering ditekankan di media massa dan lingkungan di sekitar Anda.

Lama-kelamaan, paparan pesan ini meningkatkan ketidakpuasan terhadap citra tubuh sehingga mungkin saja menyebabkan gangguan makan.

Stigma berat badan ini sudah terjadi dari dahulu sampai sekarang. Bahkan, ini sudah masuk ke dalam pola pikir masyarakat bahwa kurus atau langsing itu yang paling bagus.

Padahal, bentuk tubuh seseorang memiliki ciri khasnya sendiri. Tidak selalu bertubuh kurus dan tinggi yang paling sempurna dan sehat sepenuhnya.

  • Ejekan orang sekitar

Ejekan dari orang sekitar tentang berat badan ternyata juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan makan atau eating disorder.

Menurut National Eating Disorder Association, 60% orang dengan eating disorder mengatakan bahwa mereka pernah mengalami perundungan (bullying) tentang berat badan.

Bahkan, dari ejekan ini bisa jadi pemicu awal seseorang mengalami gangguan makan dan dapat memengaruhi perkembangan ke depannya.

  • Merasa kesepian

Kurangnya interaksi sosial dengan orang lain juga dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan makan, seperti anoreksia nervosa.

Seseorang yang merasakan kesepian ini biasanya kurang mendapatkan dukungan sosial di hidupnya. Lama-kelamaan, dia merasa terisolasi dan timbul kecemasan.

  • Tuntutan profesi atau karier

Profesi atau karir yang menuntut untuk memiliki kurus atau berat badan tertentu juga akan membuat orang berusaha sekeras mungkin melakukan diet ketat.

Beberapa pekerjaan itu, seperti model, balerina, maupun olahragawan yang membutuhkan tubuh yang ramping, seperti rowing, menyelam, senam, dan pelari jarak jauh.

Dengan mengenali sejumlah penyebab gangguan makan di atas, tentu Anda bisa mendapatkan pengobatan lebih awal dan mencegah risiko komplikasi dari masalah kesehatan ini.

Eating disorder yang tidak segera ditangani bisa menimbulkan depresi, kecemasan, kecanduan, gangguan pencernaan, penyakit jantung, bahkan pikiran atau perilaku bunuh diri.

Dikutip dari National Institute of Mental Health, perawatan pengidap gangguan makan meliputi terapi psikologis, rawat inap, konseling nutrisi, hingga konsumsi obat medis.

Perawatan yang dilakukan umumnya tergantung kondisi dan tingkat keparahannya. Konsultasi dengan dokter Anda untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Eating Disorders. National Institute of Mental Health (NIMH). Retrieved 27 June 2022, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/eating-disorders

What Are Eating Disorders?. National Eating Disorders Association. Retrieved 27 June 2022, from https://www.nationaleatingdisorders.org/what-are-eating-disorders

Eating Disorders Risk Factors. National Eating Disorders Association. Retrieved 27 June 2022, from https://www.nationaleatingdisorders.org/risk-factors

Eating disorders – Symptoms & causes. Mayo Clinic. (2018).  Retrieved 27 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/symptoms-causes/syc-20353603

Eating disorders – Diagnosis & treatment. Mayo Clinic. (2018).  Retrieved 27 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/diagnosis-treatment/drc-20353609

What Can You Do to Help Prevent Eating Disorders?. University Health Services. Retrieved 27 June 2022, from https://uhs.berkeley.edu/sites/default/files/bewell_whtcnudo.pdf

Duncan, L., Yilmaz, Z., Gaspar, H., Walters, R., Goldstein, J., & Anttila, V. et al. (2017). Significant Locus and Metabolic Genetic Correlations Revealed in Genome-Wide Association Study of Anorexia Nervosa. American Journal Of Psychiatry, 174(9), 850-858. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2017.16121402

Avena, N., & Bocarsly, M. (2012). Dysregulation of brain reward systems in eating disorders: Neurochemical information from animal models of binge eating, bulimia nervosa, and anorexia nervosa. Neuropharmacology, 63(1), 87-96. https://doi.org/10.1016/j.neuropharm.2011.11.010

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 2 days ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.