8 Jenis Penyakit Mata yang Paling Umum Terjadi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kasus kebutaan di Indonesia secara keseluruhan tergolong tidak begitu tinggi. Meski begitu, gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi momok kesehatan serius khususnya pada kelompok lansia. Tingginya angka kebutaan di usia lanjut sebagian besar disebabkan oleh katarak, yang memang dapat berkembang seiring bertambahnya usia. Lantas, apa lagi jenis penyakit mata lainnya yang paling umum terjadi? 

Apa saja jenis penyakit mata yang sering terjadi?

Daftar berikut ini memberikan penjelasan tentang penyakit mata yang umum. Segera hubungi dokter mata jika Anda mengalami gejalanya. 

1. Katarak

Katarak

Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia, bahkan mencapai 50 persen. Menurut data Riskesdas Kemenkes RI tahun 2013, per setiap 1.000 jiwa, ada 1 orang penderita baru katarak. Kasus katarak terbanyak ada di Provinsi Sulawesi Utara dan yang terendah ditempati DKI Jakarta.

Tingginya kasus kebutaan akibat katarak di Indonesia kebanyakan disebabkan oleh ketidaktahuan telah mengalami katarak dan/atau tidak begitu menyadari gejala katarak. 

Katarak menyebabkan lensa mata menjadi berawan, sehingga penglihatan tampak kabur pada awalnya. Penderita katarak biasanya kesulitan melihat di malam hari, sensitif terhadap cahaya, dan tidak bisa membedakan warna dengan jelas.

Selain faktor usia, beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko katarak sejak usia muda adalah genetik, diabetes yang tidak diobati, hipertensi yang tidak ditangani, merokok, hingga pernah terkena penyakit mata tertentu lainnya.

2. Glaukoma

perawatan implan glaukoma

Penyakit mata ini menyumbang angka kebutaan sebanyak 13,4% di Indonesia. Glaukoma terjadi karena tingginya tekanan bola mata sehingga merusak saraf optik yang berperan dalam penglihatan.

Ada dua jenis glaukoma, yaitu glaukoma sudut terbuka primer dan glaukoma sudut tertutup. Keduanya bisa disebabkan oleh faktor usia, keturunan, komplikasi hipertensi pada mata, komplikasi diabetes, hingga penyakit mata tertentu seperti ablasi retina dan retinitis (infeksi peradangan retina).

Glaukoma dapat dicegah dengan deteksi dini terhadap penyakit yang mendasarinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

3. Masalah refraksi

rabun jauh (miopi)

Masalah refraksi mata adalah gangguan penglihatan yang menyebabkan cahaya masuk tidak terpusat langsung ke retina. Kelainan refraksi menyebabkan kebutaan sebesar 9,5% di Indonesia.

Beberapa kelainan refraksi pada mata meliputi:

  • Rabun dekat (hipermetropi/hiperopia): menyebabkan penglihatan buram saat melihat benda dekat, seperti saat membaca buku atau menggunakan komputer.
  • Rabun jauh (miopia): menyebabkan penglihatan buram saat melihat objek dari kejauhan, seperti saat menonton TV atau mengemudi.
  • Astigmatisme: menyebabkan penglihatan ganda saat melihat objek dari jarak dekat ataupun jauh (mata silinder).
  • Presbiopia (mata tua): terjadi pada usia 40 tahun ke atas yang menyebabkan penglihatan buram dalam jarak dekat. Kondisi ini terkait dengan penambahan usia.

Gejala umum dari refraksi mata adalah ketidakmampuan melihat benda dengan jelas (baik jauh atau dekat), pandangan kabur atau berbayang, hingga kepala terasa pusing saat memfokuskan titik penglihatan pada satu obyek.

4. Konjungtivitis (mata merah)

konjungtivitis adalah

Konjungtivitis atau iritasi mata sering terjadi di Indonesia akibat paparan asap polusi, alergi, paparan zat kimia (sabun atau sampo), hingga infeksi (virus, bakteri, dan jamur). Konjungtivitis menyebabkan mata merah, terasa nyeri, gatal, berair hingga pembengkakan di sekitar area mata. Mata merah bisa disembuhkan dengan penggunaan obat tetes mata.

5. Pterigium

pterigium

Pterigium adalah gangguan mata akibat adanya selaput lendir yang menutupi bagian putih mata. Penyakit mata ini sering terjadi akibat sering terpapar radiasi sinar matahari. 

Gejalanya bisa meliputi mata merah, pandangan kabur, serta mata yang terasa gatal atau panas. Adanya selaput lendir tersebut juga membuat mata seperti kelilipan benda asing. Pterigium bisa disembuhkan dengan pemberian resep tetes mata kortikosteroid untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut atau dengan operasi.

6. Retinopati diabetik

penyakit mata pada psoriasis

Dikutip dari Mayo Clinic, retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes yang menyerang mata. Penyakit mata ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah jaringan peka cahaya di bagian belakang mata (retina). 

Pada awalnya, retinopati diabetik mungkin tidak menimbulkan gejala atau hanya menampakkan masalah penglihatan ringan. Namun, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan pada akhirnya. 

Kondisi ini dapat berkembang pada siapa saja yang menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2. Semakin lama Anda menderita diabetes atau ketika gula darah Anda kurang terkontrol, semakin besar kemungkinan Anda mengalami retinopati diabetik.

7. Degenerasi makula terkait usia

Pencegahan katarak memang sulit dilakukan, tapi cara-cara ini mungkin dapat mengurangi risiko atau bahkan mencegah penyakit katarak di kemudian hari.

Degenerasi makula terkait usia atau age-related macular degeneration (AMD) terjadi ketika bagian retina yang disebut makula rusak. Dengan AMD, Anda akan kehilangan penglihatan sentral Anda. 

Dalam kondisi ini, Anda tidak dapat melihat detail dengan baik. Namun, penglihatan tepi (samping) Anda akan tetap normal. Misalnya, Anda melihat jam tangan. Anda mungkin akan melihat angka-angka jam, tapi bukan jarumnya. 

Degenerasi makula terkait usia merupakan penyakit mata yang sangat umum terjadi. Kondisi ini merupakan penyebab umum kehilangan penglihatan pada orang dengan usia 50 tahun atau lebih.

8. Strabismus

strabismus mata juling

Strabismus adalah kondisi ketika mata Anda tidak sejajar dengan benar dan mengarah ke arah yang berbeda. Anda mungkin mengenalnya dengan istilah mata juling.  

Strabismus memengaruhi penglihatan, karena kedua mata harus mengarah pada tempat yang sama untuk melihat dengan baik. Kondisi ini dapat diakibatkan dari beberapa hal, termasuk diabetes, cedera kepala, atau kerusakan otot mata setelah operasi mata. 

Beberapa penyakit mata di atas bisa ditangani dan dicegah agar tidak semakin memburuk sehingga berisiko pada penglihatan Anda. Sebagai upaya pencegahan awal, Anda bisa memeriksakan mata Anda secara rutin ke dokter mata. Dengan begitu, Anda bisa menemukan lebih dini jika ada kondisi tertentu pada mata Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Manfaat Ini Akan Bikin Anda Ingin Lebih Sering Makan Tomat

Tomat merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan nutrisi dan manfaat kesehatan yang melimpah. Apa saja? Yuk, simak di artikel ini!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Fakta Gizi 15 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Yakin Mata Anda Minus? Coba Cek Ciri-Cirinya di Sini

Ketika punya mata minus, semua benda yang posisinya jauh jadi terlihat buram sehingga Anda harus sering memicingkan mata. Apa lagi ciri-ciri mata minus?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Mata, Gangguan Penglihatan 9 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Penyebab Mata Belekan yang Harus Diwaspadai

Coba perhatikan bagaimana kondisi mata belekan Anda di pagi hari. Apakah kering seperti remah, lengket berserabut warna putih, atau justru hijau kekuningan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mata, Penyakit Mata 5 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Apa Bedanya Soft Lens dan Hard Lens? Mana yang Lebih Baik untuk Mata Anda?

Sebelum membeli lensa kontak di toko optik, Anda harus tahu dulu bedanya soft lens dan hard lens. Mana yang lebih cocok untuk mata Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Kesehatan Mata, Perawatan Mata 3 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

10 Tanda Saatnya Anda Periksa ke Dokter Mata

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
Computer Vision Syndrome, Masalah Mata Di Era Digital

Computer Vision Syndrome, Masalah Mata Di Era Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
sakit kepala di belakang mata

9 Penyebab Sakit Kepala Nyut-nyutan di Belakang Mata

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyebab mata minus

Penyebab Mata Minus, dari Genetik hingga Kebiasaan yang Tidak Disadari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit