home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

8 Jenis Penyakit Mata yang Paling Umum Terjadi

8 Jenis Penyakit Mata yang Paling Umum Terjadi

Kasus kebutaan di Indonesia secara keseluruhan tergolong tidak begitu tinggi. Meski begitu, gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi momok kesehatan serius khususnya pada kelompok lansia. Tingginya angka kebutaan di usia lanjut sebagian besar disebabkan oleh katarak, yang memang dapat berkembang seiring bertambahnya usia. Lantas, apa lagi jenis penyakit mata lainnya yang paling umum terjadi?

Apa saja jenis penyakit mata yang sering terjadi?

Daftar berikut ini memberikan penjelasan tentang penyakit mata yang umum. Segera hubungi dokter mata jika Anda mengalami gejalanya.

1. Katarak

Katarak

Katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia, bahkan mencapai 50 persen. Menurut data Riskesdas Kemenkes RI tahun 2013, per setiap 1.000 jiwa, ada 1 orang penderita baru katarak. Kasus katarak terbanyak ada di Provinsi Sulawesi Utara dan yang terendah ditempati DKI Jakarta.

Tingginya kasus kebutaan akibat katarak di Indonesia kebanyakan disebabkan oleh ketidaktahuan telah mengalami katarak dan/atau tidak begitu menyadari gejala katarak.

Katarak menyebabkan lensa mata menjadi berawan, sehingga penglihatan tampak kabur pada awalnya. Penderita katarak biasanya kesulitan melihat di malam hari, sensitif terhadap cahaya, dan tidak bisa membedakan warna dengan jelas.

Selain faktor usia, beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko katarak sejak usia muda adalah genetik, diabetes yang tidak diobati, hipertensi yang tidak ditangani, merokok, hingga pernah terkena penyakit mata tertentu lainnya.

2. Glaukoma

perawatan implan glaukoma

Penyakit mata ini menyumbang angka kebutaan sebanyak 13,4% di Indonesia. Glaukoma terjadi karena tingginya tekanan bola mata sehingga merusak saraf optik yang berperan dalam penglihatan.

Ada dua jenis glaukoma, yaitu glaukoma sudut terbuka primer dan glaukoma sudut tertutup. Keduanya bisa disebabkan oleh faktor usia, keturunan, komplikasi hipertensi pada mata, komplikasi diabetes, hingga penyakit mata tertentu seperti ablasi retina dan retinitis (infeksi peradangan retina).

Glaukoma dapat dicegah dengan deteksi dini terhadap penyakit yang mendasarinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

3. Masalah refraksi

rabun jauh (miopi)

Masalah refraksi mata adalah gangguan penglihatan yang menyebabkan cahaya masuk tidak terpusat langsung ke retina. Kelainan refraksi menyebabkan kebutaan sebesar 9,5% di Indonesia.

Beberapa kelainan refraksi pada mata meliputi:

  • Rabun dekat (hipermetropi/hiperopia): menyebabkan penglihatan buram saat melihat benda dekat, seperti saat membaca buku atau menggunakan komputer.
  • Rabun jauh (miopia): menyebabkan penglihatan buram saat melihat objek dari kejauhan, seperti saat menonton TV atau mengemudi.
  • Astigmatisme: menyebabkan penglihatan ganda saat melihat objek dari jarak dekat ataupun jauh (mata silinder).
  • Presbiopia (mata tua): terjadi pada usia 40 tahun ke atas yang menyebabkan penglihatan buram dalam jarak dekat. Kondisi ini terkait dengan penambahan usia.

Gejala umum dari refraksi mata adalah ketidakmampuan melihat benda dengan jelas (baik jauh atau dekat), pandangan kabur atau berbayang, hingga kepala terasa pusing saat memfokuskan titik penglihatan pada satu obyek.

4. Konjungtivitis (mata merah)

konjungtivitis adalah

Konjungtivitis atau iritasi mata sering terjadi di Indonesia akibat paparan asap polusi, alergi, paparan zat kimia (sabun atau sampo), hingga infeksi (virus, bakteri, dan jamur). Konjungtivitis menyebabkan mata merah, terasa nyeri, gatal, berair hingga pembengkakan di sekitar area mata. Mata merah bisa disembuhkan dengan penggunaan obat tetes mata.

5. Pterigium

pterigium

Pterigium adalah gangguan mata akibat adanya selaput lendir yang menutupi bagian putih mata. Penyakit mata ini sering terjadi akibat sering terpapar radiasi sinar matahari.

Gejalanya bisa meliputi mata merah, pandangan kabur, serta mata yang terasa gatal atau panas. Adanya selaput lendir tersebut juga membuat mata seperti kelilipan benda asing. Pterigium bisa disembuhkan dengan pemberian resep tetes mata kortikosteroid untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut atau dengan operasi.

6. Retinopati diabetik

penyakit mata pada psoriasis

Dikutip dari Mayo Clinic, retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes yang menyerang mata. Penyakit mata ini disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah jaringan peka cahaya di bagian belakang mata (retina).

Pada awalnya, retinopati diabetik mungkin tidak menimbulkan gejala atau hanya menampakkan masalah penglihatan ringan. Namun, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan pada akhirnya.

Kondisi ini dapat berkembang pada siapa saja yang menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2. Semakin lama Anda menderita diabetes atau ketika gula darah Anda kurang terkontrol, semakin besar kemungkinan Anda mengalami retinopati diabetik.

7. Degenerasi makula terkait usia

Pencegahan katarak memang sulit dilakukan, tapi cara-cara ini mungkin dapat mengurangi risiko atau bahkan mencegah penyakit katarak di kemudian hari.

Degenerasi makula terkait usia atau age-related macular degeneration (AMD) terjadi ketika bagian retina yang disebut makula rusak. Dengan AMD, Anda akan kehilangan penglihatan sentral Anda.

Dalam kondisi ini, Anda tidak dapat melihat detail dengan baik. Namun, penglihatan tepi (samping) Anda akan tetap normal. Misalnya, Anda melihat jam tangan. Anda mungkin akan melihat angka-angka jam, tapi bukan jarumnya.

Degenerasi makula terkait usia merupakan penyakit mata yang sangat umum terjadi. Kondisi ini merupakan penyebab umum kehilangan penglihatan pada orang dengan usia 50 tahun atau lebih.

8. Strabismus

strabismus mata juling

Strabismus adalah kondisi ketika mata Anda tidak sejajar dengan benar dan mengarah ke arah yang berbeda. Anda mungkin mengenalnya dengan istilah mata juling.

Strabismus memengaruhi penglihatan, karena kedua mata harus mengarah pada tempat yang sama untuk melihat dengan baik. Kondisi ini dapat diakibatkan dari beberapa hal, termasuk diabetes, cedera kepala, atau kerusakan otot mata setelah operasi mata.

Beberapa penyakit mata di atas bisa ditangani dan dicegah agar tidak semakin memburuk sehingga berisiko pada penglihatan Anda. Sebagai upaya pencegahan awal, Anda bisa memeriksakan mata Anda secara rutin ke dokter mata. Dengan begitu, Anda bisa menemukan lebih dini jika ada kondisi tertentu pada mata Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Refractive Errors | National Eye Institute. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/refractive-errors

Common Eye Disorders and Diseases | CDC. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.cdc.gov/visionhealth/basics/ced/index.html

Diabetic retinopathy – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetic-retinopathy/symptoms-causes/syc-20371611#:~:text=Diabetic%20retinopathy%20(die%2Duh%2D,or%20only%20mild%20vision%20problems.

What Is Macular Degeneration?. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/amd-macular-degeneration

What Is Adult Strabismus?. (2020). Retrieved 15 September 2020, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-strabismus

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 22/12/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x