home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Konjungtivitis

Pengertian konjungtivitis|Gejala konjungtivitis|Penyebab konjungtivitis|Faktor risiko|Diagnosis & pengobatan|Pengobatan rumahan
Konjungtivitis

Pengertian konjungtivitis

Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva yang menyebabkan mata bengkak, mata merah, dan nyeri. Konjungtiva sendiri merupakan membran (lapisan) transparan yang terletak antara kelopak dan sklera (bagian putih mata). Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata.

Meskipun menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak enak dipandang, kondisi ini jarang memengaruhi ketajaman penglihatan Anda.

Konjungtivitis adalah infeksi sehingga Anda harus dirawat sedini mungkin untuk menghindari penularan ke orang lain.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Konjungtivitis adalah penyakit yang umum terjadi dan bisa sembuh tanpa pengobatan. Setiap orang segala usia bisa mengalaminya. Biasanya sakit mata menular ini terjadi di musim hujan, atau musim gugur pada negara yang memiliki empat musim.

Gejala konjungtivitis

Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala yang disebabkan oleh konjungtivitis:

  • Mata akan memerah karena pembuluh darah konjungtiva meradang.
  • Mata tersasa gatal.
  • Jika disebabkan infeksi virus, mata akan bengkak dan kering sehingga menyebabkan mata berair.
  • Jika disebabkan infeksi bakteri, mata akan mengalami iritasi, merah, dan terasa sakit dari dalam.
  • Mata juga akan mengeluarkan kotoran yang lengket.

Mungkin ada gejala lain yang tidak disebutkan. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang tanda-tanda lainnya silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan sebaiknya ke dokter?

Anda perlu bertemu dokter ketika mengalami tanda-tanda atau gejala di atas yang Anda yakini disebabkan oleh kondisi ini.

Konjungtivitis adalah penyakit mata yang dapat sangat menular selama waktu dua minggu setelah gejala pertama muncul, kecuali jika disebabkan oleh alergi. Oleh karena itu, pengobatan dini tidak hanya membantu Anda cepat sembuh, tapi juga melindungi orang tersayang dari infeksi sakit mata menular.

Sebaiknya, jangan coba-coba mengobati sendiri secara sembarangan atau menunda ke rumah sakit. Pasalnya, bisa saja Anda mengalami penyakit mata lainnya yang memiliki gejala mirip, tapi lebih serius.

Penyebab konjungtivitis

Dikutip dari American Optometric Association, kondisi ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu alergi, infeksi, dan paparan kimia. Berikut ini adalah jenis-jenis konjungtivitis berdasarkan penyebabnya:

1. Konjungtivitis non-infeksi

Konjungtivitis non-infeksi adalah jenis peradangan pada konjungtiva yang tidak menular.

Gejala yang muncul dapat berupa rasa gatal disertai mata berair. Mata dapat berwarna kemerahan, tapi biasanya tidak semerah seperti jenis lainnya. Terdapat 2 jenis konjungtivitis non-alergi, yaitu:

  • Konjungtivitis alergi
    Konjungtivitis alergi umumnya muncul pada orang yang memiliki alergi musiman. Mata akan mulai bengkak, memerah, dan gatal jika Anda terpapar dengan pemicu alergi.
    Peradangan konjungtiva akibat alergi yang menyebabkan pembengkakan janga panjang (kronis) pada lapisan luar mata disebut dengan konjungtivitis vernal. Ini umum terjadi pada orang yang memiliki riwayat alergi kuat, seperti asma, rinitis alergi, dan eksim.
  • Konjungtivitis papiler raksasa
    Kondisi ini disebabkan oleh kehadiran benda asing di mata. Jika kerap memakai lensa kontak dan tidak rutin menggantinya, Anda lebih berpotensi mengalami kondisi ini.

2. Konjungtivitis infeksi

Berkebalikan dengan sebelumnya, berbagai jenis peradangan konjungtiva yang ada di kelompok ini bersifat menular. Kondisi ini dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Konjungtivitis bakteri
    Konjungtivitis jenis ini paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri stafilokokus atau streptokokus dari kulit atau sistem pernapasan Anda sendiri.Serangga, kontak fisik dengan orang lain, tidak menjaga kebersihan, atau menggunakan riasan mata dan losion wajah yang terkontaminasi adalah hal yang dapat menyebabkan peradangan konjungtiva akibat infeksi bakteri.Selain itu, saling pinjam make-up dan memakai lensa kontak yang bukan milik Anda sendiri atau tidak dibersihkan juga dapat menyebabkan kondisi ini.
  • Konjungtivitis virus
    Infeksi virus yang paling sering menjadi penyebab konjungtivitis adalah adenovirus. Kondisi ini umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, dalam 2-4 minggu. Kotoran mata yang muncul biasanya berwarna bening.Pada jenis virus herpes yang menyerang mata, kondisi dapat disertai dengan timbulnya lenting pada kelopak mata dengan ukuran < 1 mm dan berisi cairan. Tidak jarang infeksi disertai dengan gangguan pernapasan atas, demam, ataupun pembesaran kelenjar getah bening.Sakit mata ini dapat menular lewat kontak langsung pada kotoran mata ataupun lendir saluran napas. Penularan konjungtivitis viral juga dapat terjadi secara tidak langsung lewat handuk dan air kolam renang yang terpapar virus.
  • Ophthalmia neonatorum
    Ini adalah bentuk yang parah peradangan konjungtiva yang muncul pada bayi baru lahir. Ini adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan kerusakan mata permanen jika tidak diatasi dengan cepat.Ophthalmia neonatorum merupakan konjungtivitis yang muncul ketika bayi terpapar klamidia atau gonore saat melewati jalan lahir.

3. Konjungtivitis kimia

Kondisi ini dapat disebabkan oleh iritasi dari polusi udara, klorin di kolam renang, dan paparan zat kimia berbahaya.

Faktor risiko

Faktor-faktor berikut ini meningkatkan risiko mata merah akibat konjungtivitis, yaitu:

  • Kontak langsung dengan air mata, jari, atau saputangan orang yang sakit
  • Terpapar alergen (zat pencetus alergi)
  • Memakai lensa kontak tanpa dilepas, terutama pemakaian selama seminggu (biasanya tipe yang bisa digunakan terus selama 7 hari dan tidak dilepas sebelum tidur)

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa tes yang biasa dilakukan untuk kondisi ini?

Dokter akan memeriksa Anda dengan pemeriksaan klinis dan menanyakan Anda untuk mencari penyebab mata merah. Jika Anda tidak menemukan penyebabnya, dokter Anda bisa melakukan tes untuk mendiagnosis penyebab umum gejalanya.

Apa saja pilihan pengobatan konjungtivitis?

Pengobatan kondisi ini tergantung penyebabnya. Perawatan tersebut bertujuan untuk:

  • Meredakan gejala supaya Anda merasa lebih nyaman
  • Mengurangi jalannya infeksi atau peradangan
  • Mencegah penyebaran infeksi pada kondisi yang menular

Berdasarkan penyebabnya, berikut cara mengobati kondisi ini:

Cara mengobati konjungtivitis alergi

Langkah pertama adalah menghilangkan atau menghindari iritan, jika memungkinkan. Kompres dingin akan membantu Anda mengurangi gatal. Kondisi ini juga bisa terjadi musiman.

Dalam kasus yang lebih parah, dokter Anda akan memberi tetes mata dan antihistamin untuk mengurangi peradangan, dan dekongestan hidung untuk meringankan gejala alergi.

Cara mengobati konjungtivitis akibat infeksi

Jika konjungtivitis yang Anda alami disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter akan memberikan resep obat tetes mata atau salep yang mengandung antibiotik. Anda bisa mengurangi bengkak mata dengan kompres hangat.

Mata merah karena bakteri biasanya akan membaik dalam waktu 48 jam setelah pengobatan dan biasanya hilang dalam seminggu.

Jika penyebabnya adalah virus, obat tetes mata atau salep antibiotik tidak akan mempan. Dokter Anda akan memberi tetes mata untuk membantu meningkatkan kelembapan mata digabung dengan kompres hangat untuk mengurangi bengkak. Umumnya, konjungtivitis akibat virus dapat sembuh dengan sendirinya setelah beberapa waktu.

Cara mengobati konjungtivitis akibat zat kimia

Pengobatan standar untuk kondisi ini adalah membilas mata dengan larutan garam secara hati-hati. Orang dengan konjungtivitis akibat zat kimia mungkin juga memerlukan steroid oles (topikal).

Dalam kasus yang lebih serius, seperti luka bakar, Anda dapat membilas mata Anda selama beberapa menit dengan banyak air sebelum menemui dokter. Kondisi ini termasuk keadaan darurat yang membutuhkan perawatan segera.

Pengguna lensa kontak mungkin perlu berhenti mengenakan lensa untuk sementara. Jika kondisi ini disebabkan oleh penggunaan lensa kontak, dokter mungkin akan merekomendasikan Anda mengganti jenis lensa kontak atau larutan disinfeksi.

Pengobatan rumahan

Kebiasaan gaya hidup yang baik adalah cara paling ampuh untuk mencegah mata merah akibat konjungtivitis. Meski sakit, tetap jaga kebersihan dan kebiasaan untuk membantu mata merah hilang dan tidak merambah ke badan.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terkena ataupun menularkan konjungtivitis:

  • Hindari kontak langsung dengan siapa pun jika Anda menderita mata merah. Gunakan sapu tangan atau tisu untuk membersihkan kotoran mata
  • Sering cuci tangan
  • Gunakan handuk, lap, dan bantal yang berbeda dari keluarga Anda di rumah
  • Buang make-up mata yang sudah lama dan jangan berbagi kosmetik mata dengan orang lain
  • Hindari penyebab alergi, jika bisa
  • Gunakan pengobatan sesuai yang diinstruksikan
  • Jangan sentuh area yang terinfeksi atau mengucek mata
  • Jangan gunakan lensa kontak sampai pengobatan selesai. Anda mungkin juga harus mengganti lensa kontak Anda atau kotak penyimpanannya.

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, F. F. (2012). Ferri’s Netter Patient Advisor E-Book. St. Louis, MO: Elsevier Health Sciences.

Porter, R. S., Kaplan, J. L., & Homeier, B. P. (2009). The Merck Manual Home Health Handbook. MO: Merck & Company.

Conjunctivitis. (n.d.). Retrieved 21 March 2018, from https://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/conjunctivitis 

Pink eye (conjunctivitis) – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 14 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pink-eye/symptoms-causes/syc-20376355

Pink Eye | National Eye Institute. (2020). Retrieved 14 September 2020, from https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/pink-eye

Conjunctivitis – EyeWiki. (2020). Retrieved 14 September 2020, from https://eyewiki.aao.org/Conjunctivitis

conjunctivitis, V. (2020). Vernal conjunctivitis: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 14 September 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/001390.htm#:~:text=Vernal%20conjunctivitis%20is%20long%2Dterm,due%20to%20an%20allergic%20reaction.

Costumbrado, J., Ng, D., & Ghassemzadeh, S. (2020). Gonococcal Conjunctivitis. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459289/

Foto Penulis
Ditulis oleh Fajarina Nurin pada 21/12/2020
x