Mengenali Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko dari Osteoporosis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Osteoporosis adalah penyakit gangguan muskuloskeletal yang banyak dialami oleh wanita dan lanjut usia (lansia). Namun, bukan berarti penyakit ini tidak bisa menyerang pria dan anak muda. Apa sebenarnya penyebab dari penyakit pengeroposan tulang ini, dan apa saja faktor risikonya? Simak penjelasannya berikut ini.

Penyebab terjadinya osteoporosis

Sering kali osteoporosis dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Sebenarnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, bukan berarti saat Anda menua, sudah pasti akan mengalami osteoporosis.

Penyebab osteoporosis memang bukan pertambahan usia, karena penyakit tersebut mungkin tidak terjadi jika Anda merawat kesehatan tulang sejak dini. Ya, terjadinya penyakit yang mengganggu sistem gerak pada manusia ini tergantung pada tingkat kepadatan tulang Anda saat masih muda, hingga bertambahnya usia.

Pada dasarnya, akan terjadi proses regenerasi pada tulang di dalam tubuh. Artinya, saat tulang yang sudah tua rusak atau patah, tulang akan tumbuh kembali sebagai pengganti. Saat masih di usia muda, proses ini terjadi lebih cepat. Bahkan, tulang pengganti yang baru membuat massa tulang meningkat.

Namun, proses ini akan melambat setelah Anda melalui usia kisaran dua puluhan. Seiring pertambahan usia, massa tulang juga akan lebih mudah menghilang atau menurun.

Oleh sebab itu, semakin tinggi massa tulang yang Anda miliki saat masih berusia muda, semakin terjaga tingkat kepadatan tulang dan semakin kecil risiko mengalami osteoporosis saat bertambah usia.

Faktor risiko osteoporosis

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi potensi Anda mengalami osteoporosis, mulai dari faktor yang bisa dikendalikan, hingga yang tidak bisa dikendalikan.

Faktor risiko yang tidak bisa dikendalikan

Beberapa faktor yang tidak bisa dikendalikan, antara lain:

1. Jenis kelamin wanita

Meski bukan penyebab dari osteoporosis, tapi risiko Anda mengalami penyakit kelainan tinggi akan lebih tinggi jika berjenis kelamin perempuan. Bahkan, menurut Osteoporosis Australia, wanita akan kehilangan kurang lebih 2% dari massa tulangnya selama beberapa tahun setelah mengalami menopause.

Selain itu, kegiatan menyusui juga diduga dapat meningkatkan risiko wanita mengalami osteoporosis. Pasalnya, menyusui dapat menekan metabolisme kalsium, sehingga berpengaruh langsung terhadap metabolisme tulang.

2. Pertambahan usia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pertambahan usia bukan penyebab dari osteoporosis. Namun, semakin tua usia Anda, semakin tinggi pula risiko mengalami penyakit ini.

3. Riwayat kesehatan keluarga mengalami osteoporosis

Jika Anda memiliki saudara atau orangtua yang mengalami osteoporosis, risiko Anda mengalami kondisi ini juga meningkat.

4. Ukuran tubuh yang kecil

Ukuran tubuh yang kecil, baik pada pria maupun wanita, dapat meningkatkan risiko osteoporosis, khususnya saat usia bertambah.

Faktor risiko yang bisa dikendalikan

Selain beberapa faktor risiko di atas, ada pula faktor risiko yang masih mungkin dikendalikan dengan bantuan dari dokter, antara lain:

1. Ketidakseimbangan hormon

Meski bukan penyebab dari osteoporosis, kadar hormon yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah di dalam tubuh dapat memengaruhi risiko mengalami penyakit pengeroposan tulang ini. Beberapa hormon tersebut ialah:

  • Hormon estrogen pada wanita yang menurun setelah menopause, berpotensi melemahkan tulang.
  • Penurunan hormon testosteron pada pria seiring bertambahnya usia, juga dapat mempercepat proses menurunnya kepadatan tulang.
  • Hormon tiroid yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang.

2. Kadar kalsium yang rendah

Kadar kalsium di dalam tubuh sangat penting untuk kesehatan tulang. Jika tubuh Anda terus-menerus mengalami kekurangan kalsium, bisa saja kondisi ini meningkatkan faktor penyebab terjadinya osteoporosis.

Asupan kalsium yang terlalu rendah dapat mempercepat proses penurunan kepadatang tulang, sehingga risiko mengalami patah tulang dan hilangnya massa tulang pun meningkat. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya osteoporosis, biasanya Anda akan disarankan untuk meningkatkan asupan kalsium dalam tubuh.

3. Operasi yang berkaitan dengan pencernaan

Menjalani operasi pengangkatan usus atau yang berkaitan dengan perut dan pencernaan dapat membatasi tubuh Anda dalam penyerapan nutrisi, termasuk kalsium. Sedikitnya kalsium yang terserap ke dalam tubuh mungkin memengaruhi kadar kalsium di dalam tubuh, yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

4. Penggunaan obat-obatan tertentu

Penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa menjadi faktor risiko berpotensi menjadi penyebab dari osteoporosis. Beberapa di antaranya adalah:

  • Obat-obatan steroid, seperti kortikosteroid.
  • Obat-obatan untuk mengatasi kejang.
  • Obat-obatan kanker.
  • Obat yang digunakan untuk mengatasi refluks lambung.

Oleh sebab itu, osteoporosis tidak hanya terjadi pada orang dewasa atau lansia, tapi juga pada anak muda, remaja, hingga anak-anak.

5. Penyakit atau kondisi kesehatan tertentu

Ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami osteoporosis, di antaranya adalah:

Jika Anda mengalami salah satu masalah kesehatan di atas, cobalah untuk berkonsultasi kepada dokter apakah ada cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya.

6. Jarang berolahraga

Beberapa pilihan gaya hidup yang tak sehat juga dapat menjadi risiko penyebab terjadinya osteoporosis. Salah satunya adalah terlalu sering duduk atau tidur-tiduran tanpa melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.

Untuk melakukannya, Anda tidak perlu memilih olahraga yang terlalu berat. Mulailah dari jenis olahraga yang ringan, karena yang penting adalah tubuh tetap bergerak aktif. Dengan begitu, Anda telah berupaya mencegah terjadinya ostoeoporosis.

7. Kebiasaan merokok

Merokok memang bukan kebiasaan yang baik untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh. Buktinya, selain berbahaya untuk kesehatan paru dan jatung, kegiatan ini rupanya juga tak baik untuk kesehatan tulang.

Merokok memang tidak menjadi penyebab utama dari osteoporosis, tapi aktivitas ini dapat melemahkan tulang Anda. Oleh karena itu, lebih baik hentikan kebiasaan yang memang tidak baik untuk Anda.

Apabila Anda mulai merasakan gejala osteoporosis, lebih baik periksakan kesehatan tulang ke dokter. Jika Anda memang mengidap osteoporosis, dokter akan membantu untuk menentukan pengobatan untuk pengeroposan tulang yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Selain untuk memperlambat proses osteoporosis dan mencegah patah tulang, pengobatan juga wajib dilakukan untuk menghindari terjadinya komplikasi dari osteoporosis. Maka itu, selalu praktikkan gaya hidup untuk kesehatan tulang, seperti mengonsumsi makanan penguat tulang dan lakukan senam sehat untuk tulang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Proses Penyembuhan Patah Tulang, serta Obat dan Pengobatan yang Diberikan

Proses penyembuhan patah tulang bisa berlangsung lama. Bagaimana prosesnya? Apa obat dan pengobatan, termasuk pertolongan pertama, untuk patah tulang?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Muskuloskeletal, Patah Tulang 8 November 2020 . Waktu baca 12 menit

Informasi yang Perlu Diketahui tentang Patah Tulang Panggul dan Pinggul (Fraktur Pelvis)

Patah tulang juga bisa terjadi di area pinggul dan panggul (fraktur pelvis). Ketahui informasi lengkap mengenai jenis patah tulang tersebut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Muskuloskeletal, Patah Tulang 8 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Tak Hanya Cedera, Ini Berbagai Penyebab Patah Tulang yang Mungkin Terjadi

Penyebab patah tulang atau fraktur sangat beragam. Berikut informasi lengkap mengenai berbagai kemungkinan penyebabnya, agar Anda dapat menghindarinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Muskuloskeletal, Patah Tulang 7 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Gips untuk Patah Tulang: Ketentuan Prosedur dan Perawatan yang Tepat

Pemasangan gips adalah salah satu cara mengobati patah tulang. Berikut informasi lengkap mengenai gips, termasuk pemasangan dan perawatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Muskuloskeletal, Patah Tulang 7 November 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

osteopenia adalah

Osteopenia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
terapi fisik atau fisioterapi patah tulang

Terapi Fisik atau Fisioterapi yang Perlu Dilakukan Penderita Patah Tulang

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 10 menit
makanan untuk patah tulang

5 Jenis Makanan yang Penting Dikonsumsi Agar Patah Tulang Cepat Sembuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 8 November 2020 . Waktu baca 6 menit
fraktur atau patah tulang kaki

Hal yang Penting Diketahui tentang Patah Tulang Kaki dan Tungkai

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 8 November 2020 . Waktu baca 11 menit