Perdarahan Subarachnoid

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu perdarahan subarachnoid?

Perdarahan subarachnoid (subarachnoid hemorrhage/SAH) adalah perdarahan mendadak di celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak. Perdarahan biasanya berasal dari robekan tonjolan abnormal dalam pembuluh darah otak (pembengkakan pada dinding arteri otak) yang berakibat fatal. Sekitar 10-15% orang meninggal sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sebanyak 40% meninggal di minggu pertama. Kurang lebih setengahnya meregang nyawa di 6 bulan pertama. Selain itu, lebih dari sepertiga orang yang selamat mengalami masalah pada saraf.

Seberapa umumkah perdarahan subarachnoid?

Orang berumur lebih dari 50 tahun dan wanita lebih berisiko terkena SAH. Karena menemukan pembengkakan yang belum pecah pada orang tanpa gejala tergolong sulit, kebanyakan SAH tidak dapat dicegah.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala perdarahan subarachnoid?

Gejala utama adalah sakit kepala parah mendadak (sering disebut sakit kepala halilintar). Penyakit ini sering lebih buruk terjadi di kepala bagian belakang. Banyak orang menjabarkannya sebagai “sakit kepala terburuk” dan berbeda dengan jenis sakit kepala lainnya.

Gejala-gejala meliputi:

  • Kesadaran dan kewaspadaan yang menurun
  • Ketidaknyamanan mata terhadap cahaya yang menyilaukan (photophobia)
  • Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk kebingungan dan cepat marah
  • Nyeri otot (terutama sakit leher dan bahu)
  • Mual dan muntah
  • Mati rasa pada bagian tubuh
  • Kejang-kejang
  • Leher kaku
  • Masalah pada penglihatan

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika mengalami salah satu tanda atau gejala di atas atau ingin bertanya, konsultasi ke dokter. Setiap tubuh bertindak berbeda satu sama lain. Diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik dalam situasi yang Anda alami.

Penyebab

Apa penyebab perdarahan subarachnoid?

Penyebab perdarahan subarachnoid adalah:

  • Perdarahan dari sekumpulan pembuluh darah bernama arteriovenous malformation (AVM)
  • Kelainan darah
  • Cedera kepala
  • Penyebab tidak diketahui (idiopathic)
  • Penggunaan obat pengencer darah

Dalam beberapa kasus, penyebab perdarahan subarachnoid tidak diketahui (idiopathic).

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk perdarahan subarachnoid?

Faktor tertentu mungkin meningkatkan risiko terkena perdarahan subarachnoid:

  • Pembengkakan pada pembuluh darah lainnya
  • Fibromuscular dysplasia (FMD) dan kelainan jaringan ikat lainnya
  • Tekanan darah tinggi
  • Riwayat penyakit ginjal polycystic
  • Merokok
  • Riwayat keluarga yang menderita pembengkakan mungkin juga meningkatkan risiko

Tidak memiliki faktor risiko bukan berarti tidak bisa terkena penyakit ini. Faktor-faktor ini hanya sebagai referensi. Konsultasi ke dokter untuk detail lebih lanjut.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk perdarahan subarachnoid?

Pengobatan bertujuan untuk meredakan rasa sakit, bengkak, dan cerebral vasospasm; meredakan mual dan muntah; mencegah kejang-kejang dan perdarahan ulang; dan menyelamatkan nyawa. Pengobatan penyakit ini mencoba mengurangi gejala dan mencegah komplikasi seperti kerusakan otak permanen (stroke). Dibutuhkan tim medis. Dokter mungkin melakukan operasi untuk memperbaiki pembengkakan, menyedot darah dalam jumlah yang besar,atau mengurangi tekanan pada otak. Operasi mungkin melibatkan kraniotomi dan lingkaran endovaskular.

Di samping itu, istirahat total amat penting dan aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan dalam kepala (membungkuk, mendorong) harus dihindari. Obat-obatan yang diresepkan termasuk pelunak kotoran atau pencahar untuk mencegah cedera selama pergerakan usus, obat tekanan darah, penghilang rasa sakit, dan obat untuk kecemasan dan kejang-kejang. Oksigen dan cairan juga diberikan.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk perdarahan subarachnoid?

Dokter membuat diagnosis awal berdasarkan riwayat pengobatan dan pemeriksaan fisik, terutama pada sistem saraf dan mata.

Jika dokter berpikir Anda menderita perdarahan subarachnoid, CT scan kepala (tanpa pewarna kontras) akan dilakukan segera. Dalam sejumlah kasus, scan adalah normal, terlebih jika hanya ada perdarahan ringan. Jika CT scan normal, pengambilan cairan tulang belakang (spinal tap) mungkin menjadi pilihan. Tes lainnya mungkin termasuk:

  • Angiografi otak pada pembuluh darah otak
  • Angiografi CT scan (dengan pewarna kontras)
  • Ultrasound transkranial Doppler, untuk mengamati aliran darah di arteri otak
  • Magnetic resonance imaging (MRI) dan magnetic resonance angiography (MRA) (sesekali)

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perdarahan subarachnoid?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi perdarahan subarachnoid:

  • Pelajari segala yang Anda ketahui tentang cedera. Bergabung ke grup yang mendukung jika Anda berpikir dapat membantu
  • Lanjutkan pemeriksaan secara berkala. Ikuti semua petunjuk dokter. Anda mungkin juga memerlukan terapi fisik, pekerjaan, dan bicara
  • Identifikasi dan dapatkan perawatan pembengkakan otak yang tepat untuk mencegah penyakit

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Penyakit Katup Jantung

    Penyakit katup jantung terjadi ketika katup pada jantung tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketahui lebih lanjut di Hello Sehat.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 13 menit

    3 Hal yang Harus Diperhatikan Lansia Saat Sahur dan Berbuka Puasa

    Usia tidak menghambat sebagian lansia untuk puasa. Agar tetap lancar dan kuat berpuasa, lakukan persiapan untuk lansia saat sahur dan puasa ini!

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Konten Bersponsor
    persiapan puasa untuk lansia
    Hidup Sehat, Tips Sehat 05/06/2020 . Waktu baca 6 menit

    Rutin Makan Buah Bermanfaat Menurunkan Risiko Penyakit Alzheimer

    Studi menunjukkan manfaat makan buah rutin bisa untuk menurunkan risiko penyakit Alzheimer. Namun, benarkah demikian? Yuk, ulas lebih dalam di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Gangguan Saraf, Health Centers 27/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Tips Mengajak Orang Tua Pindah ke Tempat yang Baru

    Orang tua sering kali enggan diajak untuk pindah karena tak mau meninggalkan segala kenangan di rumah lama. Bagaimana cara membujuknya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Hidup Sehat, Perawatan Lansia 25/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    diabetes insipidus adalah

    Diabetes Insipidus

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 12 menit
    infeksi saluran kencing kemih

    Infeksi Saluran Kemih

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 13 menit
    mempersiapkan kematian

    Mendampingi Orang Terkasih Agar Tetap Tegar Sebelum Menemui Ajalnya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    pasien koma masih sadar atau tidak

    Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit