PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 18 menit
Bagikan sekarang

Definisi PCOS

Apa itu sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah hormon androgen yang berlebih pada wanita dan terjadinya resistensi insulin.

PCOS adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki banyak kista kecil pada indung telur atau ovarium.

Ovarium atau indung telur adalah salah satu organ reproduksi di tubuh wanita.

Setiap wanita mempunyai dua buah ovarium. Fungsi utama dari ovarium adalah menyimpan dan memproduksi sel telur.

Kata “polikistik” sendiri memiliki arti “kista yang banyak”. Istilah tersebut menggambarkan kondisi kista yang terdapat di ovarium.

Kista adalah benjolan-benjolan kecil yang berisi cairan. Setiap benjolan mengandung sel telur yang belum matang dengan sempurna.

Masalah pada kesuburan, siklus menstruasi, penampilan, bahkan produksi hormon pria berlebih adalah beberapa kondisi yang mungkin akan dialami oleh penderita PCOS.

Dalam kasus yang lebih serius, PCOS adalah penyakit yang dapat mengakibatkan masalah pada berat badan dan fungsi jantung.

Lalu, kondisi ini umumnya berkaitan dengan kadar hormon insulin yang berlebihan di dalam tubuh.

Maka dari itu, PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah penyakit yang sering kali dikaitkan dengan risiko diabetes.

Sementara itu, PCOS adalah salah satu penyakit yang masih belum dapat disembuhkan secara tuntas.

Artinya, pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara tuntas masih belum tersedia.

Seberapa umumkah sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

PCOS adalah kondisi yang relatif umum terjadi, terutama pada wanita yang mempunyai masalah kesuburan.

Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit PCOS dapat menyerang wanita dengan kesuburan yang normal.

Sekitar 5% hingga 10% wanita berusia 15-44 terdiagnosis dengan penyakit ini.

Umumnya, usia 20-30 tahun adalah waktu di mana para penderita PCOS baru mengetahui mereka memiliki sindrom ini.

Biasanya, hal ini diketahui ketika ingin melakukan program hamil dan memiliki masalah kehamilan.

Meskipun demikian, sindrom ini dapat terjadi pada usia berapa saja setelah melewati masa pubertas.

PCOS adalah kondisi yang umum terjadi dan menyerang antara 1 dari 10-20 wanita berusia subur.

Kondisi ini dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

Ciri-ciri & Gejala PCOS

Apa saja ciri-ciri dan gejala sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Masa awal pubertas adalah waktu di mana umumnya ciri-ciri atau gejala PCOS mulai berkembang.

Terutama ketika seseorang mengalami menstruasi untuk pertama kali atau menarche.

Usia paling umum di mana gejala PCOS pertama kali muncul adalah masa remaja akhir atau awal usia 20-an.

Namun, penyakit PCOS adalah sindrom yang mungkin juga berkembang di lain waktu. Misalnya, ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis.

Ciri-ciri dan gejala dari penyakit ini cukup bervariasi. Beberapa gejala umum dari PCOS adalah:

1. Siklus menstruasi tidak teratur

Gejala yang paling umum dialami oleh penderita PCOS atau sindrom ovarium polikistik ini adalah siklus menstruasi yang tidak teratur.

Menstruasi bisa jadi sangat jarang, terlalu lama, atau malah tidak terjadi sama sekali selama beberapa tahun (amenorrhoea).

Kondisi ini berkaitan dengan menurunnya aktivitas ovulasi pada sistem reproduksi, sehingga dinding rahim tidak dapat meluruh.

Sejumlah wanita dengan kasus sindrom ini mengalami menstruasi kurang dari 8 kali selama setahun.

2. Pendarahan berat

Di samping itu, pendarahan berat adalah gejala PCOS lain yang harus Anda perhatikan.

Hal ini disebabkan dinding rahim membutuhkan waktu lebih lama untuk menumpuk dan meluruh.

Maka ketika penderita PCOS mengalami menstruasi, darah yang dikeluarkan akan lebih banyak dari perempuan pada umumnya.

3. Pertumbuhan rambut berlebih

Gejala lainnya adalah memiliki rambut berlebih pada wajah dan tubuh. Bahkan, lebih dari 70% orang yang menderita PCOS akan mengalami kondisi tersebut.

Dalam beberapa kasus, penderita memiliki rambut wajah yang lebih tebal dan gelap.

Selain itu, rambut berlebih juga dapat ditemukan pada dada, perut, dan punggung. Kondisi ini dinamakan dengan hirsutisme.

4. Muncul jerawat

Ciri-ciri PCOS selanjutnya adalah produksi hormon androgen atau hormon pria yang berlebihan.

Pasalnya, kondisi ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dari biasanya.

Kondisi ini menyebabkan Anda berjerawat di area wajah, dada, hingga punggung bagian atas.

5. Perubahan mood

Pada penderita PCOS, tubuh menghasilkan kadar hormon yang tidak teratur, sehingga suasana hati atau mood penderita pun dapat berubah secara terus menerus.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan stres, bahkan depresi. Hal ini adalah salah satu pertanda atau ciri-ciri dari sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

6. Berat badan naik secara drastis

Sebanyak 80% wanita yang menderita sindrom ovarium polikistik mengalami kenaikan berat badan secara signifikan. Selain itu, penderita juga umumnya kesulitan menurunkan berat badan.

7. Muncul kebotakan

Tahukah Anda bahwa kebotakan termasuk ke dalam ciri-ciri atau gejalan PCOS?

Ya, seiring dengan bertambahnya usia, penderita mungkin akan mengalami kebotakan atau yang disebut juga dengan male-pattern baldness.

Gejala PCOS ini adalah kondisi yang disebabkan produksi hormon pria yang berlebih pada tubuh penderita.

8. Warna kulit menggelap

Gejala PCOS lain yang mungkin harus lebih Anda perhatikan adalah warna kulit yang berubah menjadi lebih gelap.

Kulit akan memiliki corak-corak atau warna yang lebih gelap pada bagian lipatan, seperti leher, pangkal paha, dan bawah payudara.

9. Sakit kepala

Sakit kepala adalah ciri-ciri lainnya dari PCOS. Perubahan hormon yang terlalu ekstrim dapat menyebabkan munculnya sakit kepala pada beberapa wanita.

10. Gangguan kesuburan

Apabila tubuh tidak berovulasi dengan baik, maka bisa terjadi masalah atau gangguan kesuburan.

Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak menghasilkan sel telur dengan cukup untuk dibuahi.

Jika penderita kesulitan saat berupaya memiliki anak, hal tersebut bisa jadi adalah salah satu gejala atau ciri-ciri wanita dengan kondisi PCOS.

11. Kesulitan tidur (sleep apnea)

PCOS atau sindrom ovarium polikistik, terutama pada penderita obesitas, adalah kondisi yang dapat mengganggu siklus tidur akibat pernapasan yang tidak teratur, bahkan terhenti.

Kondisi ini disebut dengan sleep apnea. Risiko penderita sindrom ovarium polikistik untuk mengalami ini adalah 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibanding orang normal.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika memiliki ciri-ciri atau gejala di atas, hal yang sebaiknya dilakukan adalah memeriksakan kondisi pada dokter.

Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan gejala-gejala PCOS di bawah ini:

  • Tidak menstruasi dan Anda sedang tidak hamil.
  • Terdapat gejala-gejala PCOS seperti rambut tumbuh secara berlebihan.
  • Mencoba untuk hamil selama lebih dari 12 bulan, namun Anda selalu gagal.
  • Memiliki gejala diabetes, seperti merasa haus dan lapar berlebihan, berat badan naik tiba-tiba, atau penglihatan buram.

Ciri-ciri atau gejala sindrom ovaroum polikistik yang ditunjukkan tubuh cukup bervariasi.

Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan selalu memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab PCOS

Apa penyebab sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Hingga saat ini, penyebab pasti dari PCOS masih belum diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa terdapat beberapa kondisi yang memicu terjadinya sindrom ini.

1. Ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh

Umumnya, wanita yang mengalami sindrom PCOS adalah yang memiliki ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuhnya.

Hingga saat ini, belum dapat diketahui dengan pasti mengapa terjadinya perubahan hormon adalah satu dari berbagai penyebab PCOS.

Hormon androgen

Hormon ini sering disebut dengan hormon pria. Namun, hormon ini tidak hanya ditemukan pada tubuh pria.

Hormon ini mengontrol karakteristik fisik yang cenderung terdapat pada pria, seperti pertumbuhan rambut berlebih dan male-pattern baldness.

Penderita sindrom ovarium polikistik memiliki kadar hormon androgen yang melebihi batas wajar.

Akan tetapi, hormon androgen adalah hormon yang diproduksi oleh wanita dalam jumlah sedikit. Jadi, ini bukan penyebab utama Anda mengalami kondisi PCOS.

Meski begitu, perubahan pada hormon androgen di dalam tubuh wanita adalah hal yang  menyebabkan proses ovulasi pada sistem reproduksi terganggu.

Seperti menurunnya produksi sel telur oleh ovarium dan terganggunya siklus menstruasi.

Hormon testosteron

Salah satu hormon pria yang dihasilkan oleh wanita lainnya adalah testosteron.

Pasalnya, peningkatan hormon testosteron yang ditemukan pada wanita adalah salah satu kondisi yang berpotensi menjadi penyebab PCOS.

Luteinising hormone (LH)

Selain itu, ada pula Luteinising hormone (LH), yaitu hormon yang merangsang terjadinya ovulasi.

Perubahan jumlah pada hormon ini adalah salah satu penyebab terjadinya PCOS.

Hal ini disebabkan saat kadar hormon tersebut melebihi batas normal, dapat mengganggu fungsi ovarium dalam memproduksi sel telur.

Sex hormone-binding globulin

Sex hormone-binding globulin atau SHBG adalah salah satu protein yang juga berpotensi menyebabkan PCOS.

SHBG adalah protein dalam darah yang terikat pada testosterone dan dapat mengurangi efek dari hormon tersebut.

Hormon prolaktin

Di samping itu, hormon prolaktin yang menstimulasi kelenjar payudara untuk memproduksi Air Susu Ibu (ASI) pada saat hamil.

Namun, hormon ini yang juga dapat memicu timbulnya PCOS jika jumlahnya berlebih.

2. Tingginya kadar insulin di dalam tubuh

Insulin adalah hormon yang mengatur bagaimana tubuh Anda mengubah glukosa di dalam darah menjadi energi.

Apabila hormon insulin mengalami peningkatan di dalam darah, tubuh akan mengalami resistensi insulin. Kondisi ini adalah salah satu penyebab dari PCOS.

Resistensi insulin adalah kondisi yang terjadi saat sel yang terdapat di otot, lemak, dan liver tidak merespon insulin dengan baik.

Saat itu, pankreas akan terus memproduksi insulin lebih banyak lagi dan seiring berjalannya waktu, kadar gula darah Anda akan terus naik.

Resistensi insulin bisa terjadi pada orang yang memiliki beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes tipe 2.

Sebuah penelitian yang dimuat di dalam jurnal Fertility and Sterility juga menyatakan bahwa PCOS adalah penyakit yang dialami oleh 70% wanita karena resistensi insulin.

Artinya, sel-sel di dalam tubuhnya tidak bisa memroses insulin dengan baik.

3. Keturunan keluarga

Sebenarnya, faktor genetik adalah satu dari banyaknya kondisi yang paling mungkin menjadi penyebab PCOS atau sindrom ovarium poliklistik.

Hal ini menandakan bahwa jika ibu, kakak, atau saudara perempuan memiliki PCOS, peluang Anda mengalaminya akan lebih besar.

Namun, tidak ada gen tunggal yang menjadi penyebab terjadinya PCOS, sehingga kemungkinannya adalah kondisi ini disebabkan oleh kombinasi dari berbagai jenis gen.

4. Inflamasi atau peradangan tingkat rendah

Sebenarnya kondisi ini masih erat kaitannya dengan resistensi insulin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Pasalnya, peradangan yang terjadi di dalam tubuh Anda adalah salah satu pemicu dari peningkatan hormon androgen yang juga bisa memicu terjadinya PCOS.

5.  Peningkatan berat badan

Obesitas atau berat badan berlebih adalah penyebab lain dari PCOS. Saat tubuh memiliki berat badan yang melebihi batas ideal, resistensi terhadap insulin akan semakin parah.

Sebenarnya, wanita yang menderita PCOS mungkin juga mengalami resistensi terhadap insulin, namun gejalanya tidak timbul karena berat badan ideal.

Sementara, berat badan yang meningkat justru memicu resistensi insulin untuk menunjukkan berbagai gejala.

Seperti siklus menstruasi yang tidak teratur atau pertumbuhan rambut yang cukup berlebihan.

Komplikasi PCOS

Apa saja komplikasi akibat sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

PCOS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan apabila tidak segera diatasi, atau diderita dalam jangka waktu panjang.

Mulai dari diabetes, gangguan jantung, hingga kanker, berikut adalah komplikasi-komplikasi yang mungkin dapat terjadi:

1. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari berbagai kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan.

Kondisi tersebut meliputi peningkatan kadar kolesterol, kadar gula darah, serta kenaikan tekanan darah.

Sebanyak 80% wanita dengan kondisi ini mengalami obesitas. Kondisi ini obesitas maupun PCOS dapat meningkatkan risiko mengalami sindrom metabolik.

Diperkirakan lebih dari setengah perempuan dengan penyakit ini berpotensi mengidap diabetes tipe 2 atau prediabetes (intoleransi glukosa) sebelum memasuki usia 40 tahun.

Selain itu, penderita sering kali memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah.

Kondisi ini dapat memicu terjadinya masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan stroke.

2. Komplikasi pada kehamilan

Sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang dapat memengaruhi siklus menstruasi, sehingga penderitanya semakin sulit untuk hamil.

Masalah kesuburan adalah masalah yang dirasakan oleh sekitar 70 hingga 80 persen wanita dengan sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

Lalu, sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang juga dapat memicu terjadinya komplikasi pada kehamilan.

Risiko lain yang mungkin dialami oleh ibu yang sedang hamil saat mengalami PCOS adalah:

3. Stres berat

Komplikasi lain yang mungkin terjadi saat Anda mengalami PCOS adalah stres berlebihan.

Perubahan hormon dan gejala seperti pertumbuhan rambut berlebih dapat berakibat buruk pada emosi penderita.

Banyak pasien yang mengalami  sindrom ovarium polikistik ini yang berakhir dengan kondisi depresi dan kecemasan parah.

4. Kanker endometrium

Penyakit lain yang mungkin terjadi jika Anda mengalami penyakit PCOS adalah kanker endometrium.

Hal ini disebabkan karena ovarium tidak berovulasi dengan baik, sehingga dinding rahim terus menebal dan tidak kunjung meluruh.

PCOS dan Kehamilan

Apakah penderita PCOS bisa sembuh dan hamil?

Sampai saat ini, belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan secara langsung sindrom ovarium polikistik.

Namun, ada beberapa cara untuk meminimalisir gejala serta penyebab sehingga bisa mengatasi juga mengobati PCOS agar cepat hamil.

Wanita dengan kondisi PCOS bisa hamil, sehingga Anda tetap memiliki harapan untuk dapat memiliki anak.

Hanya saja, peluang penderita PCOS bisa hamil alami kecil. Jika gejala dapat dikontrol dengan obat kemungkinan Anda bisa hamil alami.

Namu jika gejala terlalu berat, maka kemungkinan Anda perlu melakukan program hamil.

Berapa lama wanita dengan PCOS bisa hamil?

Seperti yang sudah dijelaskan, ada beberapa faktor yang memengaruhi wanita dengan kondisi PCOS tetap bisa hamil.

Misalnya, seperti mengubah gaya hidup, menurunakan berat badan, dan lain-lain.

Apabila usia wanita berada di bawah 35 tahun dan masih mengalami ovulasi secara teratur, ada kemungkinan akan mengalami kehamilan dalam waktu satu tahun.

Namun, apabila Anda atau pasangan mempunyai gangguan kesuburan tertentu, membutuhkan waktu lebih dari satu tahun.

Diagnosis & Pengobatan PCOS

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana PCOS didiagnosis?

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis sindrom ovarium polikistik.

Umumnya, sindrom ovarium polikistik ini terdeteksi ketika penderita datang ke dokter untuk memeriksakan penyakit lainnya.

Dokter akan menanyakan tentang gejala, riwayat penyakit  keluarga, atau jika Anda pernah melakukan perawatan untuk kondisi kesehatan lainnya.

Untuk mengonfirmasi hasil diagnosis, dokter akan meminta Anda menjalani beberapa tes tambahan:

1. Tes darah

Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar hormon di dalam tubuh, terutama hormon androgen.

Selain itu, kadar kolesterol, insulin, dan trigliserida mungkin juga akan diukur untuk mengecek kemungkinan munculnya diabetes atau penyakit jantung.

2. Pemeriksaan panggul

Dokter akan memeriksa organ reproduksi untuk mengetahui adanya pertumbuhan jaringan yang tidak wajar pada tubuh Anda, terutama ovarium.

3. Tes pencitraan

Tes pencitraan atau pengambilan gambar dilakukan untuk memeriksa ovarium Anda secara lebih mendalam.

Beberapa jenis tes yang dilakukan adalah USG transvaginal dan CT scan.

Bagaimana mengobati PCOS?

Tujuan dari pengobatan PCOS adalah untuk mengendalikan gejala dan mencegah pertumbuhan kista yang lebih parah di dalam indung telur.

Tergantung pada gejala, perawatan yang dilakukan pun bervariasi, seperti:

1. Memperbaiki siklus menstruasi

Untuk mengatur siklus menstruasi, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan berikut:

  • Pil KB

Pil KB yang mengandung estrogen dan progestin dapat mengurangi produksi androgen dan mengatur estrogen di dalam tubuh.

Pengendalian hormon dapat menurunkan risiko kanker endometrium, memiliki jerawat, dan mengalami pertumbuhan rambut berlebih.

  • Terapi progestin

Terapi progestin selama 10-14 hari hingga 2 bulan dapat mengatur siklus menstruasi dan melindungi Anda dari risiko kanker endometrium.

Obat ini cocok untuk Anda yang ingin menjalani program kehamilan.

2. Memberi obat untuk membantu proses ovulasi

Untuk membantu tubuh berovulasi dengan normal, dokter akan memberikan obat-obatan seperti:

  • Clomiphene (Clomid)
  • Letrozole (Femara)
  • Metformin (Glucophage, Fortamet)
  • Gonadotropin

Metmorfin sebagai obat diabetes juga bisa diresepkan untuk obat PCOS.

Obat ini secara spesifik bekerja untuk mengurangi resistensi insulin dan masalah kesuburan akibat PCOS.

3. Mengurangi pertumbuhan rambut berlebih

Dokter akan memberikan pil KB untuk mencegah rambut yang tumbuh di tubuh muncul secara berlebihan.

Selain itu, ada pula beberapa jenis obat sebagai alternatif:

  • Spironolactone (Aldactone)
  • Eflornithine (Vaniqa)
  • Electrolysis

4. Bedah ovarium

Pembedahan yang disebut ovarium drilling juga mungkin dilakukan untuk membuat ovarium bekerja lebih baik.

Dokter akan membuat luka kecil di perut menggunakan laparoskopi dengan jarum untuk menusuk ovarium dan menghancurkan sebagian kecil jaringannya.

Prosedur ini mengubah kadar hormon yang akhirnya membuat Anda lebih mudah berovulasi.

Pengobatan di rumah untuk PCOS

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi PCOS atau sindrom ovarium polikistik:

  • Jaga berat badan dengan olahraga teratur untuk meningkatkan kesehatan reproduksi.
  • Makan makanan rendah karbohidrat olahan.
  • Olahraga juga dapat membantu tubuh mengatur insulin.
  • Jika Anda merokok, pertimbangkan untuk berhenti.

Makanan dan Diet untuk Penderita PCOS agar Cepat Hamil

Hingga saat ini metode pengobatan efektif untuk kondisi ini belum ditemukan.

Namun, dapat dikendalikan dengan melakukan perubahan pola makan serta mengetahui pantangan makanan untuk penderita PCOS, seperti:

1. Mengurangi asupan karbohidrat

Kegemukan merupakan gejala umum pada perempuan yang mengalami PCOS. Mengurangi asupan karbohidrat merupakan cara terbaik untuk mengatasi gejala tersebut.

Selain itu, asupan protein dan lemak sehat dapat menurunkan kadar gula darah, sehingga kadar insulin darah tetap stabil.

2. Mengonsumi makanan dengan indeks glikemik rendah

Makanan dengan indeks glikemik rendah adalah makanan yang tidak meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.

Hal ini juga dapat memicu resistensi insulin.

Sumber makanan utama dengan indeks glikemik rendah di antaranya sayur dan buah, gandum utuh, protein dan lemak sehat.

3. Hindari karbohidrat olahan dan gula tinggi

Karbohidrat olahan pada umumnya dapat memicu proses inflamasi yang menyebabkan resistensi insulin.

Anda perlu menghentikan atau mengurangi jumlah asupannya dalam jumlah banyak, untuk mengendalikan gejala PCOS.

Karbohidrat olahan yang harus dikurangi adalah nasi, pasta, dan mie yang berbahan dasar tepung.

Namun, konsumsi pasta yang dibuat dari biji-bijian merupakan alternatif yang tepat.

Selain itu asupan gula cair seperti sukrosa, sirup fruktosa jagung, dan dekstrosa pada berbagai minuman kemasan sebaiknya juga dikurangi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyebab yang Bisa Bikin Wanita Punya Kumis Tebal Seperti Pria

Selain faktor hormon dan keturunan, ada banyak kondisi yang bisa jadi seorang wanita memiliki kumis tebal. Apa saja? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Desember 2018 . Waktu baca 3 menit

Mioma Uteri (Fibroid Rahim)

Mioma uteri adalah sel otot rahim yang tumbuh secara abnormal, tetapi tidak memiliki sifat kanker. Apa saja gejalanya? Bagaimana mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 22 November 2018 . Waktu baca 11 menit

Kupas Tuntas Hipogonadisme, Gangguan Hormon Pemicu Masalah Kesuburan

Hipogonadisme adalah gangguan hormon yang dapat membuat pria atau wanita menjadi tidak subur. Lantas, apa saja penyebab dan gejalanya? Cari tahu disini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 19 Oktober 2018 . Waktu baca 5 menit

Perut Kembung Setelah Berhubungan Seks, Apa Penyebabnya?

Apa yang biasanya Anda rasakan setelah seks? Capek dan ngantuk, tapi bahagia? Atau malah kembung dan begah? Apa penyebab kembung setelah berhubungan seks?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Seks & Asmara 17 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

fibroid rahim dan pcos

Apa Bedanya Fibroid Rahim dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 8 April 2020 . Waktu baca 4 menit
tes kesuburan wanita

Mengenal Beragam Tes Kesuburan dan Pemeriksaan Organ Reproduksi Pada Wanita

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 4 November 2019 . Waktu baca 4 menit
flek cokelat setelah haid

Apakah Normal Jika Muncul Flek Cokelat Setelah Haid?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2019 . Waktu baca 7 menit
pengobatan pcos obat

6 Pilihan Pengobatan Bagi Pengidap PCOS

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 4 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit