PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . 1 menit baca
Bagikan sekarang

Definisi PCOS

Apa itu sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Sindrom ovarium polikistik atau yang dikenal juga dengan polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah hormon androgen yang berlebih pada wanita dan terjadinya resistensi insulin. PCOS adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya memiliki banyak kista kecil pada indung telur atau ovarium. 

Ovarium atau indung telur adalah salah satu organ reproduksi yang terdapat di tubuh wanita. Setiap wanita mempunyai dua buah ovarium. Fungsi utama dari ovarium adalah menyimpan dan memproduksi sel telur. Beberapa jenis hormon, seperti estrogen dan progesteron, juga dihasilkan oleh organ ini.

Kata “polikistik” sendiri memiliki arti “kista yang banyak”. Istilah tersebut menggambarkan kondisi kista yang terdapat di ovarium. Kista adalah benjolan-benjolan kecil yang berisi cairan. Setiap benjolan mengandung sel telur yang belum matang dengan sempurna.

Masalah pada kesuburan, siklus menstruasi, penampilan, bahkan produksi hormon pria berlebih adalah beberapa kondisi yang mungkin akan dialami oleh penderita PCOS. Dalam kasus yang lebih serius, PCOS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan masalah pada berat badan dan fungsi jantung.

PCOS adalah kondisi yang umumnya berkaitan dengan kadar hormon insulin yang berlebihan di dalam tubuh. Maka dari itu, PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah penyakit yang sering kali dikaitkan dengan risiko diabetes.

Sementara itu, PCOS adalah salah satu kondisi yang masih belum dapat disembuhkan secara tuntas. Artinya, pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara tuntas masih belum tersedia. Namun, terdapat berbagai pilihan penanganan medis dan nonmedis yang dapat membantu mengendalikan gejala-gejala yang muncul.

Seberapa umumkah sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

PCOS adalah kondisi yang relatif umum terjadi, terutama pada wanita dengan gangguan kesuburan. Namun, tidak menutup kemungkinan PCOS adalah penyakit yang dapat menyerang wanita dengan kesuburan yang normal.

Sekitar 5% hingga 10% wanita berusia 15-44 terdiagnosis dengan penyakit ini. Umumnya, usia 20-30 tahun adalah waktu di mana para penderita PCOS baru mengetahui mereka memiliki sindrom ini. Biasanya, hal ini terjadi ketika mereka memiliki masalah kehamilan dan memeriksakan diri ke dokter.

Meskipun demikian, sindrom ini dapat terjadi pada usia berapa saja setelah melewati masa pubertas. PCOS adalah kondisi yang umum terjadi dan menyerang antara 1 dari 10-20 wanita berusia subur.

PCOS adalah penyakit yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Anda.

Tanda-tanda & gejala PCOS

Apa saja tanda-tanda dan gejala sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Masa-masa awal pubertas adalah waktu di mana umumnya tanda-tanda dan gejala PCOS mulai berkembang, terutama ketika seseorang mengalami menstruasi untuk pertama kali. Usia paling umum di mana gejala PCOS pertama kali muncul adalah masa remaja akhir atau awal usia 20-an.

Namun, PCOS adalah sindrom yang mungkin juga berkembang di lain waktu. Misalnya, ketika seseorang mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis. Tanda-tanda dan gejala dari penyakit ini cukup bervariasi pada masing-masing penderita.

Gejala-gejala umum dari PCOS adalah:

1. Siklus menstruasi tidak teratur

Gejala yang paling umum dialami oleh penderita PCOS atau sindrom ovarium polikistik ini adalah siklus menstruasi yang tidak teratur. Menstruasi bisa jadi sangat jarang, terlalu lama, atau malah tidak terjadi sama sekali selama beberapa tahun (amenorrhoea).

Kondisi ini berkaitan dengan menurunnya aktivitas ovulasi pada sistem reproduksi, sehingga dinding rahim tidak dapat meluruh. Sejumlah wanita dengan kasus sindrom ini mengalami menstruasi kurang dari 8 kali selama setahun.

2. Pendarahan berat

Di samping itu, pendarahan berat adalah gejala PCOS lain yang harus lebih Anda perhatikan. Hal ini disebabkan dinding rahim membutuhkan waktu lebih lama untuk menumpuk dan meluruh, maka ketika penderita PCOS mengalami menstruasi, darah yang dikeluarkan akan lebih banyak dari perempuan pada umumnya.

3. Pertumbuhan rambut berlebih

Gejala lain dari PCOS adalah memiliki rambut berlebih pada wajah dan tubuh. Bahkan, lebih dari 70% orang yang menderita PCOS akan mengalami kondisi tersebut. Dalam beberapa kasus, penderita memiliki rambut wajah yang lebih tebal dan gelap.

Selain itu, rambut berlebih juga dapat ditemukan pada dada, perut, dan punggung. Kondisi ini dinamakan dengan hirsutisme.

4. Muncul jerawat

Gejala lain yang mungkin Anda rasakan jika mengalami PCOS adalah produksi hormon androgen atau hormon pria yang berlebihan. Pasalnya, kondisi ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dari biasanya.

Kondisi ini menyebabkan Anda berjerawat di area wajah, dada, hingga punggung bagian atas. Jadi, tak heran jika muncul banyak jerawat adalah salah satu gejala dari PCOS yang mungkin Anda alami.

5. Perubahan mood

Pada penderita PCOS, tubuh menghasilkan kadar hormon yang tidak teratur, sehingga suasana hati atau mood penderita pun dapat berubah secara terus menerus. Kondisi ini berpotensi menyebabkan stres, bahkan depresi. Hal ini adalah salah satu pertanda dari sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

6. Berat badan naik secara drastis

Kenaikan berat badan adalah satu dari gejala PCOS yang mungkin Anda alami. Sebanyak 80% wanita yang menderita sindrom ovarium polikistik mengalami kenaikan berat badan secara signifikan. Selain itu, penderita juga umumnya kesulitan menurunkan berat badan.

7. Muncul kebotakan

Tahukah Anda bahwa kebotakan adalah kondisi yang termasuk ke dalam gejala PCOS? Ya, seiring dengan bertambahnya usia, penderita mungkin akan mengalami kebotakan yang menyerupai kondisi botak pada pria, atau yang disebut juga dengan male-pattern baldness. Gejala PCOS ini adalah kondisi yang disebabkan produksi hormon pria yang berlebih pada tubuh penderita.

8. Warna kulit menggelap

Gejala PCOS lain yang mungkin harus lebih Anda perhatikan adalah warna kulit yang berubah menjadi lebih gelap. Kulit akan memiliki corak-corak atau warna yang lebih  gelap pada bagian lipatan, seperti leher, pangkal paha, dan bawah payudara.

9. Sakit kepala

Sakit kepala adalah pertanda lain dari PCOS. Perubahan hormon yang terlalu ekstrim dapat menyebabkan munculnya sakit kepala pada beberapa wanita.

10. Gangguan kesuburan

Apabila tubuh tidak berovulasi dengan baik, kesuburan pun akan terdampak. Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak menghasilkan sel telur dengan cukup untuk dibuahi. Jika penderita kesulitan saat berupaya memiliki anak, hal tersebut bisa jadi adalah salah satu gejala PCOS.

11. Kesulitan tidur (sleep apnea)

PCOS atau sindrom ovarium polikistik, terutama pada penderita yang mengalami obesitas, adalah kondisi yang dapat mengganggu siklus tidur akibat pernapasan yang tidak teratur, bahkan terhenti.

Kondisi ini disebut dengan sleep apnea. Risiko penderita PCOS atau sindrom ovarium polikistik untuk mengalami sleep apnea adalah 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibanding orang normal.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, hal yang sebaiknya dilakukan adalah memeriksakan kondisi pada dokter Anda untuk mencari tahu apakah Anda mengalami PCOS atau tidak.

Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda merasakan gejala-gejala PCOS di bawah ini, di antaranya adalah:

  • Anda tidak menstruasi dan Anda sedang tidak hamil.
  • Terdapat gejala-gejala PCOS atau sindrom ovarium polikistik, seperti rambut tumbuh secara berlebihan.
  • Anda mencoba untuk hamil selama lebih dari 12 bulan, namun Anda selalu gagal.
  • Anda memiliki gejala-gejala diabetes, seperti merasa haus dan lapar berlebihan, berat badan naik tiba-tiba, atau penglihatan buram.

Tanda-tanda dan gejala dari PCOS atau sindrom ovaroum polikistik yang ditunjukkan tubuh adalah tanda yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan Anda selalu memeriksakan diri ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab PCOS

Apa penyebab sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Hingga saat ini, penyebab pasti dari PCOS masih belum diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa terdapat beberapa kondisi yang memicu terjadinya sindrom ini.

1. Ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh

Rupanya ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh adalah salah satu penyebab dari PCOS. Umumnya, wanita yang mengalami sindrom PCOS adalah wanita yang memiliki ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuhnya. Hingga saat ini, belum dapat diketahui dengan pasti mengapa terjadinya perubahan hormon adalah satu dari berbagai penyebab PCOS.

Hormon androgen

Salah satu perubahan hormon di dalam tubuh wanita yang berpotensi menyebabkan PCOS adalah perubahan hormon androgen.  Hormon ini sering disebut dengan hormon pria. Namun, hormon ini tidak hanya ditemukan pada tubuh pria.

Hormon ini mengontrol karakteristik fisik yang cenderung terdapat pada pria, seperti pertumbuhan rambut berlebih dan male-pattern baldness. Penderita sindrom ovarium polikistik memiliki kadar hormon androgen yang melebihi batas wajar.

Akan tetapi, nyatanya hormon androgen adalah hormon yang diproduksi oleh wanita dalam jumlah sedikit, jadi mungkin tidak hanya perubahan hormon ini saja yang bisa menjadi penyebab PCOS.

Meski begitu, perubahan pada hormon androgen di dalam tubuh wanita adalah hal yang  menyebabkan proses ovulasi pada sistem reproduksi wanita terganggu. Contohnya, seperti menurunnya produksi sel telur oleh ovarium dan terganggunya siklus menstruasi.

Hormon testosteron

Salah satu hormon pria yang dihasilkan oleh wanita lainnya adalah testosteron yang juga berpotensi menyebabkan PCOS. Pasalnya, peningkatan hormon testosteron yang ditemukan pada wanita adalah salah satu kondisi yang berpotensi memicu terjadinya PCOS.

Luteinising hormone (LH)

Selain itu, ada pula Luteinising hormone (LH), yaitu hormon yang merangsang terjadinya ovulasi. Perubahan jumlah pada hormon ini adalah salah satu penyebab terjadinya PCOS. Hal ini disebabkan saat kadar hormon tersebut melebihi batas normal, hal tersebut dapat mengganggu fungsi ovarium dalam memproduksi sel telur.

Sex hormone-binding globulin

Ada pula SHBG atau sex hormone-binding globulin. SHBG adalah salah satu protein yang juga berpotensi menyebabkan PCOS. SHBG adalah protein dalam darah yang terikat pada testosterone dan dapat mengurangi efek dari hormon tersebut.

Hormon prolaktin

Di samping itu, hormon prolaktin yang menstimulasi kelenjar payudara untuk memproduksi Air Susu Ibu (ASI) pada saat hamil, adalah hormon yang juga dapat memicu timbulnya PCOS jika jumlahnya berlebih.

2. Tingginya kadar insulin di dalam tubuh

Kadar insulin di dalam tubuh adalah hal yang rupanya juga bisa menjadi penyebab PCOS. Namun, kadar insulin yang seperti apa yang bisa memicu kondisi tersebut? Insulin sendiri adalah hormon yang mengatur bagaimana tubuh Anda mengubah glukosa di dalam darah menjadi energi.

Apabila hormon insulin mengalami peningkatan di dalam darah, tubuh akan mengalami resistensi insulin. Kondisi ini adalah salah satu pemicu dari PCOS. Resistensi insulin adalah kondisi yang terjadi saat sel yang terdapat di otot, lemak, dan liver tidak merespon insulin dengan baik.

Selain itu, saat Anda mengalami kondisi ini, Anda tidak akan bisa menggunakan glukosa dalam darah sebagai energi. Saat itu, pankreas akan terus memproduksi insulin lebih banyak lagi dan seiring berjalannya waktu, kadar gula darah Anda akan terus naik.

Resistensi insulin bisa terjadi pada orang yang memiliki beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes tipe 2.

Sebuah penelitian yang dimuat di dalam jurnal Fertility and Sterility juga menyatakan bahwa PCOS adalah penyakit yang dialami oleh 70% wanita karena resistensi insulin. Artinya, sel-sel di dalam tubuhnya tidak bisa memroses insulin dengan baik.

Kelebihan insulin di dalam tubuh juga akan memicu ovarium atau indung telur untuk meningkatkan hormon pria, androgen. Hormon ini adalah hormon pria yang juga diproduksi oleh wanita.

Peningkatan produksi androgen ini dapat mengganggu kemampuan ovarium untuk ovulasi. Itulah sebabnya, resistensi insulin adalah kondisi yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya PCOS. Resistensi insulin juga dapat mengakibatkan kenaikan berat badan, dan hal ini adalah kondisi yang dapat memperparah gejala-gejala PCOS.

3. Keturunan keluarga

Sebenarnya, faktor genetik adalah satu dari banyaknya kondisi yang paling mungkin menjadi penyebab PCOS atau sindrom ovarium poliklistik.

Hal ini menandakan bahwa jika ibu, kakak, atau saudara perempuan Anda memiliki PCOS, kondisi tersebut adalah salah satu hal yang dapat menjadi pemicu Anda mengalami kondisi yang sama. Bahkan, peluang Anda mengalami PCOS akan lebih besar dibanding orang lain yang tidak memiliki faktor genetik ini.

Di samping itu, ada beberapa kondisi kesehatan lain yang juga turun temurun dan dapat terjadi karena PCOS, satu di antaranya adalah diabetes tipe 2.

Namun, sejauh ini, tidak ada gen tunggal yang menjadi penyebab terjadinya PCOS, sehingga kemungkinannya adalah kondisi ini disebabkan oleh kombinasi dari berbagai jenis gen.

4. Inflamasi atau peradangan tingkat rendah

Penyebab lain yang mungkin memicu timbulnya PCOS adalah peradangan. Sebenarnya kondisi ini masih erat kaitannya dengan resistensi insulin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Pasalnya, peradangan yang terjadi di dalam tubuh Anda adalah salah satu pemicu dari peningkatan hormon androgen yang juga bisa memicu terjadinya PCOS.

Androgen adalah hormon seks laki-laki yang juga diproduksi oleh tubuh perempuan dalam jumlah sedikit. Kelebihan hormon androgen juga dapat memicu timbulnya kondisi kesehatan seperti masalah yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah. 

5.  Peningkatan berat badan

Obesitas atau berat badan berlebih adalah penyebab lain dari PCOS. Mengapa? Karena saat tubuh memiliki berat badan yang melebihi batas ideal, resistensi terhadap insulin akan semakin parah.

Sebenarnya, wanita yang menderita PCOS mungkin juga mengalami resistensi terhadap insulin, namun gejalanya tidak timbul karena berat badan ideal. Sementara, berat badan yang meningkat justru memicu resistensi insulin yang Anda alami untuk menunjukkan berbagai gejala seperti siklus menstruasi yang tidak teratur, atau pertumbuhan rambut yang cukup berlebihan.

Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa menjaga berat badan ideal dapat membantu Anda  menghindari resistensi insulin, hingga peningkatan hormon androgen di dalam tubuh.

Faktor-faktor risiko PCOS

Apa yang meningkatkan risiko terkena sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS adalah penyakit yang dapat terjadi pada hampir setiap perempuan, terlepas dari apa kelompok usia dan golongan rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini.

Faktor risiko adalah faktor yang mungkin akan meningkatkan risiko Anda mengalami PCOS.  Akan tetapi bukan berarti Anda sudah pasti akan menderita PCOS dengan memiliki faktor tersebut. Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan Anda dapat terkena suatu penyakit tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu munculnya sindrom PCOS ini, di antaranya adalah:

1. Usia

Usia adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami PCOS. Pasalnya, jika Anda adalah seorang wanita yang baru memasuki masa pubertas, atau Anda termasuk dalam golongan usia yang subur (15-44 tahun), peluang Anda untuk mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik menjadi jauh lebih besar.

2. Keturunan keluarga

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini adalah kondisi yang sering kali dikaitkan dengan faktor genetik atau keturunan.  Jadi, apabila Anda memiliki ibu, kakak perempuan, atau bibi yang menderita penyakit ini, risiko Anda untuk menderita penyakit yang sama pun lebih tinggi.

3. Berat badan berlebih atau obesitas

Berat badan yang melebihi batas normal atau obesitas dapat memengaruhi produksi insulin di dalam tubuh. Hal ini tentunya berisiko mengganggu fungsi indung telur dalam berovulasi.

Maka dari itu, berat badan berlebih adalah suatu kondisi yang meningkatkan kesempatan Anda untuk mengidap sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini.

Komplikasi PCOS

Apa saja komplikasi yang dapat terjadi akibat sindrom ovarium polikistik (PCOS)?

PCOS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan apabila tidak segera diatasi, atau diderita dalam jangka waktu panjang.

Mulai dari diabetes, gangguan jantung, hingga kanker, berikut adalah komplikasi-komplikasi yang mungkin dapat terjadi:

1. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari berbagai kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi-kondisi tersebut meliputi peningkatan kadar kolesterol, kadar gula darah, serta kenaikan tekanan darah.

Sebanyak 80% wanita dengan kondisi ini mengalami obesitas. Kondisi ini obesitas maupun PCOS dapat meningkatkan risiko mengalami sindrom metabolik.

Diperkirakan lebih dari setengah perempuan dengan penyakit ini berpotensi mengidap diabetes tipe 2 atau prediabetes (intoleransi glukosa) sebelum memasuki usia 40 tahun.

Selain itu, penderita sindrom ini sering kali memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah. Kondisi ini dapat memicu terjadinya masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan stroke.

2. Komplikasi pada kehamilan

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS adalah kondisi yang dapat memengaruhi siklus menstruasi, sehingga penderitanya semakin sulit untuk hamil. Masalah kesuburan adalah masalah yang dirasakan oleh sekitar 70 hingga 80 persen wanita dengan sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang juga dapat memicu terjadinya komplikasi pada kehamilan. Risiko lain yang mungkin dialami oleh ibu  yang sedang hamil saat mengalami PCOS adalah bayi mungkin lahir secara prematur.

Selain itu, kondisi lain yang mungkin dialami oleh wanita hamil yang mengalami PCOS adalah keguguran dan diabetes gestasional.

3. Stres berat

Komplikasi lain yang mungkin terjadi saat Anda mengalami PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah stres berlebihan. Perubahan hormon dan gejala-gejala seperti pertumbuhan rambut berlebih dapat berakibat buruk pada emosi penderita. Banyak pasien yang mengalami  sindrom ovarium polikistik ini yang berakhir dengan kondisi depresi dan kecemasan parah.

4. Kanker endometrium

Penyakit lain yang mungkin terjadi jika Anda mengalami sindrom ovarium polikistik atau PCOS adalah kanker endometrium. Hal ini disebabkan karena ovarium tidak berovulasi dengan baik, sehingga dinding rahim terus menebal dan tidak kunjung meluruh.

Diagnosis & pengobatan PCOS

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana PCOS didiagnosis?

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini. Umumnya, sindrom ovarium polikistik ini terdeteksi ketika penderita datang ke dokter untuk memeriksakan penyakit lain.

Dokter akan menanyakan tentang gejala yang dialami, riwayat penyakit  keluarga, atau jika Anda pernah melakukan perawatan untuk kondisi kesehatan lainnya.

Untuk mengonfirmasi hasil diagnosis, dokter akan meminta Anda menjalani beberapa tes tambahan:

1. Tes darah

Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar hormon di dalam tubuh, terutama hormon androgen. Selain itu, kadar kolesterol, insulin, dan trigliserida mungkin juga akan diukur untuk mengecek kemungkinan munculnya diabetes atau penyakit jantung.

2. Pemeriksaan panggul

Dokter akan memeriksa organ reproduksi Anda untuk mengetahui adanya pertumbuhan jaringan yang tidak wajar pada tubuh Anda, terutama ovarium.

3. Tes pencitraan

Tes pencitraan atau pengambilan gambar dilakukan untuk memeriksa ovarium Anda secara lebih mendalam. Beberapa jenis tes yang dilakukan adalah USG transvaginal dan CT scan.

Bagaimana mengobati PCOS?

Tujuan dari pengobatan PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah untuk mengendalikan gejala-gejala dan mencegah pertumbuhan kista yang lebih parah di dalam indung telur. Tergantung pada gejala, perawatan dapat bervariasi.

1. Memperbaiki siklus menstruasi

Untuk mengatur siklus menstruasi, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan berikut:

  • Pil KB

Pil KB yang mengandung estrogen dan progestin dapat mengurangi produksi androgen dan mengatur estrogen di dalam tubuh. Pengendalian hormon ini dapat menurunkan risiko Anda terkena kanker endometrium, memiliki jerawat, dan mengalami pertumbuhan rambut berlebihan.

  • Terapi progestin

Terapi progestin selama 10-14 hari hingga 2 bulan dapat mengatur siklus menstruasi Anda dan melindungi Anda dari risiko kanker endometrium. Obat ini cocok untuk Anda yang ingin menjalani program kehamilan.

2. Memberi obat untuk membantu proses ovulasi

Untuk membantu tubuh Anda berovulasi dengan normal, dokter akan memberikan obat-obatan seperti:

  • Clomiphene (Clomid)
  • Letrozole (Femara)
  • Metformin (Glucophage, Fortamet)
  • Gonadotropin

3. Mengurangi pertumbuhan rambut berlebih

Untuk mencegah rambut yang tumbuh di tubuh Anda muncul secara berlebihan, dokter akan memberikan pil KB. Selain itu, ada pula beberapa jenis obat sebagai alternatif:

  • Spironolactone (Aldactone)
  • Eflornithine (Vaniqa)
  • Electrolysis

Pengobatan di rumah untuk PCOS

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi PCOS?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi PCOS atau sindrom ovarium polikistik:

  • Jaga berat badan yang sehat dengan makan makanan rendah karbohidrat olahan.
  • Olahraga juga dapat membantu tubuh mengatur insulin.
  • Jika Anda merokok, pertimbangkan untuk berhenti..

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan memang bukan tugas mudah. Jangan khawatir, simak panduannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . 10 menit baca

Bersiap New Normal, Bekali Diri dengan Hal-hal Ini

Ini saat yang tepat untuk mengetahui persiapan new normal dan cara menguatkan daya tahan tubuh, terutama Anda yang kini menjalani aktivitas di kantor.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Hidup Sehat, Tips Sehat 01/07/2020 . 5 menit baca

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Gagal jantung terbagi dua berdasarkan progresnya, yaitu gagal jantung akut dan gagal jantung kronik. Apa yang dimaksud gagal jantung akut?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 01/07/2020 . 5 menit baca

Endokarditis

Endokarditis adalah infeksi bakteri yang menyerang endokardium, bagian dari organ jantung. Ketahui lebih lanjut gejala, penyebab, dan pengobatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 30/06/2020 . 1 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kelainan katup jantung bawaan pada bayi

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 menit baca
duck syndrome

Duck Syndrome, Gangguan yang Sering Mendera Anda yang Ambisius

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 5 menit baca
penyakit katup jantung

Penyakit Katup Jantung

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 1 menit baca
menjaga kesehatan tulang untuk perempuan

5 Tips untuk Perempuan Menjaga Kesehatan Tulang dan Daya Tahan Tubuh di Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 menit baca