Gastritis

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu gastritis (radang lambung)?

Gastritis adalah penyakit pencernaan yang juga bisa disebut radang lambung. Penyakit ini terjadi ketika lapisan dinding (mukosa) lambung meradang atau membengkak.

Peradangan lapisan lambung dapat terjadi secara mendadak (radang lambung akut) atau berlangsung dalam waktu yang lama (radang lambung kronis).

Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat disembuhkan dengan pengobatan tertentu. Namun dalam beberapa kasus, peradangan lambung lama-lama dapat berubah menjadi penyakit GERD (refluks asam lambung) dan bahkan meningkatkan risiko kanker perut.

Jenis-jenis penyakit radang lambung

Gastritis memiliki banyak tipe, di antaranya:

  • Radang lambung erosif: Peradangan parah yang disebabkan oleh rusaknya perlindungan membran mukosa di lambung. Biasanya akut dan menyebabkan perdarahan.
  • Radang lambung non-erosif: Kondisi yang terjadi akibat perubahan lapisan perut. Biasanya karena infeksi bakteri atau penyakit autoimun.
  • Radang lambung post-gastrektomi: Trauma pada lapisan perut yang membuat lapisan lambung merosot setelah prosedur operasi.
  • Radang lambung infeksi: Terjadi akibat infeksi H. pylori, virus, atau jamur di lapisan perut pada orang bermasalah sistem kekebalan imunnya.
  • Radang lambung radiasi: Radang lambung karena paparan radiasi yang mengiritasi lapisan lambung.
  • Radang lambung eosinofilik: Bentuk radang lambung akibat reaksi tubuh pada zat alergen yang tidak diketahui.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Gastritis adalah kondisi yang umum.

Namun, penyakit ini lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang menggunakan obat pereda nyeri jangka panjang. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya lubang di lambung, yang dikenal dalam istilah medis sebagai perforasi lambung.

Selain itu, orang yang sudah kecanduan alkohol juga rentan mengalami radang lambung.

Risiko peradangan pada lambung bisa dikurangi dengan mengurangi faktor-faktor pemicunya. Anda perlu berdiskusi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala gastritis?

Orang yang menderita kondisi ini seringnya tidak memunculkan gejala apa pun sampai didiagnosis. Pasalnya, gejala radang lambung sering tampak samar dan dikelirukan sebagai tanda penyakit pencernaan lain. 

Dilansir dari laman Mayo Clinic, gejala gastritis yang paling sering dirasakan adalah:

  • Hilang nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri di perut bagian atas
  • Merasa kenyang meski baru makan sedikit

Jika dinding lambung Anda sampai mengalami perdarahan, gejala yang mungkin muncul, antara lain:

  • Feses berwarna hitam
  • Muntah darah atau cairan berwarna pekat seperti kopi

Masih ada beberapa gejala radang lambung lain yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda khawatir tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter jika gejala-gejala yang dialami belum hilang juga.

Anda juga perlu memberi tahu dokter jika perut Anda merasa tidak nyaman setelah minum obat, terutama aspirin atau obat penghilang rasa sakit lainnya.

Segera pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan medis darurat jika Anda muntah darah atau buang air besar berdarah.

Penyebab

Apa penyebab gastritis?

Penyebab radang lambung (gastritis) yang paling umum adalah penggunaan obat antinyeri dalam jangka panjang.

Efek samping ini disebabkan oleh bahan aktif dari obat yang menghambat enzim COX (siklooksigenase) di lambung. Enzim COX adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap rangsangan nyeri. Namun, enzim COX juga sekaligus mempertahankan lapisan dinding dalam lambung. 

Ketika kerja enzim COX terhambat, maka lapisan dinding lambung akan terkikis dengan sendirinya. Penipisan dindingnya membuat lambung jadi rentan teriritasi dan luka akibat paparan cairan asam secara terus menerus. Akibatnya, radang dan perdarahan lambung dapat terjadi.

Selain penggunaan obat aspirin dan ibuprofen jangka panjang, penyebab gastritis lain adalah:

  • Sering mengonsumsi alkohol
  • Konsumsi makanan yang asam, pedas, tinggi lemak, dan mengandung kafein
  • Infeksi perut yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori
  • Penyakit diabetes tipe 1, penyakit Crohn, dan alergi makanan
  • Refluks cairan empedu menuju lambung
  • Mengalami stres berat

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit ini?

Ada beberapa hal yang bisa membuat Anda terkena kondisi radang lambung. Faktor risiko penyakit gastritis adalah:

  • Sering mengonsumsi makanan pedas atau yang kadar lemaknya tinggi, seperti gorengan dengan sambal.
  • Gaya hidup tidak sehat, misalnya aktif merokok sejak lama, kebanyakan minum minuman beralkohol, atau pola makanan tidak teratur.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Sedang menjalani pengobatan tertentu seperti antibiotik, aspirin, steroid, dan pil KB.
  • Stres atau kelelahan.
  • Sering mengonsumsi obat penghilang rasa sakit.
  • Penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi: HIV/AIDS, Crohn, dan infeksi bakteri lainnya.
  • Alergi makanan, khususnya bagi orang pengidap gangguan pencernaan esophagitis eosinophilic (EoE). 

Komplikasi

Apa saja komplikasi radang lambung?

Penyakit radang lambung yang tidak diobati dengan benar atau disepelekan, tentu akan semakin bertambah parah. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat gastritis adalah:

1. Tukak lambung

Radang lambung dapat menyebabkan ulkus peptikum atau tukak lambung ketika peradangannya sampai menimbulkan luka pada lapisan lambung atau duodenum. Duodenum adalah bagian awal dari saluran usus kecil.

Ulkus peptikum adalah peradangan dari kerongkongan bawah, lapisan perut hingga usus kecil, sedangkan tukak lambung adalah peradangan yang terjadi pada lambung.

Penggunaan obat antinyeri dan dan infeksi bakteri H. pylori, dapat meningkatkan risiko tukak lambung. Luka dapat terasa sangat menyakitkan, dan dapat terjadi di daerah adanya asam atau enzim. 

2. Radang lambung atrofik

Radang lambung atrofik adalah kondisi peradangan kronis yang dapat menyebabkan hilangnya lapisan dan kelenjar di lambung. Lapisan dan kelenjar yang hilang tersebut kemudian tergantikan dengan jaringan daging yang berserat.

3. Anemia

Terkikisnya lapisan dalam lambung akibat radang kronis lama-lama dapat menyebabkan perdarahan. Kehilangan darah dalam jumlah banyak dapat berujung pada anemia (darah rendah).

Penelitian menunjukkan bahwa peradangan lambung akibat infeksi H. pylori dan masalah autoimun dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi dari makanan.

Kondisi tubuh yang mengalami perdarahan dalam serta tidak mampu menyerap zat besi menimbulkan komplikasi akibat radang lambung yang Anda alami.

4. Defisiensi vitamin B12 dan anemia pernisiosa

Orang dengan peradangan atrofi yang disebabkan masalah autoimun tidak dapat menghasilkan faktor intrinsik yang cukup. Faktor intrinsik adalah protein yang dibuat lambung untuk membantu usus menyerap vitamin B12. 

Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membuat sel darah merah dan sel saraf. Buruknya penyerapan vitamin B12 dapat menyebabkan jenis anemia yang disebut anemia pernisiosa.

5. Tumor perut

Kondisi peradangan lambung yang kronis dapat meningkatkan adanya pertumbuhan tumor jinak dan kanker pada lapisan perut.

Begitu pula dengan radang lambung kronis yang disebabkan infeksi bakteri H. pylori. Infeksi H. pylori dapat meningkatkan risiko kanker limfoma jaringan terkait mukosa lambung (MALT)

6. Perforasi lambung

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, radang kronis dapat membuat dinding lambung melemah dan menipis.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambung akan berlubang. Perforasi lambung dapat menyebabkan isi lambung bocor ke rongga perut dan menimbulkan infeksi. Kondisi rongga perut yang sudah terinfeksi disebut dengan peritonitis.

Infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang membuat berbagai organ dalam tubuh berhenti berfungsi.

Perforasi lambung dan peritonitis termasuk kondisi gawat darurat medis yang dapat mengancam nyawa.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Gastritis dapat didiagnosis dengan berdasarkan deskripsi gejala radang lambung yang dialami pasien. Namun, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosisnya.

Berikut adalah sejumlah tes yang dapat dilakukan dokter guna menegakkan diagnosis gastritis:

1. Endoskopi

Selama prosedur endoskopi, dokter akan memasukkan selang fleksibel yang dilengkapi dengan lensa (endoskopi) lewat tenggorokan Anda. Tabung ini akan masuk melewati kerongkongan, perut, dan usus kecil Anda.

Dengan menggunakan endoskopi, dokter Anda mencari tanda-tanda adanya radang atau infeksi pada lambung. 

Jika terdapat tanda yang mencurigakan, dokter Anda mungkin akan sampel jaringan kecil (biopsi) untuk pemeriksaan laboratorium. 

2. Tes H.pylori

Test H. pylori bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk tes darah, tes feses, atau dengan tes lewat napas.

Untuk tes napas, Anda akan diminta meminum segelas kecil cairan jernih dan tidak berasa yang mengandung karbon radioaktif. 

Setelahnya Anda akan diminta untuk mengembuskan napas ke dalam kantong khusus yang kemudian disegel.

Jika Anda positif  terinfeksi, sampel napas Anda akan mengandung karbon radioaktif karena bakteri H. pylori akan memecah cairan tersebut di perut Anda.

Apa saja pilihan obat untuk gastritis?

Gastritis akut maupun kronis biasanya diobati dengan obat antibiotik atau obat-obatan penurun asam lambung. Pilihan obat untuk gastritis yang biasanya diresepkan dokter adalah:

Selain itu, dokter juga dapat menggunakan cairan intravena dan obat-obatan lain yang lebih kuat untuk mengurangi asam lambung jika peradangan Anda memburuk.

Anda harus menghindari alkohol serta ibuprofen, naproxen, dan aspirin selama minum obat gastritis dari dokter.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit radang lambung?

Gaya hidup dan pengobatan radang lambung rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi gastritis akut maupun kronis yang Anda alami:

  • Hindari makanan, minuman, dan kebiasaan yang dapat meningkatkan asam lambung
  • Makan sedikit-sedikit tapi sering
  • Makan masakan yang matang
  • Cuci tangan sebelum makan untuk menghindari infeksi
  • Ikuti arahan dokter, jangan mengonsumsi obat tanpa resep atau berhenti minum obat tanpa izin dokter.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit gastritis?

1. Jangan merokok

Rokok mengandung nikotin yang bisa melemahkan saluran pencernaan. Merokok juga diketahui dapat menyebabkan refluks asam lambung, yang dapat semakin mengiritasi dinding lambung.

Selain rokok, alkohol dan coklat juga memiliki efek yang mirip dengan nikotin.

2. Menerapkan pola makan sehat

Menerapkan pola makan yang lebih sehat dapat membantu Anda meredakan gejalanya sekaligus mencegah radang lambung di kemudian hari. Pola makan yang baik untuk mencegah gastritis dapat meliputi:

  1. Makanan dengan kandungan serat tinggi seperti apel, oatmeal, brokoli, wortel, dan kacang-kacangan.
  2. Makanan rendah lemak seperti ikan, dada ayam, dan dada kalkun
  3. Makanan bersifat basa, seperti sayuran yang direbus.
  4. Perbanyak sumber probiotik seperti teh kombucha, yoghurt, kimchi, kefir, dan tempe.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan atau minuman probiotik dapat membantu mengatasi infeksi radang lambung yang disebabkan Helicobacter pylori (H. pylori).

Selain lebih bijak memilah-milih makanan yang lebih sehat, kebiasaan makan Anda juga perlu diubah menjadi:

  • Biasakan makan lebih sering dengan porsi yang lebih sedikit. Jika Anda biasa makan besar 3 kali sehari, coba ubah menjadi makan 5-6 kali sehari dengan porsi yang kecil.
  • Jangan makan sampai kekenyangan karena isi lambung yang terlalu penuh bisa naik ke tenggorokan.
  • Hindari minuman bersoda dan minuman yang berkafein seperti coklat, kopi, teh. 
  • Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam seperti makanan pedas dan buah-buahan jeruk. Makanan atau minuman bersifat asam memicu rasa nyeri pada ulu hati.
  • Jangan makan sebelum tidur, karena meningkatkan risiko refluks asam lambung.

3. Kurangi berat badan

Orang yang kegemukan berisiko lebih tinggi mengalami radang lambung. Kebiasaan makan dalam porsi besar dalam jangka panjang meningkatkan tekanan dalam lambung sehingga isi lambung mudah naik keluar.

Mengurangi berat badan 2-5 kg dapat membantu Anda mencegah gastritis kambuh kembali.

4. Konsumsi obat pereda nyeri dengan pengawasan dokter

Obat antinyeri NSAID seperti ibuprofen, aspirin, naproxen seringkali disalahgunakan. Padahal penggunaan dalam jangka panjang yang sembarangan dapat meningkatkan produksi asam lambung sehingga Anda rentan mengalami radang lambung. Maka, gunakan obat antinyeri ini sesuai petunjuk dokter.

Berhati-hatilah juga dalam minum jamu. Produk jamu seringkali mengandung bahan NSAID sehingga meminumnya dalam jangka panjang juga memiliki efek yang sama seperti penggunaan OAINS jangka panjang.

5. Ubah posisi tidur Anda

Posisi tidur terbaik untuk mencegah radang lambung kambuh kembali adalah berbaring di sisi kiri, dengan menyangga kepala dan leher pakai bantal tebal.

Posisi ini dapat menjaga cairan asam tetap berada di dasar lambung sehingga sulit untuk mengalir ke atas.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Hari Raya, Ramadan April 27, 2020

Bagaimana Selulitis Terjadi pada Anak dan Cara Mencegahnya?

Infeksi di kulit sering terjadi pada anak. Salah satunya adalah selulitis. Apa itu selulitis dan bagaimana mencegahnya terjadi pada anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Kesehatan Anak, Parenting April 18, 2020

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD adalah penyakit yang berhubungan dengan asam lambung. Apa gejala dan penyebabnya? Bagaimana cara mengatasi kondisi ini?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z April 13, 2020

Maag (Dispepsia)

Sakit maag adalah penyakit yang tak boleh disepelekan. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, serta cara mencegahnya di Hello Sehat.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z April 13, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

pengobatan gastritis

Pengobatan Gastritis, Mulai dari Perawatan Dokter Hingga Cara Alami

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal tayang Mei 18, 2020
pencegahan gastritis

Beragam Cara Pencegahan Gastritis yang Paling Ampuh

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal tayang Mei 17, 2020
maag saat puasa obat Omeprazole

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal tayang Mei 7, 2020
menu buka puasa untuk penderita maag

4 Pilihan Menu Buka Puasa Bagi Anda yang Punya Sakit Maag

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 4, 2020