Memahami Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang Belakang (BMT)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Pengertian

Apa itu transplantasi sumsum tulang (BMT)?

Transplantasi sumsum tulang atau bone marrow transplant (BMT) adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang rusak dengan sumsum tulang yang baru. Prosedur ini juga memiliki istilah lain, yaitu transplantasi sel punca atau sel induk (stem cell).

Sumsum tulang merupakan jaringan lunak berbentuk spons yang terletak di bagian tengah-tengah tulang. Di dalam sumsum tulang, terdapat sel induk yang berfungsi menghasilkan seluruh sel pada tubuh, termasuk sel darah yang mencakup sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Masing-masing sel darah memiliki peran penting bagi tubuh. Sel darah merah bekerja mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sel darah putih bertugas melindungi tubuh dari serangan infeksi, seperti virus atau bakteri. Trombosit atau keping darah mencegah perdarahan berlebih pada tubuh dengan proses pembekuan darah.

Ketika sumsum tulang bermasalah akibat kondisi kesehatan atau penyakit tertentu, hal ini menyebabkan terjadinya gangguan produksi sel darah merah di dalam tubuh.

Prosedur transplantasi sumsum tulang atau bone marrow transplant (BMT) bertujuan untuk:

  • mengganti sumsum tulang yang rusak, sehingga tubuh dapat kembali menghasilkan sel darah sehat
  • mengembalikan kadar sel darah yang seimbang dan sehat
  • mengembalikan sistem kekebalan tubuh, terutama pada pasien dengan produksi sel darah putih yang bermasalah
  • mencegah terjadinya komplikasi kesehatan akibat kerusakan sumsum tulang

Apa saja penyakit yang bisa ditangani dengan prosedur ini?

Dilansir dari situs BMT InfoNet, berikut adalah beberapa penyakit yang dapat diobati dengan prosedur transplantasi sumsum tulang belakang atau BMT:

Apa saja jenis-jenis dari BMT?

BMT atau transplantasi sumsum tulang belakang dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Transplantasi autologus

BMT jenis autologus dilakukan dengan cara menggunakan sel induk darah yang diambil dari sumsum tulang tubuh pasien itu sendiri. Pada transplantasi autologus, sel induk darah biasanya diambil sebelum pasien menjalani prosedur kemoterapi atau radioterapi untuk pengobatan kanker.

Terkadang, pengobatan kanker perlu dosis tinggi kemoterapi atau radioterapi. Dosis yang terlalu tinggi dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan sel induk darah dalam sumsum tulang.

Itu sebabnya, dokter akan mengangkat terlebih dahulu sel induk darah atau sumsum tulang sebelum proses pengobatan kanker dimulai.

Setelah pengobatan kanker selesai, dokter dan tim medis akan mengembalikan sumsum tulang Anda, sehingga tubuh dapat kembali memproduksi sel darah dan melawan sel-sel kanker.

2. Transplantasi alogenik

Berbeda dengan autologus, BMT jenis alogenik dilakukan dengan menggunakan sel induk darah dari orang lain atau pendonor. Donor dapat berasal dari relasi dengan hubungan darah.

Namun, tidak menutup kemungkinan donor bisa didapat dari orang lain tanpa adanya ikatan darah.

Proses

Apa saja yang perlu disiapkan sebelum menjalani prosedur ini?

Dokter dan tim medis akan merekomendasikan jenis transplantasi atau BMT yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Jenis transplantasi sumsum tulang tergantung pada apa penyakit yang diderita, kesehatan sumsum tulang, usia, serta kesehatan pasien secara menyeluruh.

Sebelum menjalani transplantasi, Anda juga perlu menjalani beberapa tes tambahan untuk memastikan kondisi kesehatan Anda.

Berikut adalah beberapa tes medis yang perlu dilakukan sebelum menjalani prosedur BMT:

  • tes darah
  • tes pengambilan gambar, seperti rontgen atau CT scan
  • tes fungsi jantung
  • pemeriksaan gigi
  • biopsi sumsum tulang belakang

Bagaimana cara kerja transplantasi sumsum tulang atau BMT?

Tergantung pada jenis BMT yang akan dilakukan, Anda mungkin akan melewati tahapan-tahapan prosedur yang berbeda. Berikut penjelasannya.

Proses transplantasi autologus

Apabila Anda harus menjalani transplantasi sumsum tulang jenis autologus, berikut adalah langkah-langkah yang akan Anda jalani:

  1. Dokter akan mengambil sel-sel induk darah melalui pembuluh vena di dada atau lengan Anda.
  2. Anda akan menjalani pengobatan atau perawatan sebelum transplantasi. Langkah ini biasanya memakan waktu 5-10 hari. Anda akan menerima kemoterapi atau radioterapi dengan dosis tinggi.
  3. Selanjutnya, tim medis akan kembali memasukkan sel induk darah yang telah diambil dari tubuh Anda sebelumnya. Prosedur ini menggunakan jarum kateter dan memakan waktu 30 menit untuk setiap dosis sel induk darah.

Proses transplantasi alogenik

Jika menggunakan sumsum tulang yang didapat dari pendonor, Anda harus menjalani tes untuk mengetahui kecocokan sel induk darah Anda dan pendonor. Tes ini disebut dengan pemeriksaan HLA (human leukocyte antigen).

HLA adalah protein yang terkandung dalam sel darah putih. Menemukan donor sel induk darah dengan HLA yang cocok sangat penting untuk menghindari risiko graft-versus-host disease (GVHD), di mana sumsum tulang yang telah ditransplantasi malah menyerang sel induk darah pasien.

Oleh karena protein HLA bersifat diwariskan, biasanya donor sel induk darah terbaik adalah anggota keluarga. Namun, tidak menutup kemungkinan pasien tidak menemukan sel induk yang cocok dengan anggota keluarganya sendiri.

Pada kasus tersebut, dokter akan mempertimbangkan pendonor lain dengan HLA yang cocok meskipun ia tidak memiliki hubungan darah dengan pasien.

Jika situasi sudah sangat mendesak dan tidak ditemukan pendonor yang cocok, dokter dapat memilih alternatif sumsum tulang lain, dari:

  • sel induk darah (stem cell) dari tali pusat bayi baru lahir
  • sel induk darah dari anggota keluarga yang memiliki kecocokan setidaknya 50%

Berikut adalah langkah selanjutnya dalam BMT atau transplantasi jenis alogenik:

  1. Setelah melakukan tes kecocokan HLA, tim medis akan mengambil sel induk darah dari pendonor. Pengambilan dapat dilakukan melalui aliran darah atau langsung dari sumsum tulang.
  2. Sebelum proses transplantasi, Anda akan menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi selama 5-7 hari.
  3. Kemudian, transplantasi sel induk dari pendonor akan dilakukan dengan memasukkan jarum kateter pada aliran darah Anda. Prosedur ini biasanya memakan waktu 1 jam.

Bagaimana proses pemulihan setelah transplantasi sumsum tulang?

Setelah prosedur BMT atau transplantasi sumsum tulang selesai, Anda harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu atau bulan. Dokter akan memastikan bahwa:

  • Sumsum tulang Anda membuat cukup sel darah yang sehat
  • Anda tidak memiliki komplikasi berat
  • Anda merasa baik dan setiap luka pada mulut dan/atau diare telah membaik atau pulih
  • Nafsu makan telah meningkat
  • Anda tidak demam atau muntah

Selama beberapa minggu dan bulan pertama setelah meninggalkan rumah sakit, Anda akan sering melakukan pemeriksaan ke klinik rawat jalan. Hal ini memungkinkan dokter Anda untuk memantau perkembangan kondisi Anda.

Proses pemulihan mungkin memerlukan waktu berkisar antara 6-12 bulan. Selama rentang waktu itu, penting bagi Anda untuk mempelajari bagaimana caranya mencegah infeksi, banyak istirahat, dan menaati petunjuk dokter tentang obat-obatan dan pemeriksaan.

Dalam beberapa kasus, pasien juga perlu menerima pengobatan tambahan selama proses pemulihan. Misalnya, jika BMT dilakukan sebagai bagian pengobatan thalasemia, pasien mungkin harus melakukan prosedur flebotomi atau kelasi zat besi untuk membuang sisa zat besi yang berlebih dari tubuh.

Risiko dan efek samping

Apa risiko dan efek samping dari prosedur transplantasi sumsum tulang atau BMT?

Sama seperti prosedur transplantasi pada umumnya, transplantasi sumsum tulang atau BMT juga menyimpan risiko dan efek samping tertentu. Peluang terjadinya efek samping akan bergantung pada kecocokan sel induk darah pasien dan pendonor, kondisi kesehatan, serta usia pasien.

1. Infeksi

Anda dapat dengan mudah kena infeksi setelah transplantasi karena sistem kekebalan tubuh lemah. Risiko infeksi dapat berkurang apabila sistem kekebalan tubuh Anda pulih.

Penerima transplantasi kadang-kadang diberikan vaksin untuk mencegah virus dan infeksi, seperti flu dan pneumonia. Jika Anda mengalami infeksi, dokter akan meresepkan obat untuk mengobatinya.

2. Penyakit graft-versus-host (GVHD)

GVHD adalah komplikasi paling umum bagi orang yang mendapatkan donor sel induk dari orang lain. Pada kasus ini, sel-sel induk darah baru menyerang sel induk darah di dalam tubuh Anda.

GVHD terbagi atas akut dan kronis. Pada kasus akut, gejala-gejala akan muncul dalam rentang waktu 3 bulan setelah prosedur BMT.

GVHD tergolong kronis jika berlangsung lebih dari 3 bulan setelah transplantasi. Dokter biasanya akan mengobati kondisi ini dengan kortikosteroid.

3. Risiko lainnya

Selain kedua risiko di atas, kemungkinan pasien yang menjalani prosedur BMT atau transplantasi juga akan mengalami efek samping lain, seperti:

  • anemia
  • katarak
  • kerusakan atau perdarahan pada organ dalam tubuh
  • menopause lebih awal
  • kegagalan transplantasi, sehingga tubuh gagal menerima sel induk darah yang baru
  • kanker kambuh kembali

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim membuat kulit memerah, kasar, pecah-pecah, terasa amat gatal, dan sangat kering. Apa sebenarnya penyebab eksim alias dermatitis atopik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Apa Pengobatan yang Bisa Dilakukan untuk Thalasemia?

Meski tak ada obat untuk menyembuhkan thalasemia, ada beberapa pilihan pengobatan standar, seperti transfusi darah atau transplantasi sumsum tulang.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Jenis-Jenis Thalasemia dan Perbedaan Masing-Masingnya

Thalasemia memiliki beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan keparahannya, yaitu mayor dan minor. Apa perbedaan thalasemia minor dan mayor?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Thalasemia

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah karena mutasi gen pada hemoglobin akibat keturunan. Kondisi ini bisa menyebabkan anemia ringan hingga berat.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat pereda nyeri otot

Obat Nyeri Otot: Mulai dari Obat Resep Dokter Hingga Obat Herbal

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 17 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis numularis

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
perawatan fototerapi terapi cahaya

Mengenal Fototerapi, Terapi Cahaya untuk Penyakit Kulit dengan Sinar UV

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit