Mengapa Ibu Hamil Sangat Perlu Zat Besi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Sangat penting untuk menjaga kadar zat besi Anda selama kehamilan. Jika Anda tidak mencukupi asupan zat besi harian, maka Anda akan mudah merasa lelah dan terserang infeksi. Selain itu, risiko bayi lahir dengan berat di bawah normal akan meningkat.

Apa itu zat besi?

Zat besi digunakan untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke organ-organ dan jaringan. Ketika Anda hamil, tubuh Anda memproduksi persediaan darah tambahan untuk Anda dan bayi Anda. Tubuh akan membutuhkan zat besi ekstra untuk pembentukan persediaan darah tersebut dan juga untuk mendukung percepatan pertumbuhan bayi Anda.

Mengapa mengonsumsi zat besi begitu penting?

Jika Anda tidak mendapatkan cukup zat besi dari makanan, tubuh Anda secara bertahap mengambilnya dari penyimpanan zat besi di tubuh Anda sehingga berisiko meningkatkan anemia. Kekurangan zat besi selama kehamilan sangat umum terjadi. Diperkirakan setengah dari semua wanita hamil di seluruh dunia kekurangan zat besi.

Menurut para ahli, anemia yang diakibatkan oleh kekurangan zat besi di dua trimester pertama dikaitkan dengan risiko dua kali lipat bayi Anda akan lahir prematur dan tiga kali lipat risiko berat badan lahir rendah. Untungnya, kekurangan zat besi mudah untuk dicegah dan diobati.

Kebanyakan dokter memeriksa pada trimester pertama dan sekali lagi pada trimester ketiga untuk memastikan anemia tidak terjadi. Jika jumlah darah Anda rendah, dokter akan meresepkan Anda suplemen zat besi sebagai pendamping vitamin prenatal fortifikasi zat besi selama sisa kehamilan Anda.

Kapan Anda harus mengonsumsi zat besi?

Anda harus mulai mengonsumsi suplemen zat besi dengan dosis rendah (30 mg per hari) sejak konsultasi kehamilan pertama Anda. Dalam kebanyakan kasus, Anda akan mendapatkan asupan zat besi sesuai dengan kadar tersebut di dalam vitamin prenatal Anda.

Anda membutuhkan setidaknya 27 miligram (mg) zat besi setiap hari selama kehamilan Anda. Sementara Anda menyusui, konsumsi setidaknya 9 mg zat besi setiap hari jika Anda berusia 19 tahun atau lebih tua. Ibu menyusui berusia 18 tahun atau lebih muda membutuhkan 10 mg zat besi.

Makanan lain yang mengandung zat besi

Daging merah adalah salah satu sumber terbaik zat besi untuk ibu hamil. Hati binatang memiliki tingkat konsentrasi  zat besi tertinggi, tapi karena mengandung jumlah vitamin A yang tidak aman, maka sebaiknya dihindari selama kehamilan. Jika makanan Anda tidak mengandung protein hewani, Anda bisa mendapatkan zat besi dari kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian.

Ada dua bentuk zat besi: non-heme iron, yang ditemukan dalam tanaman (serta daging, unggas, dan ikan), dan heme iron, yang hanya ditemukan dalam produk hewani. Heme iron lebih mudah diserap oleh tubuh Anda (makanan dan suplemen yang diperkaya dengan zat besi menyediakan non-heme iron). Untuk memastikan Anda mendapatkan cukup zat besi, makanlah berbagai makanan yang kaya akan zat besi setiap hari.

Sumber makanan yang mengandung heme-iron di antaranya adalah daging merah, unggas, dan ikan. Untuk lebih mudah dalam menakar ukurannya, 3 ons daging berukuran kurang lebih sama dengan setumpuk kartu.

  • 3 ons daging sapi tanpa lemak: 3.2 mg
  • 3 ons daging sapi has luar: 3.0 mg
  • 3 ons kalkun panggang, daging merah: 2.0 mg
  • 3 ons dada kalkun panggang: 1,4 mg
  • 3 ons ayam panggang, daging gelap: 1.1 mg
  • 3 ons dada ayam panggang: 1.1 mg
  • 3 ons ikan halibut: 0,9 mg
  • 3 ons daging babi has luar: 0,8 mg

Sumber yang mengandung non-heme iron:

  • 1 cangkir sereal siap makan yang diperkaya zat besi: 24 mg
  • 1 cangkir oatmeal instan fortifikasi: 10 mg
  • 1 cangkir edamame (kacang kedelai rebus): 8,8 mg
  • 1 cangkir lentil yang telah dimasak: 6,6 mg
  • 1 cangkir kacang merah yang telah dimasak: 5.2 mg
  • 1 cangkir buncis: 4.8 mg
  • 1 cangkir kacang lima: 4,5 mg
  • 1 ons biji labu panggang: 4.2 mg
  • 1 cangkir kacang hitam atau pinto yang telah dimasak: 3,6 mg
  • 1 sendok makan sirup gula molasses: 3,5 mg
  • 1/2 cangkir tofu mentah: 3,4 mg
  • 1/2 cangkir bayam rebus: 3.2 mg
  • 1 cangkir jus prune: 3.0 mg
  • 1 iris gandum atau roti putih: 0,9 mg
  • 1/4 cup kismis: 0,75 mg

Berikut ini sejumlah tips seputar cara mendapatkan asupan zat besi yang optimal dari makanan yang Anda makan:

  • Masak dalam panci besi. Makanan lembab dan asam seperti saus tomat, dapat menyerap zat besi dengan lebih baik lewat cara ini
  • Hindari minum kopi dan teh dengan makanan. Mereka mengandung senyawa yang disebut fenol yang mengganggu penyerapan zat besi. (ide bagus untuk berhenti mengonsumsi kafein selama kehamilan.)
  • Makan makanan yang kaya vitamin C (seperti jus jeruk, stroberi, atau brokoli), terutama ketika makan sayur yang mengandung besi seperti kacang, karena vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi hingga enam kali
  • Banyak makanan sehat mengandung “iron inhibitors” yang dapat mengurangi jumlah zat besi yang diserap tubuh pada makanan-makanan yang dimakan pada waktu yang sama. Phytates di biji-bijian dan kacang-kacangan, oksalat dalam makanan kedelai dan bayam, dan kalsium dalam produk susu adalah contoh inhibitor besi. Tidak perlu menghilangkan makanan ini dari makanan Anda. Cukup makan dengan menggunakan “iron enhancer” – makanan yang mengandung vitamin C atau sejumlah  daging, unggas, atau ikan.
  • Kalsium selain produk susu akan mengurangi penyerapan zat besi. Jadi jika Anda meminum suplemen kalsium atau antasida yang mengandung kalsium, makanlah di sela-sela waktu makan, bukan berbarengan dengan makanan.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Folat dan Asam Folat, Apa Bedanya? Mana yang Lebih Sehat?

Meski sering disangka sama, folat dan asam folat adalah dua nutrisi yang berbeda, dan berbeda pula efeknya pada kesehatan tubuh. Apa bedanya?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Fakta Gizi, Nutrisi 6 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa yang Akan Terjadi Jika Tubuh Ibu Terlalu Kurus Sebelum Hamil?

Ingin hamil? Berat badan menjadi hal yang harus dipersiapkan. Jika Anda mempunyai tubuh kurus sebelum hamil, tingkatkan berat badan Anda sampai normal.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Agar Tidak Keliru, Ketahui Aturan Pemberian Vitamin untuk Anak

Ada banyak vitamin anak yang dijual di pasaran. Namun, perlukah pemberian vitamin untuk anak? Seberapa penting vitamin untuk kesehatan si kecil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 6-9 tahun, Gizi Anak, Parenting 15 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Banyak produk herbal di pasaran yang mengandung bahan kimia obat dan tidak mendapat izin edar BPOM. Begini cara tahu mana obat herbal yang aman dikonsumsi.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin untuk otak

Daftar Nutrisi dan Vitamin yang Bisa Bantu Menjaga Kesehatan Otak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
minum vitamin pagi atau malam

Lebih Baik Minum Vitamin Pagi Hari atau Malam Hari?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
niacinamide untuk kulit

Niacinamide untuk Kulit, Apa Manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 9 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
penyebab gusi bengkak

11 Hal yang Paling Sering Jadi Penyebab Gusi Bengkak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 7 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit