Informasi Seputar Imunisasi HPV pada Anak yang Perlu Orangtua Tahu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/02/2020 . 7 menit baca
Bagikan sekarang

HPV atau human papillomavirus merupakan virus yang bisa menular lewat hubungan seksual dan mungkin menyebabkan kanker serviks pada perempuan. Itu sebabnya, banyak orang berpikir bahwa pemberian vaksin HPV hanya boleh dilakukan saat usia dewasa atau sudah menikah. Padahal, vaksin kanker serviks ini harus diberikan untuk anak sedini mungkin. Berikut adalah informasi yang perlu Anda ketahui seputar imunisasi HPV pada anak.

Fakta imunisasi HPV pada anak yang perlu diketahui orangtua

umur berapa anak vaksin HPV

Tak hanya orang dewasa, pemberian vaksin HPV sebaiknya dimulai sejak anak-anak sebagai salah satu cara pencegahan kanker serviks sebagaimana yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Mungkin, sebagai orangtua, Anda masih ragu apakah imunisasi atau vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks perlu dan aman diberikan pada anak Anda. Apalagi terdapat mitos-mitos terkait vaksin HPV yang perlu diluruskan kebenarannya.

Oleh karena itu, cek fakta-fakta yang perlu Anda ketahui seputar vaksin HPV untuk anak berikut ini.

1. Imunisasi HPV sudah terbukti keamanannya, terutama pada anak-anak

Fakta pertama, vaksin HPV sudah terbukti keamanannya, termasuk untuk anak. Hal ini karena semua jenis vaksin, termasuk vaksin HPV, pasti telah menjalani berbagai uji klinis yang panjang sebelum akhirnya didistribusikan ke masyarakat.

Uji klinis ini dilakukan oleh otoritas kesehatan pemerintah tempat vaksin itu berasal dan otoritas kesehatan lokal di tempat vaksin akan didistribusikan.

Otoritas kesehatan di Amerika Serikat, seperti Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan Food and Drugs Administration (FDA) merupakan dua instansi yang menjadi rujukan berbagai negara di dunia, selain Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah vaksin berlisensi, CDC dan FDA terus memantau setiap vaksin untuk memastikan keamanan dan keefektifannya. Bahkan, semua vaksin terus dikembangkan, diuji, dan dimonitor secara ketat meskipun vaksin sudah didistribusikan ke masyarakat.

Berdasarkan data yang dikumpulkan CDC sejak pertama kali vaksin diluncurkan sampai tahun 2015, uji klinis yang dilakukan secara hati-hati menunjukkan jika vaksin HPV aman dan efektif. Atas dasar hasil tersebut, di Amerika Serikat, vaksin HPV tetap direkomendasikan dan digunakan sebagai vaksinasi rutin.

2. Anak-anak disarankan imunisasi HPV sejak usia 9 tahun

Imunisasi atau vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks pada anak direkomendasikan agar dilakukan sejak dini. Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksinasi HPV untuk anak sejak usia 10 tahun.

Sementara itu, situs Kids Health, menganjurkan agar anak perempuan dan laki-laki mendapatkan vaksin ini pertama kali pada usia 9 tahun.

Untuk anak-anak berusia 9-14 tahun, vaksin sebaiknya diberikan dalam waktu 6-12 bulan sebanyak 2 kali suntikan. Sementara itu, untuk remaja dan usia dewasa awal (usia 15-26 untuk perempuan dan 15-21 untuk laki-laki), suntik vaksin HPV diberikan sebanyak 3 kali selama 6 bulan.

Di usia tersebut respons kekebalan tubuh anak sedang berada dalam tahap terbaiknya. Alhasil, tubuhnya akan secara efektif mampu mengembangkan sistem antibodi terhadap virus HPV yang mapan dalam jangka panjang.

Itu sebabnya, pemberian vaksin HPV sejak dini pada anak akan memberikan pencegahan yang sangat bagus ke depannya.

3. Vaksin HPV diberikan ketika seseorang anak belum aktif secara seksual

Selama ini kebanyakan orang beranggapan bahwa vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks pada anak-anak tidak perlu diberikan. Hal ini karena anak-anak usia tersebut belum aktif berhubungan seksual sehingga dirasa belum perlu mendapat vaksin untuk kanker serviks. Padahal, anggapan tersebut tidaklah tepat.

Justru, imunisasi HPV harus diberikan pada anak sebelum ia mulai aktif berhubungan seks karena virus ini menular lewat kontak seksual. Vaksin justru berperan untuk membangun benteng pertahanan awal, sebelum ada risiko kemungkinan penularan virus.

Lantas, bagaimana jika Anda sudah melakukan hubungan seksual tapi belum pernah melakukan vaksin? Anda tidak perlu khawatir. Vaksin HPV masih dapat diberikan kepada orang yang sudah melakukan hubungan seksual. Namun, sebelum mendapatkannya Anda dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear terlebih dulu.

4. Vaksinasi HPV untuk anak tidak hanya mencegah kanker serviks

Vaksin ini tidak hanya mampu mencegah risiko terkena kanker serviks pada anak, tapi juga untuk mencegah penyakit lainnya yang disebabkan oleh infeksi virus HPV.

Vaksin human papillomavirus juga berguna untuk mencegah pra-kanker anus, pra-kanker vulva, pra-kanker vagina, hingga kutil kelamin.

Tidak hanya itu, dengan melakukan vaksinasi untuk anak laki-laki juga dapat menurunkan risiko penularan virus HPV penyebab kanker serviks pada pasangan seksualnya di kemudian hari.

5. Vaksin HPV tidak menimbulkan efek samping yang berarti

Sama seperti imunisasi jenis lainnya, vaksin HPV juga bisa menimbulkan efek samping, tidak terkecuali pada anak-anak. Efek samping yang terjadi umumnya bersifat ringan.

Gejala-gejala efek samping dapat berupa nyeri dan kemerahan pada daerah bekas suntikan. Bagi beberapa orang mungkin juga akan mengalami demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri sendi atau otot, mual, muntah, atau sakit perut.

Efek samping lain yang dapat terjadi setelah pemberian imunisasi HPV pada anak adalah syncope (pingsan sesaat) yang umumnya tidak berbahaya. Untuk menghindari syncope, disarankan untuk tetap duduk selama minimal 15 menit setelah pemberian vaksin.

6. Imunisasi HPV tidak menyebabkan masalah kesuburan pada anak

Beberapa orangtua mungkin khawatir jika pemberian vaksin HPV pada anak-anak dapat menyebabkan masalah kesuburan di masa mendatang. Namun, nyatanya imunisasi HPV tidak terbukti menyebabkan masalah kesuburan pada anak.

Vaksin HPV bekerja untuk mencegah infeksi virus HPV penyebab kanker serviks pada anak. Dalam beberapa kasus, wanita mengalami kanker serviks sebelum mereka memiliki anak. Pengobatan kanker serviks seperti pengangkatan leher rahim dan rahim, kemoterapi, ataupun terapi radiasi dapat mengurangi kesuburan wanita.

Itu sebabnya, mencegah kanker serviks melalui vaksin HPV justru dapat mengurangi risiko tidak subur akibat harus menjalani pengobatan kanker serviks.

CDC bekerja sama dengan American Academy of Pediatrics (AAP), American Academy of Family Physicians (AAFP), dan American College of Obstetrics and Gynecologists (ACOG) sampai saat ini terus memantau keamanan imunisasi atau vaksin HPV untuk pencegah kanker serviks pada anak.

7. Imunisasi HPV pada anak cukup diberikan dua kali suntikan

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, vaksinasi HPV tidak perlu menunggu usia anak dewasa atau setelah menikah. Pada anak-anak usia 9-13/14 tahun, imunisasi HPV diberikan 2 dosis dengan cara menyuntikkan cairan ke otot bahu. Dosis  kedua diberikan setelah jangka waktu enam bulan hingga satu tahun kemudian.

Selalu konsultasi ke dokter terlebih dulu sebelum Anda memutuskan untuk memberi vaksin pencegah kanker serviks ini untuk anak Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kanker Serviks Stadium 3: Perkembangan, Angka Harapan Hidup, dan Pengobatan

Perkembangan kanker serviks stadium 3 sudah bukan hanya di dalam serviks, tapi sudah sampai ke area tubuh lainnya. Yuk, cari informasinya lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kanker Serviks, Health Centers 05/03/2020 . 7 menit baca

Kanker Serviks Stadium 2: Perkembangan, Peluang Sembuh, dan Pengobatan

Kanker serviks bisa terus berkembang hingga mencapai stadium 2. Seperti apa tahap perkembangan kanker serviks di stadium ini, dan bagaimana perawatannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kanker Serviks, Health Centers 04/03/2020 . 7 menit baca

Segala Hal yang Perlu Anda Tahu Soal Penyembuhan Kanker Serviks

Setelah pengobatan selesai, Anda akan masuk ke tahap penyembuhan kanker serviks. Apa saja yang perlu diperhatikan selama proses pemulihan kanker serviks?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kanker Serviks, Health Centers 03/03/2020 . 9 menit baca

6 Pilihan Obat Herbal untuk Kanker Serviks Melihat dari Sisi Medisnya

Selain dengan tindakan medis dari dokter, minum obat herbal juga dinilai berpotensi untuk menghambat perkembangan sel kanker serviks. Apa saja pilihannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kanker Serviks, Health Centers 28/02/2020 . 7 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

penderita kanker serviks

Kenali Komplikasi dan Harapan Hidup Kanker Serviks

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 27/03/2020 . 7 menit baca
tes kanker serviks saat hamil

Bolehkah Tes IVA Saat Hamil untuk Mendeteksi Kanker Serviks?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 20/03/2020 . 3 menit baca
biopsi kanker serviks

Berbeda dengan Pengangkatan Jaringan, Pahami Lebih Jauh Seputar Biopsi Serviks

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 08/03/2020 . 7 menit baca
pemeriksaan tes hpv dna

Memahami Prosedur Tes HPV DNA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 07/03/2020 . 6 menit baca