home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tekanan Darah Naik Setelah Operasi, Bahaya atau Tidak?

Tekanan Darah Naik Setelah Operasi, Bahaya atau Tidak?

Setelah menjalani operasi medis tertentu, memang ada beberapa reaksi tubuh yang membuat Anda merasa kurang nyaman, misalnya mual. Bahkan, kadang tekanan darah bisa naik dan tidak kunjung turun setelah lebih dari dua hari. Hal ini mungkin membuat Anda waswas. Oleh karena itu, pelajari lebih jauh soal terjadinya tekanan darah naik setelah operasi di bawah ini.

Penyebab terjadinya tekanan darah tinggi setelah operasi

jahitan operasi

Pada dasarnya, semua proses operasi atau pembedahan bisa menimbulkan efek samping. Salah satunya adalah kenaikan tekanan darah. Ternyata, tekanan darah naik setelah operasi memang mungkin saja terjadi dan bisa dijelaskan secara medis.

Tekanan darah normal berkisar pada 120 mmHg untuk tekanan darah atas (sistolik) dan 80 untuk tekanan darah bawah (diastolik). Anda bisa tergolong tekanan darah tinggi (hipertensi) apabila angkanya menunjukkan sistolik lebih dari 140 dan diastolik lebih dari 90.

Secara umum, tekanan darah tinggi patut Anda waspadai. Masalahnya, semakin tinggi tekanan darah, semakin keras pula kerja dari jantung untuk memompa darah keluar dari tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko aterosklerosis, gagal ginjal hingga serangan stroke dan serangan jantung.

Perlu Anda ketahui ada banyak alasan kenapa tekanan darah Anda bisa tinggi setelah menjalani operasi.

1. Nyeri

Nyeri bisa terjadi setelah tindakan operasi. Proses nyeri dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dari biasanya.

Namun, peningkatan tekanan darah tersebut bersifat sementara dan tekanan darah akan kembali normal setelah mengatasi nyeri, misalnya dengan minum obat pereda nyeri.

2. Berhenti minum obat hipertensi

Jika Anda secara rutin mengonsumsi obat darah tinggi kemudian harus memberhentikan konsumsi obat, Anda bisa saja mengalami kenaikan tekanan darah.

Biasanya sebelum menjalani operasi memang pasien melakukan puasa terlebih dulu. Akibatnya, Anda mungkin melewatkan dosis obat hipertensi yang biasa Anda konsumsi.

Maka dari itu, penting untuk mendiskusikan kondisi kesehatan Anda kepada tim medis sebelum dilakukannya operasi.

3. Efek obat bius

Obat-obatan yang membuat Anda tidur ketika operasi berlangsung juga bisa berefek pada tekanan darah Anda. Bahkan, ketika Anda baru saja tertidur, tekanan darah bisa meningkat drastis yang berkisar antara 20 hingga 30mmHg.

4. Kadar oksigen tubuh

Ketika Anda dalam proses bius, jaringan dalam tubuh Anda membutuhkan banyak oksigen. Nah, bisa jadi ada beberapa jaringan pada tubuh yang tidak mendapatkan oksigen dengan baik. Kondisi ini disebut dengan hipoksemia. Hal inilah yang akan menyebabkan tekanan darah naik setelah operasi.

5. Obat-obatan

Ada beberapa jenis obat bebas yang bisa meningkatkan tekanan darah. Termasuk beberapa obat pereda nyeri yaitu paracetamol (acetaminophen), ibuprofen, naproxen, hingga piroxicam.

Gejala tekanan darah tinggi setelah operasi yang perlu diwaspadai

kepala pusing saat puasa

Menurut American Heart Association sebagian besar orang yang mengalami tekanan darah tinggi tidak merasakan gejala. Seseorang mungkin baru mengetahui dirinya memgalami hipertensi ketika dilakukan pengecekan tensi darah.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan orang dengan hipertensi mengeluhkan suatu masalah kesehatan, yang mungkin berkaitan dengan kondisi lain. Jika Anda mengalami tanda dan gejala seperti berikut ini setelah menjalani operasi, baik itu rumah maupun rumah sakit, segera hubungi dokter.

1. Pusing

Banyak yang mengeluhkan bahwa pusing adalah gejala dari tekanan darah tinggi yang bisa muncul kapan saja, termasuk setelah operasi. Kondisi ini sebenarnya lebih mungkin menjadi efek samping obat hipertensi, ketimbang gejala hipertensi itu sendiri.

Akan tetapi, bila Anda mengalami pusing serta hilang keseimbangan, dan kesulitan berjalan, ini bisa jadi tanda peringatan stroke. Perlu Anda pahami bahwa hipertensi menjadi faktor risiko utama dari stroke. Jadi, jangan abaikan gejala ini bila Anda merasakannya.

2. Wajah memerah

Jarang, tapi beberapa orang yang mengalami tekanan darah tinggi, termasuk setelah operasi merasakan wajahnya memerah. Meskipun kondisi ini bisa terjadi saat tekanan darah Anda tinggi, ada banyak penyebab lain yang menyertai, contohnya mengalami stres emosional dan paparan cuaca dingin.

Setelah menjalani operasi, Anda mungkin perlu menjalani rawat inap yang membuat Anda bosan. Belum lagi memikirkan hasil operasi dan perawatan lanjutan yang bisa membuat Anda stres. Itulah sebabnya, kondisi ini bisa saja terjadi.

3. Mimisan

Hipertensi umumnya tidak menunjukkan gejala mimisan, kecuali dalam kasus krisis hipertensi. Ini merupakan kondisi darurat karena tekanan darah saat itu sekitar 180/120 mm Hg atau lebih tinggi.

Jika setelah operasi, Anda mengalami gejala tekanan darah tinggi ini beserta kepala pusing dan tidak enak badan, lakukan cek tensi darah segera. Lihat hasilnya dan tunggu lima menit dan lakukan pengecekan tensi darah kembali. Jika tekanan darah tetap tinggi, hubungi dokter.

Apakah tekanan darah tinggi setelah operasi berbahaya?

diabetes minum obat seumur hidup

Pada dasarnya, perubahan tekanan darah setelah operasi adalah hal yang umum terjadi. Tekanan darah yang tinggi atau hipertensi akan berkurang secara terus-menerus pasca operasi. Biasanya juga tak membutuhkan waktu yang lama sampai angka tekanan darah mencapai batas normal lagi, yaitu antara satu hingga 48 jam.

Jika sudah dua hari lebih tekanan darah Anda belum juga turun, bahkan terjadi hingga berhari-hari setelahnya, Anda perlu menghubungi dokter lebih lanjut.

Pengobatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah minum obat. Namun, dalam memilih obat, dokter perlu melihat seberapa parah kondisi Anda dan kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh. Beberapa obat yang biasanya dokter resepkan adalah obat diuretik, ACE inhibitor, dan calcium channel blocker.

Jika tekanan darah tetap tinggi setelah Anda minum tiga jenis obat yang berbeda, ini menandakan Anda mengalami hipertensi resisten. Memiliki hipertensi resisten tidak berarti tekanan darah Anda tidak akan pernah turun. Anda perlu melakukan tes kesehatan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya sehingga dokter bisa memilih pengobatan yang tepat.

Selain itu, dokter juga akan mengevaluasi obat-obatan yang Anda minum dan meminta Anda untuk melakiukan perubahan gaya hidup, seperti mengikuti diet DASH untuk mengontrol tekanan darah agar tidak melonjak naik.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Lonjaret, L., Lairez, O., Minville, V., & Geeraerts, T. (2014). Optimal perioperative management of arterial blood pressure. Integrated blood pressure control7, 49–59. https://doi.org/10.2147/IBPC.S45292.

Mayo Foundation for Medical Education and Research. (2021, January 16). High blood pressure (hypertension). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/diagnosis-treatment/drc-20373417.

What are the Symptoms of High Blood Pressure? www.heart.org. (n.d.). https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/why-high-blood-pressure-is-a-silent-killer/what-are-the-symptoms-of-high-blood-pressure.

Momota, Y., Kaneda, K., Arishiro, K., Kishimoto, N., Kanou, S., & Kotani, J. (2010). Changes in Blood Pressure During Induction of Anesthesia and Oral and Maxillofacial Surgery by Type and Timing of Discontinuation of Antihypertensive Drugs. Anesthesia Progress, 57(1), 13–17. https://doi.org/10.2344/0003-3006-57.1.13

Mayo Foundation for Medical Education and Research. (2020, February 22). Pain medications after surgery. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/pain-medications/art-20046452.

Managing Pain With Medications After Orthopaedic Surgery – OrthoInfo – AAOS. OrthoInfo. (n.d.). https://orthoinfo.aaos.org/en/recovery/managing-pain-with-medications/.

Varon, J., & Marik, P. E. (2008). Perioperative hypertension management. Vascular health and risk management4(3), 615–627. https://doi.org/10.2147/vhrm.s2471.

Staff, F. E. (2019, November 11). Pain Control After Surgery: Pain Medicines. familydoctor.org. https://familydoctor.org/pain-control-after-surgery-pain-medicines/.

Pain Control After Surgery: Symptoms, Treatment. Cleveland Clinic. (n.d.). https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11307-pain-control-after-surgery.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 6 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x