Apa Bedanya Hipoksia dan Hipoksemia?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernah dengar tentang hipoksia atau hipoksemia? Baik hipoksemia dan hipoksia adalah keadaan di mana tubuh Anda tidak memiliki cukup oksigen. Keduanya adalah kondisi yang sangat berbahaya; karena tanpa adanya oksigen, otak, hati, dan organ dalam tubuh lainnya akan rusak bahkan beberapa menit setelah gejala muncul.

Hipoksia dan hipoksemia seringkali disalahpahami sebagai satu istilah yang sama, karena sama-sama menggambarkan kegawatdaruratan akibat kekurangan oksigen dalam tubuh. Namun, hipoksemia dan hipoksia adalah dua kondisi yang sama sekali berbeda. Berikut penjelasannya.

Apa bedanya hipoksia dan hipoksemia?

Hipoksemia adalah rendahnya kadar oksigen dalam darah, khususnya di arteri. Hipoksemia merupakan tanda adanya masalah dalam sistem sirkulasi atau pernapasan yang dapat menyebabkan sesak napas.

Sedangkan hipoksia adalah rendahnya kadar oksigen dalam jaringan tubuh sebagai akibat dari rendahnya kadar oksigen di udara. Hipoksia dapat memiliki efek buruk pada jaringan tubuh, karena kurangnya kadar oksigen dalam jaringan akan mengganggu proses biologis penting dalam jaringan tubuh.

Bagaimana cara membedakan keduanya?

Hipoksemia ditentukan dengan mengukur kadar oksigen dalam sampel darah yang diambil dari arteri atau dengan mengukur saturasi oksigen darah Anda menggunakan oksimeter pulsa. Oksigen arteri normal adalah 75 sampai 100 milimeter merkuri (mm Hg).

Kadar oksigen arteri normal di bawah 60 mmHg biasanya mengindikasikan bahwa darah Anda membutuhkan suplemen oksigen. Sementara pembacaan dengan oksimeter dapat dikatakan normal berkisar antara 95 sampai 100 persen. Nilai oksimeter di bawah 90 persen mengindikasikan bahwa kadar oksigen dalam darah Anda rendah. Sedangkan hipoksia merupakan kondisi lanjutan dari hipoksemia, sehingga jika kadar oksigen dalam darah rendah maka meningkatkan risiko terjadinya hipoksia.

Hipoksia terjadi sebagai akibat dari hipoksemia, sehingga pada akhirnya kedua hal tersebut merupakan sebuah kejadian yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain

Apa penyebab hipoksia?

Penyebab utama hipoksia adalah hipoksemia. Namun, hipoksia juga dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang membuat seseorang berada pada kadar oksigen rendah, di antaranya adalah saat berada di ketinggian, seperti saat naik gunung, berada di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, keracunan gas atau zat kimia, penyakit tertentu –sepeti sleep apnea, asma, anemia, emfisema, penyakit paru interstisial, dll.

Apa saja gejala hipoksia?

Gejala hipoksia seringkali muncul mendadak dan cepat memburuk (akut), atau bersifat kronis. Beberapa gejala paling umum dari hipoksia adalah:

  • Sesak napas
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Detak jantung cepat
  • Halusinasi
  • Napas berbunyi (mengi)
  • Kulit berubah warna, menjadi biru atau merah keunguan

Seringkali, ketidaktahuan membuat seseorang yang mengalami hipoksia diberikan bantuan oksigen secara berlebih. Padahal, oksigen berlebih justru dapat meracuni jaringan tubuh. Kondisi ini disebut dengan hiperoksia yang dapat menyebabkan katarak, vertigo, kejang, dan pneumonia.

Langkah pengobatan hipoksia

Anda dianjurkan berkonsultasi ke dokter jika:

  • Sesak napas setelah Anda beraktivitas atau beristirahat
  • Sesak napas saat berolahraga atau latihan fisik
  • Terbangun dari tidur karena sesak napas (salah satu gejala sleep apnea)
  • Bibir dan kulit kebiruan (sianosis)

Jika Anda mengalami gejala tersebut atau beberapa gejala yang telah disebutkan diatas, segera konsultasikan dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Dan sekalipun gejala-gejala lanjutan sudah hilang, Anda tetap dianjurkan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter.

Bagaimana cara mencegah hipoksia?

Pencegahan hipoksia dapat dilakukan dengan menghindari penyebab atau kondisi yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh Anda. Jika hipoksia disebabkan oleh asma, maka untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, Anda dianjurkan untuk mengikuti terapi asma  -sesuai anjuran dokter. Dan untuk mengatasi sesak napas kronik, cobalah untuk berhenti menjadi perokok aktif, hindari asap pasif, terutama dari asap rokok, dan lakukan olahraga secara teratur.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Cara Aman Mengobati Luka dan Lecet di Vagina

Vagina Anda luka? Jangan digaruk atau dibersihkan dengan sembarang sabun. Apa penyebab lecet dan luka di vagina? Dan bagaimana mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

3 Manfaat Daun Mimba (Intaran), Tanaman Obat yang Serba Guna

Pohon mimba ternyata memiliki sejuta mnfaat, bukan hanya daun mimba saja lho. Yuk simak apa saya manfaat daun mimba dan bagian lainnya!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Herbal A-Z 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Obat Vertigo: Mana yang Paling Efektif?

Tergantung dari apa penyebabnya, sensasi ruangan berputar dan kepala berkunang akibat vertigo dapat ditangani dengan pilihan obat vertigo ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 26 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Tahukah Anda kalau makanan yang mengandung bakteri asam laktat menyehatkan? Makanan apa saja itu? Mari simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Fakta Gizi, Nutrisi 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bahaya pakai earphone saat tidur

Waspada Bahaya Infeksi Telinga Akibat Pakai Earphone Saat Tidur

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
jenis tambal gigi

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Apa Fungsi Obat Methylprednisolone

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
luka gatal mau sembuh

Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit