Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Coronavirus penyebab COVID-19 bisa berbahaya pada pasien dengan penyakit jantung. Menurut data sebuah studi, pasien jantung berisiko memiliki gejala yang fatal jika tertular COVID-19. Selain itu, virus ini juga bisa menyerang jantung pada pasien tanpa gangguan jantung sebelumnya.

Kewaspadaan tentang kesehatan jantung juga harus ditingkatkan menyusul dipublikasinya studi terbaru yang mengatakan pandemi COVID-19 berisiko pada penyakit jantung.

Alasan timbulnya komplikasi sakit jantung pada pasien COVID-19

pasien covid-19 dengan riwayat penyakit jantung

COVID-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan yang menyerang paru-paru tapi bahayanya pada jantung juga sesuatu yang patut diwaspadai.

Dokter spesialis jantung Vito Anggarino Damay mengatakan bahwa sekitar 49% pasien COVID-19 yang memiliki gejala berat dan dirawat di ruang ICU (intensive care unit) itu menderita peradangan jantung.

Ia menjelaskan, penyakit jantung menjadi salah satu masalah kesehatan yang berkaitan erat dengan COVID-19. Ada tiga poin yang dokter Vito tekankan terkait hubungan antara penyakit jantung dan COVID-19.

Pertama, virus COVID-19 menyerang paru-paru dan sistem pernapasan di mana paru dan jantung dihubungkan dengan pembuluh darah. Pembuluh darah bertugas membawa darah yang telah dipompa jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh dan sebaliknya.

“Kerja paru-paru dan jantung ini terhubung. Jadi kalau paru-paru rusak karena infeksi virus, jantung pasti akan kerja lebih berat,” jelas dokter Vito yang merupakan spokesperson Yayasan Jantung Indonesia (YJI).

Kedua, COVID-19 dapat menyerang jantung secara langsung. Dokter Vito menjelaskan, pasien COVID-19 bisa mengalami miokarditis atau peradangan otot jantung walaupun tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.

Sebuah studi awal menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang pasien dengan COVID-19 memiliki tanda-tanda cedera jantung, terlepas mereka memiliki gejala penyakit pernapasan atau tidak.

Ketiga, kaitan kesehatan jantung dengan COVID-19 juga terjadi karena adanya kecenderungan pembekuan pembuluh darah pada pasien COVID-19. Pembekuan pembuluh darah meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah dan memperberat kerja jantung.

Menurut dokter Vito, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasien COVID-19 mengalami perburukan bahkan meninggal.

Berkaitan ini tentunya membuat pasien yang telah memiliki penyakit jantung berisiko memiliki gejala yang berat dan fatal ketika terinfeksi COVID-19.

“Misalnya pasien gagal jantung memang fungsinya jantungnya sudah turun, dia akan jadi kepayahan kalau terinfeksi,” kata dokter Vito.

Beberapa kasus yang terjadi adalah pasien tersebut justru tidak mengetahui kalau dirinya memiliki gangguan pada jantung sebelum terinfeksi COVID-19.

Pentingnya kesehatan jantung selama pandemi

Kondisi Pasien Sakit Jantung Pada Masa Pandemi COVID-19, waspadai serangan jantung saat berolahraga

“Jadi, memang sangat erat kaitannya kenapa jantung ini harus dijaga terutama pada era pandemi seperti ini,” kata dokter Vito.

Kesehatan jantung selama pandemi harus dijaga dengan baik. Sayangnya, justru kondisi pandemi membuat sebagian pasien jantung tidak mengakses fasilitas kesehatan saat membutuhkan.

Sebuah penelitian menuliskan laporan bahwa selama masa pandemi COVID-19 hanya dua per tiga pasien serangan jantung yang pergi ke rumah sakit. Sepertiga sisanya terlambat pergi ke rumah sakit di antaranya karena takut tertular dan terbatasnya akses.

Menurut dokter Vito yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), kondisi ini juga terjadi di Indonesia.

“Ini terjadi karena mereka takut terinfeksi COVID-19. Jadi kalau pasien mengalami serangan jantung, mereka mungkin nggak datang ke rumah sakit. Pandemi ini memang disebut memiliki efek collateral damage,” jelasnya.

Collateral damage dimaksudkan bahwa pandemi COVID-19 ini menyebabkan sakit pada orang yang terinfeksi virusnya dan menyebabkan penyakit yang lebih berat pada orang-orang sehat.

Edukasi perihal menjaga kesehatan jantung selama pandemi COVID-19 menjadi semakin penting untuk disebarkan pada masyarakat.

Peran komunitas untuk tingkatkan kesadaran

Yayasan Jantung Indonesia (YJI) menjadi salah satu yang aktif menyebarkan informasi menjaga kesehatan jantung selama masa pandemi COVID-19. Misalnya cara melakukan pengecekan tekanan darah di rumah dan talk show kesehatan jantung melalui siaran di sosial media.

YJI juga melakukan siaran langsung senam kesehatan jantung dan olahraga yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini dilakukan agar kesehatan jantung tetap terjaga dengan porsi olahraga yang tepat.

Menurut dokter Vito, edukasi waspada serangan jantung saat berolahraga adalah salah satu yang terpenting. Porsi olahraga yang berlebihan justru bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

YJI merupakan organisasi masyarakat yang berfokus meningkatkan kesadaran kesehatan jantung dan pembuluh darah. Organisasi ini juga memberikan bantuan bagi pasien-pasien yang membutuhkan.

“Bagi keluarga dan pasien sakit jantung yang membutuhkan bantuan YJI selama pandemi COVID-19, bisa menghubungi YJI melalui telepon dan berkomunikasi dengan bagian medis,” ujar perwakilan YJI kepada Hello Sehat.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Wawancara Dr. Vito Anggarino Damay, Sp.JP., M.Kes., FIHA., FICA, FAsCC.
  • Wawancara Yayasan Jantung Indonesia
  • Garcia, S., Albaghdadi, M., Meraj, P., Schmidt, C., Garberich, R., & Jaffer, F. et al. (2020). Reduction in ST-Segment Elevation Cardiac Catheterization Laboratory Activations in the United States During COVID-19 Pandemic. Journal Of The American College Of Cardiology, 75(22), 2871-2872. doi: 10.1016/j.jacc.2020.04.011
  • Guo T, Fan Y, Chen M, et al. Cardiovascular Implications of Fatal Outcomes of Patients With Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). JAMA Cardiol. 2020;5(7):811–818. doi:10.1001/jamacardio.2020.1017
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x