Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi penyakit memberikan dampak beragam pada setiap orang. Sebagian orang berisiko mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) akibat melewati masa pandemi COVID-19 yang mengguncang. Bagaimana peristiwa-peristiwa selama masa pandemi COVID-19 membuat seseorang mengalami PTSD?

Risiko PTSD akibat melewati masa pandemi COVID-19

PTSD pandemi COVID-19 pria stres

PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan psikologi yang terjadi pada seseorang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa mengejutkan, menakutkan, atau berbahaya.

Gejala gangguan psikologi ini terjadi pada petugas kesehatan garis depan dan orang-orang yang melakukan karantina mandiri pascawabah SARS pada 2003 lalu.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun 2010 melaporkan bahwa total 47,8% subjek mengalami PTSD pada beberapa titik waktu setelah wabah SARS. Semua subjek ini mengidentifikasi wabah SARS sebagai pemicu trauma.

Dalam studi lainnya, peneliti di Canada menemukan bahwa hampir sepertiga orang yang dikarantina saat wabah SARS mengalami PTSD atau depresi. Studi tersebut juga menyebutkan berinteraksi dengan seseorang yang positif SARS bisa meningkatkan kemungkinan PTSD atau gejala depresi .

Para ahli mengatakan, pandemi COVID-19 juga dapat memiliki efek yang sama yaitu risiko mengalami gangguan PTSD.

Pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan stres dan kecemasan. Stres dan cemas bisa terjadi pada seseorang karena takut terinfeksi atau karena ketidakpastian masa pandemi tentang bagaimana itu akan mempengaruhi secara sosial dan ekonomi.

Bahkan walaupun tidak didiagnosis PTSD secara klinis, ada kemungkinan reaksi emosional yang kuat terhadap trauma COVID-19 dapat bertahan relatif lama setelah peristiwa berlalu.

Karena intensitas dampak mental dari pandemi termasuk pada remaja yang meningkat di seluruh dunia, para ahli epidemiologi dari GlobalData memprediksi adanya peningkatan risiko PTSD akibat pengalaman peristiwa pandemi.

cemas covid-19

Siapa saja yang berisiko mengalami PTSD pasca pandemi?

cara mengatasi stres

“Ketika berpikir tentang sebuah peristiwa traumatis, ini bukan hanya tentang peristiwanya, tapi bagaimana peristiwa itu berdampak pada Anda,” ujar Luana Marques, psikolog klinis dan profesor di departemen psikiatri Harvard Medical School.

Riset-riset terdahulu yang dilakukan setelah peristiwa bencana seperti wabah SARS memberikan antisipasi akan adanya peningkatan angka PTSD pada masa pandemi ini. Berikut kemungkinan kelompok orang yang berisiko mengalami PTSD akibat pandemi COVID-19.

1. Pasien yang sembuh dari COVID-19

Penelitian menunjukkan, PTSD muncul pada banyak pasien yang pernah dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU). Mereka mengingat bagaimana mereka berada pada kondisi antara hidup dan mati.

Studi Johns Hopkins pada pasien dengan cedera paru akut yang dirawat di ICU menunjukkan bahwa 35% dari mereka mengalami PTSD klinis dua tahun setelah keluar dari rumah sakit.

2. Petugas medis garda depan penanganan COVID-19

Pada masa pandemi, petugas kesehatan menyaksikan lebih banyak kesakitan dan kematian daripada biasanya. Selain itu, risiko besar tertular COVID-19 juga bisa menyebabkan munculnya kekhawatiran dan stres.

Studi yang dipublikasi SAGE Public Health Emergency Collection menyatakan bahwa kemungkinan ada 10% lebih banyak staf kesehatan lini depan yang berisiko PTSD selama pandemi COVID-19 ini.

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

3. Mereka yang kehilangan keluarga karena COVID-19

Perasaan kehilangan dan duka akibat kehilangan orang yang sayang, ditambah tidak bisa berada di samping orang yang disayang di detik-detik terakhir kalinya dialami oleh mereka yang kehilangan keluarga akibat COVID-19. Ini juga bisa menjadi pemicu risiko PTSD.

4. Orang yang terpukul secara ekonomi

Jutaan orang di Indonesia dilaporkan kehilangan pekerjaan selama masa pandemi COVID-19. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini bisa membuat mental terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental dan kemungkinan mendapati gejala PTSD.

Beberapa orang mungkin akan mengalami gejala PTSD selama dan setelah pandemi COVID-19. Menjaga kesehatan psikis diri sendiri mesti diutamakan. Bila tidak bisa sendiri, cobalah konsultasi keluhan mental dengan psikolog atau psikiater.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Rogers, J., Chesney, E., Oliver, D., Pollak, T., McGuire, P., & Fusar-Poli, P. et al. (2020). Psychiatric and neuropsychiatric presentations associated with severe coronavirus infections: a systematic review and meta-analysis with comparison to the COVID-19 pandemic. The Lancet Psychiatry. doi: 10.1016/s2215-0366(20)30203-0
  • Hawryluck, L., Gold, W., Robinson, S., Pogorski, S., Galea, S., & Styra, R. (2004). SARS Control and Psychological Effects of Quarantine, Toronto, Canada. Emerging Infectious Diseases, 10(7), 1206-1212. doi: 10.3201/eid1007.030703
  • Bienvenu, O., Gellar, J., Althouse, B., Colantuoni, E., Sricharoenchai, T., & Mendez-Tellez, P. et al. (2013). Post-traumatic stress disorder symptoms after acute lung injury: a 2-year prospective longitudinal study. Psychological Medicine, 43(12), 2657-2671. doi: 10.1017/s0033291713000214
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x