Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi penyakit memberikan dampak beragam pada setiap orang. Sebagian orang berisiko mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) akibat melewati masa pandemi COVID-19 yang mengguncang. Bagaimana peristiwa-peristiwa selama masa pandemi COVID-19 membuat seseorang mengalami PTSD?

Risiko PTSD akibat melewati masa pandemi COVID-19

PTSD pandemi COVID-19 pria stres

PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan psikologi yang terjadi pada seseorang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa mengejutkan, menakutkan, atau berbahaya.

Gejala gangguan psikologi ini terjadi pada petugas kesehatan garis depan dan orang-orang yang melakukan karantina mandiri pascawabah SARS pada 2003 lalu.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun 2010 melaporkan bahwa total 47,8% subjek mengalami PTSD pada beberapa titik waktu setelah wabah SARS. Semua subjek ini mengidentifikasi wabah SARS sebagai pemicu trauma.

Dalam studi lainnya, peneliti di Canada menemukan bahwa hampir sepertiga orang yang dikarantina saat wabah SARS mengalami PTSD atau depresi. Studi tersebut juga menyebutkan berinteraksi dengan seseorang yang positif SARS bisa meningkatkan kemungkinan PTSD atau gejala depresi .

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Para ahli mengatakan, pandemi COVID-19 juga dapat memiliki efek yang sama yaitu risiko mengalami gangguan PTSD. 

Pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan stres dan kecemasan. Stres dan cemas bisa terjadi pada seseorang karena takut terinfeksi atau karena ketidakpastian masa pandemi tentang bagaimana itu akan mempengaruhi secara sosial dan ekonomi.

Bahkan walaupun tidak didiagnosis PTSD secara klinis, ada kemungkinan reaksi emosional yang kuat terhadap trauma COVID-19 dapat bertahan relatif lama setelah peristiwa berlalu.

Karena intensitas dampak mental dari pandemi termasuk pada remaja yang meningkat di seluruh dunia, para ahli epidemiologi dari GlobalData memprediksi adanya peningkatan risiko PTSD akibat pengalaman peristiwa pandemi.

cemas covid-19

Siapa saja yang berisiko mengalami PTSD pasca pandemi?

cara mengatasi stres

“Ketika berpikir tentang sebuah peristiwa traumatis, ini bukan hanya tentang peristiwanya, tapi bagaimana peristiwa itu berdampak pada Anda,” ujar Luana Marques, psikolog klinis dan profesor di departemen psikiatri Harvard Medical School.

Riset-riset terdahulu yang dilakukan setelah peristiwa bencana seperti wabah SARS memberikan antisipasi akan adanya peningkatan angka PTSD pada masa pandemi ini. Berikut kemungkinan kelompok orang yang berisiko mengalami PTSD akibat pandemi COVID-19.

1. Pasien yang sembuh dari COVID-19

Penelitian menunjukkan, PTSD muncul pada banyak pasien yang pernah dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU). Mereka mengingat bagaimana mereka berada pada kondisi antara hidup dan mati.

Studi Johns Hopkins pada pasien dengan cedera paru akut yang dirawat di ICU menunjukkan bahwa 35% dari mereka mengalami PTSD klinis dua tahun setelah keluar dari rumah sakit.

2. Petugas medis garda depan penanganan COVID-19

Pada masa pandemi, petugas kesehatan menyaksikan lebih banyak kesakitan dan kematian daripada biasanya. Selain itu, risiko besar tertular COVID-19 juga bisa menyebabkan munculnya kekhawatiran dan stres.

Studi yang dipublikasi SAGE Public Health Emergency Collection menyatakan bahwa kemungkinan ada 10% lebih banyak staf kesehatan lini depan yang berisiko PTSD selama pandemi COVID-19 ini.

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

3. Mereka yang kehilangan keluarga karena COVID-19

Perasaan kehilangan dan duka akibat kehilangan orang yang sayang, ditambah tidak bisa berada di samping orang yang disayang di detik-detik terakhir kalinya dialami oleh mereka yang kehilangan keluarga akibat COVID-19. Ini juga bisa menjadi pemicu risiko PTSD.

4. Orang yang terpukul secara ekonomi

Jutaan orang di Indonesia dilaporkan kehilangan pekerjaan selama masa pandemi COVID-19. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini bisa membuat mental terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental dan kemungkinan mendapati gejala PTSD.

Beberapa orang mungkin akan mengalami gejala PTSD selama dan setelah pandemi COVID-19. Menjaga kesehatan psikis diri sendiri mesti diutamakan. Bila tidak bisa sendiri, cobalah konsultasi keluhan mental dengan psikolog atau psikiater.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cemas atau Takut Saat Tidak Memegang Ponsel? Bisa Jadi Pertanda Nomophobia

Kecanduan smartphone bisa menyebabkan gangguan kecemasan yang disebut nomophobia. Apa sih sebenarnya kondisi ini? Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Kecemasan 1 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ketua Komnas KIPI, Prof. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed memaparkan data KIPI yang terjadi selama vaksinasi COVID-19 dilakukan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Self esteem adalah nilai seseorang terhadap dirinya sendiri secara menyeluruh. Secara singkat, disebut juga harga diri. Yuk, ketahui self esteem secara lengkap.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Mental Lainnya 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Vaksinasi COVID-19 akan diberikan pada 70% persen penduduk dalam waktu 15 bulan demi mencapai herd immunity. Tapi vaksin saja tak cukup.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
stockholm syndrome adalah

Stockholm Syndrome: Ketika Sandera Justru Bersimpati Pada Penculiknya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
main boneka saat dewasa

Masih Suka Main Boneka Saat Dewasa, Apakah Normal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit