Beberapa Ahli Memprediksi Berakhirnya Pandemi COVID-19, Mana yang Akurat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sudah lebih dari satu bulan sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Indonesia. Selama itu pula pandemi COVID-19 memaksa kita untuk beraktivitas dengan segala keterbatasan. Tidak heran jika banyak yang bertanya-tanya dan mencari prediksi kapan pandemi COVID-19 berakhir. 

Coronavirus penyebab infeksi COVID-19 masih menjadi musuh tak dikenal. Para ilmuwan mencoba memprediksi dengan beberapa cara perhitungan dan model penelitian. Hanya saja, prediksi tersebut dihitung dari data yang terbatas.

Beberapa prediksi kapan pandemi COVID-19 berakhir dari para ilmuwan

Prediksi berakhirnya COVID-19

Ada beberapa prediksi terkait kapan akhir dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia. Ilmuwan dari berbagai universitas di indonesia hingga pemerintah memberikan tebakannya.

1. Pandemi COVID-19 di Indonesia berakhir pada 7 Oktober 2020

Salah satu perhitungan terbaru dipublikasi oleh Singapore University of Technology and Design (STUD) pada Senin (27/4) lalu. Penelitian ini dibuat menggunakan metode matematika dengan data yang diambil dari berbagai negara.

Tim Data-Driven Innovation Lab SUTD memprediksi penyebaran coronavirus di Indonesia akan berakhir pada 6 Juni 2020, di mana 97% kasus sudah selesai. Kasus positif COVID-19 akan sepenuhnya selesai pada awal September 2020.

Dalam catatannya, mereka menginformasikan bahwa hasil ini akan terus berubah seiring perkembangan data terbaru.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

2. UGM prediksi pandemi COVID-19 akan menurun di akhir Juli 2020

Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dedi Rosadi, memprediksi pandemi COVID-19 akan mewabah di Indonesia hingga dua bulan ke depan.

Mengacu pada data yang dipublikasi pemerintah hingga Kamis (23/4) lalu, peneliti memperkirakan puncak kasus akan terjadi pada Mei dan menurun pada akhir Juli 2020. 

Studi ini adalah hasil pemodelan matematika yang berdasar pada data nyata atau probabilistic data-driven model (PPDM). Keakuratan prediksi ini bergantung pada beberapa faktor termasuk pembatasan ketat, tidak mudik saat pandemi COVID-19, dan tidak ada ritual peribadatan (seperti salat) dengan jumlah jamaah besar.

Selain dua prediksi di atas, ada beberapa prediksi lain terkait waktu berakhirnya penyebaran COVID-19 di Indonesia. Di antaranya dari Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, sampai Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo dan Presiden Joko Widodo.

herd immunity coronavirus

Alasan tidak ada prediksi yang benar-benar akurat

Prediksi berakhirnya COVID-19

Salah satu cara menjawab pertanyaan kapan pandemi COVID-19 berakhir adalah dengan menghitung prediksi melalui pemodelan infeksi penyakit menular. Pemodelan ini merupakan alat untuk mencari tahu apa yang akan terjadi berdasarkan formulasi matematika.

Dalam perbincangan dengan Hello Sehat, ahli epidemiologi Universitas Negeri Padjajaran dr. Panji Hadisoemarto menjelaskan fungsi prediksi ini dalam kelanjutan penanganan COVID-19 dan beberapa alasan yang membuatnya tidak bisa seluruhnya akurat.

Dokter Panji menjelaskan bahwa setiap pemodelan untuk membuat prediksi pasti membutuhkan data. Data yang digunakan idealnya adalah data pertambahan kasus yang dilaporkan setiap hari tanpa ada keterlambatan. Hanya saja, data yang ideal tersebut belum tersedia.

“Masalahnya (dari seluruh kasus yang ada), kita tidak tahu berapa persen yang dilaporkan. Kita juga tidak tahu pasti berapa lama keterlambatan pelaporan. Jadi data ini tidak mewakili pertambahan kasus yang sebenarnya,” jelas dr. Panji.

Ia menambahkan jika data tidak mewakili pertambahan kasus yang sebenarnya, akan ada bias (penyimpangan) pada hasil akhir.

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

Selain itu, jika ditilik lebih dalam, setiap laporan studi mencatat beberapa syarat yang membuat hasil prediksi bisa berubah-ubah.

Misalnya, perhitungan prediksi dilakukan pada saat PSBB diterapkan dengan ketat. Jika PSBB dilonggarkan atau masyarakat banyak yang melanggar aturan PSBB, hasil perhitungan prediksi jadi tidak relevan lagi.

Walaupun prediksi berakhirnya COVID-19 membawa harapan dan angin segar untuk merencanakan banyak hal di masa depan, kita tidak bisa terlalu optimis menganggap bahwa hasil tersebut akan akurat. Apalagi jika hanya membaca judul berita ‘Pandemi COVID-19 Berakhir Juli’ dan langsung percaya mentah-mentah informasi tersebut.

“Hati-hati sekali. Kita tidak bisa menganggap hasil modeling itu sebagai kebenaran,” jelas dr. Panji. 

Banyak prediksi COVID-19 berakhir dengan sedikit petunjuk

Prediksi berakhirnya COVID-19

Dengan melihat hasil yang berbeda-beda, kita bisa paham bahwa beberapa prediksi berakhirnya COVID-19 tidak akurat. Menurut dr. Panji, fungsi studi prediksi ini bukan untuk memprediksi masa depan tapi untuk mempengaruhi tindakan preventif di masa depan.

“Mungkin secara kuantitatif tidak akurat. Namun secara kualitatif, kita bisa melihat gambarannya dan (hasil tersebut) bisa cukup bermanfaat untuk jadi masukan kebijakan,” jelas dr. Panji.

Dari prediksi-prediksi tersebut, kita juga bisa tahu bahwa dengan menerapkan cara hidup bersih dan mengikuti aturan pembatasan hasilnya akan terlihat terutama dalam meratakan kurva pandemi COVID-19.

Ada beberapa skenario bagaimana akhir pandemi COVID-19. Namun yang jelas, masih ada jalan panjang yang harus kita lalui. Bahkan saat angka kasus mulai berkurang dan pembatasan dilonggarkan, kita tidak bisa lengah. Kita harus mewaspadai datangnya gelombang kedua COVID-19.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap menaati imbauan, menjaga kebersihan, dan menerapkan physical distancing.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit