Berbagai Jenis Pengobatan COVID-19, Mana yang Paling Ampuh?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ahli di seluruh dunia mencoba melakukan berbagai terobosan untuk menemukan pengobatan terbaik bagi pasien COVID-19. Uji coba berbagai alternatif pengobatan tersebut dilakukan bersamaan dengan penelitian untuk mellihat metode mana yang paling efektif dalam menangani pasien COVID-19. Mana saja pengobatan yang terbukti efektif?

Pengobatan apa saja yang dilakukan untuk menangani pasien COVID-19?

penanganan pengobatan pasien covid-19 dengan interferon beta

Pengobatan COVID-19 dengan interferon beta dinyatakan gagal

Protein interferon beta awalnya dipercaya dapat mengurangi keparahan gejala pada pasien COVID-19. Interferon beta adalah protein yang secara alami dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi virus atau bakteri. Pasien yang tidak bisa menghasilkan jumlah interferon beta yang cukup akan rentan terhadap kerusakan paru-paru yang disebabkan infeksi virus. 

Dalam uji klinis berskala kecil, interferon beta yang dihirup dapat mengurangi pasien risiko gejala pernapasan parah pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Pasien yang dirawat dengan interferon beta juga memiliki dua kali kemungkinan pulih total selama 16 hari periode pengobatan. 

Kemampuan menjanjikan dari terapi interferon beta ini diteliti kembali dalam pengujian yang lebih besar.

Para ahli dari Oxford University, Inggris, bersama beberapa lembaga penelitian di dunia membentuk tim uji klinis pada beberapa pengobatan COVID-19 di antaranya Remdesivir, Hydroxychloroquine, Lopinavir (dosis kombinasi Ritonavir), dan beta interferon. 

Hasilnya beta interferon yang disuntikkan langsung pada pasien COVID-19 tidak menunjukkan adanya manfaat berarti. Termasuk 3 obat lainnya,  tidak ada satu pun yang ampuh mengurangi jumlah kematian pasien, mengurangi pasien yang membutuhkan ventilator, ataupun mengurangi jumlah yang harus dirawat di rumah sakit. 

“Remdesivir, Hydroxychloroquine, Lopinavir, dan Interferon tampaknya memiliki sedikit efek atau tidak berefek sama sekali pada pasien COVID-19 di rumah sakit,” tulis peneliti.

Hasil uji klinis skala besar ini telah dipublikasi di jurnal MedRxiv Kamis (15/10) rencananya akan dipublikasi di The New England Journal of Medicine setelah melalui tinjauan rekan sejawat. 

“Kami ingin sekali memiliki pengobatan yang manjur untuk pasien COVID-19. Tapi lebih baik mengetahui apakah suatu obat betul-betul manjur atau tidak daripada tidak mengetahui dan terus menggunakannya,” kata Soumya Swaminathan, salah satu peneliti yang juga menjadi kepala ilmuwan di WHO. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,298,608

Confirmed

1,104,990

Recovered

35,014

Death
Distribution Map

Remdesivir

remdesivir gagal menjadi pilihan pengobatan pasien covid-19

Hasil uji klinis terbaru yang dilakukan bersamaan dengan uji klinis interferon beta menyatakan remdesivir tidak memiliki efek berarti pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. 

Para ahli menyebut fakta ini membuat mereka kecewa, mengingat penelitian-penelitian skala kecil sebelumnya menunjukkan adanya manfaat yang menjanjikan. 

Remdesivir ini awalnya menjalani uji coba di China pada awal masa pandemi, tapi tidak dilanjutkan karena kasus penularan sudah berhasil dikendalikan dan tidak ada cukup pasien untuk diteliti. Uji klinis lanjutan dilakukan di AS, hasilnya disebut menjanjikan karena terlihat menurunkan angka pasien yang dirawat di rumah sakit.

Tapi uji klinis besar yang baru-baru ini selesai dilakukan menunjukkan remdesivir tidak ampuh untuk pengobatan pasien COVID-19.  

Tocilizumab

obat covid-19 pengobatan

Tocilizumab adalah obat yang digunakan untuk mengobati radang sendi. Obat ini juga berfungsi untuk memblokir protein peradangan (Interleukin-6) yang dilepaskan secara berlebihan.

Studi tentang dampak tocilizumab pada COVID-19 menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa ahli berpendapat bahwa tocilizumab mengurangi pasien rawat inap yang membutuhkan ventilator, dan mengurangi angka kematian pasien. Studi lainnya menunjukkan bahwa obat tersebut tidak memiliki efek apapun dalam pengobatan pasien COVID-19.

Namun, kedua studi tersebut sama-sama dilakukan dalam skala kecil. 

Satu studi observasi besar menemukan efek positif, tetapi faktor lain (seperti perbedaan usia, penyakit penyerta, dan perawatan lain) dapat memengaruhi hasil pengobatan.

Karena itu masih diperlukan studi yang lebih besar dan lebih kuat bagi Tocilizumab untuk pengobatan pada pasien COVID-19.

Plasma darah pasien sembuh (Plasma Convalescent)

Plasma darah pasien covid-19 sembuh

Pengobatan COVID-19 dengan menggunakan plasma darah dari pasien yang telah sembuh menjadi salah satu pertimbangan ahli. 

Saat seseorang sembuh dari COVID-19, sistem kekebalan tubuh biasanya akan membentuk antibodi yang mampu melawan penyakit tersebut. Plasma darah yang mengandung antibodi tersebut ditransfusikan ke pasien COVID-19. Cara ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan langsung pada penerimanya yang belum mampu menumbuhkan antibodinya sendiri secara alami. 

Meski demikian belum ada bukti kuat bahwa plasma darah dapat mengobati pasien terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Selain itu metode ini juga memiliki efek samping bisa menimbulkan alergi yang parah. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
digital fatigue

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit