Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kepemimpinan Ternyata Mempengaruhi Kecemasan di Tengah Pandemi

Kepemimpinan Ternyata Mempengaruhi Kecemasan di Tengah Pandemi

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Umumnya, COVID-19 menyerang sistem pernapasan tubuh manusia. Namun, COVID-19 juga mempunyai dampak psikologis bagi kebanyakan orang, termasuk para pemimpin seperti presiden. Bagaimana pengaruh kepemimpinan terhadap kecemasan COVID-19?

Pengaruh kepemimpinan terhadap kecemasan COVID-19

Seiring dengan meningkatnya angka kasus COVID-19 dan imbauan physical distancing untuk memperlambat penyebaran virus, tantangan psikologis pun ikut meningkat. Peran media sosial cukup penting agar masyarakat dapat berhubungan secara tidak langsung dengan orang lain, termasuk pemimpin mereka.

Bagi beberapa pemimpin, seperti presiden di Indonesia, menggunakan media sosial tidak hanya untuk memberikan informasi. Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk memberikan pengaruh kepemimpinan mereka agar kecemasan terhadap COVID-19 menurun.

Walaupun demikian, tidak semua pemimpin dunia menggunakan metode ini, seperti Kanselir Jerman, Angela Merkel. Hal ini yang membuat para peneliti studi dari Journal of Public Health ingin menentukan tingkat kecemasan COVID-19 dan kepercayaan masyarakat di Jerman pada pemerintah.

Para ahli dalam penelitian tersebut mencoba meninjau parameter kesehatan 12.244 peserta yang merupakan masyarakat Jerman. Para peserta diminta untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dalam rentang waktu dua minggu, yaitu 10 sampai 24 Maret.

Daftar pertanyaan yang diberikan berupa tingkat ancaman COVID-19 yang dirasakan, kepercayaan terhadap pemerintah Jerman, dan tingkat kecemasan umum. Selain itu, peneliti juga menganalisis data kesehatan mental yang berhubungan dengan tindakan kepemimpinan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Hasilnya, dari 10 Maret hingga hari-hari selanjutnya, ada peningkatan yang cukup stabil terhadap kecemasan dan depresi. Peningkatan tersebut diiringi dengan pengumuman penutupan fasilitas publik oleh pihak berwenang. Puncak rasa cemas dan depresi meningkat setelah perbatasan ditutup selama dua hari.

Pada 18 Maret, Angela Merkel mengadakan pidato yang belum pernah dilakukan pada masyarakat Jerman. Itu membuat depresi dan kecemasan ikut menurun.

Walaupun terdapat lonjakan kembali setelah imbauan physical distancing digalakkan, kedua efek psikologis akibat COVID-19 tersebut jauh di bawah level sebelum pidato.

Dari survei tersebut terlihat bahwa pengaruh kepemimpinan Kanselir Jerman cukup besar terhadap kecemasan akibat COVID-19. Pidato Angela Merkel membuat sebagian besar masyarakat Jerman merasa puas dengan langkah yang diambil pemerintah.

cemas covid-19

Tingkatkan kepercayaan dan turunkan rasa cemas COVID-19

Selain rasa cemas dan depresi secara umum, peneliti juga melihat tingkat ancaman COVID-19 yang dirasakan peserta. Tingkat ancaman tersebut dilihat bagaimana reaksi masyarakat dalam menghadapi pandemi, seperti menimbun bahan makanan dan masker.

Pengaruh kepemimpinan seperti pada pemerintah Jerman cukup besar terhadap tingkat kepercayaan masyarakat dan kecemasan akibat COVID-19. Walaupun awalnya cukup rendah, penutupan fasilitas umum dan perbatasan ternyata menunjukkan lonjakan yang berarti.

Setelah itu, masyarakat juga menunjukkan peningkatan yang stabil. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka cukup puas dengan langkah pemerintah dan tingkat kepercayaan tinggi pada otoritas politik, seperti Kanselir Jerman.

Menurut American Psychology Association, situasi ini sangat mungkin terjadi mengingat kebanyakan orang mencari bimbingan tentang apa yang perlu dilakukan. Ketidakpastian masa pandemi sungguhlah butuh bentuk kepemimpinan yang kuat, tenang, dan dapat dipercaya.

Bimbingan tersebut tidak hanya berlaku pada pemimpin politik saja, seperti presiden, melainkan juga orangtua, guru, hingga pimpinan perusahaan. Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tetap berpikir positif saat pandemi COVID-19 dengan menggunakan kepemimpinan.

1. Mulailah dengan mengelola stres

stres kerja menyebabkan stroke

Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan pengaruh kepemimpinan terhadap kecemasan COVID-19 adalah mulai dengan mengelola stres.

Masyarakat memandang pemimpin sebagai orang yang penuh dengan ketenangan dan penuh dengan pertimbangan setiap keputusan dan tindakan mereka. Pandemi COVID-19 tentu membuat semua pemimpin menjadi stres, tetapi menghadapi masalah dengan emosional justru menambah stres masyarakat.

Maka dari itu, para pemimpin, baik orangtua hingga presiden, mencoba mulai mengelola stres. Anda juga perlu memahami apa yang menyebabkan reaksi yang cukup emosional, termasuk ketika menghadapi tuntutan tingkat tinggi.

Atasi Susah Tidur Akibat Stres Selama Pandemi COVID-19 dengan 4 Cara Ini

2. Jujur untuk membangun kepercayaan

Kejujuran dan transparansi adalah kunci utama dari memanfaatkan pengaruh kepemimpinan Anda terhadap kecemasan COVID-19. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih percaya kepada Anda.

Pemimpin yang dapat dipercaya atau kredibel menunjukkan bahwa mereka paham terhadap risiko dan konsekuensi pada suatu situasi. Pada saat yang sama pemimpin tidak memberikan harapan kepada masyarakat bahwa mereka mengetahui semua jawaban.

Setidaknya, dengan mengakui ketidaktahuan tersebut, pemimpin berusaha untuk bertanya kepada para ahli lainnya sebagai upaya menenangkan masyarakat.

Selain itu, menyampaikan berita dengan transparan dan terbuka, termasuk berita buruk dengan cukup jelas, juga diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak salah paham dan memandang semuanya baik-baik saja.

Pemimpin yang tidak membagikan semua fakta dengan kurang jelas justru menyebabkan kepanikan dan reaksi yang lebih parah. Oleh karena itu, kredibilitas, transparansi, dan kejujuran diperlukan di saat-saat seperti ini.

3. Optimis dan berempati saat menyebarkan informasi

cara bijak menggunakan media sosial

Pada saat menyebarkan informasi, baik lewat media sosial maupun pidato biasa, para pemimpin sebaiknya mengenali situasi terlebih dahulu. Di masa pandemi COVID-19 seperti ini, ketidakpastian dan kecemasan yang dialami masyarakat cukup beragam.

Terlebih lagi ketika pemimpin sedang mengumumkan sebuah keputusan yang berdampak pada stres masyarakat, seperti penutupan sekolah dan pengurangan jam kerja. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang dapat memberikan mereka harapan dan kendali.

Dengan memberikan langkah-langkah yang spesifik, seperti protokol kesehatan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), setidaknya membantu masyarakat untuk mengelola rasa khawatir dan cemas di masa pandemi.

4. Menjadi panutan

Pada masa pandemi seperti ini, kebanyakan orang mungkin tidak tahu bagaimana harus bersikap. Masa pandemi COVID-19 inilah yang membuat masyarakat melihat pemimpin sebagai panutan, setidaknya untuk mengurangi kecemasan.

Maka dari itu, pemimpin perlu konsisten dengan apa yang mereka minta masyarakat lakukan. Para pemimpin, baik orangtua dan pengajar, menjadi yang pertama dalam menerapkan kebijakan baru dan cara mencegah COVID-19, seperti mengurangi perjalanan.

Dengan begitu, masyarakat akan mengikuti apa yang para pemimpin lakukan karena pada dasarnya mereka dihormati.

Di tengah ketidakpastian ini, pengaruh kepemimpinan terhadap kecemasan COVID-19 sangat besar. Oleh karena itu, bagi Anda yang menjadi pemimpin, baik dalam keluarga maupun lingkup kelompok atau masyarakat yang besar, perlulah berhati-hati dalam mengambil langkah.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coping with COVID-19 stress and anxiety. (2020). Human Resources UC Davis. Retrieved 12 June 2020, from https://hr.ucdavis.edu/departments/asap/resources/ucd-covid-19

How leaders can maximize trust and minimize stress during the COVID-19 pandemic. (2020). American Psychology Association [PDF File]. Retrieved 12 June 2020, from https://www.apa.org/news/apa/2020/03/covid-19-leadership.pdf

Teufel, M., Schweda, A., Dörrie, N., Musche, V., Hetkamp, M., & Weismüller, B. et al. (2020). Not all world leaders use Twitter in response to the COVID-19 pandemic: impact of the way of Angela Merkel on psychological distress, behaviour and risk perception. Journal Of Public Health. doi: 10.1093/pubmed/fdaa060. Retrieved 12 June 2020.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x