Tips Melindungi Diri dari COVID-19 bagi Penderita HIV dan AIDS

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

COVID-19 dapat menimbulkan komplikasi berat pada pasien dengan fungsi kekebalan tubuh yang menurun. COVID-19 tentu menjadi perhatian khusus bagi penderita HIV atau penderita AIDS, sebab mereka merupakan bagian dari kelompok tersebut. Fungsi kekebalan tubuh mereka menurun akibat infeksi human immunodeficiency virus (HIV).

Di sisi lain, obat antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk menghambat perkembangan HIV sempat menjadi salah satu kandidat obat untuk COVID-19. Para ilmuwan masih memerlukan waktu sebelum bisa menentukan hasilnya. Berikut informasi kaitan antara penderita HIV dan COVID-19.

Apakah penderita HIV lebih rentan tertular COVID-19?

Penderita HIV memiliki sistem kekebalan tubuh yang menurun. Fungsi sistem imun bisa semakin berkurang apabila mereka menderita penyakit berat lainnya, tidak minum obat ARV secara rutin, serta mempunyai jumlah virus yang tinggi dan CD4 rendah.

Kondisi ini membuat penderita HIV lebih rentan terkena infeksi secara umum. Namun, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa hal ini belum tentu membuat mereka lebih rentan tertular COVID-19. Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan.

Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa penderita HIV lebih berisiko tertular COVID-19 dibandingkan orang yang tidak menderita HIV. Selain itu, belum juga ada bukti bahwa komplikasi COVID-19 akan lebih berat pada penderita HIV atau AIDS.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Komplikasi berat biasanya muncul dari faktor yang sudah ada, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit pernapasan, dan lain-lain. Ketika penderita HIV mengalami komplikasi COVID-19 berat, penyebabnya bisa jadi berasal dari faktor-faktor tersebut.

Saat ini sudah ada laporan mengenai penderita HIV yang pulih dari COVID-19. Menurut laporan tersebut, tingginya risiko penularan lebih disebabkan karena usia, bukan akibat jumlah HIV yang tinggi dalam tubuh atau CD4 yang rendah.

Data terbaru juga menunjukkan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 pada pengidap HIV lebih disebabkan karena penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Faktor-faktor ini tidak berbeda dengan orang negatif HIV.

Benarkah obat ARV bisa mencegah dan mengatasi COVID-19?

obat arv retroviral untuk hiv aids

Sebelumnya sudah ada penelitian tentang efek ARV terhadap SARS-CoV-2, yakni virus penyebab COVID-19. Para ilmuwan dari Tiongkok menggunakan ARV berupa kombinasi obat lopinavir dan ritonavir pada pasien salah satu rumah sakit di Wuhan.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengacu dua penelitian terdahulu. Sebelumnya, para ahli memberikan lopinavir dan ritonavir pada tenaga medis yang terekspos virus SARS-CoV dan MERS-CoV. Angka infeksi MERS-CoV ternyata lebih rendah pada tenaga medis yang diberikan obat.

Pada penelitian terbaru, pasien di Wuhan diminta mengonsumsi dua pil lopinavir dan ritonavir serta menghirup alfa-interferon sebanyak dua kali sehari. Hasilnya, gejala yang dialami pasien pun mulai berkurang.

Obat ARV yang dikonsumsi penderita HIV memang berpotensi menjadi obat COVID-19. Hasilnya pun tergolong baik, dengan hampir semua pasien COVID-19 pulih sepenuhnya. Meski demikian, penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan.

ibuprofen covid-19

Penelitian tersebut terbilang kecil. Dosis obat, durasi pemberian obat, dan jangka waktu penelitian pun termasuk singkat. Pasien COVID-19 juga meminum obat lain selama perawatan sehingga peneliti tidak bisa menyimpulkan apakah pasien betul-betul pulih karena ARV atau obat lainnya.

Dengan kata lain, ARV belum dapat dipastikan sebagai obat COVID-19. Para ahli pun masih harus mengadakan banyak penelitian baru sebelum dapat membuat kesimpulan. Walau demikian, ARV tetaplah obat yang penting bagi penderita HIV/AIDS.

Tips mencegah penularan COVID-19 pada penderita HIV

hand sanitizer mencegah covid-19

Ilmuwan di seluruh dunia hingga kini masih mengembangkan vaksin COVID-19. Cara terbaik melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan menerapkan upaya pencegahan. Langkah-langkahnya tidak berbeda dengan orang lain pada umumnya, yakni:

  • Rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer berbahan alkohol.
  • Tetap di rumah dan menerapkan physical distancing.
  • Tidak berkerumun atau pergi ke tempat ramai.
  • Tidak menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
  • Mengenakan masker saat harus pergi ke luar rumah.
  • Menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin menggunakan tisu. Bila tidak ada tisu, gunakan lengan Anda.

Penderita HIV juga perlu menjalani gaya hidup sehat dengan makan makanan bergizi, tidur cukup, dan mengelola stres dengan baik. Jika tubuh Anda sehat dan bugar, sistem kekebalan tubuh Anda tentu mampu melawan infeksi dengan lebih baik.

Simpanlah persediaan obat ARV Anda dan jangan lupa meminum obat sesuai anjuran dokter. Ikuti jadwal imunisasi secara rutin dan konsultasikan dengan dokter bila Anda memiliki pertanyaan seputar pengobatan HIV.

Bila Anda merasakan gejala COVID-19 seperti demam tinggi, batuk, atau sesak napas, segera periksakan diri Anda ke dokter. Pastikan Anda mengetahui alamat fasilitas kesehatan atau rumah sakit rujukan COVID-19 terdekat dari tempat tinggal Anda.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit