Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Cara Menangani Penyakit Musiman DBD Saat Pandemi?

Bagaimana Cara Menangani Penyakit Musiman DBD Saat Pandemi?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Memasuki musim penghujan dan pancaroba, penanganan saat pandemi harus dibarengi kewaspadaan munculnya wabah demam berdarah dengue (DBD).

Cara terbaik hidup di tengah pandemi COVID-19 adalah meminimalisir aktivitas di luar dan tetap berada di rumah. Rumah menjadi tempat aman untuk menghindari penularan COVID-19, tapi tidak untuk penularan DBD.

Penanganan DBD saat pandemi COVID-19

penanganan gas fogging nyamuk DBD

Puncak kasus DBD biasanya terjadi pada bulan Maret setiap tahunnya tapi tahun ini berbeda, penambahan kasus masih terjadi cukup banyak hingga Juni.

Terhitung dari Januari hingga 7 Juni 2020, kasus DBD sudah mencapai angka lebih dari 68 ribu kasus di seluruh wilayah di Indonesia.

“Kita melihat sampai saat ini kita masih menemukan kasus antara 100 sampai 500 kasus perhari,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (22/6).

Kemenkes mencatat, wilayah dengan angka DBD tertinggi adalah Provinsi Jawa Barat, Provinsi Lampung, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Yogyakarta, dan Provinsi Sulawesi Selatan.

Terlebih wilayah dengan banyak kasus DBD tersebut merupakan wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi,” ujar dr. Nadia.

Dr. Nadia mengatakan walau sedang menerapkan protokol pencegahan COVID-19, penanganan dan pelayanan pasien DBD tidak dibatasi.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), Dokter anak konsultan ahli infeksi tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menjelaskan mengenai tantangan penanganan DBD pada masa pandemi ini.

Pertama, karena protokol physical distancing maka kegiatan juru pemantau jentik (jumantik DBD) jadi tidak optimal.

Kedua, selama kurang lebih tiga bulan terakhir banyak gedung yang ditinggalkan karena kegiatan kerja dan belajar di rumah. Hal ini membuat gedung tersebut rentan menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Ketiga, masyarakat banyak berada di rumah sehingga penting untuk melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di rumah.

Dengan adanya infeksi ganda ini masyarakat diimbau untuk waspada terhadap penularan COVID-19 dan penularan DBD. Lakukan protokol pencegahan DBD secara rutin, yakni menguras tempat penampungan air, membersihkan rumah, dan pencegahan perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Membedakan gejala demam DBD dan COVID-19

dbd penanganan obat demam berdarah dbd

Selain melakukan protokol pencegahan, masyarakat diharapkan untuk lebih waspada terhadap gejala penyakit tersebut dan memeriksakan diri lebih dini. Beberapa kesamaan pada gejala yang infeksi COVID-19 dan demam berdarah mungkin membuat beberapa orang merasa bingung.

Dr. Mulya menjelaskan beberapa perbedaan gejala DBD dan COVID-19 yang bisa dicatat masyarakat untuk bisa melakukan penanganan dini lebih baik.

Khas gejala infeksi virus adalah demam tinggi, gejala ini sama-sama terjadi baik pada pasien COVID-19 atau pasien DBD. Namun, keduanya masih bisa dibedakan.

Untuk DBD gejala paling umum yang terjadi adalah demam tinggi mendadak, muka memerah, nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah, dan perdarahan.

Perdarahan itu yang tidak ada pada gejala COVID-19. Perdarahan ini bisa mimisan, gusi berdarah, atau bintik merah di kulit. Pada COVID-19 ada gejala sesak mirip pneumonia, DBD tidak ada gejala sesak,” jelas dr. Mulya.

Gejala Lyme Disease dan COVID-19 Hampir Mirip, Apa Perbedaannya?

Bayang-bayang wabah DBD saat pandemi COVID-19 di negara-negara lain

penanganan, pencegahan DBD demam berdarah

Indonesia bukan satu-satunya yang dihadapkan pada infeksi ganda. Ada negara-negara lain seperti Singapura dan beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Selatan.

Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) telah melaporkan, terhitung Januari hingga pertengahan Mei, ada lebih dari 7.000 kasus DBD di negaranya.

Di Singapura, kemiripan gejala awal antara COVID-19 dan DBD sempat membuat petugas medis salah dalam penanganan.

Laporan ini dituliskan oleh Gabriel Yan dan tim dari Departemen Kedokteran, National University of Singapore. Dua orang pasien awalnya didiagnosa terinfeksi DBD setelah menjalani tes serologi (tes darah). Mereka lalu menjalani penanganan DBD selama dirawat di rumah sakit.

Setelah keluar dari rumah sakit, pasien kembali mengalami demam tinggi dan kembali ke rumah sakit. Hasil penyelidikan lebih lanjut menunjukkan, ternyata pasien positif COVID-19 dan sama sekali tidak pernah menderita DBD.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 01/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x