Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejumlah penelitian di seluruh dunia melaporkan bahwa selama pandemi ini terdapat tren peningkatan angka kehamilan yang berakhir dengan stillbirth atau bayi lahir mati, di mana bayi meninggal di dalam rahim.

Apa yang menyebabkan peningkatan angka bayi lahir mati di masa wabah COVID-19?

Meningkatnya angka bayi lahir mati selama pandemi

bayi lahir mati meningkat selama pandemi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF mencatat hampir dua juta bayi meninggal di dalam kandungan atau lahir mati, dalam keterangan persnya pada Kamis (8/10). Mereka memperingatkan bahwa kondisi pandemi COVID-19 dapat menambah sebanyak 200.000 kematian.

“Setiap 16 detik, seorang ibu di suatu tempat akan menderita tragedi stillbirth,” kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF. Dia mengatakan sebagian besar kelahiran mati dapat dicegah dengan pemantauan yang lebih baik, perawatan antenatal yang tepat, dan bidan yang terampil.

Studi terbesar yang melaporkan peningkatan angka kelahiran mati diterbitkan dalam Jurnal The Lancet (10/8). Penelitian ini berdasarkan data 20 ribu ibu hamil yang melahirkan di 9 rumah sakit di Nepal. Menurut penelitian tersebut tingkat kelahiran mati meningkat dari 14 stillbirth per 1000 kelahiran menjadi 21 per 1000 kelahiran pada masa pandemi di akhir Mei. Kenaikan tajam ini terjadi selama empat minggu pertama lockdown di mana masyarakat hanya diizinkan keluar untuk membeli makanan dan perawatan emergensi.

Peningkatan bayi lahir mati juga dilaporkan oleh berbagai rumah sakit di banyak negara dari seluruh penjuru dunia. Di Inggris, peningkatan kasus bayi lahir meninggal dilaporkan meningkat pada periode April dan Juni. Selama periode tersebut terjadi 40 kasus bayi lahir mati dibandingkan 24 kasus pada periode yang sama di tahun 2019.

Skotlandia, salah satu dari sedikit negara yang mengumpulkan data lahir mati dan kematian bayi setiap bulannya, juga mendeteksi adanya peningkatan kasus stillbirth di negaranya.

Apa pengaruh pandemi pada kematian bayi di dalam rahim?

pandemi membuat risiko stillbirth meningkat

Peningkatan angka kelahiran mati yang dilaporkan ini bukan disebabkan oleh infeksi COVID-19. Ashish K.C., ahli epidemiologi perinatal di Uppsala University, Swedia, mengatakan hal ini kemungkinan besar terjadi akibat dari kondisi pandemi yang memengaruhi akses ke fasilitas kesehatan. Terhambatnya pemeriksaan rutin ke fasilitas perawatan antenatal kemungkinan mengakibatkan komplikasi yang menyebabkan stillbirth terlambat ditangani.

Ibu hamil bisa jadi tidak bisa melakukan pemeriksaan karena transportasi umum yang terbatas atau karena fasilitas kesehatan yang membatasi jumlah kunjungan.

Dalam kondisi normal, WHO merekomendasikan agar semua ibu hamil diperiksa oleh profesional medis setidaknya 8 kali selama kehamilan, meskipun kehamilan dengan risiko rendah. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi dan menangani lebih cepat masalah yang dapat membahayakan ibu, bayi, atau keduanya. Sebagian besar risiko bayi lahir mati dapat dicegah dengan memberitahu bidan atau dokter jika bayinya kurang bergerak. Selain itu, faktor risiko yang biasanya dipantau pada ibu hamil adalah pertumbuhan janin dan tekanan darah tinggi selama masa kehamilan.

Selama masa pandemi, asosiasi profesional kandungan merekomendasikan untuk mengganti konsultasi kehamilan tatap muka dengan konsultasi online.

“Salah satu masalahnya adalah Anda tidak dapat mengukur tekanan darah seseorang melalui telepon. Tentu saja jika ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi maka itu tidak baik bagi ibu ataupun bayi. Masalah ini yang tidak kami temui ketika sebelum pandemi,” kata dr. Jane Warland, pengajar dan peneliti di University of South Australia.

Di Indonesia, kekhawatiran munculnya masalah kehamilan juga disampaikan para ahli sejak masa awal pandemi. Karena itu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengimbau pasangan muda untuk menunda rencana kehamilan sampai pandemi bisa ditangani. Tujuannya adalah untuk memastikan kualitas akses kesehatan ibu hamil dapat lebih terjaga.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Homer, C., Leisher, S., Aggarwal, N., Akuze, J., Babona, D., & Blencowe, H. et al. (2020). Counting stillbirths and COVID 19—there has never been a more urgent time. The Lancet Global Health. doi: 10.1016/s2214-109x(20)30456-3
  • Watson, C. (2020). Stillbirth rate rises dramatically during pandemic. Nature585(7826), 490-491. doi: 10.1038/d41586-020-02618-5
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x