5 Mitos soal Coronavirus yang Belum Terbukti Kebenarannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Akhir-akhir ini, perhatian masyarakat dunia tertuju pada wabah coronavirus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Bagaimana tidak, jumlah kasus dan korban jiwa virus yang disebut sebagai 2019-nCoV ini semakin hari semakin meningkat. Selain itu, beberapa temuan yang kebenarannya belum diketahui pun beredar di media sosial. Apa saja mitos coronavirus?

Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui apa saja kabar yang beredar di masyarakat seputar coronavirus dan bagaimana faktanya. 

Fakta vs. mitos seputar coronavirus

coronavirus tanpa gejala

Menurut laporan WHO per tanggal 4 Februari 2020, coronavirus atau 2019-nCov telah menginfeksi 20.630 orang dan memakan 425 korban jiwa. 

Jumlah kasus dan korban jiwa yang semakin meningkat tentu membuat masyarakat semakin waspada. Selain itu, para tenaga kesehatan masih mencoba berbagai upaya untuk menangani pasien yang jumlahnya terus bertambah meskipun belum ada obat tertentu untuk virus ini. 

Rasa waspada tersebut semakin diperparah dengan adanya kabar-kabar yang berseliweran di media sosial dan belum dipastikan kebenarannya. Mulai dari pengobatan herbal alternatif hingga cara penularan coronavirus

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Oleh karena itu, WHO memulai sebuah kampanye yang berisi tentang fakta dan mitos seputar coronavirus. Apa saja mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan perlu dipatahkan oleh fakta? 

1. Mitos atau fakta: coronavirus dapat menyebar lewat paket atau barang

coronavirus barang impor

Salah satu mitos seputar coronavirus yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah dapat menular melalui paket atau surat dari Tiongkok. 

Mitos coronavirus yang satu ini didapat karena masyarakat yang sering membeli barang dari Asia khawatir bahwa barang mereka terkontaminasi oleh virus. Faktanya, tidak demikian. 

Fakta: Sebenarnya, menerima paket atau barang dari negara Asia, terutama Tiongkok, termasuk aman. 

Menurut CDC, coronavirus memiliki kemampuan bertahan yang cukup rendah pada permukaan suatu barang. Kemungkinan risiko penularan dari produk yang dikirim memang ada, tetapi cukup rendah, terutama ketika disimpan tanpa disentuh oleh Anda selama beberapa hari. 

Belum ada penelitian atau bukti dari mitos coronavirus terkait barang impor. Anda perlu ingat bahwa risiko penyebaran virus ini paling tinggi berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. 

2. Minum alkohol dapat menyembuhkan coronavirus

kecanduan alkohol

Selain dapat menular lewat paket atau barang dari negara yang terinfeksi, mitos coronavirus lainnya adalah alkohol dapat menyembuhkan infeksi virus ini. 

Kabar ini cukup populer mengingat nama coronavirus sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali. 

Fakta: Fakta tersebut didukung oleh pernyataan dari Susan Philip, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Depkes San Fransisco. Menurutnya, penyembuhan atau penyebab coronavirus tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol. 

Faktanya, alkohol dapat membunuh bakteri dan virus, tetapi ketika digunakan dalam bentuk hand sanitizer atau sabun antiseptik. Penggunaan hand sanitizer yang mengandung 60% alkohol untuk mencuci tangan dapat membantu mencegah infeksi coronavirus

Maka itu, pemahaman mitos bahwa minum minuman beralkohol dapat menyembuhkan atau menjadi penyebab coronavirus perlu diluruskan. 

3. Vaksin pneumonia efektif untuk coronavirus

Proses-injeksi-vaksin-hepatitis-B

Salah satu gejala dari novel coronavirus yang cukup berbahaya adalah gejala pneumonia, seperti kesulitan bernapas. Akibatnya, banyak orang yang mengira bahwa vaksin untuk melawan pneumonia dapat digunakan untuk coronavirus

Mitos coronavirus yang satu ini ternyata salah besar. 

Fakta: Sebenarnya, vaksin untuk pneumonia, seperti pneumokokus atau Haemophilus influenza tipe B (HiB) tidak dapat melindungi tubuh dari coronavirus yang baru. 

Coronavirus yang pertama kali ditemukan pada warga Wuhan, Tiongkok ini sangat baru dan berbeda dari virus lainnya. Akibatnya, para ahli membutuhkan waktu untuk membuat vaksin melawan virus yang sudah memakan ratusan korban. 

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa mitos coronavirus yang satu ini tidak benar agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. 

Walaupun vaksin pneumonia bukan menjadi jawaban untuk perlindungan dari coronavirus, mendapatkan vaksin terhadap penyakit pernapasan tetap dianjurkan. Hal ini bertujuan agar Anda dapat melindungi kesehatan meskipun tidak terkena wabah coronavirus

4. Konsumsi bawang putih mencegah infeksi

makan bawang putih

Selain konsumsi alkohol, mitos lainnya terkait penyembuhan coronavirus adalah konsumsi bawang putih disinyalir dapat mencegah infeksi virus. 

Fakta: bawang putih memang memiliki segudang manfaat yang baik untuk kesehatan karena kandungan senyawa antibakteri yang cukup tinggi di dalamnya. Mulai dari menjaga kesehatan jantung hingga menurunkan risiko kanker paru didapat dari rempah masakan berwarna putih ini.

Akan tetapi, sampai saat ini belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa bawang putih dapat mencegah infeksi coronavirus. Oleh karena itu, kabar tentang konsumsi bawang putih bisa melindungi tubuh dari coronavirus belum terbukti benar. 

5. Dapat menular melalui pandangan mata

Pernahkah Anda mendengar kabar atau mitos mengenai penularan coronavirus dapat terjadi melalui pandangan mata? Jika iya, Anda tidak perlu khawatir karena kabar tersebut tidak benar sama sekali. 

Fakta: seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyebaran coronavirus kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila Anda berada dalam jarak penularan virus, yaitu sekitar dua meter, risikonya pun semakin tinggi. 

Penularan coronavirus melalui pandangan mata memang belum terbukti benar. Namun, risiko yang cukup besar dapat terjadi ketika tangan yang belum dicuci oleh sabun dan air sering digosokkan ke mata Anda. 

Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang suatu benda. Selain itu, Anda juga tidak direkomendasikan memegang bagian mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor. 

Apabila Anda mendapatkan kabar atau mitos seputar coronavirus yang cukup kontroversial, sangat disarankan untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar Anda tidak menyebarkan berita yang mungkin saja tidak benar kepada orang lain dan menambah kepanikan. 

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit