Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta. Hasil ini diketahui dari sebuah studi yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama tim dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Data penelitian tersebut diambil dari seluruh pasien COVID-19 di wilayah DKI Jakarta yang dikumpulkan dari puskesmas hingga rumah sakit. Lalu data tersebut dianalisis dan diketahui adanya sejumlah penyakit penyerta yang menjadi penyebab perburukan dan kematian pasien COVID-19.

Sejumlah komorbid dan faktor risiko kematian pasien COVID-19

Hipertensi Komorbid Kematian Pasien COVID-19 Terbanyak di Jakarta

Studi berjudul Factors Associated with Death in COVID-19 Patients in Jakarta, Indonesia: An Epidemiological Study ini mengambil data dari 2 Maret 2020 hingga 27 April 2020.

Dari total 4.052 pasien yang terinfeksi COVID-19 ada 381 orang yang meninggal atau 9,4%. 

Dari semua komorbiditas, hipertensi dinyatakan sebagai penyakit yang paling umum dimiliki pasien yang meninggal karena COVID-19 yakni 18,3%. Diikuti kemudian oleh diabetes 11,1%, penyakit jantung, 11,1%, dan penyakit paru kronik 5,6%. 

Selain penyakit penyerta, peneliti mencatat bahwa usia tua menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan perburukan gejala hingga kematian saat terinfeksi COVID-19. 

Usia rata-rata pasien yang mengalami kematian dalam studi ini adalah 45,8 tahun. Mayoritas berasal dari kelompok usia 50-69 tahun yakni 37,6 persen% dan usia 20-49 tahun yakni 51,2%. 

“Dalam penelitian ini, kami memberikan bukti yang menunjukkan bahwa di antara kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di laboratorium di Jakarta, kemungkinan kematian lebih besar jika pasien lebih tua, menderita menderita dyspnea, pneumonia, dan memiliki penyakit penyerta hipertensi yang sudah ada sebelumnya,” tulis peneliti. 

Dinkes DKI dan FKUI melakukan studi menggunakan data rekapitulasi penelusuran epidemiologi (PE) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dokter atau perawat yang merawat pasien yang diduga terinfeksi COVID-19 wajib mengisi formulir PE tersebut.

Formulir PE terdiri dari pertanyaan yang berkaitan dengan karakteristik demografi pasien dan informasi klinis.

Peneliti juga mencatat gejala-gejala yang timbul pada pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Batuk dan demam menjadi keluhan gejala tertinggi, selain itu 41,1% pasien memiliki gejala pneumonia. Proporsi pasien dengan ketiga gejala tersebut juga tinggi di antara mereka yang meninggal.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Penyakit penyerta dan perburukan gejala COVID-19

Hipertensi Komorbid Kematian Pasien COVID-19 Terbanyak di Jakarta

Tingkat keparahan COVID-19 banyak dilaporkan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta yang mendasarinya. 

Studi pada kasus kematian COVID-19 di Jakarta ini menegaskan hipertensi sebagai penyakit penyerta yang dikaitkan dengan keparahan gejala COVID-19 yang dilaporkan beberapa studi terdahulu. 

Studi sebelumnya juga melaporkan bahwa hipertensi adalah penyakit yang mendasari paling umum dari pasien COVID-19, terutama pada kasus yang fatal. 

Sejak Maret, peneliti di Wuhan telah mengatakan kaitan hipertensi dengan keparahan gejala yang dialami pasien COVID-19. Dokter yang bekerja di rumah sakit di Wuhan memperhatikan 170 pasien yang meninggal selama bulan Januari di Wuhan, hampir setengahnya menderita hipertensi. 

“Angka rasio hipertensi sangat tinggi,” kata Du Bin, direktur UGD di Union Medical College Hospital, dikutip dari Japan Times. Du Bin termasuk di antara tim dokter top yang dikirim ke kota yang hancur dua bulan lalu untuk membantu merawat pasien di sana.

“Dari apa yang saya ketahui dari dokter lain dan data, saya dapat melihat di antara semua penyakit yang menjadi komorbid, hipertensi adalah faktor utama yang berbahaya,” kata Du. 

Saat wabah semakin cepat menyebar ke hampir semua benua di dunia, penelitian tentang COVID-19 juga semakin berkembang. Termasuk penelitian mengenai hubungan antara penyakit penyerta dan keparahan gejala atau kematian COVID-19. 

Menurut Du Bin, fakta ini penting untuk diketahui demi memahami perjalanan penyakit dan mengidentifikasi individu dengan risiko besar sehingga berguna dalam optimalisasi perawatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit