Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 telah menyebabkan hampir dua juta kasus di seluruh dunia dan ratusan ribu orang meninggal dunia. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan jumlah kasus, terutama pembatasan gerakan. Akan tetapi, imbauan tersebut ternyata meningkatkan jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi lebih sering dan berbahaya selama pandemi.

Lantas, bagaimana menghadapi masalah ini ketika ‘terpaksa’ harus berada dengan pelaku kekerasan?

KDRT selama pandemi coronavirus meningkat

korban kdrt bertahan

Pandemi yang membuat orang-orang harus membatasi pergerakan dan menjaga jarak dengan orang lain ini ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja.

Menurut Nahar, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), di luar persoalan kesehatan, pandemi COVID-19 meningkatkan risiko kekerasan secara emosional, fisik, dan seksual. Hal ini kerap terjadi pada anggota keluarga yang menjadi sasaran pelaku, termasuk ibu dan anak.

Pasalnya, bagi orangtua kelas menengah ke bawah yang pendapatannya berasal dari pemasukan harian, ‘kerja atau belajar dari rumah’ dapat membuat penghasilan mereka menurun. Tidak sedikit yang tidak berpenghasilan karena diberhentikan dari tempat bekerja mereka.

Terlebih lagi, situasi pandemi membuat kebanyakan orang semakin stres. Mulai dari berita dan media sosial yang berisi konten negatif perihal wabah, berdesak-desakan di rumah, hingga ancaman kehilangan pekerjaan.

Akibatnya, tidak jarang anggota keluarga menjadi sasaran kemarahan pelaku, seperti anak dan ibu yang mungkin terbiasa di rumah.

Maka itu, tidak mengherankan KDRT selama pandemi coronavirus meningkat drastis karena faktor yang membuat pelaku stres dan melimpahkan kemarahannya ke orang lain.

Tidak sedikit dari pelaku yang mencoba membenarkan perilaku kasar yang mereka lakukan dengan menyalahkan faktor lain, termasuk pasangan mereka.

Terlebih lagi jika mereka memiliki kekuatan yang lebih besar, sehingga imbauan isolasi di rumah membuat risiko korban terluka semakin besar.

Risiko KDRT pada anak selama pandemi

kekerasan diturunkan

Selain pasangan yang mengalami KDRT dari pelaku, anak pun juga bisa mendapatkan perlakuan yang sama selama pandemi ini berlangsung.

Hal ini dikarenakan anak pun tidak dapat ‘melarikan diri’ ke sekolah atau sekadar berkumpul dengan temannya. Ia diharuskan untuk tetap berada di rumah, melihat perlakuan kasar orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Menurut American Psychological Association, peningkatan stres di kalangan orangtua sering berujung pada pelecehan fisik dan menelantarkan anaknya sendiri. Pasalnya, sumber daya yang orangtua andalkan, seperti menitipkan anak di sekolah atau tempat khusus, tidak lagi tersedia.

Bahkan, banyak organisasi perlindungan anak yang tidak lagi dapat mengunjungi anak yang mungkin disinyalir mendapatkan kekerasan di rumah.

Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orangtua yang mungkin mahir dalam mengurus anak karena ikatan antara orangtua dan anak sedang diuji. Akibatnya, lonjakan kasus KDRT selama pandemi coronavirus pun tidak dapat dihindari.

Selain itu, anak juga mengalami stres dan merasa khawatir tentang wabah penyakit ini. Orangtua mungkin merasa tertekan dalam menanggapi perilaku anak mereka atau menuntut mereka untuk mengerjakan tugas dengan cara yang kasar atau agresif.

Cara menghadapi KDRT selama pandemi

kekerasan emosional

Salah satu tantangan yang muncul saat mengalami KDRT selama pandemi adalah berkurangnya organisasi yang dapat membantu mengatasi masalah ini. Selain adanya pembatasan pergerakan, organisasi ini juga tidak dapat bergerak banyak karena beberapa dari mereka harus memberhentikan karyawannya karena kekurangan dana.

Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT adalah masalah yang cukup rumit dan cara menghadapinya pun tidak begitu mudah, terutama di tengah wabah seperti ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan mungkin membantu Anda dan pasangan mengatasi masalah ini, seperti:

1. Lebih fokus pada keselamatan

Salah satu cara menghadapi KDRT selama pandemi adalah mulai lebih fokus terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga lainnya yang terkena dampak.

Cobalah untuk mendengarkan kata hati dan lakukan sesuatu jika situasi mengancam keselamatan diri sendiri atau anak Anda. Usahakan untuk melihat tanda-tanda pelecehan yang mungkin dilakukan oleh pasangan dan bisa berujung pada kekerasan fisik.

2. Menetapkan batasan tertentu

Setelah mampu memprioritaskan keselamatan, cara lainnya untuk menghadapi KDRT selama pandemi adalah menetapkan batasan tertentu.

Menentukan batas terhadap orang yang berpotensi melakukan pelecehan dan kekerasan mungkin akan terdengar sulit. Maka itu, Anda bisa mulai dengan berbicara baik-baik dan minta mereka untuk menghormati Anda, tetapi tetap tegas.

Apabila pelaku tidak dapat menghormati batas atau merasa diprovokasi oleh mereka, bisa saja itu menjadi pertanda Anda perlu mengambil langkah selanjutnya.

cemas covid-19

Sebenarnya, ada banyak panduan untuk membantu korban membuat rencana menyelamatkan diri sendiri di situs web tertentu. Mulai dari mempersiapkan dokumen penting, uang tunai, hingga kunci cadangan.

Hal ini juga berlaku pada anak-anak yang mengalami KDRT atau mengirim pesan ke orang lain untuk membantu mereka menghadapi situasi berbahaya.

3. Mencari bantuan

risiko kesehatan menjadi psikolog

Apabila Anda sudah mencoba menetapkan batasan dan tidak terlalu berhasil, carilah bantuan untuk mengatasi masalah KDRT selama pandemi coronavirus.

Walaupun beberapa organisasi tidak dapat menjalankan pelayanan seperti biasanya, ada beberapa grup yang tersebar secara daring dan juga hotline. Hal ini bertujuan untuk membantu korban mengatasi rasa bingung dan takut atas pelecehan dan kekerasan yang mereka terima.

Selain itu, tidak sedikit tempat perlindungan yang masih menawarkan konsultasi atau sesi terapi lewat tepat. Walaupun lebih singkat dibandingkan terapi biasanya, setidaknya Anda masih bisa mendapatkan saran dari profesional.

4. Bertindak tegas

KDRT selama pandemi mungkin tidak hanya sebatas pelecehan emosional, melainkan juga banyak korban yang mengalami kekerasan fisik.

Apabila hal ini terjadi pada Anda, sudah saatnya untuk bertindak tegas meskipun segala cara sudah dicoba untuk menyelamatkan hubungan dengan pelaku.

Segera hubungi polisi atau kontak darurat lainnya yang masih beroperasi, seperti tempat perlindungan atau badan penegak hukum. Setidaknya mereka dapat menyelamatkan Anda dari situasi terburuk dengan memisahkan diri dari pelaku.

Tips Donor Darah yang Aman Saat Pandemi COVID-19

Jumlah kasus KDRT selama pandemi coronavirus memang akan menyebabkan trauma yang parah dan membutuhkan bantuan dari penegak hukum dan profesional.

Apabila Anda atau anggota keluarga lainnya merasa mengalami tanda-tanda pelecehan dan kekerasan selama wabah, segera konsultasikan dengan ahlinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Abramson, A. (2020). How COVID-19 may increase domestic violence and child abuse. American Psychological Association. Retrieved 14 April 2020, from https://www.apa.org/topics/covid-19/domestic-violence-child-abuse

Rentan alami kekerasan selama pandemi, protokol perlindungan anak lintas sektor dalam penanganan COVID-19 – disusun. (2020). Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Retrieved 14 April 2020, from https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2633/rentan-alami-kekerasan-selama-pandemi-protokol-perlindungan-anak-lintas-sektor-dalam-penanganan-covid-19-disusun

Whiting, J. (2020). Trapped at home: domestic abuse during the pandemic. Psychology Today. Retrieved 14 April 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-lies-and-conflict/202004/trapped-home-domestic-abuse-during-the-pandemic

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro