Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kondisi Kasus KDRT Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

Kondisi Kasus KDRT Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

Pandemi COVID-19 telah menginfeksi jutaan orang di dunia dan ribuan orang di Indonesia, membuat masyarakat harus tetap di rumah dan mengurangi kegiatan di luar. Kondisi ini disebut sebagai salah satu penyebab konflik rumah tangga dan meningkatnya kasus KDRT di masa pandemi.

Berdasarkan Gerakan Nasional Revolusi Mental, kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan naik sebesar 75% selama pandemi tahun 2020. Menurut catatan YLBH APIK, mayoritas kasus KDRT terjadi terhadap perempuan sebanyak 90 kasus setiap bulan.

Padahal sebelum pandemi kasus KDRT biasanya sebanyak 30 kasus per bulan. Mirisnya, KDRT tidak hanya terjadi pada wanita, anak-anak kadang juga ikut menjadi korbannya.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Beda KDRT dan konflik rumah tangga di masa pandemi COVID-19

KDRT di masa pandemi

Bagi sebagian orang, pandemi COVID-19 membuat anggota keluarga harus berada di rumah dan bertemu 24 penuh setiap hari. Istri dan suami harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru dengan jadwal kerja masing-masing. Saat ada kesalahan komunikasi, kondisi tersebut membuat hal-hal kecil bisa berubah menjadi konflik antara suami-istri.

“Pandemi membuat suami istri yang tadinya sama-sama pergi kerja jadi lebih intens bertemu. Semakin sering orang bersama, potensi konflik itu semakin meningkat,” kata Nurindah Fitria, psikolog klinis Yayasan Pulih.

Yayasan pulih adalah organisasi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan layanan psikologis, khususnya pada korban kekerasan.

Nurindah memberikan contoh situasi berpotensi konflik yang muncul saat masa pandemi. Misalnya, istri dan suami ada jadwal rapat pukul 09.00 tapi mereka tidak mengomunikasikannya terlebih dahulu.

“Pada pagi hari saling menyalahkan. Istri ingin suaminya ikut membantu menyiapkan anak sedangkan suami harus menyiapkan bahan meeting. Terjadi ketegangan, lalu saling menyalahkan. Ini kan konflik,” terang Nurindah.

Saat konflik tersebut muncul, membesar, dan tidak bisa terselesaikan dengan baik, maka percekcokan yang berujung KDRT berpotensi muncul di masa pandemi.


Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Nurindah menjelaskan, konflik rumah tangga tersebut tidak serta-merta bisa dikatakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Meskipun KDRT juga bisa berawal dari sebuah konflik.

Kekerasan tersebut disebut dengan kekerasan situasional atau disebut situational couple violence (SCV). Dalam kekerasan situasional pada hubungan rumah tangga, suami dan istri bisa memikirkan kembali pertengkaran yang terjadi, mengungkapkan pendapat, dan membicarakan kesalahpahaman yang terjadi.

Setelah ketegangan mereda, pasangan bisa mendengar pendapat dan memahami kondisi masing-masing. Konflik tersebut bisa diselesaikan dengan mencari solusi dari masalah utama yang timbul.

“Di sinilah letak perbedaan antara konflik rumah tangga yang menimbulkan kekerasan situasional dan KDRT,” jelas Nurindah.

Dalam konflik, biasanya akan ada solusi karena kepentingan masing-masing pihak bisa dikomunikasikan. Sedangkan dalam KDRT, salah satu pihak merasa harus didahulukan dan tidak ada kesetaraan peran di sana,” lanjutnya.

Apakah Anda terinfeksi COVID-19? Cek risiko terinfeksi COVID-19 di sini!

KDRT di masa pandemi COVID-19

KDRT konflik rumah tangga

Dalam hubungan yang sehat, peran setiap orang dalam hubungan itu setara, dalam mengungkapkan pendapat, perasaan, dan pikiran. Dengan kata lain, setiap yang dikerjakan oleh masing-masing individu dihargai dan diapresiasi.

Namun, dalam KDRT hal itu tidak terjadi. Misalnya sama-sama ada rapat pagi hari, suami merasa dia harus didahului dibandingkan dengan istri. Suami merasa perannya lebih penting sehingga mengesampingkan peran istri.

Bila istri membela diri, suami lalu mengungkapkan kata-kata dengan lantang dan mengancam.

“Misalnya, ‘kalau kamu tidak menurut, maka saya pukul’. Kekerasan digunakan untuk mengendalikan bukan sekadar peluapan emosi sesaat dan itu dilakukan terus-menerus,” jelas Nurindah.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Berbeda dengan konflik rumah tangga, KDRT biasanya sudah terlihat bibitnya sebelum masa pandemi. Ada pola berulang dan bisa jadi memuncak ketika pandemi memaksa pasangan bertemu lebih intens dari biasanya.

Hubungan tidak sehat yang berdampak pada KDRT muncul karena ketidakadilan atau ketidaksetaraan peran. Ada relasi satu pihak yang bersifat berkuasa dan pihak yang lain menjadi koordinat bawahannya.

Itu berarti kasus KDRT yang meningkat saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini tidak terjadi pada keluarga yang tadinya baik-baik saja.

“Ketidakadilan peran itu sudah ada sejak sebelumnya. Itu yang harus ditekankan. Jadi adanya pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar saja ya,” tutur Nurindah.

Hubungan rumah tangga yang sehat bukan berarti tanpa konflik. Untuk hubungan yang sehat, konflik rumah tangga yang timbul dalam masa pandemi ini tidak akan berakhir menjadi KDRT.

Risiko KDRT pada anak di masa pandemi

Selain pasangan yang mengalami KDRT dari pelaku, anak pun juga bisa mendapatkan perlakuan yang sama selama pandemi ini berlangsung.

Hal ini dikarenakan anak pun tidak dapat melarikan diri ke sekolah atau sekadar berkumpul dengan temannya. Ia terpaksa lebih banyak berada di rumah, melihat perlakuan kasar orangtua atau anggota keluarga lainnya.

Menurut American Psychological Association, peningkatan stres di kalangan orangtua sering berujung pada pelecehan fisik dan menelantarkan anaknya sendiri. Pasalnya, sumber daya yang orangtua andalkan, seperti menitipkan anak di sekolah atau tempat khusus, tidak lagi tersedia.

Cara menghadapi KDRT selama pandemi

kekerasan emosional

Salah satu tantangan yang muncul saat mengalami KDRT selama pandemi adalah berkurangnya organisasi yang dapat membantu mengatasi masalah ini salah satunya karena pembatasan pergerakan.

Sementara itu, KDRT adalah masalah yang cukup rumit dan tidak mudah diatasi, terutama di tengah wabah seperti ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan mungkin membantu Anda dan pasangan mengatasi masalah ini seperti di bawah ini.

1. Lebih fokus pada keselamatan

Salah satu cara menghadapi KDRT selama pandemi adalah fokus terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga lainnya. Cobalah untuk mendengarkan kata hati dan lakukan sesuatu jika situasi mengancam keselamatan diri sendiri atau anak Anda.

Korban bisa membuat rencana menyelamatkan diri sendiri dengan mempersiapkan dokumen penting, uang tunai, hingga kunci cadangan. Hal ini juga berlaku pada anak-anak yang mengalami KDRT dengan mengirim pesan ke orang lain untuk membantu mereka menghadapi situasi berbahaya.

2. Menetapkan batasan tertentu

Setelah mampu memprioritaskan keselamatan, cara lainnya untuk menghadapi KDRT selama pandemi adalah menetapkan batasan terhadap orang yang berpotensi melakukan pelecehan dan kekerasan.

Anda bisa mulai dengan berbicara baik-baik dan minta mereka untuk menghormati Anda dengan tegas. Apabila pelaku tidak dapat menghormati batas atau merasa diprovokasi oleh mereka, bisa saja itu menjadi pertanda Anda perlu mengambil langkah selanjutnya.

3. Mencari bantuan

risiko kesehatan menjadi psikolog

Apabila Anda sudah mencoba menetapkan batasan dan tidak terlalu berhasil, carilah bantuan untuk mengatasi masalah KDRT selama pandemi coronavirus.

Walaupun beberapa organisasi tidak dapat menjalankan pelayanan seperti biasanya, ada beberapa grup yang tersebar secara daring dan juga hotline. Selain itu, tidak sedikit tempat perlindungan yang masih menawarkan konsultasi atau sesi terapi lewat tepat.

4. Bertindak tegas

KDRT selama pandemi mungkin tidak hanya sebatas pelecehan emosional, melainkan juga banyak korban yang mengalami kekerasan fisik. Apabila hal ini terjadi pada Anda, sudah saatnya untuk bertindak tegas walaupun Anda telah berusaha menyelamatkan hubungan dengan pelaku.

Segera hubungi polisi atau kontak darurat lainnya yang masih beroperasi, seperti tempat perlindungan atau badan penegak hukum. Setidaknya mereka dapat menyelamatkan Anda dari situasi terburuk dengan memisahkan diri dari pelaku.

Jumlah kasus KDRT selama pandemi coronavirus memang akan menyebabkan trauma yang parah dan membutuhkan bantuan dari penegak hukum dan profesional.

Apabila Anda atau anggota keluarga lainnya merasa mengalami tanda-tanda pelecehan dan kekerasan selama wabah, segera konsultasikan dengan ahlinya.

Bagaimana membantu tetangga korban KDRT di masa pandemi?

mengalami gangguan kecemasan

Saat melihat korban KDRT, Anda tidak serta merta bisa bertindak karena khawatir dianggap ikut campur dalam konflik rumah tangga orang lain. Walaupun begitu, Anda merasa perlu untuk mendampingi korban KDRT.

Nurindah mengatakan yang paling dibutuhkan oleh korban adalah pertolongan. Pelaku kerap kali memanipulasi agar korban KDRT tetap bertahan dalam pernikahan. Secara perlahan, pelaku mengurangi rasa percaya diri korban, menjauhkan korban dari lingkungan sosial, dan membuat korban merasa tidak punya tempat untuk dimintai pertolongan.

“Jadi hal pertama adalah memastikan si korban mengetahui bahwa di lingkungannya ada kelompok yang siap membantu saat sesuatu terjadi,” kata Nurindah.

Pelaku KDRT akan mengancam dan menyerang para penolong. Nurindah memberi saran mereka yang berniat membantu sudah lebih dulu memastikan punya kekuatan untuk menerima ancaman dari pelaku.

“Kelompok atau rukun tetangga bersama ketua RT akan menjadi solusi yang baik dalam menolong korban KDRT,” tutup Nurindah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Wawancara khusus dengan psikolog klinis Yayasan Pulih Nurindah Fitria, M.Psi.

Yayasan Pulih. KDRT dalam Pandemi: Bukan Candaan dan Jangan Terabaikan. Retrieved April 2020 from: http://yayasanpulih.org/2020/04/kdrt-dalam-pandemi-bukan-candaan-dan-jangan-terabaikan/

Usher, K., Bhullar, N., Durkin, J., Gyamfi, N., & Jackson, D. (2020). Family violence and COVID-19: Increased vulnerability and reduced options for support. International journal of mental health nursing29(4), 549–552. https://doi.org/10.1111/inm.12735

Tiwari, A., Chan, K. L., Cheung, D. S., Fong, D. Y., Yan, E. C., & Tang, D. H. (2015). The differential effects of intimate terrorism and situational couple violence on mental health outcomes among abused Chinese women: a mixed-method study. BMC public health, 15, 314. https://doi.org/10.1186/s12889-015-1649-x

Revolusi Mental: Berita & Artikel. (n.d.). Retrieved January 18, 2022, from https://revolusimental.go.id/kabar-revolusi-mental/detail-berita-dan-artikel?url=kekerasan-dalam-rumah-tangga-selama-pandemi-covid-19-penyebab-solusi

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Feb 09
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa