home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sebelum memasuki masa new normal, banyak negara memilih menerapkan lockdown alias karantina wilayah sebagai upaya pertama yang diambil. Negara yang menerapkan lockdown di wilayahnya melarang warga untuk beraktivitas di luar rumah sama sekali. Demi keberhasilan karantina wilayah, beberapa negara menyediakan dan mengirimkan kebutuhan makan untuk warganya serta memantau dengan ketat pergerakan penduduk.

Namun tak semua pihak setuju dengan penerapan lockdown atau karantina wilayah tersebut. Di masa itu, banyak pihak meragukan keefektifan karantina wilayah dalam menyelamatkan nyawa masyarakat dari infeksi COVID-19. Pertimbangan selanjutnya adalah persoalan ekonomi yang akan terpukul jika lockdown diberlakukan.

Karantina Wilayah Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

karantina wilayah menyelamtkan nyawa dari covid-19

Istilah karantina wilayah adalah kondisi sementara yang diberlakukan oleh pihak berwenang, salah satunya karena terjadi wabah penyakit epidemi. Kondisi karantina wilayah mengharuskan orang-orang untuk tetap berada di rumah dan membatasi aktivitas di luar rumah yang melibatkan kontak publik. Karantina wilayah juga membatasi akses keluar masuk daerah tersebut.

Karantina wilayah atau lockdown ini menjadi pilihan beberapa negara untuk pengendalian COVID-19 di masa awal pandemi. Di Indonesia, karantina wilayah total tidak menjadi pilihan karena pro dan kontra, ada beberapa yang menganggap lockdown tidak efektif dan malah berdampak buruk khususnya terhadap perekonomian.

Penelitian menunjukkan beberapa negara yang sigap melakukan karantina wilayah sebagai tindakan pengendalian berhasil menyelamatkan jutaan nyawa dan mengurangi risiko tinggi penularan COVID-19.

Tim peneliti Imperial College, London, mengatakan jumlah korban meninggal akan sangat besar tanpa lockdown. Peneliti membuat penilaian dari hasil analisis karantina wilayah yang dilakukan 11 negara di Eropa yakni Austria, Belgia, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris dari awal pandemi hingga awal Mei.

Peneliti menggunakan pemodelan epidemiologi untuk memprediksi berapa banyak kematian akibat COVID-19 yang terjadi jika tidak dilakukan karantina wilayah. Mereka memperkirakan 3,2 juta orang akan meninggal pada 4 Mei jika tidak ada tindakan seperti menutup bisnis dan menyuruh orang untuk tinggal di rumah.

Itu berarti lockdown menyelamatkan sekitar 3 juta nyawa lebih, termasuk 470.000 di Inggris, 690.000 di Prancis, dan 630.000 di Italia, tulis tim peneliti dalam riset yang diterbitkan di jurnal Nature tersebut.

Studi kedua dilakukan oleh para ilmuwan di Amerika Serikat. Mereka memperkirakan bahwa karantina wilayah yang dilakukan di China, Korea Selatan, Italia, Iran, Prancis, dan Amerika Serikat telah mencegah atau menunda penularan terhadap sekitar 530 juta kasus COVID-19.

Khawatir akan dampak ekonomi

Italia karantina wilayah lockdown karena pandemi covid-19

Saat itu banyak negara, termasuk Indonesia yang khawatir akan dampak ekonomi yang besar jika melakukan karantina wilayah pada masa pandemi. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam websitenya mengatakan bahwa lockdown bermanfaat bagi pemulihan ekonomi karena mengurangi penyebaran penyakit.

IMF menjelaskan bahwa lockdown yang bersifat sementara memang membebani biaya jangka pendek. Namun pemulihan ekonomi akan terjadi lebih cepat. “Demi mengendalikan penularan wabah, lockdown dapat membuka jalan terhadap pemulihan ekonomi dengan lebih cepat,” tulis IMF.

Dr. Elizabeth Stuart, profesor John Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan bahwa karantina wilayah terbukti mengurangi penularan SARS-CoV-2. Ia menggarisbawahi bahwa lockdwon dengan pendekatan proporsional tak hanya dapat mengurangi risiko penularan, tapi juga menyeimbangkan kekhawatiran akan kesehatan mental dan ekonomi.

Sementara Dr. Stuart Ray, spesialis penyakit menular dari Johns Hopkins University School of Medicine, menegaskan bahwa pendekatan proporsional tersebut tergantung pengukuran risiko di masing-masing wilayah. Ray menggarisbawahi pentingnya pesan yang jernih dan jelas dari negara. Untuk mengurangi dampak pandemi, menurut Ray, “Kita harus membuat semua orang memahami status kondisi wilayah mereka dan lokasi penularan terdekat di sekitar mereka.”

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 30/11/2020
x