home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan Indonesia bisa menjadi episentrum COVID-19 dunia karena penularannya yang tidak terkendali.

IDI menyoroti pertambahan jumlah kasus yang semakin meningkat setiap harinya, korban jiwa terus bertambah, termasuk ratusan petugas medis.

“Indonesia bahkan belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama. Pandemi ini dikarenakan ketidakdisiplinan protokol kesehatan yang masif. Apabila hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum COVID-19 dunia,” ucap Ketua Tim Mitigasi IDI, dr. Adib Khumaidi, dalam siaran persnya kepada wartawan.

Bagaimana kemungkinan Indonesia menjadi episentrum penularan COVID-19 dunia?

Indonesia bisa jadi episentrum penularan covid-19

Adib meminta masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan lebih ketat. Jangan sampai kasus penularan COVID-19 memburuk dan membuat Indonesia jadi episentrum COVID-19 di dunia.

Ia menyebut jika masyarakat tidak patuh menjalankan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) akan menyebabkan kasus penularan yang tidak terkontrol dan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan.

Mungkinkah Indonesia jadi episentrum COVID-19? Apa yang menyebabkan sistem kesehatan kolaps dalam penanganan COVID-19?

Ahli epidemiologi Indonesia dr. Panji Hadisoemarto menjelaskan kemungkinan ini.

Bagaimana Indonesia jadi episentrum, kan akses masuknya sudah ditutup sama negara lain. Jadi diam saja di situ kasusnya,” papar dr. Panji kepada Hello Sehat, Senin (21/9). Saat ini setidaknya 60 negara melarang orang Indonesia memasuki wilayahnya karena dianggap berpotensi besar menjadi sumber penularan.

Menjadi episentrum penularan COVID-19 artinya menjadi wilayah paling banyak terjadi kasus dan pusat penularan ke wilayah-wilayah lainnya. Episentrum bukan istilah dalam kesehatan masyarakat, tapi istilah yang digunakan saat Wuhan menjadi pusat penularan COVID-19 ke berbagai wilayah di dunia.

Apakah Indonesia menjadi episentrum penularan COVID-19 atau tidak, menurut Panji, peningkatan kasus sangat mungkin terjadi. Perburukan situasi pandemi COVID-19 di Indonesia hampir bisa dipastikan terjadi jika tidak ada gebrakan besar untuk menanggulangi pandemi.

Terobosan yang seharusnya dilakukan dengan kondisi sekarang?

risiko indonesia menjadi episentrum, penularan covid-19 saat konser pilkada 2020

Robohnya sistem kesehatan Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19 bukan hanya dilihat dari jumlah rumah sakit yang penuh. Tapi kemampuan pelacakan (tracing) dan kapasitas pengetesan (testing) yang dilakukan untuk menemukan kasus-kasus baru secepat mungkin sebelum lebih banyak penularan.

Jika Jakarta dijadikan tolak ukur, maka bisa dilihat rasio jumlah testing dan kasus yang ditemukan masih jauh dari cukup. Sebab penanganan tak hanya melakukan tes sebanyak-banyaknya, tapi juga melacak penularan tersebut.

“Lakukan tes sebanyak-banyaknya dan temukan kasus sebanyak-banyaknya, lalu isolasi dan karantinakan. Jika jumlah testingnya segini-gini aja, jumlah pelacakan segini-gini aja, maka yang jelas akan memburuk,” kata dr. Panji.

Saat ini Jakarta rata-rata melakukan 8.000 pengetesan setiap harinya dengan penambahan kasus 1.000an kasus baru. Secara nasional, Indonesia dalam satu minggu terakhir mengalami peningkatan kasus hampir 4.000 per hari dengan jumlah testing sekitar 20-30 ribu.

“Seandainya kita lockdown sejak bulan Maret, itu kita masih punya banyak modal dan tenaga. Kalau lockdown sekarang akan semakin rumit, karena melihat konteks lainnya, karena ekonomi makin tercekik, kasusnya makin banyak, petugas medisnya banyak tumbang,” ucap Panji saat ditanya bagaimana seharusnya langkah konkrit yang harus diambil saat ini.

“Terobosan utama yang paling bisa dilakukan itu niat dulu deh, ini sebetulnya mau diapain sih? Karena saya lihat saat ini tujuan utamanya bukan untuk mengendalikan epidemi,” tuturnya berpendapat.

Masyarakat memang harus bertanggung jawab atas diri dan orang sekitar dengan melakukan pencegahan penularan COVID-19.

Tapi di sisi lain pengendalian paling penting adalah tindakan dari pemerintah untuk melakukan testing, tracing, dan pelarangan kegiatan-kegiatan pengumpulan massa yang tidak perlu.

“Kerjakan dulu yang bisa menurunkan risiko penularan sekecil mungkin, baru sisanya boleh beraktivitas,” pungkas Panji.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Press Rilis. IDI. 18 September 2020.
  • Wawancara Ahli Epidemiologi Indonesia. dr. Panji Fortuna Hadisoemarto. Senin (21/9).
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 23/09/2020
x