Cara Mengurangi Risiko Penularan COVID-19 saat Demonstrasi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penularan COVID-19 yang berbahaya mengharuskan kita untuk menghindari keramaian dan menjaga jarak fisik antar individu. Namun ada beberapa kondisi yang memaksa masyarakat untuk turun ke jalan dan melayangkan protes. Para ahli mengatakan tidak ada cara untuk menghilangkan risiko penularan COVID-19 dalam aksi demonstrasi dalam masa pandemi ini.

“Dilihat dari sudut pandang pandemi, ini benar-benar hal terburuk yang dilakukan. Hal ini karena orang datang dari daerah yang berbeda, berkumpul bersama, dan berteriak,” kata dr. John Swartzberg, ahli vaksin dan penyakit menular University of California saat mengomentari aksi demonstrasi Black Live Matter (BLM) di Amerika.

Namun jika Anda memutuskan tetap melakukan demo, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 secara massal. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk melakukan aksi massa saat pandemi COVID-19

demonstrasi covid-19

Pada masa pandemi melakukan demonstrasi atau aksi massa lainnya membuat risiko penularan COVID-19 semakin tinggi. Aksi protes turun ke jalan membuat Anda untuk berkumpul bersama di satu tempat. Belum lagi ada kondisi-kondisi yang memaksa untuk bersinggungan secara fisik. 

Risiko penularan COVID-19 dalam aksi demonstrasi bisa diminimalkan dengan mengikuti beberapa tips yang dari para ahli kesehatan. 

Sebelum memutuskan ikut melakukan aksi demonstrasi, pastikan tubuh Anda fit dan sehat. Dukung aksi demonstrasi dari rumah jika Anda merasakan gejala sakit, demam, flu, atau batuk. Dengan begitu Anda bisa membantu yang lain terhindar dari penularan COVID-19. 

Eleanor Jane Murray ahli epidemiologi Boston University membagikan tips untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 saat aksi demonstrasi.

1. Pakai masker dan kacamata goggle. 

Pakai masker yang sesuai standar yang disarankan untuk pencegahan penularan COVID-19, pastikan Anda mengenakannya dengan nyaman dan aman. Bawa juga beberapa masker untuk mengganti jika masker yang Anda kenakan basah atau kotor.

Jangan lupa untuk menambahkan kacamata goggle sebagai tambahan perlindungan, beberapa penelitian mengatakan kacamata goggle mengurangi risiko tertular COVID-19. Kacamata google juga bisa membantu melindungi Anda dari luka timpukan atau semburan gas air mata.

2. Bawa hand sanitizer.

Salah satu yang utama dalam pencegahan penularan COVID-19 adalah kebersihan. Selain dengan kontak langsung dengan droplet, COVID-19 bisa menular melalui sentuhan dengan permukaan benda yang terkontaminasi lalu tangan Anda menyentuh wajah. Karena pastikan tangan Anda selalu bersih saat melakukan demonstrasi dengan hand sanitizer yang mengandung 60-70% alkohol.

3. Kurangi berteriak

Hanya berbicara saja sudah dapat menyebarkan cukup banyak virus untuk menginfeksi seseorang di sekitar. Walau belum ada bukti berteriak bisa menyebabkan risiko lebih banyak penularan, tapi berteriak memungkinkan cipratan droplet keluar lebih jauh daripada berbicara.

Sebagai gantinya gunakan alat-alat lain yang bisa mewakili suara Anda, misalnya spanduk, pembuat kebisingan seperti drum, galon, atau pembuat suara lainnya.

4. Buat grup kecil. 

Buatlah grup kecil yang berisi kelompok Anda dan pastikan semuanya mengenakan masker dengan baik. Hal ini untuk memudahkan dalam menjaga jarak fisik dan mencegah kontak dengan kelompok besar yang tidak dikenali.

6. Bawa air minum yang cukup

Bawalah bekal air minum yang cukup untuk memastikan tetap terhidrasi. Jauhkan diri Anda dari orang lain saat makan dan minum karena harus membuka masker. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Pentingnya melakukan pencegahan penularan COVID-19 saat aksi

penularan covid-19 demonstrasi aksi massa

“Sulit untuk melakukan demonstrasi dengan cara yang benar-benar aman, tetapi jika semua orang memakai masker dan pelindung mata, itu akan mengurangi risiko  penularan COVID-19 secara signifikan,” kata Kepala Departemen Penyakit Menular di University at Buffalo, Thomas A. Russo.

Secara teori, berada di luar memang lebih baik daripada di dalam ruangan karena sirkulasi udara yang lebih terbuka lebar dan ruang yang lebih besar untuk bisa menjaga jarak.

Tapi banyak hal tidak terduga yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Anda berada dalam kerumunan manusia untuk waktu yang relatif lama dan bisa saja berdiri di samping orang yang membawa virus (OTG). 

Tidak ada yang tahu berapa banyak orang yang mungkin terinfeksi dalam kelompok tertentu. Komunitas Anda mungkin memiliki tingkat infeksi yang rendah, tetapi di lapangan bisa jadi ada yang berdiri dalam jarak dekat dengan kelompok Anda dan menularkan. 

Selain itu, kondisi demonstrasi bisa menyulut amarah dan membuat orang berteriak atau lupa protokol kesehatan. Hal-hal tersebut bisa mengeliminasi sedikit keuntungan berada di ruang terbuka.

Dengan angka penularan COVID-19 yang masih tinggi, ada kemungkinan besar Anda membawa virus pulang ke rumah sepulang dari demonstrasi. Jadi ada baiknya jauhkan diri Anda dari orang rumah dan lakukan isolasi mandiri sepulang dari aksi.

  

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit