Bayi di Singapura Lahir dengan Antibodi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pada Senin (30/11), media massa Singapura melaporkan bayi yang lahir dengan antibodi COVID-19. Bayi ini lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19 saat trimester kedua kehamilan dan sembuh sebelum bayi dilahirkan. 

Kenapa bayi tersebut juga memiliki antibodi COVID-19? Apakah COVID-19 menular secara vertikal dari ibu ke janin?

Bagaimana bayi ini bisa lahir dengan antibodi COVID-19?

ibu terinfeksi covid-19 bayi memiliki antibodi

Celine Ng-Chan dinyatakan positif COVID-19 setelah pulang berlibur dari Eropa bersama keluarga. Seperti diberitakan media massa Singapura Strait Times, masa kehamilan Chan diwarnai dengan kejadian-kejadian dramatis. 

Awal tahun 2019, Chan bersama suami, satu anak perempuan, dan kedua orang tuanya berencana mengelilingi beberapa kota di Eropa. Saat itu masih tersisa dua perhentian lagi ketika WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global.

Chan merasa tidak bijaksana jika ia dan keluarga masih ingin melanjutkan masa liburan dalam kondisi wabah. Akhirnya keluarga ini memutuskan pulang ke Singapura pada 21 Maret. 

Setibanya di Singapura, Chan mengalami sakit tenggorokan yang sangat mengganggu. Ia yang saat itu hamil 10 minggu dinyatakan positif COVID-19. 

Chan menghabiskan 3 minggu masa kehamilannya di ruang isolasi National University Hospital. Beruntung Chan hanya mengalami gejala ringan dan dinyatakan negatif COVID-19 dengan kondisi kandungan yang tidak terganggu. 

“Saya tidak khawatir Aldrin (bayinya) akan  tertular COVID-19 karena saya membaca bahwa risiko penularan (dari ibu ke janin) sangat kecil,” kata Chan seperti dikutip dari Strait Times. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Bayinya lahir sehat dengan antibodi COVID-19

Pada awal November, Chan melahirkan bayinya dengan selamat. Bayi laki-laki yang diberi nama Aldrin tersebut dinyatakan negatif COVID-19 dan memiliki kekebalan dalam melawan infeksi virus tersebut. 

Padahal si ibu yang sembuh dari COVID-19 ini sejak bulan April ini sudah tidak memiliki antibodi, Menurut Chan, ini agak mengherankan ketika bayinya yang memiliki antibodi terhadap COVID-19. 

Dokter mencurigai bahwa tubuh ibu secara alami mentransfer semua antibodinya ke jabang bayi. “Saya merasa lega perjalanan Covid-19 saya akhirnya berakhir sekarang,” tuturnya. 

Apakah COVID-19 menular secara vertikal dari ibu ke janin?

Chan bukan satu-satunya ibu hamil yang berhasil sembuh dari COVID-19 dan melahirkan bayi dengan antibodi COVID-19. Sebelumnya, beberapa kasus serupa juga terjadi di Singapura. Kasus pertama yang tercatat dialami oleh Natasha Ling yang melahirkan pada 26 April 2020. 

Sudah ada beberapa kasus ibu hamil yang dilaporkan terinfeksi COVID-19, sampai saat ini organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan belum bisa memastikan apakah ibu hamil dengan COVID-19 dapat menularkan ke janinnya secara vertikal. 

Studi yang dipublikasi di jurnal Nature mengatakan, penularan secara vertikal dari ibu ke janin mungkin terjadi walaupun kemungkinannya kecil. Dalam studi ini para peneliti melakukan studi pada 31 ibu hamil yang terinfeksi COVID-19. Hasilnya, terdapat 3 kasus penularan ibu ke janin yang terjadi secara vertikal atau langsung di dalam rahim.

Peneliti mendeteksi adanya virus SARS-CoV-2 pada satu darah tali pusat, satu mukosa vagina, dan satu spesimen susu. 

“Dalam tiga kasus penularan vertikal yang terdokumentasi, infeksi SARS-CoV-2 ini disertai dengan respons peradangan yang kuat. Data ini mendukung hipotesis bahwa penularan vertikal SARS-CoV-2 dalam rahim, meskipun rendah, adalah mungkin,” tulis laporan yang diterbitkan pada (12/10) tersebut. 

COVID-19 membutuhkan molekul reseptor sebagai pintu masuk virus menginfeksi tubuh seseorang. Sebuah studi sebelum ini menunjukkan, plasenta mengandung sedikit sekali molekul reseptor virus, sehingga kemungkinan tidak cukup untuk menerima atau menjadi reseptor virus. 

Temuan ini dapat menjelaskan mengapa jarang terjadi penularan virus dari ibu ke janin. Meski begitu, kemungkinan yang kecil ini tetap harus diwaspadai. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit