home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Obat Antidepresan untuk Menangani COVID-19, Benarkah Ampuh?

Obat Antidepresan untuk Menangani COVID-19, Benarkah Ampuh?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Antidepresan kemungkinan dapat membantu pasien COVID-19 terhindar dari beberapa komplikasi paling serius dari infeksi ini. Obat yang disebut fluvoxamine ini diuji sebagai pengobatan pasien infeksi virus corona SARS-CoV-2 di Amerika Serikat. Laporan dari hasil studi tersebut juga mengatakan, obat ini dapat mengurangi risiko di rawat di rumah sakit dan kebutuhan alat bantu pernapasan.

Obat anti-depresan dapat mencegah pasien COVID-19 mengalami perburukan gejala

obat antidepresan fluvoxamine dapat menangani pasien covid-19

Uji coba pada antidepresan fluvoxamine untuk pengobatan COVID-19 dilakukan oleh para peneliti di Washington University School of Medicine yang merupakan kolaborasi Departemen psikiatri dan departemen Infeksi Penyakit Menular.

Dalam studi ini, para peneliti melakukan uji coba pada 152 pasien COVID-19 yang saat itu hanya mengalami gejala ringan.

Mereka membagi peserta uji ke dalam dua kelompok, yakni 80 pasien dalam kelompok yang mendapatkan obat antidepresan dan 72 pasien dalam kelompok yang mendapatkan plasebo (obat yang dirancang tanpa efek apapun).

Setelah 15 hari pasien menerima terapi obat ini, tidak satupun dari pasien yang menerima anti-depresan mengalami perburukan gejala serius. Sementara itu, 6 orang pasien dari kelompok yang menerima plasebo (8,3%) mengalami perburukan gejala. Perburukan gejala yang dialami keenam pasien ini termasuk sesak napas, pneumonia, dan berkurangnya kadar oksigen dalam darah.

“Pasien yang menggunakan fluvoxamine tidak ada yang mengalami masalah kesulitan bernapas atau memerlukan rawat inap,” kata Profesor Psikiatri Eric J. Lenze, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

“Sebagian besar penelitian obat COVID-19 ditujukan pada pasien gejala berat. Kami merasa penting juga untuk menemukan terapi yang dapat mencegah pasien agar tidak sakit, membutuhkan oksigen tambahan, atau harus di rumah sakit. Studi kami menunjukkan fluvoxamine dapat membantu mengisi kekosongan itu,” kata Lenze.

Studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA pada Sabtu (12/11) ini menekankan, penentuan kemanjuran antidepresan sebagai obat COVID-19 perlu uji coba acak dengan skala yang lebih besar.

Bagaimana obat anti-depresan bisa menangani inflamasi akibat virus?

obat antidepresan fluvoxamine pasien covid-19

Hasil penelitian ini terbilang tidak biasa karena anti-depresan jenis fluvoxamine adalah obat penghambat inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI). Fluvoxamine umumnya menjadi pilihan utama untuk mengobati depresi.

Obat ini juga biasa digunakan untuk mengobati gangguan obsesif kompulsif (OCD), bukan infeksi virus. Jadi bagaimana antidepresan ini berhasil pada penyakit pernapasan akibat COVID-19?

Fluvoxamine bekerja dengan cara menghambat protein yang berfungsi menyerap hormon serotonin di sel otak, protein ini disebut transporter serotonin. Ketika transporter serotonin ini diblokir atau dihambat, maka kadar serotonin di otak akan meningkat.

Ini adalah mekanisme utama anti-depresan, karena otak orang yang mengalami depresi memiliki kadar serotonin yang rendah.

Pengobatan dengan obat ini selama beberapa minggu terbukti mengurangi gejala depresi pada sekitar setengah dari pasien. Obat-obatan ini sangat aman, dengan efek samping yang paling umum adalah disfungsi seksual, sembelit, sakit kepala, dan kelelahan.

Tidak seperti obat SSRI lain, selain memblokir protein yang disebut transporter serotonin, SSRI fluvoxamine ini juga dapat berinteraksi aktif dengan protein sel otak lain yang disebut sigma-1 receptor. Interaksi inilah yang membuat obat antidepresan jenis fluvoxamine bisa menangani pasien COVID-19.

Fluvoxamine secara kuat mengaktifkan protein sigma-1 receptor, akibatnya ia mampu menghambat produksi sitokin. Penghambatan produksi sitokin ini mampu mencegah terjadinya badai sitokin. Apa itu badai sitokin pada pasien COVID-19 bisa dibaca di sini.

Singkatnya, sitokin adalah molekul sinyal yang mengarahkan tindakan sel kekebalan tubuh dalam beraksi melawan virus. Tapi tubuh bisa memproduksi sitokin yang berlebihan, inilah kondisi yang disebut badai sitokin. Bukannya melawan infeksi, kondisi ini malah menyebabkan inflamasi atau peradangan yang berakibat fatal.

Jadi fluvoxamine dapat mengaktifkan protein sigma-1 receptor. Lalu protein ini menghambat produksi sitokin, yang kemudian bisa membantu mengontrol respons inflamasi atau peradangan tubuh.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Lenze EJ, Mattar C, Zorumski CF, et al. Fluvoxamine vs Placebo and Clinical Deterioration in Outpatients With Symptomatic COVID-19A Randomized Clinical TrialJAMA. Published online November 12, 2020. doi:10.1001/jama.2020.22760
  • Irons J. (2005). Fluvoxamine in the treatment of anxiety disorders. Neuropsychiatric disease and treatment, 1(4), 289–299.
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 03/12/2020
x