Antibodi Pasien Sembuh COVID-19 Hanya Bertahan 3 Bulan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Banyak hal yang masih menjadi pertanyaan besar ilmuwan terkait virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Salah satunya, apakah tubuh pasien yang telah sembuh dari COVID-19 ini akan memiliki antibodi dan menjadi kebal?

Studi terbaru menunjukkan bahwa antibodi pada pasien COVID-19 yang telah sembuh akan terus menurun dan hanya bertahan dua sampai tiga bulan.

Antibodi pasien yang sembuh dari COVID-19 tidak bertahan lama

pasien sembuh covid-19 antibodi, coronavirus covid-19 flu babi

Antibodi adalah protein pelindung yang merespons terhadap infeksi suatu virus. Antibodi ini terbentuk pada orang yang sembuh dari infeksi virus dan bisa melindungi tubuh dari infeksi kedua. 

Tingkat antibodi yang terdapat di dalam tubuh pasien COVID-19 sembuh menunjukkan penurunan secara cepat hanya dalam kurun waktu 2-3 bulan. Penurunan keberadaan antibodi ini terjadi pada pasien dengan gejala maupun pasien yang positif COVID-19 tanpa gejala (OTG).

Hasil ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Chongqing Medical University yang mempertanyakan berapa lama seseorang kebal terhadap infeksi virus corona.

Dalam studi ini, peneliti mempelajari 37 pasien COVID-19 bergejala dan 37 pasien COVID-19 tanpa gejala. Hasilnya, rata-rata pasien mengalami penurunan tingkat antibodi hingga 70 persen. Tercatat pasien OTG cenderung mengalami penurunan antibodi lebih besar daripada pasien bergejala.

Pada kasus infeksi virus corona lainnya, antibodi pasien sembuh bertahan lebih lama. Misalnya pada SARS dan MERS yang diperkirakan bertahan sekitar satu tahun. Para ilmuwan berharap antibodi pada SARS-CoV-2 setidaknya bertahan paling tidak selama itu.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Apakah ini berarti seseorang bisa terinfeksi untuk kedua kalinya?

coronavirus adalah

Antibodi memang memiliki kemampuan untuk melawan infeksi dari virus yang sama untuk kedua kalinya. Namun, penelitian ini tidak menjelaskan kemungkinan terulangnya infeksi COVID-19 pada pasien sembuh karena menurunnya tingkat antibodi. 

Beberapa ahli mengatakan serendah-rendahnya tingkat antibodi dalam tubuh masih mungkin memiliki kemampuan melindungi. Sebuah penelitian juga menunjukkan adanya rangsangan pada sel-sel tubuh lainnya yang mampu memberikan perlindungan.

“Kebanyakan orang pada umumnya fokus pada tingkat antibodi dan tidak menyadari kekebalan yang terdapat pada sel T,” ujar Angela Rasmussen, ahli virologi di University of Columbia.

Sel T atau limfosit T adalah sel darah putih yang memainkan salah satu peran utama dalam sistem kekebalan tubuh. Kekuatan sel T dapat membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh.

Terlepas dari kekuatan sel T, ada yang namanya sel B memori yakni sel yang memiliki tugas untuk mengingat suatu virus atau zat asing jahat yang pernah masuk ke dalam tubuh.

“Jika mereka (sel B memori) menemukan virus itu lagi, mereka akan mengingat dan tubuh akan membuat antibodi dengan sangat cepat,” kata Florian Krammer, seorang ahli virus di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, AS.

Selain dari antibodi, peneliti saat ini sedang memperdalam studi tentang kemampuan sel B dan sel T dalam menghadang infeksi kedua pada pasien COVID-19.

Tinggal Sendiri Selama Pandemi, Apa yang Harus Diperhatikan?

Pesan lain disampaikan oleh Akiko Iwasaki, ahli imunologi virus di University of Yale. Ia mengingatkan bahwa studi ini memperlihatkan pentingnya vaksin untuk membentuk kekebalan. 

“Laporan-laporan ini menyoroti perlunya mengembangkan vaksin yang kuat, karena kekebalan yang dibentuk secara alami karena terinfeksi tidak optimal dan berumur pendek pada kebanyakan orang,” ujar Akiko. “Kita tidak bisa mengandalkan infeksi alami untuk mencapai herd immunity.”

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit