Kalau Sudah Pernah Vaksin Difteri, Perlukah Vaksin Ulang Saat Dewasa?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Baru-baru ini, penyakit difteri kembali mewabah di Indonesia. Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama dan sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut dengan vaksin DPT. Tapi, difteri ini kembali menyerang orang dewasa yang sudah pernah mendapatkan vaksin difteri sejak kecil. Kok bisa? Lantas, apakah ini berarti orang dewasa harus divaksin lagi? Adakah vaksin difteri untuk dewasa?

Memahami jenis dan jadwal pemberian vaksin difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh Corynebacterium dan biasanya menyerang amandel, tenggorokan, hidung, serta kulit. Penyakit ini menyebar dengan cepat melalui partikel udara lewat batuk, bersin, atau tertawa.

Jika terkena penyakit ini, Anda akan merasakan gejala berupa radang tenggorokan, serak, hingga masalah pernapasan. Bahkan, difteri bisa menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani sehingga membutuhkan pencegahan berupa vaksin.

Vaksin untuk difteri itu sendiri ada empat jenis, yaitu vaksin DPT, vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td. Vaksin ini diberikan pada usia yang berbeda, diantaranya:

  • Bayi di bawah satu tahun diberikan tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan
  • Anak usia 18 bulan diberikan satu dosis vaksin DPT-HB-Hib
  • Anak sekolah kelas 1 SD diberikan satu dosis vaksin DT 
  • Anak sekolah kelas 2 SD diberikan satu dosis vaksin Td 
  • Anak sekolah kelas 5 SD diberikan satu dosis vaksin Td 

Nah, kini saatnya Anda memastikan apakah anak Anda sudah menerima imunisasi lengkap sesuai jadwalnya, termasuk vaksin difteri ini. Jika dirasa belum lengkap, maka segera dilengkapi. Sebab ini bisa jadi anak akan memiliki risiko terkena difteri saat ia dewasa.

Sudah pernah vaksin difteri saat kecil, kok masih bisa terkena saat dewasa?

Munculnya kasus difteri pada orang dewasa memang sebagian besar disebabkan karena tidak divaksin atau status imunisasi yang kurang lengkap sejak kecil. Itulah sebabnya Anda perlu memastikan apakah Anda sudah menerima vaksin difteri atau belum. Jika memang belum, maka Anda tetap harus diimunisasi lagi untuk mencegah terkena penyakit ini.

Lantas, bagaimana bila sudah divaksin, tetapi masih terkena difteri saat dewasa? Nah, walaupun sudah divaksin, kekebalan tubuh Anda terhadap penyakit difteri ini bisa saja menurun seiring berjalannya waktu. 

Sekalipun Anda telah menjalani imunisasi difteri secara lengkap sejak kecil, namun Anda tetap tidak akan memperoleh kekebalan terhadap penyakit difteri seumur hidup. Anda perlu mengulang kembali imunisasi difteri setiap 10 tahun sekali.

Belum lagi dengan beberapa orangtua yang menganggap imunisasi tidak berdampak apapun pada kekebalan tubuh sehingga menolak vaksin difteri untuk anak. Hal ini yang menyebabkan adanya celah bagi penyakit difteri untuk kembali masuk dan menular ke anak-anak maupun orang dewasa.

Adakah vaksin difteri khusus untuk orang dewasa?

Vaksin difteri untuk orang dewasa menggunakan vaksin Tdap dan Td. Tdap merupakan vaksin kombinasi yang diberikan untuk membangun kekebalan tubuh terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri berbahaya seperti tetanus, difteri, dan pertusis (batuk rejan). 

Tdap sendiri termasuk inovasi dari vaksin DTP yaitu jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah penyakit yang sama untuk anak-anak.

Bedanya adalah Tdap menggunakan komponen pertusis aseluler yang mana bakteri pertusis dibuat tidak aktif sehingga jarang menyebabkan demam atau memberikan efek samping yang lebih aman dari DTP.

Sedangkan Td merupakan vaksin lanjutan (booster) untuk tenatus dan difteri. Td biasanya diberikan dengan dosis 0,5 ml dalam setiap kali injeksi pad orang dewasa yang berumur di atas 18 tahun. 

Tdap dan Td mengandung toksoid atau toksin difteri yang efek racunnya telah dilemahkan dengan menggunakan bahan kimia yang disebut formaldehide.

Kapan vaksin difteri untuk dewasa diberikan?

Idealnya, vaksin difteri diberikan sebanyak tiga dosis sejak usia dua tahun hingga usia 18 tahun (usia 5 tahun, 10-12 tahun, dan 18 tahun). Setelah itu, vaksin ini akan semakin efektif bila diberikan setiap 10 tahun selama seumur hidup.

Mengapa? Sebab, vaksin hanya mampu memberikan perlindungan selama 10 tahun, sehingga setelah 10 tahun perlu diberikan booster atau penguat.

Ini sebabnya Anda perlu memastikan apakah status imunisasi Anda sudah lengkap atau belum. Jika dirasa belum, segeralah vaksin difteri untuk mencegah penyakit difteri.

Menurut CDC, pemberian vaksin difteri diberikan pada usia 19-64 tahun sebanyak satu dosis. Berikut jadwal pemberian vaksin difteri bagi orang dewasa:

  • Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat setiap 10 tahun.
  • Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisasi, penyebadiberikan dua dosis pertama dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosis kedua
  • Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi

Bila terdapat salah satu orang yang termasuk suspek difteri di lingkungan sekitar Anda, maka Anda harus segera meminta divaksinasi ulang meskipun sudah pernah divaksin saat kecil. Ini bertujuan untuk menambah kekebalan tubuh Anda dari penularan penyakit difteri.

Efek samping vaksin difteri untuk dewasa

Vaksinasi difteri pada dewasa aman dilakukan dan tidak memiliki risiko kesehatan yang berarti, apalagi sampai membahayakan keselamatan jiwa. Namun sama halnya dengan obat-obatan, vaksin juga memiliki efek samping yang biasanya muncul dalam 1 hingga 3 hari setelah imunisasi.

Sangat jarang ditemukan reaksi atau alergi yang berat. Vaksin yang mengandung toksoid tetanus seperti pada vaksin DPT memang bisa menimbulkan gangguan pada otak, namun kasus ini jarang sekali terjadi.

Efek samping yang muncul setelah melakukan imunisasi difteri biasanya bersifat ringan dan bisa mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari, antara lain:

  • Demam ringan
  • Rasa neyari dan bengkak pada bagian tubuh yang mendapatkan suntikan vaksin
  • Kulit pada bagian suntikan menjadi merah
  • Kelelahan
  • Nyeri otot ringan
  • Pusing
  • Sakit perut yang disertai rasa mual, muntah-muntah, hingga diare
  • Kehilangan nafsu makan

Efek samping serius

Meskipun jarang terjadi, Anda bisa saja mengalami berbagai efek samping serius setelah melakukan imunisasi difteri, seperti:

  • Reaksi alergi parah atau anafilaktik yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan tekanan darah turun.
  • Kejang.
  • Demam tinggi.
  • Nyeri sendi atau otot kaku.
  • Infeksi paru-paru.

Jika Anda menunjukkan tanda-tanda efek samping serius seperti di atas, atau Anda khawatir terkait gejala efek samping yang tidak wajar, segera cari bantuan medis darurat atau periksa ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Pemeriksaan sebelum vaksinasi

Efek samping dari vaksin difteri untuk dewasa mungkin akan muncul lebih berat apabila Anda melakukan vaksinasi dalam keadaan sakit atau saat tubuh tidak terlalu fit. Konsultasikan kembali dengan dokter apabila sebelum melakukan vaksin Anda mengalami sejumlah masalah kesehatan seperti:

  • Mengalami demam dengan suhu tubuh yang melebihi 38.5 derajat Celsius
  • Mengalami kejang secara tiba-tiba atau masalah sistem saraf lainnya
  • Merasakan rasa sakit atau pembengkakan di bagian leher sehingga kesulitan menelan
  • Memiliki Guillain-Barré Syndrome yaitu gangguan pada sistem imun
  • Pernah mengalami alergi seperti kesulitan bernapas atau reaksi lainnya setelah melakukan imunisasi

Akan tetapi, vaksinasi sebaiknya tidak dilakukan jika Anda memiliki alergi terhadap kandungan vaksin. Anda bisa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah kandungan vaksin aman untuk Anda atau tidak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 7, 2017 | Terakhir Diedit: Desember 12, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca