Berapa Lama Ketahanan Vaksin Bekerja di Dalam Tubuh?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Vaksin atau imunisasi diperlukan untuk melawan dan mencegah berbagai macam penyakit. Namun, keampuhan atau ketahanan vaksin tidak serta merta selamanya bisa melindungi tubuh Anda. Hal ini bisa disebabkan karena berbagai alasan, contohnya sistem kekebalan tubuh yang tidak bisa merespon dengan baik,  sistem imun yang lemah, atau tubuh  tidak mampu menghasilkan antibodi untuk membantu melawan infeksi. Berdasarkan semua faktor di atas, seberapa efektif ketahanan vaksin atau imunisasi dalam mencegah berbagai macam penyakit?

Apa itu vaksin?

Vaksin adalah bahan antigen yang digunakan untuk menghasilan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Nah, pemberian vaksin atau imunisasi ini dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh seseorang terkena infeksi penyebab penyakit.

Dengan menyuntikkan antigen ke dalam tubuh melalui imunisasi, maka sistem kekebalan tubuh dapat mengenali organisme asing, misalnya virus, penyebab penyakit dengan menghasilkan antibodi. Antibodi tersebutlah yang nantinya akan melawan patogen sebelum menyebar dan menyebabkan penyakit.

Seberapa ampuh ketahanan vaksin untuk tubuh?

Durasi ketahanan vaksin dari berbagai penyakit dan bakteri yang menyerang tubuh berbeda. Ketahanan terhadap penyakit, atau imunitas seumur hidup, tidak selalu bisa didapat dengan cara imunisasi.

Beberapa penyakit tertentu, kadang membutuhkan imunisasi ulang setiap beberapa jangka waktu tertentu. Perlu diketahui, kalau khasiat vaksin berbeda dengan keefektifannya. Hal ini tergantung pada beberapa faktor seperti:

  1. Apakah Anda tepat waktu melakukan imunisasi.
  2. Tidak semua vaksin sama efektifnya. Beberapa lebih efektif dibanding yang lain tergantung vaksin untuk penyakit apa.
  3. Beberapa vaksin untuk satu jenis penyakit tertentu juga tidak memiliki efektivitas yang sama.
  4. Kadang beberapa tidak memberikan respon sama sekali terhadap jenis vaksinasi tertentu. Hal ini umumnya disebabkan karena faktor genetik setiap orang yang berbeda-beda.

Jenis imunisasi yang harus diulang agar ketahanan vaksin optimal

Beberapa jenis vaksin atau imunisasi yang harus diulang agar berfungsi optimal, antara lain:

Tetanus dan difteri

Umumnya vaksin tetanus dan difteri bisa didapat dengan tiga dosis primer dari vaksin difteri dan toksoid tetanus, Kedua dosis tersebut bisa diberikan paling tidak dengan jarak empat minggu, dan dosis ketiga diberikan enam hingga 12 bulan setelah dosis kedua. 

Namun, kalau ada orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri secara rutin, maka biasanya ia diberikan seri primer dan diikuti dosis penguat setiap 10 tahun sekali. Vaksin jenis ini biasanya dianjurkan untuk orang dewasa yang berusia 45 dan 65 tahun.

HPV (Human Papiloma Virus)

Vaksin HPV direkomendasikan untuk anak perempuan dan anak laki-laki di usia 11 atau 12 tahun, meskipun imunisasi dapat diberikan sejak dini di usia 9 tahun. Ini ideal bagi anak perempuan dan laki-laki untuk menerima vaksin sebelum mereka memiliki kontak seksual dan terkena HPV. Vaksin HPV bisa diulang setiap 5 sampai 8 tahun sekali.

Respons terhadap imunisasi juga lebih baik pada usia muda daripada di usia tua. Pada mereka yang berusia di atas 15 tahun, ketiga imunisasi tersebut dapat diberikan sebagai rangkaian tiga suntikan dalam waktu enam bulan:

  • Dosis pertama: Saat ini
  • Dosis kedua: 2 bulan setelah dosis pertama
  • Dosis ketiga: 6 bulan setelah dosis pertama

Jika ada keterlambatan dalam mendapatkan vaksin kedua atau ketiga, Anda tidak harus mengulang seluruh rangkaian. Namun, untuk perlindungan penuh dan jangka waktu yang lama, seluruh tiga dosis ini sangat dianjurkan.

Pneumokok

Vaksin pneumokok merupakan vaksin yang ditujukan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut infeksi pneumokokus. CDC merekomendasikan 2 vaksin pneumokokus untuk semua orang dewasa berusia 65 tahun atau lebih, yang menderita penyakit kardiovaskular kronis, diabetes melitus, atau faktor risiko lainnya seperti penyakit pada paru-paru atau livernya.

Anda harus menerima dosis PCV13 terlebih dahulu, dilanjutkan dengan dosis PPSV23, minimal 1 tahun kemudian. Jika Anda sudah menerima dosis PPSV23, dosis PCV13 harus diberikan paling sedikit 1 tahun setelah menerima dosis PPSV23 terbaru. Namun, bila pada saat berusia 19-64 tahun Anda sudah pernah mendapatkan dosis PPSV23, maka suntikan PPSV23 kedua (setelah berusia >65 tahun) harus berjarak minimal 5 tahun dari suntikan PPSV23 pertama.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Saraf Kejepit, Apa Penyebab dan Bagaimana Gejalanya?

Jika dibiarkan terjadi dalam waktu lama, kondisi ini bisa membuat saraf Anda rusak permanen. Apa saja yang menyebabkan saraf kejepit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Zat aditif ada dalam setiap makanan kemasan. Biasanya sengaja ditambahkan untuk tujuan tertentu. Namun, apakah berbahaya bila dikonsumsi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Fakta Gizi, Nutrisi 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
telat datang bulan

Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mengatasi kesepian

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit