Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Kanker Ovarium di Rumah Sakit

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/08/2018
Bagikan sekarang

Kanker ovarium adalah pertumbuhan tumor ganas di indung telur. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain jika tidak segera ditangani. Biasanya, pengobatan kanker ovarium tergantung pada letak, ukuran, seberapa jauh telah tumbuh dan menyebar, jenisnya, bagaimana bentuk selnya, dan kondisi kesehatan Anda secara umum.

Berbagai pilihan pengobatan kanker ovarium

Berikut ini berbagai macam pengobatan untuk mengobati kanker ovarium yang biasany direkomendasikan dokter:

Operasi

prosedur operasi ambeien

Dikutip dari WebMD, operasi biasa menjadi langkah pertama yang dilakukan dokter untuk mengobati kanker ovarium.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk mengangkat indung telur, rahim, leher lahim, dan juga saluran telur (tuba fallopi). Selain itu, jaringan getah bening di sekitar kanker dan jaringan lainnya yang terkena sel kanker juga akan diangkat. Operasi bisa dilakukan berkali-kali, tergantung pada seberapa jauh kanker telah menyebar. Namun, jika Anda belum pernah memiliki anak biasanya dokter tidak akan menghilangkan semua organ reproduksi Anda.

Operasi juga dapat bertujuan sebagai biopsi untuk mengambil sampel jaringan tumor untuk mendiagnosis jenis tumor dan stadium keparahannya.

Kemoterapi

lama efek kemoterapi

Kemoterapi adalah prosedur lanjutan untuk menyingkirkan sel-sel kanker  yang masih ada di tubuh setelah operasi. Biasanya, kemoterapi dilakukan dengan memberikan obat-obatan tertentu melalui infus. Namun, beberapa obat juga biasanya disuntikkan langsung ke perut agar bekerja lebih efektif. Cara ini memungkinkan obat untuk dapat menyebar secara langsung ke bagian tubuh yang terkena kanker.

Kemoterapi biasanya menimbulkan berbagai efek samping yang terlihat secara fisik seperti rambut rontok, ruam di tangan serta kaki, luka pada mulut, dan berat badan yang menurun drastis. Selain itu, Anda juga biasanya akan mengalami mual, muntah, dan kehilangan selera makan.

Radiasi

cara kerja radioterapi untuk kanker usus besar

Radiasi adalah perawatan kanker dengan sinar-X berenergi tinggi yang membantu membunuh sisa sel-sel kanker di daerah panggul. Prosedur pengobatan kanker ovarium ini digunakan ketika sel kanker muncul kembali setelah operasi dan kemoterapi serta membantu mengendalikan gejala seperti rasa sakit. Radiasi tidak menimbulkan rasa sakit.

Perawatannnya juga hanya berlangsung beberapa menit saja dan diberikan sebanyak lima kali dalam seminggu selama beberapa minggu disesuaikan dengan kondisi. Efek samping yang ditimbulkan dari radiasi misalnya kulit seperti terbakar, melepuh, hingga mengelupas di area yang terkena sinar radiasi. Selain itu juga mual, muntah, diare, kelelahan, dan iritasi pada vagina yang terkadang mengeluarkan cairan.

Terapi target

obat cacing untuk obat kanker usus dan kanker prostata

Terapi target dilakukan dengan menggunakan obat-obatan saat sel kanker sedang menyerang dan merusak sel-sel normal di sekitarnya. Obat-obatan ini mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker, membelah, atau memperbaiki diri. Obat-obatan dalam terapi target bisa diminum langsung atau diberikan melalui infus.

Uji klinis

Uji klinis biasanya masuk dalam terapi pengobatan kanker ovarium sebagai salah satu cara untuk menemukan dan meningkatkan efektivitas pengobatan. Biasanya, wanita yang memenuhi syarat untuk turut serta dalam uji klinis akan mendapatkan akses ke perawatan yang paling mutakhir.

Namun, pengobatan terbaru belum tentu cocok untuk semua orang sehingga dokter akan benar-benar melakukan diagnosis apakah Anda benar-benar biasa diikutsertakan dalam uji klinis atau tidak.

Sebelum melakukan perawatan, pastikan untuk membicarakannya dahulu pada dokter mengenai kekurangan dan kelebihan tiap prosedur. Anda juga perlu konsultasi ke dokter jika belum dan ingin memiliki anak. Dengan begitu, dokter akan membantu memilihkan perawatan paling tepat untuk Anda.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kanker Tenggorokan Stadium 1: Gejala, Cara Mendeteksi, dan Pengobatannya

Perkembangan kanker tenggorokan umumnya dibagi menjadi 4 tahapan stadium. Apa artinya jika Anda didiagnosis kanker tenggorokan stadium 1?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

5 Jenis Operasi yang Paling Sering Direkomendasikan Dokter untuk Kanker Tenggorokan

Untuk pasien kanker tenggorokan stadium awal, dokter sering merekomendasikan pengobatan langsung lewat operasi. Mana yang akan Anda jalani?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

5 Gejala Kanker Esofagus yang Paling Mudah Dikenali

Kanker esofagus dapat menyebabkan kematian bila terlambat didiagnosis. Maka itu, penting untuk mengetahui gejala awal kanker esofagus (kanker kerongkongan).

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

7 Gejala Kanker Tenggorokan yang Paling Mudah Dikenali

Meski kanker jenis ini masih dibilang jarang, tapi tak ada salahnya untuk mengenali ciri-ciri atau gejala kanker tenggorokan sejak dini. 

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Direkomendasikan untuk Anda

operasi kanker kulit

Operasi Kanker Kulit Bikin Anda Takut? Yuk, Pahami Dulu Prosedurnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020
manfaat nanas untuk kanker

Manfaat Tak Terduga Nanas untuk Mencegah Perkembangan Penyakit Kanker

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 13/12/2019
perawatan tubuh pasien kanker

Cara Merawat Tubuh yang Benar Saat Menjalani Pengobatan Kanker

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 11/11/2019
kanker tenggorokan stadium 4

Kanker Tenggorokan Stadium 4: Gejala, Harapan Hidup, Cara Mengobati, dan Perawatannya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 04/11/2019