Catat, Ini Gejala Khas Sindrom Koroner Akut (SKA) yang Perlu Diwaspadai

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Sindrom koroner akut (SKA) adalah kondisi ketika suplai darah ke jantung terhambat secara tiba-tiba. SKA adalah kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.

Dalam laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penyakit jantung koroner yang termasuk dalam sindrom koroner akut adalah penyebab kematian paling banyak setelah stroke dan hipertensi. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali gejala sindrom koroner akut sedini mungkin. Berikut gejala khas dari sindrom koroner akut yang perlu Anda waspadai.

Gejala khas sindrom koroner akut (SKA)

Salah satu gejala khas dari penyakit jantung adalah nyeri dada. Namun, pada kasus SKA nyeri dada yang dirasakan ini terasa lebih intens. Hal ini pun dibenarkan oleh dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP saat ditemui di Jakarta Selatan, pada hari Senin (18/02).

Dalam pertemuan yang bertajuk Penanganan SKA Pada Tahap Pre-Hospital di Indonesia, dr. Ade menjalaskan bahwa nyeri dada akibat SKA sangat terasa di belakang tulang dada seperti ditusuk-tusuk dan ditimpa beban berat. Rasa nyeri yang muncul umumnya juga menjalar ke bagian lengan kiri, leher, bahu, punggung, rahang, hingga ulu hati.

“Biasanya rasa nyeri ini berlangsung lebih dari 20 menit. Terus-terusan nyeri dadanya. Kalau dalam dunia medis nyeri dada khas penyakit jantung itu namanya angina pektoris (angin duduk),” ungkap dr. Ade yang merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).

Sindrom koroner akut juga bisa diikuti dengan gejala lainnya seperti keluar keringat dingin, kesulitan bernapas, mual, muntah, nyeri perut, kliyengan, pusing, lemas, hingga pingsan.

Namun, gejala sindrom koroner akut pada lansia dan wanita muda biasanya tidak spesifik seperti yang sudah disebutkan di atas. Alhasil, lansia dan wanita muda perlu lebih lebih hati-hati dalam mengenali gejala penyakt ini.

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat medis

Seseorang yang memunculkan gejala sindrom koroner akut harus segera mendapatkan pertolongan medis. Jika pasien tidak segera mendapatkan perawatan medis, maka risiko pasien mengalami komplikasi pun sangat tinggi.

Dr. Ade mengatakan bahwa golden period, alias periode emas dari kondisi ini adalah 12 jam setelah pasien mengeluhkan gejala. Dalam kurun waktu tersebut, pasien harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat dan mendapatkan terapi reperfusi, yaitu yaitu proses membuka aliran darah yang tersumbat.

Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, maka semakin cepat juga pembuluh darah yang tersumbat diperbaiki. Ini artinya, peluang pasien mengalami kesembuhan juga semakin besar.

“Dua belas jam adalah waktu yang sangat baik untuk kita (tim dokter) melakukan reperfusi. Jika lewat dari 12 jam, maka komplikasinya pun semakin berat,” terang dr. Ade.

Beberapa komplikasi SKA yang bisa dialami pasien jika terlambat mendapatkan perawatan medis di antaranya:

  • Aritmia. Artimia adalah masalah pada jantung yang ditandai dengan detak atau ritme jantung yang tidak normal, bisa terlalu lama, cepat, atau tidak teratur. Kondisi ini terjadi karena impuls listrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak berjalan dengan baik. Alhasil, detak dan ritme jantung pasien jadi tidak teratur.
  • Gagal jantung. Kondisi ini terjadi ketika jantung sudah tidak dapat memompa darah dengan baik karena otot jantung terlalu lemah. Alhasil, aliran darah dari jantung ke paru-paru terhambat menyebabkan penumpukkan cairan di dalam paru-paru. Penumpukkan cairan ini bisa menyebabkan sesak napas, pembengkakan (edema), hingga nyeri dada yang semakin berat. Dalam kasus yang parah, gagal jantung bisa menyebabkan kematian.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca