Catat, Ini Gejala Khas Sindrom Koroner Akut (SKA) yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sindrom koroner akut (SKA) adalah kondisi ketika suplai darah ke jantung terhambat secara tiba-tiba. SKA adalah kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.

Dalam laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penyakit jantung koroner yang termasuk dalam sindrom koroner akut adalah penyebab kematian paling banyak setelah stroke dan hipertensi. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali gejala sindrom koroner akut sedini mungkin. Berikut gejala khas dari sindrom koroner akut yang perlu Anda waspadai.

Gejala khas sindrom koroner akut (SKA)

Salah satu gejala khas dari penyakit jantung adalah nyeri dada. Namun, pada kasus SKA nyeri dada yang dirasakan ini terasa lebih intens. Hal ini pun dibenarkan oleh dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP saat ditemui di Jakarta Selatan, pada hari Senin (18/02).

Dalam pertemuan yang bertajuk Penanganan SKA Pada Tahap Pre-Hospital di Indonesia, dr. Ade menjalaskan bahwa nyeri dada akibat SKA sangat terasa di belakang tulang dada seperti ditusuk-tusuk dan ditimpa beban berat. Rasa nyeri yang muncul umumnya juga menjalar ke bagian lengan kiri, leher, bahu, punggung, rahang, hingga ulu hati.

“Biasanya rasa nyeri ini berlangsung lebih dari 20 menit. Terus-terusan nyeri dadanya. Kalau dalam dunia medis nyeri dada khas penyakit jantung itu namanya angina pektoris (angin duduk),” ungkap dr. Ade yang merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).

Sindrom koroner akut juga bisa diikuti dengan gejala lainnya seperti keluar keringat dingin, kesulitan bernapas, mual, muntah, nyeri perut, kliyengan, pusing, lemas, hingga pingsan.

Namun, gejala sindrom koroner akut pada lansia dan wanita muda biasanya tidak spesifik seperti yang sudah disebutkan di atas. Alhasil, lansia dan wanita muda perlu lebih lebih hati-hati dalam mengenali gejala penyakt ini.

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat medis

Seseorang yang memunculkan gejala sindrom koroner akut harus segera mendapatkan pertolongan medis. Jika pasien tidak segera mendapatkan perawatan medis, maka risiko pasien mengalami komplikasi pun sangat tinggi.

Dr. Ade mengatakan bahwa golden period, alias periode emas dari kondisi ini adalah 12 jam setelah pasien mengeluhkan gejala. Dalam kurun waktu tersebut, pasien harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat dan mendapatkan terapi reperfusi, yaitu yaitu proses membuka aliran darah yang tersumbat.

Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, maka semakin cepat juga pembuluh darah yang tersumbat diperbaiki. Ini artinya, peluang pasien mengalami kesembuhan juga semakin besar.

“Dua belas jam adalah waktu yang sangat baik untuk kita (tim dokter) melakukan reperfusi. Jika lewat dari 12 jam, maka komplikasinya pun semakin berat,” terang dr. Ade.

Beberapa komplikasi SKA yang bisa dialami pasien jika terlambat mendapatkan perawatan medis di antaranya:

  • Aritmia. Artimia adalah masalah pada jantung yang ditandai dengan detak atau ritme jantung yang tidak normal, bisa terlalu lama, cepat, atau tidak teratur. Kondisi ini terjadi karena impuls listrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak berjalan dengan baik. Alhasil, detak dan ritme jantung pasien jadi tidak teratur.
  • Gagal jantung. Kondisi ini terjadi ketika jantung sudah tidak dapat memompa darah dengan baik karena otot jantung terlalu lemah. Alhasil, aliran darah dari jantung ke paru-paru terhambat menyebabkan penumpukkan cairan di dalam paru-paru. Penumpukkan cairan ini bisa menyebabkan sesak napas, pembengkakan (edema), hingga nyeri dada yang semakin berat. Dalam kasus yang parah, gagal jantung bisa menyebabkan kematian.

Normal Kah Detak Jantung Anda?

Kalkulator detak jantung kami bisa memperkirakan berapa target detak jantung saat olahraga yang perlu Anda capai.

Coba Hitung!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Alfa-Amilase

Alfa-amilase adalah test kadar enzim amilase dalam darah dan dapat digunakan untuk mendiagnosis pankreatitis akut. Baca proses dan penjelasan hasil tes.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Anion Gap

Tes anion gap dapat membantu untuk mengidentifikasi adanya kelainan asam pada darah. Cari tahu definisi, proses, dan penjelasan hasil test.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 9 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Berbagai Metode Pemeriksaan untuk Cek Kesehatan Jantung

Tidak hanya penderita penyakit jantung yang boleh melakukan cek jantung, namun juga termasuk yang memiliki faktor risiko. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung 9 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Abses Hati

Abses hati adalah kantung nanah yang terbentuk di hati karena infeksi dan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani segera.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit degeneratif

Mengenali Jenis-jenis Penyakit Degeneratif yang Umum Terjadi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
senam jantung sehat

Yuk, Ketahui Manfaat dan Gerakan Senam Jantung Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
ablasi jantung

Ablasi Jantung, Prosedur Medis untuk Mengatasi Detak Jantung yang Tidak Normal

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit