Daftar Obat yang Bisa Merusak Hati Kalau Diminum Tak Sesuai Aturan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Setiap obat yang Anda konsumsi akan melewati hati untuk dipecah terlebih dulu sebelum digunakan oleh tubuh. Sisa zat kimia obat yang tidak terpakai kemudian dibuang oleh hati agar tidak menumpuk menjadi racun dalam tubuh. Proses ini biasanya berlangsung efisien dan tanpa menimbulkan bahaya. Lagipula, obat-obatan medis yang beredar di pasaran telah melewati uji medis ketat sebelumnya untuk memastikan bahwa efeknya tidak akan merusak hati. Tapi jika tidak dikonsumsi sesuai aturan pakai, barulah obat dapat menyebabkan kerusakan hati. Apa saja jenis obat yang merusak hati?

Berbagai jenis obat yang merusak hati

Banyak obat dapat memengaruhi fungsi hati, merusaknya, atau melakukan keduanya. Beberapa obat-obatan bahkan dapat menyebabkan kerusakan langsung pada hati dan menyebabkan gejala seperti sakit kuning, sakit perut, gatal, dan kecenderungan lebih rentan memar dan berdarah. Dalam beberapa kasus, kerusakan hati akibat obat mungkin tidak menampakkan gejala sama sekali, sehingga kerusakannya bisa berkembang makin parah tanpa diketahui.

Berikut adalah sejumlah obat yang merusak hati.

1. Acetaminophen (Paracetamol)

Acetaminophen (paracetamol) sering terkandung dalam obat-obatan penurun demam, pereda flu, juga penghilang nyeri bebas resep. Sebagian besar obat nyeri yang diberi label sebagai “non-aspirin” mengandung acetaminophen sebagai bahan utamanya.

Jika digunakan sesuai petunjuk, acetaminophen sangat aman bahkan untuk penderita penyakit hati sekalipun. Namun, acetaminophen yang dikonsumsi terlalu banyak sekaligus atau dikonsumsi dalam dosis tinggi terus menerus selama lebih dari 3-5 hari dapat menyebabkan kerusakan hati.

Bagi Anda yang sehat, disarankan untuk tidak mengonsumsi acetaminophen lebih dari 1000 mg per satu kali minum, atau tidak lebih dari 3000 mg per hari — maksimum 1.000 mg setiap 8 jam.

2. NSAID (Non-Steroid Anti-Inflamasi)

NSAID adalah obat pereda rasa sakit, misalnya untuk demam dan sakit kepala. NSAID juga biasanya diresepkan untuk mengatasi peradangan tulang dan sendi, seperti artritis, tendinitis, dan bursitis. Jenis NSAID yang paling umum digunakan adalah aspirinibuprofennaproxen, dan diclofenac.

Ibuprofen dan NSAID lainnya jarang mempengaruhi hati, namun komplikasi ini lebih umum terjadi pada orang yang mengonsumsi diclofenac. Kerusakan hati akibat diclofenac bisa terjadi beberapa minggu sampai berbulan-bulan setelah Anda mulai mengonsumsinya.

3. Antibiotik

Antibiotik juga bisa berbahaya bagi hati jika tidak dikonsumsi dengan benar. Contohnya adalah Amoxicillin/clavulanate yang digunakan untuk infeksi bronkitis, sinus, dan tenggorokan, dan isoniazid, antibiotik yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis.

Kerusakan hati dari amoxicillin/clavulanate dapat terjadi segera setelah Anda mulai memakainya, meskipun tanda-tanda kerusakan hati sering terdeteksi terlambat — bahkan setelah Anda menghentikan pengobatan. Sementara luka hati akut yang terjadi akibat isoniazid bisa tampak beberapa minggu sampai berbulan-bulan setelah Anda mulai memakainya.

Inilah sebabnya mengapa Anda ditekankan untuk tidak minum alkohol saat mengonsumsi isoniazid, juga bersamaan dengan obat lain seperti acetaminophen dan rifampicin. Contoh antibiotik lain yang bisa merusak hati meliputi clindamycin, erythromycin, nitrofurantoin, rifampin, sulfonamide, tetracycline, dan trimethoprim/sulfamethoxazole.

4. Methotrexate

Methotrexate adalah obat yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang dari psoriasis berat, rheumatoid arthritis, arthritis psoriatis, kanker, dan beberapa pasien dengan penyakit Crohn. Pasien yang memiliki penyakit hati yang sudah ada sebelumnya, obesitas, dan mereka yang minum alkohol secara teratur sangat berisiko mengembangkan sirosis hati akibat konsumsi methotrexate. Methotrexate juga dilaporkan dapat menyebabkan perlemakan hati.

Maka, dokter biasanya akan meresepkan methotrexate dalam dosis rendah seminggu sekali. Beberapa dokter juga melakukan biopsi hati pada pasien tanpa gejala hati setelah dua tahun (atau setelah dosis kumulatif 4 gram methotrexate) untuk mendeteksi sirosis hati dini.

5. Amiodarone

Amiodarone adalah obat yang digunakan untuk mengobati irama jantung tidak teratur (aritmia) seperti fibrilasi atrial dan takikardia ventrikular. Amiodarone dapat menyebabkan kerusakan hati mulai dari kelainan enzim hati yang ringan dan mudah dibatalkan, perlemakan hati, hingga gagal hati akut dan sirosis yang permanen. Ini karena sejumlah besar amiodarone disimpan di hati.

Sisa obat yang tersimpan mampu menyebabkan perlemakan hati, hepatitis, dan yang lebih penting, obat ini dapat terus merusak hati bahkan lama setelah obat dihentikan. Kerusakan hati yang serius dapat menyebabkan gagal hati akut, sirosis, dan kebutuhan transplantasi hati. Namun begitu, kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% pasien.

6. Statin

Statin (atorvastatin, simvastatin, lovastatin, dan pravastatin) adalah obat untuk menurunkan kolesterol “jahat” (LDL) dan mencegah serangan jantung dan stroke. Obat-obatan ini cenderung tidak menyebabkan cedera hati yang signifikan, namun statin seringkali memengaruhi tes darah fungsi hati.

Statin dapat meningkatkan kadar enzim hati, tapi kebanyakan dokter percaya bahwa statin aman untuk penggunaan jangka panjang. Kelainan ini biasanya membaik atau benar-benar sembuh saat menghentikan statin atau mengurangi dosis.

Statin dalam dosis wajar tidak menimbulkan kerusakan permanen. Meskipun demikian, statin dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan pada hati (hepatoksisitas) yang bisa menyebabkan kerusakan parah, termasuk gagal hati yang mengarah ke transplantasi hati.

7. Asam nikotin (Niacin)

Niacin, seperti statin, digunakan untuk mengobati peningkatan kadar kolesterol darah serta peningkatan kadar trigliserida. Dan sama seperti statin, niacin bisa merusak hati. Niacin dapat menyebabkan peningkatan hasil pada tes darah AST dan ALT, penyakit kuning, dan pada kasus yang langka, niacin dapat menyebabkan gagal hati.

Keracunan hati (hepatoksisitas) juga bisa terjadi setelah penggunaan niacin dosis tinggi — lebih dari 2 gram per hari. Pasien dengan penyakit hati yang sudah ada sebelumnya dan mereka yang minum alkohol secara teratur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan toksisitas hati.

Niacin jenis sustained-release juga lebih cenderung menyebabkan toksisitas hati dibandingkan dengan immediate-release.

8. Obat-obatan antikejang

Beberapa obat-obatan antikejang/antiepilepsi dapat menyebabkan kerusakan hati. Fenitoin dapat menyebabkan kerusakan hati segera setelah Anda mulai meminumnya, itulah sebabnya tes hati Anda akan dipantau ketat. Valproate, phenobarbital, carbamazepine, dan lamotrigin juga dapat menyebabkan luka hati yang mungkin akan menampakkan sedikit lambat setelah Anda meminumnya selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

9. Azathioprine

Azathioprine adalah obat yang mengendalikan sistem kekebalan tubuh. Contoh penggunaan obat adalah untuk penyakit Crohn dan hepatitis autoimun. Kerusakan hati bisa terjadi beberapa minggu hingga bulan setelah mengonsumsi azathioprine.

10. Antidepresan

Antidepresan adalah obat untuk mengobati depresi klinis atau mencegahnya kambuh berulang. Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati beberapa kondisi lain, termasuk dysthymia, gangguan kecemasan, gangguan obsesif obsesif kompulsif (OCD), gangguan makan, nyeri kronis, nyeri neuropatik, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), kecanduan, hingga ngorok, migrain, dan nyeri menstruasi (dismenore).

Beberapa contoh antidepresan yang bisa merusak hati termasuk bupropion, fluoxetine, mirtazapine, paroxetine, sertraline, trazodone, dan antidepresan trisiklik seperti amitriptilin. Risperidone dan quetiapine keduanya digunakan sebagai antipsikotik dan antidepresan. Obat-obat ini dapat menyebabkan penyumbatan aliran empedu dari hati (kolestasis).

11. Obat-obatan lainnya

Obat-obatan lain yang dapat merusak hati termasuk pil KB, steroid anabolik, obat-obatan antijamur (ketoconazole, terbinafine), acarbose (obat diabetes), antiretroviral (obat infeksi HIV), disulfiram (obat untuk mengatasi alkoholisme), allopurinol (obat pencegahan serangan asam urat) dan obat-obatan antihipertensi (captopril, enalapril, irbesartan, lisinopril, losartan, verapamil).

Obat-obatan ini dapat merusak hati, antara lain dapat menyebabkan luka hati hingga hepatitis bahkan dalam dosis sedang. Penting agar Anda minum obat Anda persis seperti yang ditentukan dan jangan minum alkohol saat meminumnya.

Suplemen dan obat-obatan herbal juga bisa merusak hati

Selain obat-obatan medis, suplemen dan obat herbal juga dapat menyebabkan kerusakan hati. Apalagi pengujian suplemen dan obat herbal biasanya tidak seketat pengujian obat medis. Oleh karena itu, potensi bahayanya mungkin lebih besar bagi kesehatan Anda.

Obat-obatan herbal yang berbahaya bagi hati meliputi (dan tidak terbatas pada) borage, comfrey, dan beberapa ramuan Cina tertentu, seperti zi cao (groomwell), han kuan dong (coltsfoot), qian li guang (liferoot), dan pei lan (Eupatorium) mengandung alkaloid pyrrolizidine.

Pyroglizidine alkaloid dapat merusak hati secara bertahap jika dikonsumsi dalam dosis kecil untuk waktu yang lama. Kerusakan bisa terjadi lebih cepat jika obat dikonsumsi dalam jumlah besar. Pembuluh balik di hati bisa tersumbat dan menghalangi aliran darah keluar dari hati.

Beberapa ramuan herbal lainnya yang biasa dibuat teh, contohnya termasuk Ma Huang, Kava Kava, germander, dan daun chaparral telah dilaporkan dapat menyebabkan keracunan hati (hepatoksisitas). Bahkan temulawak yang populer diminum sebagai jamu dilaporkan memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati.

Berlebihan mengonsumsi vitamin A selama bertahun-tahun juga bisa merusak hati. Penyakit hati yang disebabkan oleh vitamin A meliputi peningkatan ringan enzim hati di tes darah, hepatitis, hepatitis kronis dengan sirosis, hingga gagal hati.

Sebaiknya jangan mengonsumsi suplemen maupun obat herbal yang belum terbukti aman melalui uji klinis BPOM. Bahkan bila terbukti aman, jangan mengonsumsi secara berlebihan. Ingat, selalu baca aturan pakai.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca